Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 67. Banyak bertanya


__ADS_3

Rizky meraih ponselnya, dia sempat dikirim undangan lewat email oleh Anton.


Rizky menunjukan gambar itu kedepan wajah pria berkacamata.


"Nih! Matamu belum buta, kan?" sinis Rizky.


Pria itu mengangguk, dan kini beralih menatap wajah Reymond. "Kalau Bapak? Mana undangannya?"


Reymond dan Rizky melayangkan pandangan, wajah Reymond terlihat binggung. Dia sama sekali tidak diundang apa lagi diberi undangan.


"Aku menemani, dia. Pak," jawab Reymond seraya mengelus pundak Rizky.


"Tidak bisa, kalau hanya sekedar menemani. Bapak dilarang masuk," elak pria berkacamata.


"Bukannya setiap orang yang menghadiri acara seperti ini sering membawa pendamping? Anggap saja aku juga begitu," jelas Reymond beralasan.


Pria itu mengangguk. "Pendamping memang boleh, tapi harus sepasang."


"Ini kami sepasang bodoh!" umpat Rizky, lama-lama dia merasa jengkel, matanya sudah melotot.


"Sepasang yang saya maksud, harus pria dan wanita. Bapak-bapak ini 'kan sama-sama pria," tuturnya.


Ish menyebalkan sekali. Menikah sudah dua kali saja begitu ribet!


Gerutu Reymond.


Rizky dan Reymond berjalan kembali menuju mobil diparkiran, mereka berdiri dan menyenderkan bokongnya. Memikirkan ide lain, supaya keduanya bisa masuk bersama.


Beberapa menit kemudian, ada mobil hitam yang datang. Terparkir disamping mobil Rizky.


Seorang pria dan wanita keluar, mereka adalah Dion dan Melly. Sepasang suami istri mengenakan baju batik yang senada.


Sebuah kebetulan yang terjadi untuk Reymond, idenya langsung datang kala melihat mereka berdua. Mungkin ini yang dikatakan. "Kebahagiaan akan memihak pada elu, Rey." Itu kalimat yang pernah Rizky lontarkan kepadanya, sebuah bentuk motivasi.


"Pak Reymond, Pak Rizky. Bapak sedang menunggu siapa?" tanya Dion seraya menghampiri, tangannya sudah mengenggam tangan istri disampingnya.


"Ini, Reymond nggak boleh masuk. Katanya harus pakai undangan, Dion," sahut Rizky dengan wajah ditekuk.


"Dion, kau dan Melly diundang juga, kan?" tanya Reymond melihat pada Dion.


"Iya."


"Kau pasti bisa masuk tanpa undangan, karena kau asisten Rio. Begini saja, aku pinjam sebentar Melly untuk dijadikan pendamping, supaya bisa masuk kedalam sana," ucap Reymond meminta izin.


"Boleh, silahkan. Pak," sahut Dion dengan baik hati.


Reymond dan Rizky kembali saling memandang, kepala keduanya mengangguk. Mereka berempat berjalan menuju pintu gedung lagi, tapi Reymond dan Melly didepan.

__ADS_1


"Bapak, saya sudah bilang. Bapak tidak boleh masuk, karena tidak diundang," ucap pria berkacamata yang lagi-lagi menghalangi Reymond masuk.


Reymond menoleh kearah Melly, "Mell, tunjukkan surat undangannya."


Melly mengangguk, tangannya membuka tas untuk meraih ponsel. Dia menunjukkan gambar undangan yang sama kepada kedua pria didepan.


"Oke, Ibu Melly boleh masuk. Tapi hubungan Bapak ini dan Ibu Melly siapa?"


"Dia sepupuku, Melly ini menghadiri pesta kebetulan sendiri. Jadi aku yang menemaninya," jawab Reymond berbohong.


Lengannya merangkul bahu Melly, Dion bagaikan tidak dianggap berada dibelakang sana.


Pria berkacamata itu melihat kebelakang tubuh Melly, ada Dion. Dia memperhatikan baju couple mereka, "Kenapa Bu Melly dan Bapak yang dibelakang berpakaian sama?"


Astaga! Ampuni aku Tuhan!


Batin Reymond kesal.


"Hei bodoh! Kau ini hidup di dunia apa? Nyata atau halu? Pakaian sama itu wajar, kalian juga memakai pakaian yang sama. Nggak ngotak amat jadi orang!" dengkus Rizky ikut-ikutan kesal.


Pria itu terdiam sejenak. "Oke, boleh. Silakan Bapak dan Ibu masuk."


