Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 29. Kau pasti mengenalku


__ADS_3

Papah benar-benar tidak suka dengan wajah Mas Rendi yang baru, kasihan Mas Rendi. Dia sampai di penjara.


Batin Indah.


***


Sementara itu di kantor polisi, Pengacara Harun datang bersama dengan Hersa asisten Rizky. Harun juga sekarang menjadi pengacara siapa saja yang menyewa jasa dirinya. Karena dia sudah tidak bekerja di tangan Rendi lagi.


Harun berjalan bersama Hersa, masuk ke dalam kantor polisi sambil menjinjing tas yang berisi laptop dan beberapa berkas. Mereka menemui polisi yang sedang duduk di kursi.


"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya polisi dengan wajah garang itu seraya berdiri.


Harun mengulurkan tangannya, "Perkenalan saya Harun Halwan, pengacara Pak Rizky dan Pak Reymond. Saya ingin bertemu dengan beliau."


"Baik Pak, silahkan tunggu," sahut Pak Polisi berjalan menuju sel yang sudah ada Rizky dan Reymond duduk di bawah lantai, mereka seperti seorang penjahat sungguhan yang berada di dalam penjara.


"Pak Reymond dan Pak Rizky, pengacara Harun datang menemui kalian," Polisi itu membuka sel penjara yang hanya berisi mereka berdua.


Rizky dan Reymond di gandeng untuk sampai di meja pertemuan yang sudah ada Harun dan Hersa.


"Harun ..." Panggil Reymond seraya mengulurkan tangan, dia kenal betul pengacara pribadinya itu.


Harun pun membalasnya, "Ini dengan Pak Reymond betul?" Reymond mengangguk dan duduk bersama Rizky.


Harun mengambil laptop di dalam tas yang sudah dia taruh di atas meja, kemudian membukanya, "Jadi begini Pak Rizky dan Pak Reymond. Sebenarnya ada masalah apa di antara kalian? Kenapa kalian bisa menculik Nona Indah dan anaknya, apa tujuan kalian?" tanya Harun, sebagai pengacara dia juga harus tahu tentang inti dari masalah kliennya.


Reymond berbisik pada Rizky, "Riz haruskah gue jujur sama Harun?"


"Terserah lu, tapi dia orangnya bisa tutup mulut nggak?" tanya Rizky berbisik, Reymond mengangguk.


"Harun, apa kau sekarang bekerja menjadi pengacara pribadi orang lain?" tanya Reymond.


"Tidak. Saya pengacara umum Pak, kenapa Bapak bertanya seperti itu?"


Reymond menggelengkan kepalanya, "Mulai sekarang kau jadi pengacara pribadiku dan tolong bebaskan kita berdua dari sini. Aku menculik Indah dan Bayu karena memang aku menyayangi mereka, mereka adalah keluargaku."


"Maksud Bapak bagaimana? Keluarga?" kepala Harun sudah miring karena binggung.


"Aku Rendi Pratama, kau pasti mengenalku. Kau bekerja denganku sudah lama. Aku punya banyak masalah selama tiga tahun ke belakang, kau harus menolongku Harun. Sekarang kau harus membebaskan aku dulu dari sini. Aku akan ceritakan semuanya."


Harun mengangguk-angguk, entah dia percaya atau tidak dengan ucapan Reymond. Tapi dari manik mata Reymond mengatakan begitu tulus, "Saya tidak mengerti maksud omongan Bapak, tapi saya akan membantu kalau memang Bapak beneran Pak Rendi. Bisa di ceritakan bagaimana kronologis Bapak bisa menculik Nona Indah dan Bayu?"


"Jadi begini ..."


Reymond menceritakan inti dia menculik Indah pada kemaren malam, karena dia bertujuan untuk meyakinkan Indah kalau dia beneran suaminya.

__ADS_1


"Lalu, apa Nona Indah percaya Bapak suaminya?" tanya Harun.


Reymond tersenyum. "Tentu percaya, karena aku juga mengajaknya melakukan tugas negara. Kau masih ingat tugas negara di rumah sakit itu kan?"


Harun langsung tersenyum kala mengingat tugas konyol dirinya pada beberapa tahun yang lalu. "Saya bahkan tidak mengerti tugas negara apa itu Pak."


