Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
85. Cincin Berlian


__ADS_3

Siska dan Andra saling memandang, Andra mengedipkan kedua matanya memberi isyarat. "Dia juga di undang ke acara ini. Mangkanya saya ajak dia." Sahut Andra beralasan.


"Maaf Pak, tidak bisa. Dia bukan tamu undangan, saya sudah di perintahkan oleh Pak Dion untuk tidak mengizinkan dia masuk." Tegasnya kekeh.


"Om bagaimana ini?" tanya Siska dengan kesal, dia sudah dandan secantik mungkin dan memakai dress seksi. Tapi semuanya sia-sia.


Dion dan Rendi brengsek.


Geram Andra sambil menghela nafasnya dengan berat.


"Ya sudah kau pulang saja naik taksi." Ucapnya melepas gandengan di tangan Siska.


Padahal ada rencana yang mereka buat dalam acara ini, tapi Rendi dengan sengaja memperketat penjagaan dan sudah memberikan foto Siska untuk para penjaganya, guna mencegah Siska masuk. Takut mengacaukan acara Rendi. Mungkin bisa di bilang sedia payung sebelum hujan.


Setelah semua tamu undangan berkumpul dan duduk di depan. Seorang MC wanita memanggil Rendi.


"Baik jika semua tamu sudah berkumpul, saya persilahkan untuk Pak Rendi Pratama CEO Pratama Grup A sekaligus tuan rumah acara ini. Untuk naik ke atas panggung." Kata MC itu berbicara lewat microfon.


Rendi berjalan melangkah kearah panggung dengan stelan jas berwarna merah maroon dan memegang microfon. Di ikuti dengan tepuk tangan antusias para tamu.


"Assalamu'alaikum. Selamat malam semuanya," salam Rendi dengan senyum tipis di bibirnya.


"Walaikumsalam." Sahut para tamu undangan.


"Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih, buat tamu undangan yang sudah menyempatkan datang di acara yang saya adakan secara mendadak."

__ADS_1


"Selain mengadakan acara syukuran atas jalannya pembangunan kantor cabang kedua saya, saya juga ingin memperkenalkan istri saya secara resmi kepada kalian semua." Rendi mengedipkan kedua matanya dan mengangguk kearah Harun yang tengah berdiri di samping Indah.


Indah berjalan dengan perlahan namun pasti melangkah menaiki panggung dengan mengenakan gaun short dress dan make up ringan namun sangat cocok untuk penampilannya, membuat dirinya makin terlihat cantik dan bersinar. Harun dan Dion di samping kanan kirinya, tamu undangan menepuk tangannya lagi. Menyambut kedatangan Indah di atas panggung.


Rendi menyambut kedatangannya dengan senyuman memukau dan sangat tulus. Rendi berbicara lagi lewat microfon.


"Ini adalah istri saya, namanya Indah Permatasari Pratama." Ucap Rendi mengenalkan. Indah tersenyum dengan sedikit mengangguk menyapa para tamu.


"Mungkin di antara kalian ada yang sudah mengenalnya, tapi saya harap kalian semua bisa menghormatinya seperti kalian menghormati ku, karena bagiku dia adalah segalanya," kata Rendi sambil mencium tangan kiri Indah, dan membuat pipinya merona.


Rendi mengambil satu kotak perhiasan di kantong celananya yang berisi sepasang cincin dan langsung dia pakai ke jari manis Indah. Cincin yang indah dengan satu berlian di atasnya.


Sontak Indah kaget, dan tidak bisa berkata-kata. Dia sekarang merasa seperti sedang bertunangan, padahal dia sendiri dengan Rendi sudah menikah. Ya wajar saja, dia 'menikah di atas perjanjian' cuma dengan uang 50 juta yang di jadikan mas kawin. Tidak ada cincin ataupun perhiasan lainnya.


"Aku mencintaimu sayang." Ucap Rendi mengunakan microfon. Semua orang berteriak histeris dan ikut merasakan keuwuwan mereka berdua. Tapi Indah bengong saja sedari tadi.


