Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 103. POV Wulan - Barter


__ADS_3

Warning!!! Adegan +++


Sudah aku beritahu ya manis. Kalau tidak suka silahkan di skip saja.


***


Aku sebenarnya ragu bertanya seperti ini, tapi aku juga penasaran. Apa pria di depanku adalah pria hidung belang? Dilihat dari wajahnya saja dia seperti pria baik-baik dan alim. Jangan lupakan ketampanan juga, pertama bertemu saja aku sudah tertarik.


"Begini saja, kita barter. Aku akan beri kau 10 juta, tapi kau harus bermain denganku."


"Bermain? Bermain apa?" tanyaku binggung.


Dia menghela nafas dan tersenyum miring sambil melihatku. "Berapa usiamu?"


"23 tahun."


"Itu bukan usia remaja, bukan? Sudah 20 tahun keatas, berarti kau sudah dewasa. Tidak mungkin begitu saja tidak tahu."


Aku terdiam sejenak dan mulai mencerna ucapannya, maksudnya dia ingin mengajakku??


"Kau mau tidak?" tanya Pak Rio lagi dengan sedikit mendesak.


Deg....


Aku menelan salivaku begitu kasar, ini sama saja aku seperti menjual keperawananku padanya dengan seharga 10 juta?! Enak saja, aku tidak mau!


"Saya tidak mau, Pak."


"Kalau tidak mau yasudah. Kau pergi dari sini!" Dia lagi-lagi menyuruhku untuk pergi dari ruangannya.


Kakiku langsung melangkah menuju pintu, namun aku merasakan ada getaran pada kantong celana. Pintu itu segera aku buka dan berjalan keluar.


Aku mengambil ponsel pada kantong celana, terlihat tulisan 'Dokternya Clara' memanggil pada layar ponselku.


Aku segera mengangkatnya.


"Halo, Wulan. Adikmu sangat kritis saat ini, kau cepatlah kesini."


Deg......


Sebuah kalimat dari sambungan telepon itu membuatku hilang akan kesadaran dan harga diri. Dokter itu bukan hanya memintaku sekedar datang, tapi juga membayar biaya cuci darah dan pengobatan yang lain.


Kumatikan sambungan telepon itu dan kini aku kembali mengetuk pintu.


Tok ... Tok ... Tok.


"Masuk."


Pak Rio menyahut dari dalam. Aku segera membuka pintu dan masuk dengan kepala menunduk.


"Mau apa lagi kau!"


Deg....


"Saya, mau Pak. Saya akan menukar dengan uang 10 juta."


Aku benar-benar sudah hilang akal sekarang, aku menjual tubuhku demi biaya pengobatan Adikku sendiri.


"Kau serius?"


"Iya."


Aku bahkan tidak memandangi wajahnya, tapi aku tau dia bangun dan berjalan menuju sofa. Ia melepaskan jas dan kemeja putih yang ia kenakan, kemudian duduk diatas sofa.

__ADS_1


"Kemarilah."


Deg.....


Apa ini?! Apa aku yakin dengan jalan yang aku perbuat sekarang?! Tapi harus bagaimana lagi?


Kakiku melangkah menuju sofa, dia sudah telanjang dada. Tubuhnya begitu bagus, putih dan mulus. Walau tidak terlalu kekar, namun sixpack. Ada beberapa potong roti sobek disana.


Aku masih menunduk saat sudah berada didepannya. "Kenapa kau diam saja begitu?! Katanya butuh 10 juta!"


Deg.....


"Lalu ... Aku harus bagaimana, Pak?"


"Buka celanaku."


Apa katanya?! Kenapa tidak dia buka sendiri saja. Kenapa harus aku?!


"Cepat!"


Aku mengangguk dan langsung berjongkok, perlahan gesper yang terikat pada pinggangnya aku lepas. Resleting dan kancing, semuanya aku lepaskan.


"Turunkan kebawah."


Aku menuruti semua ucapnya, Clara ... Maafkan Kakak, mungkin dengan uang haram ini kamu bisa cuci darah.


Celana bahan itu aku turunkan sampai lututnya, tiba-tiba air mataku lolos membasahi pipi. Namun dengan cepat aku menghapusnya.


"Celana dal*mku juga."


"Iya."


Memalukan sekali, ini pertama kali dalam seumur hidupku. Aku membuka benda terlarang milik seorang pria, aku bahkan memejamkan mata.


Deg....


Menjijikan! Sungguh menjijikan sekali. Miliknya begitu panjang dan besar. Aku tidak bisa membayangkan dia masuk kedalam mulutku atau milikku didalam sana.


"Tapi, aku tidak bisa Pak."


Tiba-tiba saja ia menarik kepalaku menuju burung miliknya. Mataku terbelalak.


