Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 14. Menular


__ADS_3

"Kakak tidak tau, sayang," jawab Wulan.


"Kok tidak tau? Kakak Indah tau kalau didalam perutnya ada Dede bayi, kok Kakak nggak?"


"Itu karena Kak Indah sebelumnya sudah diperiksa oleh Dokter."


"Oh. Yasudah Kakak nanti sekalian saja di periksa, siapa tau ada Dede bayinya," usul Clara.


Wulan menghela nafas dengan panjang, walau diceritakan bagaimanapun tetap saja. Clara tidak akan mengerti.


"Sayang, sudah tidak usah mikirin kesitu. Kalau di perut Kakak ada Dede bayinya pasti Kakak juga tau."


"Semoga secepatnya ya Kak. Aku ingin punya teman untuk bermain," pinta Clara.


Aku malah tidak berharap kalau aku hamil, pernikahanku saja begini. Bagaimana nanti kalau aku punya anak dan sikap Mas Rio masih seperti itu padaku, yang ada anakku ikut menderita.


Batin Wulan.


"Iya, sayang." Wulan mengecup kening Clara dengan lembut.


***


Di rumah Hermawan.


Reymond, Indah, Bayu, Santi, dan Mawan tengah sarapan bersama. Hari ini adalah hari dimana sidang Andra yang diputuskan oleh Hakim, mereka berencana untuk datang. Namun sepertinya Indah sendiri tidak mau ikut, ia mempunyai rencana lain untuk pergi hari ini.


"Mas ... aku tidak ikut saja ya di persidangan Om Andra," pinta Indah.


"Lho memangnya kenapa? Kamu tidak enak badan?" tanya Reymond seraya menempelkan punggung tangannya pada dahi dan leher istrinya, tapi sepertinya Indah baik-baik saja.


"Tidak, Mas. Aku hari ini ingin pergi ke panti asuhan, apa boleh?"


Panti asuhan?! Ah iya, lagi-lagi aku lupa. Aku juga belum mengatakan tentang Adiknya Indah. Banyak pekerjaan di kantor membuatku lupa, apa mungkin nanti saja setelah masalah Om Andra selesai. Aku akan mengutarakan semuanya.


Batin Reymond.


"Jangan sekarang ya sayang. Besok saja, nanti aku temani," sahut Reymond.


"Kamu mau ngapain ke panti asuhan, Indah?" tanya Mawan yang duduk didepannya.


"Aku hanya ingin main saja, Pah. Pemilik pantinya aku kenal. Aku juga ingin bertemu anak-anak panti disana," jawab Indah.


"Bunda ... api Bayu mau main cama Kaka Lala." Tangan kecilnya memegang lengan Indah.


"Kaka Lalanya sekolah sayang, kemarin saja kamu bosan nungguin dia sekolah. Nanti besok saja kita kesana, ya?" rayu Indah.


Bayu mengangguk.


"Sekolah? Memang dia sudah masuk sekolah lagi?" tanya Santi.


"Iya, kemarin Rio menyewa Guru home schooling untuk dia, Mah."


Berlebihan sekali Rio, bukannya fokus sama istrinya. Dia malah sibuk sama Adik iparnya.

__ADS_1


Batin Mawan.


"Bayu jangan sering main dengan Clara, Indah. Diakan anak penyakitan. Nanti bisa-bisa tertular," celetuk Mawan.


Mata semua orang di meja makan itu terbelalak kaget, apalagi Reymond. Matanya seakan hendak keluar.


"Memangnya Clara sakit apa? Kalau memang penyakitnya menular, jangankan Bayu. Kamu juga jangan bertemu dengannya, sayang ...," ujar Reymond kearah Indah.


"Papah ini apa-apaan sih, kalau ngomong sembarangan saja. Clara itu sakit ginjal, mana ada gagal ginjal itu menular," balas Santi.


"Oh. Kan Papah tidak tau, Mah. Papah hanya tau dari Rio kalau dia sedang mencari Dokter untuk Adik iparnya itu," ujar Mawan.


"Baguslah. Berarti peduli juga Rio, Mamah kira Rio tidak akan menerima Wulan maupun Adiknya, ternyata tebakan Mamah salah," sahut Santi.


"Jadi bagaimana, Mas? Aku bolehkan ke panti asuhan? Aku ingin pergi bersama Papah Antoni," ucap Indah.


"Tapi kok Papah Antoni tidak izin dulu padaku, sayang. Harusnya kan ...."


