
Dokter menghampiri Reymond dan mengajaknya duduk di kursi.
"Bapak ini suaminya atau ...."
"Saya keponakannya, dia istri dari Om saya," ucap Reymond dengan cepat.
"Baik, Pak. Saya ingin katakan kalau kondisi Bu Irene begitu lemah, disarankan dia untuk di rawat dulu, selama beberapa hari," jelas Dokter.
"Kandungannya bagaimana? Apa dia didalam baik-baik saja?"
"Iya, dia baik. Tapi begitu lemah, rentan keguguran. Maaf sebelumnya, apa Bu Irene ini bekerja?"
"Iya, dia sekertaris di perusahaan saya."
"Saya sarankan Bu Irene berhenti bekerja saja, dia sangat stres dan itu sangat buruk untuk kondisinya."
Kalau lihat seperti ini keadaannya, aku jadi kasihan sama Irene. Saat hamil malah jauh dari suaminya, tapi ... mau bagaimanapun memang harusnya seperti ini.
Lebih baik, nanti aku cari sekretaris baru saja buat Rio.
Batin Reymond.
"Baik, Dok."
"Nanti Ibu Irene akan di pindahkan pada ruang rawat ya, Pak."
"Iya, Dok. Kalau begitu saya permisi," ucap Reymond seraya bangun.
Kakinya sudah melangkah menuju pintu, namun tiba-tiba ada yang memanggil.
"Pak Reymond," lirih Irene pelan.
Reymond berbalik badan dan menghampirinya.
"Pak, aku kenapa?" tanya Irene.
"Bu Irene baik-baik saja, hanya perlu istirahat dan tidak boleh banyak kecapekan," jelas Dokter yang berada di samping Reymond.
"Tapi ... kenapa perutku terasa sakit sekali, Dok?" tanyanya sambil memegangi perut.
"Itu biasa terjadi, nanti tidak akan terasa sakit," ucap Dokter berjalan keluar, Reymond juga mengikuti langkah kaki Dokter. Tapi lagi-lagi Irene memanggil.
"Pak Reymond ...."
Reymond membuang nafas dengan kesal, ia berbalik badan dan menghampirinya lagi.
"Ada apa?"
"Pak ... boleh aku minta tolong?" wajah Irene terlihat begitu memelas.
"Apa?"
"Tolong hubungi Mamahku untuk datang kesini, Pak."
"Iya, aku akan menghubunginya." Reymond kembali melangkah, namun dengan cepat Irene memegang lengannya.
"Pak ... apa Bapak akan menemaniku disini?"
Deg......
Mata Reymond terbelalak, ia segera menepis tangan Irene.
"Apa maksudmu? Kau pikir kau ini siapa?! Masih syukur aku membawamu kesini!" dengkus Reymond kesal.
Dasar tidak tau diri!
__ADS_1
Gerutu Reymond dalam hati.
Buru-buru ia keluar dari ruangan, walau Irene terus-menerus memanggil namanya.
Reymond menghampiri Dion yang tengah duduk di kursi panjang.
"Bagaimana keadaan Irene, Pak?" tanya Dion seraya berdiri.
Tapi Reymond mengajaknya kembali duduk disamping.
"Dia baik-baik saja, tapi mulai besok ... dia tidak lagi bekerja sebagai sekretarisnya Rio. Kondisinya tidak memungkinkan, kau besok cari sekretaris buat Rio yang baru."
"Baik, Pak."
"Nanti kau transfer dia uang setiap bulan, untuk keperluan Irene dan bayinya. Walau bagaimanapun Irene masih istri Om Andra, aku tidak tega padanya."
"Baik, Pak."
Reymond kembali mengambil amplop putih pada saku belakang jasnya, perlahan ia membuka dan mulai membacanya.
Matanya terbelalak, ia menarik senyum menawan.
"Bagaimana hasilnya, Pak? Apa Shelly golongan darahnya B?" tanya Dion.
"Iya ... apa jangan-jangan dia adalah Adiknya Indah, Dion?" Reymond menatap wajah Dion disebelahnya penuh dengan harapan.
"Sebaiknya Bapak lakukan tes DNA dulu dengan Pak Hermawan. Kalau benar semuanya cocok, berarti memang benar Shelly adalah Adiknya Mbak Indah."
Reymond mengangguk. "Iya, kau benar juga. Yasudah ... besok aku akan bicarakan dulu pada keluargaku. Nanti kau ajak Shelly datang ke rumah, ya?"