"Apa yang ....,"


Pak Rio langsung memasukkan burungnya kedalam mulutku yang ternganga saat aku bicara. Rasanya begitu aneh dan membuatku mual. Ia menarik-narik kepalaku supaya bisa naik turun.


Namun aku merasa begitu mual dan ingin muntah, burungnya itu seperti hendak masuk kedalam tenggorokanku.


"Oeekk."


Hampir saja aku ingin muntah, tapi dengan cepat Pak Rio menarik kepala untuk mengeluarkan burung miliknya.


Aku langsung tersungkur di lantai, rambutku terasa begitu sakit akibat sempat tertarik. Punggung tanganku mengulas sisa saliva.


"Sekarang buka celanamu!"


Deg.....


Apa ini waktunya? Waktu dimana aku kehilangan kehormatanku?!


"Wulan cepatlah."


Aku benar-benar binggung harus bagaimana, baru dengan mulut saja terasa begitu menjijikan. Apalagi sampai......

__ADS_1


Tiba-tiba tangan Pak Rio langsung menarik tubuhku dan jatuh dalam pelukannya, tangannya dengan cepat melucuti semua seragam OBku. Dan kini aku tidak memakai sehelai benangpun sama halnya dengan dirinya.


Tok ... Tok ... Tok.


Deg.....


Aku mendengar suara ketukan dari pintu, apa aku dan dia tidak jadi melakukannya?


"Jangan hiraukan ketukan pintu, biarkan saja," ucap Pak Rio seraya berbisik.


Tok ... Tok ... Tok.


"Rio!"


Tok ... Tok ... Tok.


Suara ketukan itu terus-menerus terdengar, apa lagi ada seseorang yang memanggil namanya. Suaranya seperti seorang wanita.


Tok ... Tok .... Tok.


Pak Rio mendorong tubuhku diatas sofa hingga terlentang dan tanpa aba-aba, miliknya langsung ia masukkan dengan sekali hentakkan sangat keras.


"Maaf, Pak Rio. Ada ....,"


"Auw sakit, Pak!" teriakku.


Air mataku langsung lolos menuju telinga, terasa begitu sakit dan perih. Aku menarik menyangga sofa sekuat tenaga sambil meringis, berusaha untuk menahannya. Pak Rio sudah menghentakkan miliknya maju mundur, namun begitu cepat.


Milikku seakan sudah rusak dibawah sana, sakit dan berdenyut sangat hebat. Kita bahkan tidak memperdulikan suara ketukan pintu dari luar. Padahal aku merasa ada orang lebih dari satu dibalik pintu itu.


Tok ... Tok ... Tok.


"Rio! Buka pintunya!"


"Rio!"


Semakin lama, rasanya aku sudah tidak tahan. Aku ingin menghentikan permainan menjijikkan ini.


"Pak, sudah hentikan ... Aaaahhh," ucapku di barengi *******, entahlah aku tidak mengerti. Terasa sakit, tapi aku bisa mendesah seperti ini.


Ia memompanya dengan kuat dan tubuhnya membungkuk ke arahku, bibir Pak Rio tiba-tiba saja mendarat pada bibirku.


Cup.....


Dia menciumimu begitu dalam. Walau ini bukan ciuman yang pertama, tapi rasanya sangat aneh. Kita berdua orang asing, tapi sudah melakukan zinah. Aku tau ini dosa yang paling besar.


"Euh," legukan itu terdengar dari mulut Pak Rio bersama burung miliknya yang berdenyut hebat didalam sana.


Ada sesuatu yang hangat membasahi ruang didalam perutku.


Mataku terbelalak. Astaga! Kita melakukannya tanpa pengaman?! Kalau misalkan aku hamil bagaimana?! Aku mengigit bibir bawahku dengan tubuh yang sudah berkeringat dan bergetar.


Pak Rio juga sudah sangat berkeringat, deru nafasnya sudah tak beraturan. Ia langsung mencabut burungnya didalam milikku, ia mengangkat tubuhku yang lemas tak berdaya ini menuju kamar mandi.


Setelah tubuhku diturunkan secara perlahan, dia berjalan keluar dan masuk lagi membawa seragam milikku.


"Kau diam disini dan jangan bersuara, jangan lupa kunci pintunya." Ia menyerahkan pakaian milikku.


"Masalah uang, nanti aku transfer 20 juta," ucapnya seraya menutup pintu.


Aku segera berjalan perlahan dengan rasa sakit menuju selang shower, aku membersihkan milikku yang terasa perih. Bahkan aku melihat darah pada area selangk*ng*n, apa ini artinya perawanku sudah hilang?


^^^Kata : 1042^^^

__ADS_1


__ADS_2