"Kenapa diam saja? Apa kamu tidak mau memakaikan sepasang lagi untuk Mas mu?" tanya Rendi. Dengan perlahan Indah memasukkan cincin ke jari manis Rendi.


Rendi langsung memeluknya dan mencium keningnya, "Aku mencintaimu." Lirih Rendi di telinga Indah.


"Aku juga mencintaimu Mas." Sahutnya pelan, kali ini Indah benar-benar bahagia. Rasa penyesalannya dulu menikah dengan Rendi, hilang pada malam ini juga.


Rendi langsung tersenyum ala-ala Pepsodent, sebenarnya dari lubuk hati Rendi. Dia ingin sekali mencium bibir Indah. Tapi dia takut kalau nantinya Indah merasa malu, karena melakukan di depan umum. Jadi, pikiran mesumnya dia tahan dulu.


"Wah... So sweet sekali Pak Rendi dan Nyonya Rendi, duh... Jiwa jomblo saya meronta-ronta Pak, kita do'akan semoga Pak Rendi dan istrinya selalu di beri kesehatan dan umur yang panjang, jangan lupa cepat kasih kita semua Pratama junior ya Pak, Bu." Ucap sang MC dan langsung di tepuk tangan oleh para tamu undangan.

__ADS_1


Setelah itu, datang sebuah tumpeng di atas meja. Rendi menuntun tangan Indah untuk ikut memotong tumpeng atasnya menjadi satu irisan dan lalu Rendi menyuapi Indah. Begitupun sebaliknya, saling suap-suapan.


Selesai dari itu, Rendi dan Indah turun dari panggung dan langsung di sambut oleh teman-teman Rendi.


"Wah selamat ya Ren atas keberhasilan lu." Ucap Brian sambil menjabat tangan Rendi. "Bukan cuma sukses di bisnis, lu juga sukses di masalah percintaan." Lanjut Brian merasa bangga.


"Iya gue kira lu bakal lama menjomblo, gara-gara gagal move on." Timpal Rizky, padahal sendirinya juga jomblo. "Oya kenalan dong. Aku Rizky temannya Rendi." Ucapnya menjabat tangan kearah Indah.


Indah pun membalasnya, "Indah..." Jawabnya.


"Aih. Sudah jangan lama-lama pegang tangannya," ucap Rendi melepaskan tangan Rizky. Padahal Indah baru sebentar menempelkan tangannya ke tangan Rizky.


"Pelit banget lu Ren. Tapi istri lu cantik juga." Lanjut Rizky dengan mengedipkan salah satu matanya dengan nakal kearah Indah.


"Eh mau di colok itu mata." Pekik Rendi yang sudah menyiapkan telunjuknya keatas.


"Hahahaha." Mereka semua tertawa terbahak-bahak. "Rendi, Rendi. Ternyata bener kali ini lu sudah move on." Sahut Bima.


"Benerlah. Ngapain gue terpuruk dalam masa lalu yang suram, mending gue menikmati indahnya pelukan istri.... Iya kan sayang?" tanya Rendi seraya merangkul pundak Indah. Indah hanya bisa tersenyum dengan pipi yang merona.


"Mantep-mantep." Ucapnya sambil manggut-manggut. "Sangking lagi mesra-mesranya lu sampai lupa dateng ke acara pernikahan gue. Parah lu." Timpal Bima keki. Rendi memang tidak datang di acara pernikahannya karena memang saat itu Indah di culik.


"Ah sorry Bro. Gue lagi bulan madu, jadi lupa kalau ada undangan dari lu." Kata Rendi beralasan, tapi memang benar sih dia bulan madu. Bulan madu di rumah sakit maksudnya, wkwkwk.


"Oke-oke, gue paham." Sahut Bima dengan santai. "Kenalin ini Soraya. Istri gue." Ucapnya mengenalkan istrinya yang sejak tadi ia gandeng. Soraya langsung menjabat tangan Rendi dan Indah, di ikuti oleh Indri istri Brian.

__ADS_1


Saat mereka bertujuh saling bercakap-cakap. Andra berjalan menghampiri mereka bersama asistennya.


^^^Bersambung.....^^^


__ADS_2