
"Saya belum punya...."
"Belum punya pacar ya. Kau mau menjadi pacarku?" tanya Andra seraya membelai pipi.
Dahi Irene sudah mulai berkeringat. "Sa-saya....."
"Kenapa gugup. Tenanglah aku ini perkasa lho di ranjang."
Mata Irene membulat, bibirnya sudah mulai bergetar karena sudah ada jari Andra di sana.
Tok... Tok... Tok.
Andra menghentikan aktivitasnya dan membenarkan lagi posisi duduknya.
"Masuk."
Ceklek...
"Pak maaf ada yang mau saya bicarakan berdua dengan Bapak." Ucap Anton sang Asisten.
Tanpa menjawab Andra berjalan keluar menuju ruangannya di ikuti oleh Anton.
"Ah brengsek! Kak Rendi benar-benar keterlaluan. Masa aku suruh kerja bersama bos mesum seperti Pak Andra." Umpatnya, Irene langsung meraih ponsel dan menelepon seseorang.
Andra langsung mendudukkan bokongnya ke sofa, ruangnya, "Ada apa?" tanyanya.
Anton menyerahkan beberapa dokumen berisi pembatalan kontrak kerjasama di atas meja. "Tiga perusahaan yang bekerjasama dengan kita, mereka membatalkannya Pak. Mereka memilih bekerjasama dengan perusahaan Pak Rendi." Tutur Anton.
Andra membuka dokumen itu dan langsung melemparkannya ke sembarang arah.
Andra memijit dahinya, otaknya benar-benar pusing. "Bukannya perusahaan ku sama-sama di bidang properti dengan Rendi, kenapa mereka membatalkan kerjasama denganku, benar-benar brengsek!" Umpatnya.
"Perusahaan Bapak kalah cepat Pak, Pak Rendi lebih cepat menyelesaikan proyeknya. Di banding kita, jadi mereka beralih padanya, apa lagi dengan keadaan perusahaan Bapak yang seperti ini."
Andra mengebrak meja. "Apa maksudmu? Rendi, dia belum berpengalaman. Jauh denganku, pokoknya aku nggak mau tahu. Kau cari solusi biar perusahaan ku tidak bangkrut!" Pekik Andra berlalu pergi meninggalkan ruangannya.
Anton hanya bisa geleng-geleng kepala.
☘️☘️☘️
Rendi masuk kedalam ruangannya bersama Dion sehabis menyelesaikan rapatnya.
"Pak Rendi, maaf ada yang ingin saya bicarakan." Ucap Dion agak membungkuk.
"Apa?" Rendi meraih secangkir kopi dan menyeruputnya.
__ADS_1
"Saya mau izin menikah Pak." Ucapnya tiba-tiba.
"Uhuk.... Uhuk...." Rendi langsung tersendak.
"Apa Bapak tidak apa-apa?" tanya Dion seraya memegang tengkuk Rendi, tapi Rendi menolaknya.
Rendi mengelap sisa kopi di bibirnya, "Apa tadi yang kamu barusan bilang. Menikah? Apa aku tidak salah dengar." Ucapnya memegang telinga kirinya.
"Bukannya kamu jones, wanita mana yang mau kamu nikahi? Oh atau kamu pasti di jodohkan oleh ibumu." Ucap Rendi menebak dengan ejekannya, mentang-mentang dia menikah bukan karena perjodohan. Dengan entengnya bilang kayak gitu.
"Saya tidak di jodohkan Pak, saya ingin menikah dengan Melly Pak."
Mata Rendi langsung membulat sempurna, "Kau pasti berbohong. Sejak kapan kalian punya hubungan asmara." Rendi merasa tak percaya.
"Tidak Pak saya serius." Dion mengusap tengkuknya, "Sebenarnya sejak dulu saya sudah suka padanya Pak." Ucapnya sambil merona.
"Lalu kenapa Melly tidak memberitahuku juga. Harusnya dia juga bilang bukan cuma kamu."
"Saya akan panggilkan Melly Pak," ucap Dion seraya berjalan kearah pintu hendak membukanya.
Ceklek.... Melly sendiri sudah ada di depan pintu.
Dion kaget, matanya langsung membulat. "Me-Mell.... Kau sejak kapan di sini? Kau nguping ya?" tanya Dion.
Melly menunduk karena malu sudah ketahuan. "Maaf Pak, saya hanya penasaran dengan jawaban dari Pak Ren....."
