
"Kamu menolak?" tanya Rendi sambil memegang pipi Indah.
"Bukannya dulu kamu yang bilang sendiri, kamu akan melakukan hal itu dengan orang yang kamu cintai. Aku nggak mau jika kamu melakukan itu denganku, nanti kamu malah membayangkan Siska." Kata Indah, wajahnya seketika saja menjadi sendu.
"Ah CUKUP... CUKUP... Jangan sebut nama itu lagi, aku juga tidak akan memaksamu." Ucapnya sedikit cemberut.
"Kau marah?"
"Tidak."
"Apa aku boleh tidur sekarang?" tanya Indah yang matanya sudah seperti lampu 5 watt.
"Tentu boleh." Rendi menarik selimut untuk menyelimuti Indah dan dirinya, "Tidurlah." Kata Rendi sambil mengecup lembut keningnya.
๐ ๐ ๐
Keesokkan harinya Andra datang ke kantor pagi-pagi buta secara mendadak, sekitar jam 5 pagi. Dia di telepon oleh asistennya karena sudah banyak karyawannya berdemo di depan kantor Pratama Grup B miliknya. Andra masuk lewat pintu belakang kantor, dia tidak mau mengambil resiko dengan amukan para pekerjanya, dia juga bertanya-tanya apa yang terjadi sampai-sampai setengah karyawannya itu berdemo di depan.
Tok tok tok, suara ketukan pintu dari ruangnya.
"Ya masuk." Sahut Andra.
Seorang wanita datang sambil memberikan data-data perusahaan, wanita itu adalah bendahara di kantornya.
"Apa-apaan ini!" ucapnya mengebrak meja.
Beberapa gajih karyawan selama 3 bulannya, di korupsi oleh sekretarisnya, Andra yang terlalu sibuk dengan dunianya, sering melalaikan pekerjaannya di kantor. Dia juga menyerahkan tanggung jawab ke sekretarisnya yang merupakan kekasih gelapnya juga, tapi dia malah menipu dan membawa kabur uang perusahaannya.
"Lisa brengsek! Bisa-bisanya dia menipuku!" Geramnya dengan emosi memuncak-muncak.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana?" tanya Andra ke Asistennya.
"Kita perlu suntikan dana Pak." Sahutnya yang berada di samping.
"Berapa kira-kira?"
"Sekitar 50% Pak, tapi untuk Minggu ini Bapak sudah ada janji untuk berinvestasi di perusahaan kosmetik pak Hadi."
"Ah sial banget, kenapa bisa seperti ini." Sahutnya mengacak-acak rambut.
"Bapak sebaiknya, meminta dana pada Pratama Grup A. Beliau kan keponakan Bapak sendiri." Kata Asistennya memberikan ide.
"Rendi...." Ucapnya langsung meraih teleponnya dan menelepon.
__ADS_1
"Hallo Ren, kamu dimana?"
"Iya om, Rendi ada di kampus."
"Om mau ketemu kamu di kantormu apa bisa?"
"Iya bisa om, ini Rendi mau ke kantor." Sahutnya menutup telepon.
***
"Ya sudah ya Mas aku masuk ke kampus dulu." Ucap Indah hendak membuka pintu mobil.
"Eh tunggu dulu," cegah Rendi. Dia mengambil dompet di kantong celananya, untuk mengambil black card dan menyerahkan pada Indah. "Ini Ndah buat pegangan."
"Eh apaan Mas? Aku kan sudah punya kartu atm sendiri." Tanya Indah agak binggung.
"Nggak apa-apa kamu pakai ini, aku kan sering lupa untuk kasih uang bulanan ke kamu." Sahut Rendi yang langsung saja mengecup kening Indah.
"Terimakasih Mas." Jawabnya sambil tersenyum. "Oya aku lupa, terimakasih juga kamu udah bayarin hutang aku di koperasi." Indah kembali membuka pintu mobil namun lengannya di hentikan Rendi.
Rendi melihat leher Indah yang masih merah, bekas gigitannya kemaren sore. Dia mengambil syal baru miliknya dan mengalungkan ke leher Indah. "Mas ini kan bukan musim dingin kenapa aku harus memakai ini?" tanya Indah mencoba melepaskan syal itu yang sudah terpasang rapih.
"Kamu emang nggak malu?"
