
"Rio ...," panggil Santi seraya menghampirinya, dia memijat lembut tengkuk anaknya.
"Uueekk ... uueekk ... uueekk."
"Kenapa kau masih muntah-muntah lagi?! Apa obatnya tidak manjur?" tanya Santi.
Rio segera membasuh mulutnya dan mendudukkan bokongnya pada kloset duduk.
"Aku tidak tau, Mah. Rasanya perutku ini seperti di remas-remas, sakit dan mual ... tercampur jadi satu," lirihnya sambil menyeka keringat pada dahi.
Perasaan dulu Rendi dan Rio, kalau asam lambungnya kumat tidak sampai berhari-hari. Apalagi kalau sudah di rawat ke rumah sakit, mereka akan cepat sembuh. Tapi kenapa sudah dua hari masih begini?! Apa jangan-jangan ada penyakit dalamnya juga?! Sepertinya Rio harus di rontgen perutnya. Nanti aku konsultasi pada Dokter dulu deh.
Batin Santi.
"Mamah ... aku ingin mandi, Mah."
"Sebentar, Mamah akan panggilkan Suster untuk melepaskan jarum infusanmu dulu," ucap Santi seraya berjalan keluar.
Tak lama ia masuk lagi, namun bersama perawat pria. Perawat pria itu melepaskan jarum pada punggung tangannya.
"Bapak mau mandi?" tanya perawat itu.
"Iya."
"Kalau masih terasa pusing dan lemas. Biar saya bantu membersihkan tubuh Bapak," tawarnya.
Santi hendak keluar dari kamar mandi, namun tiba-tiba Rio memanggilnya.
"Mamah ... Mamah mau kemana?"
"Keluarlah, kau 'kan mau mandi. Masa iya mau Mamah lihatin."
"Aku tidak mau mandi dengannya, Mah. Aku ingin Wulan yang membantuku."
Deg.....
Mata Santi terbelalak, namun emosinya mendadak naik.
"Kau ini lupa ingatan atau bagaimana?! Wulan sudah meninggalkanmu Rio. Dia juga tidak ada disini," dengkusnya kesal.
"Kau pergilah dulu," usir Rio pada perawat pria itu. Ia mengangguk dan meninggalkan Rio dan Santi didalam kamar mandi.
"Mamah bujuk Wulan supaya kesini, Mah. Supaya dia bisa memandikan aku ...," lirihnya dengan wajah memelas.
"Gila kau Rio! Kau yang menyakitinya, kenapa musti Mamah yang membujuknya! Harusnya kau yang membujuk! Tidak tau diri sekali jadi suami!" umpatnya kesal.
"Yasudah ... Mamah tolong ambilkan ponselku, aku mau telepon Wulan, Mah."
Santi menurut, ia mengambil ponsel Rio dan menyerahkan padanya. Rio langsung menelepon Wulan. Nomornya tersambung dan aktif. Tapi ditelepon beberapa kali tidak ada jawaban.
Wulan. Kenapa kau tidak menjawab teleponku?! Apa kau benar-benar marah dan meninggalkanku?!
Batin Rio.
Rio menatap sendu kearah Santi, wajah Ibunya tampak begitu cemberut.
"Teleponku tidak dia angkat, Mah ...."
"Iya, Mamah tau."
"Lalu bagaimana?! Aku mau mandi, Mah. Aku tidak nyaman rasanya, dari kemarin tidak mandi."
"Ribet sekali kau jadi orang. Mandi ya tinggal mandi ... susah amat!"
"Aku lemas, Mah. Mamah mau aku pingsan lagi?"
"Ya tadi 'kan ada perawat Rio. Tapi kau malah mengusirnya."
__ADS_1
"Aku malu, Mah. Diakan bukan keluargaku. Masa iya dia melihat tubuhku."
Santi memutar bola matanya dengan malas.
"Yasudah ... lebih baik Mamah saja yang membantuku untuk mandi."
Mata Santi terbelalak kaget. "Kau ini benar-benar kurang waras! Mamah tidak mau!"
Santi sudah berjalan hendak meninggalkan Rio, namun lagi-lagi anaknya memanggil.
"Mamah ...." Santi menghentikan langkahnya.
"Mamah kok jahat padaku, bukannya waktu kecil aku sering di mandiin sama Mamah. Kenapa sekarang Mamah menolak?"
Santi menarik nafas dan perlahan membuangnya, dadanya terasa begitu sesak karena kesal.
Kalau aku tidak lihat dia sedang sakit dan tak berdaya seperti ini. Aku sudah menghajarnya habis-habisan.
Batin Santi.
"Ya, Mah ... Mamah bantu aku untuk mandi. Rio mohon ...," lirihnya pelan, wajah Rio terlihat begitu pucat dan sendu.