Mereka berdua kini berdiri di depan Rendi yang masih tengah duduk dengan santai. Tapi mereka diam dan saling bertatapan.
"Hei apa yang kalian lakukan, curi-curi pandang di depanku. Kalian ingin membuatku iri! Bicaralah sekarang." Pekik Rendi marah.
"Mell kau bicara, Pak Rendi tidak percaya saya akan menikahi mu." Tutur Dion yang langsung di anggukkan oleh Melly.
"Iya Pak, benar saya dan Pak Dion ingin menikah. Saya meminta izin sama Bapak." Tutur Melly seraya menurunkan pandangan.
Rendi menghela nafas. "Ya sudah aku izinkan. Mau nikahnya kapan, besok?"
"Mungkin Minggu depan Pak, sekarang saya mau persiapkan dulu semuanya," tutur Dion.
Rendi mengangguk pelan. "Kenapa tidak besok saja, lebih cepat kan lebih baik. Tapi ya sudah terserah kalian saja."
"Iya Pak terimakasih, kalau begitu saya permisi." Ujar Melly dan Dion.
"Dion." Panggil Rendi, Dion menghentikan langkah kakinya.
"Iya Pak."
__ADS_1
"Nanti kamu pakai WO yang pas aku nikah saja, bagus. Dan lagipula sepasang baju pengantinnya dari butik ibuku. Kau juga waktu itu yang mengurusnya kan?"
"Sepertinya itu terlalu mahal Pak, saya tidak sanggup membayarnya."
"Nanti aku yang bayar."
"Maaf Pak, bukan maksud saya menolak, saya berterimakasih Bapak sudah baik sama saya. Tapi saya ingin memakai uang hasil dari tabungan saya sendiri saja."
Padahal Rendi memang benar ingin membantu, apa lagi Melly dan Dion adalah orang kepercayaannya, "Ya sudah terserah. Tapi nanti kau jangan libur terlalu lama habis menikah, kau dan Melly kan penting di kantor ini, dan nggak usah minta izin mau bulan......."
Tok... Tok... Tok. Ucapan Rendi terhenti gara-gara suara ketukan dari pintu. Dion berjalan dan membuka pintu.
Ceklek....
Ternyata orang itu adalah ibu Santi dan temannya, Rendi langsung berdiri dan memeluk Ibunya. "Mamah tumben kesini, apa kabar?" tanya Rendi dan langsung menyuruh ibunya duduk dengan temannya di sofa.
"Mamah baik sayang. Gimana kabar Indah?" tanyanya.
"Indah baik Mah, kok Mamah nggak nanya kabar Rendi sih?" tanyanya cemberut. Ah memang Rendi ini sudah jadi anak tiri kalau di sandingkan dengan Indah.
"Sayang... Kamu kan sudah kelihatan, pasti baikkan? Kapan nih Mamah punya cucu?"
Rendi tersenyum, "Lagi proses pembuahan Mah, tinggal tunggu panen." Ucapnya meyakinkan.
"Iya sayang, semoga sukses terus ya buat tugas negaranya." Sahut Santi sambil terkekeh.
"Amin Mah..."
"Dion, kau keluar dan belikan jus di cafe." Perintah Rendi kepada asistennya.
"Baik Pak." Dion berjalan keluar.
"Oya Ren apa kau sudah makan? Ini Tante masak banyak jadi sengaja sekalian bawa untukmu." Ucap teman ibunya, seraya menaruh barang yang ia bawa di atas meja, itu adalah Tupperware berisi makanan.
Rendi baru menyadari kalau wanita yang datang bersama ibunya adalah Munah ibu dari Irene.
Kenapa ibunya Irene ikut kesini. Ini pasti ada apa-apanya.
"Oya Ren... Ini Tante Munah kau masih ingat padanya kan?" tanya Ibunya kearah Rendi, Rendi mengangguk pelan. "Katanya Irene kemaren kerja di sini jadi sekretaris mu, tapi kau memindahkannya, kenapa Ren?"
Rupanya Irene mengadu pada ibunya, lalu ibunya meminta bantuan pada Santi yang juga temannya.
Rendi memegang jari jemarinya, "Apa Irene tidak bicara pada ibunya?" tanya Rendi kearah Munah.
"Iya Mun, apa yang sebenarnya terjadi? Rendi tidak mungkin asal memindahkan orang begitu saja, kalau dia memang tidak punya kesalahan." tanya Santi karena dia memang tahu sifat dari anaknya sendiri.
__ADS_1
^^^🌾To Be Continue🌾^^^