Ucapan Reymond langsung terhenti kala melihat deringan panggilan masuk pada ponselnya diatas meja. Baru saja diomongin, Antoni sudah meneleponnya. Panjang umur juga dia.


"Halo, selamat pagi Pak Reymond," sapa Antoni.


"Pagi, Pah. Papah ... akukan sudah pernah bilang, panggil saja Reymond, tidak perlu pakai 'Pak."


"Habis Papah tidak enak. Kamukan atasan Papah."


"Ngapain tidak enak, biasa saja. Oya ada apa, Pah?" tanya Reymond.


"Boleh, tapi nanti Irwan juga ikut ya, Pah."


"Iya, terima kasih. Reymond."


"Sama-sama, Pah."


Setelah menutup telepon dan menyelesaikan makan, mereka bertiga pamit pada Indah dan Bayu. Ingin segera pergi ke Mahkamah Agung.


***


Kini Indah, Antoni dan Bayu tengah duduk dibelakang kursi mobil dengan Irwan yang menyetir didepan.


Sebelum berangkat menuju panti asuhan. Mereka lebih dulu memesan ketering makanan, untuk sekalian makan siang disana dan berbagi.


"Sayang, kok kamu tumben ingin ke panti asuhan?" tanya Antoni seraya mengusap rambut Indah.


"Iya, sebenarnya sudah sejak kemarin-kemarin. Tapi Mas Reymond sibuk terus, jadi aku ingin pergi dengan Papah saja," sahut Indah.


"Oya ... kamu sudah periksa kandungan lagi belum? Bagaimana cucu kedua Papah. Apa dia sehat?"


Tangannya perlahan mengelus perut Indah, kali ini sudah terlihat menonjol walau masih agak samar-samar.


"Belum, mungkin nanti, Pah."


"Kamu ingin dia laki-laki atau perempuan didalam sana, sayang?" tanya Antoni.

__ADS_1


"Kalau boleh minta perempuan, tapi terserah Allah saja, Pah."


"Iya, yang penting kamu dan anak kamu sehat, sayang. Papah selalu berdo'a yang terbaik untuk kamu."


"Iya, amin Pah."


Ditengah perjalanan Indah melihat Wahyu tengah mendorong gerobak bakso, segera ia meminta Irwan untuk menghentikan laju mobilnya.


"Pak Irwan, berhenti sebentar," pinta Indah.


"Baik, Nona."


Antoni melihat pada kanan dan kiri kaca mobil Irwan, merasa heran kenapa tiba-tiba anaknya meminta untuk memberhentikan mobil.


Ia juga melihat Indah menyelipkan tas pada bahunya, seperti hendak membuka pintu mobil. "Kamu mau kemana?" tanya Antoni seraya memegang lengan Indah.


"Papah, kita makan bakso dulu, yuk!" ajak Indah seraya menunjuk gerobak bakso. Wahyu sudah mangkal dan tengah melayani para pembeli.


"Kenapa musti dipinggir jalan? Makan di Restoran atau di Cafe saja. Nanti kamu di marahin Reymond atau Papah Mawan."


"Penjualnya Ayahnya Wulan, Pah. Aman kok."


Mata Antoni terbelalak. "Ayahnya penjual bakso?"


"Iya, aku tiba-tiba kepengen. Beli ya, Pah," pinta Indah.


"Yasudah, Kamu tunggu disini saja. Papah yang beli."


"Tapi aku mau makan disini bareng Papah dan Bayu. Eeemmm ... sama Pak Irwan juga."


Tidak enak rasanya kalau Irwan tidak diajak.


"Kalau begitu saya saja yang pesankan, Nona. Nona mau baksonya pakai apa saja?" tanya Irwan.


"Kita pesan bersama saja, aku tau selera Indah," ajak Antoni.


Irwan dan Antoni yang tengah mengendong Bayu keluar dari mobil, mereka langsung menghampiri Wahyu yang memang memberhentikan gerobaknya tepat didepan mobil.


Melihat kedatangan mereka, sontak membuat Wahyu kaget, karena melihat ada Bayu dalam gendongan Antoni.


"Wah Dede Bayu ... kok bisa ada disini?" tanya Wahyu basa-basi.


"Bunda mau baconya Opa," sahut Bayu.


Antoni mengulurkan tangannya pada Wahyu, mengajaknya berkenalan.


"Perkenalkan saya Antoni, Papahnya Indah."


Penjual bakso itu membalas jabatan tangan Antoni.


"Saya Wahyu, Pak."


^^^Kata: 1029^^^

__ADS_1


__ADS_2