"Ish... Kau tidak mengerti? Aneh sekali kamu Harun, mangkanya menikah. Kau kan sudah tua," Reymond seperti tengah mengolok pengacara itu.


"Bapak ini bisa saja, saya belum memikirkan hal tentang itu. Saya akan tulis beberapa laporan dulu Pak," ucap Harun seraya mengetik beberapa naskah tentang surat pencabutan tuntutan atas nama Rizky dan Reymond.


Setelah beberapa menit akhirnya jadi.


"Pak Hermawan yang menuntut, jadi saya perlu tanda tangan beliau untuk membebaskan Bapak. Saya perlu mengatakan apa supaya Pak Hermawan mau membebaskan kalian?" tanya Harun.


"Kau bilang saja kalau aku menculik Indah karena ..."


"Tapi jangan mengatakan aku Rendi, tetap panggil aku Reymond. Kau bisa aku percaya kan?"


"Tentu Pak, Bapak tenang saja. Kalau begitu saya permisi ingin pergi menemui Pak Hermawan," ucap Harun seraya berdiri dan berjabat tangan.


"Aku tunggu kabar baikmu Harun."


Harun tersenyum dan berjalan meninggalkan mereka bertiga.


Kini mereka beralih mengobrol dengan Hersa sang asisten. Mereka juga butuh info tentang Siska, namun belum sempat berbicara sepatah kata. Polisi sudah menghampiri mereka bertiga.


"Tetap pantau dulu Hersa, tunggu kita bebas," ucap Rizky. Hersa mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan kantor Polisi.


***


Di rumah sakit Indah dan Santi selesai makan siang, Sarah juga sudah di pindahkan di ruang rawat VVIP namun dia belum sadarkan diri.


Mereka duduk di atas sofa, Bayu sudah tertidur di dalam pangkuan Santi dan dia mengelus rambutnya, tapi Indah masih penasaran di kantor polisi mana Rendi di penjara.


Dia ingin bertanya pada Santi, namun tidak jadi. Santi juga terlihat tidak menyukai Reymond. Dia memutuskan untuk diam-diam menelepon Jojo, karena dia yakin Jojo pasti tahu.


"Mamah, Indah ke kantin sebentar boleh tidak?" tanya Indah memberikan alasan.


"Kamu mau beli apa? Biar Mamah saja yang beli. Kamu jagain Bayu di sini."


"Tidak perlu Mah, Indah sebentar kok. Janji," Indah sudah bangun dan memegang gagang pintu.


"Serius? Jangan lama-lama."


Indah mengangguk dan berjalan keluar, dia juga langsung berjalan menuju kantin namun Irwan membuntut di belakangnya, dia juga menyadari keberadaan Irwan. Akhirnya berbalik badan.

__ADS_1


"Pak Irwan kenapa ikutin aku terus? Aku mau ke kantin doang Pak?" tanya Indah heran.


"Tidak masalah Nona, saya di tugaskan oleh Pak Hermawan."


"Ish ... Papah apaan sih, aku kayak anak kecil," desis Indah kesal. Akhirnya dia duduk di kantin bersama Irwan dan memesan minuman.


Indah memencet nomor Jojo pada layar telepon kemudian meneleponnya.


Di sana Jojo sedang makan siang di cafe bersama dengan Hermawan, dia juga memberitahu kalau Indah menelepon dirinya.


"Halo selamat siang Nona Indah, apa Nona sudah makan?" tanya Jojo.


"Sudah Pak. Aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Indah.


Terlihat Hermawan juga ikut mendengarkan percakapan Indah lewat telepon.


"Boleh Nona silahkan."


"Dimana Papah memenjarakan Mas Reymond dan Pak Rizky Pak? Aku ingin membebaskannya,"


Mata Mawan terbelalak, dia menatap tajam mata Jojo dan menggelengkan kepala. Seakan memberikan isyarat.


"Saya tidak tahu dimana Nona, itu Pak Mawan yang tahu," sahut Jojo berbohong.


"Pak Jojo berbohong padaku pasti, kan? Dimana dia di penjara Pak?" Indah sudah berusaha mendesak.


"Saya beneran tidak tahu Nona."


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


^^^Yuk beri dukungan mumpung hari Senin, biar kolom hadiah Author nggak kosong 😆^^^


__ADS_2