"Baik, Pak."
"Oya ... kau hubungi Ibunya Irene, bilang padanya anaknya masuk ke rumah sakit. Kau juga tunggu dulu disini, sebelum Tante Munah datang."
"Baik, Pak."
***
Malam hari sehabis Magrib.
Rio pulang kerja, ia melangkah masuk kedalam rumah. Namun terasa begitu sepi, hanya terdengar suara percikan air dari dapur.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapapun. Dengan langkah kesal, Rio berjalan cepat untuk menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya.
Ceklek.....
Tidak ada siapapun disana.
"Wulan!" pekik Rio.
Ia berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintu.
Ceklek.....
"Wulan!"
Istrinya tidak ada disana, kini Rio keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar Clara yang berada disamping kamarnya.
Tok ... tok ... tok.
"Wulan! Apa kau ada didalam?" tanya Rio dengan nada tinggi. Tidak bisa lama-lama menunggu jawaban, segera saja dia membuka pintu kamar itu.
Ceklek.......
Kamarnya kosong.
__ADS_1
Batin Rio
"Wulan! Clara!" pekik Rio.
"Wulan!"
"Maaf Pak," ucap Bibi pembantu yang berjalan menghampirinya.
Rio menoleh.
"Nona Wulan dan Nona Clara belum pulang sejak pagi, Pak. Tapi ...."
"Apa? Kemana wanita itu?! Sudah malam malah keluyuran!" umpat Rio kesal seraya berjalan masuk kedalam kamarnya.
Padahal Bibi pembantu belum selesai berbicara, tapi dia sudah keburu emosi, karena dengar Wulan yang belum pulang.
Rio membanting pintu dan tubuhnya pada kasur, segera ia merogoh ponsel pada kantong celananya untuk menelepon Wulan.
"Halo Mas." Suara halus Wulan sudah terdengar.
"Wulan! Kau ini tidak lihat jam atau apa?! Ini sudah malam! Bukannya menyambut suami yang baru datang! Ini malah keluyuran!" pekik Rio dengan lantang.
"Mas ... aku ada di rumah Mamah Santi."
"Lalu kenapa kau belum pulang?! Hah! Aku ini capek mau mandi!"
"Hei bicaranya santai saja! Tidak perlu pakai emosi!"
Deg......
Suara lantang seorang wanita terdengar begitu nyaring dari sambungan telepon. Rio kenal betul suara siapa itu.
"Mamah," lirihnya pelan.
"Ada apa sih? Kenapa kau marah-marah! Bisa tidak lembut sedikit bicara pada istrimu sendiri?!"
"Ya ... aku kesal, Mah. Aku ini habis pulang kerja, capek! Apa lagi tau dia tidak ada di rumah, tambah kesal akunya," elak Rio.
"Tapi kau 'kan bisa bicara baik-baik. Kau ini masih muda, memangnya mau punya penyakit darah tinggi?"
"Tidak, Mah. Iya ... iya Rio minta maaf."
"Ngapain minta maaf ke Mamah, minta maaf nanti sama Wulan. Memang Mamah yang lupa kasih tau kamu, untuk beberapa hari ... kamu, Wulan dan Clara. Akan tinggal di rumah Mamah."
Deg.....
Mata Rio terbelalak kaget. "Kenapa begitu? Aku tidak mau, aku 'kan punya rumah sendiri. Aku mau hidup mandiri, Mah."
"Iya, Mamah tau. Tapi buat sementara saja. Kau tinggal disini, Mamah tidak mau kau dan Wulan berantem lagi. Apalagi sampai bilang ingin cerai! Ingat! Itu tidak akan terjadi!" ancam Santi.
Apa jangan-jangan Wulan cerita pada Mamah, tentang apa yang aku katakan dan aku lakukan padanya?
Pintar berbohong sekali dia ini, bilang tidak keberatan kalau cerai denganku. Tapi malah mengadu sama Mamah supaya aku tetap mempertahankannya. Dasar tidak tau diri.
Umpat Rio dalam hati.
"Rio!" pekik Santi.
"Iya, Mah."
"Sudah kau kesini, jangan banyak alasan ... semua pakaian kalian sudah ada disini. Mamah tunggu kamu di rumah."
"Tapi Mah-"
Tut ... tut ... tut.
__ADS_1
Sambungan telepon itu langsung di matikan oleh Santi, karena rasa kesalnya. Ia langsung mengacak-acak rambutnya sendiri.
^^^Kata: 1029^^^