Akhirnya Reymond bisa bernafas dengan lega. Mereka berempat berhasil masuk disebuah gedung Hotel.


Andra dan Irene tengah berdiri di pelaminan, menyalami beberapa tamu yang datang.


"Baik, Pak."


Melly dan Dion segera pergi meninggalkan Rizky dan Reymond, hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari tempat ketering untuk memburu makanan.


"Selanjutnya, apa?" tanya Rizky seraya berbisik ke telinga Reymond.


Bola mata Reymond berkeliling mencari keberadaan Siska dan pacarnya, namun terlalu ramai. Kebanyakan orang memakai pakaian dan model sama, terlihat sangat sulit dan tidak terlihat penampakannya.


"Kita kasih selamat dulu saja sama Om Andra, dan tanya-tanya tentang Haris padanya, siapa tahu dia tahu," ucap Reymond seraya mengajak Rizky untuk berjalan menuju pelaminan.


Pengantin pria itu tampak berseri-seri, guratan senyum yang sangat lebar. Tapi tidak seperti Irene yang tersenyum dengan penuh penekanan, seperti ingin menyelesaikan semua acara ini. Karena selain merasa malu, tubuhnya juga merasa capek.


"Selamat Om Andra, semoga langgeng dan cepat mendapatkan momongan," ucap Rizky seraya berjabat tangan.


"Iya, terima kasih Riz," sahut Andra.


Tangan Reymond ikut terulur kearah Andra. "Selamat ya Om, ah maksudku Pak Andra," ucap Reymond langsung meralat ucapannya.


Deg.....


Ini kali pertama Andra mendengar suara Reymond, dia bertemu sudah dua kali dengan saat ini.

__ADS_1


Suara Reymond kenapa begitu familiar di telingaku?


Batin Andra.


Andra membalas uluran tangan Reymond. "Terima kasih, ngomong-ngomong aku tidak mengundangmu?!" Dahinya sudah mengerut karena merasa heran.


Reymond tersenyum padanya, "Iya, Bapak memang tidak mengundangku. Tapi aku sebentar lagi akan jadi suami Indah, bukannya kita akan jadi keluarga?"


Andra mengangguk. "Iya, benar juga. Kamu dan Rizky saling mengenal?" Rasanya begitu banyak pertanyaan dalam benak Andra, dia begitu penasaran pada Reymond gara-gara mendengar suaranya.


Rizky merangkul bahu Reymond yang berada disebelahnya, "Reymond ini temannya Rendi dulu, Om."


Deg....


Ah Rendi?


Batin Andra.


Wajah Andra langsung sendu kala mendengar nama itu. "Oh, jadi kamu temannya Rendi juga? Sejak kapan kalian berteman? Kok Om tidak tahu," tanya Andra.


Kenapa Om Andra seperti sedih? Apa dia rindu padaku? Apa hanya berakting?


Batin Reymond.


"Sejak dulu, Om. Kita pernah nongkrong bareng, aku turut berdukacita ya, atas meninggalnya Rendi."


Kali ini benar-benar Reymond yang berakting sedih didepannya, secara langsung dia seperti mendo'akan dirinya meninggal. Tapi baginya Rendi dan Reymond adalah dua orang yang berbeda.


"Iya, terima kasih. Kalian sudah makan? Makan dulu saja."


Reymond melirik sedikit pada Rizky dan mengangkat kedua alisnya, seakan memberi kode.


"Nanti saja. Oya, Om kenal tidak dengan Pak Haris Kurniawan?" tanya Rizky.


Sedari tadi mereka mengobrol dengan Andra, mata mereka juga berkeliling mencari Haris dan Siska. Tapi tidak melihat batang hidungnya sampai sekarang, apa mereka sudah pulang?


"Kenal, dia rekan bisnisku," sahut Andra.


"Apa dia Om undang? Dan apa dia datang?" tanya Rizky.


Andra melihat kearah depan, pada semua tamu undangannya. "Dia datang, baru saja."


"Dimana dia sekarang Om?" serbu Reymond cepat.


"Aku tidak tahu, mungkin sedang makan atau kemana dengan pacarnya tadi." Mata Andra ikut-ikutan menyoroti orang-orang, mencari Haris.


"Memang kalian ada perlu apa?" tanya Andra.

__ADS_1


Disini Andra menjadi orang yang banyak bertanya, entahlah. Mereka berdua masih berusaha menjawabnya dengan jawaban yang masuk akal, supaya tidak terlihat mencurigakan.


__ADS_2