"Ckckck..." Suara decakan dari mulut Rendi. "Emang kamu nggak ngaca pas habis mandi? Leher kamu merah itu." Kata Rendi sambil menunjuk.
Indah mengambil kaca di dalam tasnya, dia menarik sedikit syal itu dan terlihat ada bercak merah. Dari kemaren dia tidak sadar ada ****** di lehernya, ya meskipun tidak terlalu merah, namun siapa saja yang melihat pasti akan mengerti.
Indah menatap Rendi penuh dengan kesal. "Katanya kemaren kamu mau main lembut, tapi kok sampai merah begini." Omelnya.
"Itu juga sudah sangat lembut kok aku mainnya, tapi refleks saja aku mengigit nya." Sahut Rendi beralasan. "Tapi sepertinya kamu suka juga kan?" tanya Rendi menggoda sambil memainkan kedua alisnya.
"Enak saja, aku bukan kamu ya Mas." Sahutnya tak terima. "Kamu kok sekarang jadi mesum gini, sudah ah aku mau masuk ke kampus dulu." Kata Indah seraya memalingkan wajah dan keluar dari mobil.
Rendi menurunkan kaca mobil. "Kamu semangat belajar nya." Ucapnya.
Indah hanya mengangguk dan berjalan ke arah kampus.
Makin kesini aku makin nyaman dengannya, bibirnya juga bikin aku nagih untuk menciumnya lagi, apa itu berarti aku sudah mencintainya? Semoga saja iya.
Batin Rendi
"Indah." Panggil Nella yang berada di belakangnya.
__ADS_1
Indah langsung balik badan, "Ya Nell."
"Kok kamu pakai syal? Kamu sakit?" tanya Nella sambil menempelkan punggung tangannya ke jidat Indah. "Tapi nggak panas kok."
"Ah nggak Nell, cuma lagi pengen pake aja." Sahut Indah, sambil tersenyum. Dia malu untuk mengatakan dengan jujur.
"Ke kantin dulu yuk. Aku mau ngobrol sama kamu." Ajaknya sambil mengandeng tangan Indah.
๐บ๐บ๐บ
Andra datang lebih dulu ke kantor Rendi dia juga menemui Melly, sekretarisnya dulu pas dia memegang perusahaan ayah Rendi.
"Mell kita bisa ngobrol sebentar." Kata Andra yang sudah masuk di ruangan Melly.
"Boleh Pak Andra silahkan duduk." Ucap Melly mempersilahkan duduk.
Pertama-tama aku harus mengambil Melly dulu, dia wanita yang sangat cerdas dan cocok untuk mengantikan Lisa saat ini.
Batin licik Andra.
Andra duduk di depannya, "Mulai besok kamu pindah kerja di kantorku." Ucap tiba-tiba.
"Apa maksud Bapak?" tanya Melly.
"Mulai besok kamu pindah ke kantorku. Apa kurang jelas!" Katanya dengan tatapan tajam.
"Tapi Pak, saya sudah jadi sekretaris Pak Rendi sekarang. Bagaimana bisa?" tanya Melly yang masih binggung.
Pertama kali Melly melamar jadi sekretaris di Perusahaan Pratama Grup A yang masih di pegang oleh Andra, namun dia sendiri tidak nyaman bekerja dengannya, karena dia juga sering di perlakukan tak senonoh oleh Andra. Seperti kebiasaanya pada perempuan lain.
Melly juga sempat berniat untuk berhenti kerja, namun di ancam oleh Andra.
Tapi syukurlah berhubung Rendi menjadi CEO baru di perusahaan itu. Dia merasa lebih tenang dan lebih nyaman menjalani profesinya, meskipun Rendi orang yang sangat keras kepala dan sombong. Tapi Rendi tidak pernah melecehkannya, Rendi selalu bersikap profesional dengan semua karyawannya.
"Pokoknya besok kamu harus pindah! Aku yang akan bilang sendiri ke Rendi." Ancam Andra sambil marah-marah dan berlalu keluar ruangan.
โ๏ธโ๏ธโ๏ธ
Tok tok tok, Andra mengetuk pintu ruangan Rendi yang sudah ada Rendi di dalamnya.
"Masuk." Sahut Rendi dari dalam.
"Ren..." Ucapnya yang kemudian duduk kursi di depan meja Rendi.
__ADS_1
๐Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Like๐