"Mamah tidak mau Rio, jangan paksa Mamah. Kamu ini sudah dewasa, Mamah geli melihat tubuhmu nanti!"
Rio tertunduk murung. "Mamah jahat, masa bilang tubuhku geli. Tubuhku bagus kok. Wulan saja suka melihat tubuhku."
"Ya itu Wulan. Inikan Mamah, lain lagi ceritanya."
"Yasudah, Papah saja. Papah tidak mungkin menolak untuk memandikanku, Mah."
"Astaga!" Santi menepuk dahinya sendiri sambil geleng-geleng kepala. "Papah kerja Rio. Dia pagi-pagi pergi ada meeting dan tidak bisa di ganggu!" tegur Santi.
Si Rio makin hari tingkahnya makin konyol, banyak maunya dan manja sekali. Apa dia sering bertingkah seperti itu juga pada Wulan?! Pantas saja Wulan kesal dan menyerah. Aku saja sebagai Ibunya kesal.
Batin Santi.
"Kalau dia tidak mau?"
"Coba dulu, Mah. Kakak pasti menurut sama Mamah."
Santi mengangguk dan berjalan keluar kamar mandi, ia mengambil ponselnya pada sofa. Lalu menelepon Reymond.
"Halo, Mah."
"Rey, kau ada dimana?"
"Aku ada di jalan dengan Indah."
"Mau kemana kalian?"
"Aku habis mengantarkan Shelly pulang ke panti dan sekarang aku menuju rumah sakit."
"Syukurlah. Mamah mau minta tolong tadinya sama kamu, Rey."
"Bicara saja, Mah."
"Kamu mau, ya? Mandiin Rio ... kasihan dia."
"Mandiin?!" Reymond berkata dengan lantang dan kaget. "Mandiin bagaimana?! Innalilahi wainailaihi rojiun, ja-jadi ... Rio meninggal, Mah?!"
"Apa Mas?! Rio meninggal?" terdengar suara Indah yang ikut kaget terdengar dari sambungan telepon.
"Rey!! Kau ini bicara apa sih?! Rio baik-baik saja!"
"Maksud Mamah bagaimana? Tadi bilang aku suruh mandiin Rio."
"Iya, tapi dia masih hidup Rey!!"
__ADS_1
"Alhamdulilah ... aku kira dia tiada, Mah. Jantungku hampir saja copot."
"Kau ini sembarangan sekali kalau bicara! Jangan bilang seperti itu, itu tidak baik."
"Maafin Aku, Mah. Habis Mamah bilang aku suruh mandiin Rio, aku jadi salah paham."
Santi menghela nafas. "Iya, mungkin Mamah juga yang salah karena tidak menjelaskan. Yasudah, kau kesini dulu saja."
Santi segera menutup teleponnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selang beberapa menit. Reymond, Indah dan Bayu datang. Masuk kedalam ruangan yang sudah ada Santi duduk menunggu.
"Indah, Bayu ...."
"Mamah."
"Oma!"
Santi mencium kening Indah dan Bayu secara bergantian.
"Bagaimana keadaan Rio? Dimana dia, Mah?" tanya Indah.
"Rio ada di kamar mandi, sedang menunggu Reymond," jawab Santi.
Indah menoleh kearah suaminya.
"Ngapain dia menungguku di kamar mandi?" tanya Reymond.
"Bukannya Mamah sudah memintamu untuk memandikannya? Kasihan dia, dia lemas mandi sendiri, Rey."
"Kenapa tidak menyuruh perawat saja?! Kenapa harus aku?!"
Santi melepaskan jas Reymond secara paksa dan membuka kancing lengannya, ia menariknya sampai keatas.
"Sudah, jangan banyak bertanya! Mamah 'kan menyuruh kamu! Bukan orang lain." Santi menarik lengan Reymond, mengajaknya untuk masuk kedalam kamar mandi.
"Mamah aku tidak mau! Rio bukan anak kecil! Ngapain aku yang mandiin dia!" bantah Reymond.
Terlihat Rio tengah duduk di kloset sambil melamun.
"Lihat Adikmu itu!" Santi menunjuk wajah Rio.
"Kau tega padanya?! Sudah mual-mual, badan lemah dan lesu. Sekarang dia di tinggal istrinya. Apa tidak ada rasa simpatimu padanya?!" bentak Santi.
Reymond dan Rio langsung tersentak kaget dan sama-sama menelan saliva dengan kasar.
"Bukan aku tidak simpati. Tapi aku geli, Mah. Dia 'kan sudah dewasa, burungnya pasti berbulu!" terka Reymond.
__ADS_1
^^^Kata: 1027^^^