Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 130. Tumben


__ADS_3

Sopir? Sejak kapan Rio menyewa sopir. Wajahnya garang lagi, mirip si Irwan.


Mawan memperhatikan wajah Indra, menatapnya dengan tatapan nyalang. "Apa kau bisa tinggalkan kami berdua disini?"


Berdua? Memangnya Papah mau ngapain?


"Maaf, saya tidak bisa," jawab Indra.


"Kenapa tidak bisa? Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya."


Deg!


Tiba-tiba jantung Wulan langsung berdegup sangat kencang. Mungkin ini adalah kali pertamanya bertemu dengan Mawan tanpa Rio. Sungguh, ia merasa takut. Apalagi mendengar kalimat yang Mawan lontarkan. Rasa gugup itu Wulan tahan, masih berusaha untuk bersikap tenang.


"Kalau Bapak ingin bicara, silahkan bicara. Saya tidak akan menganggu." Indra tetap diposisi semula.


"Kau jangan kurang ajar padaku, ya! Aku bilang pergi ya, pergi! Apa kau tidak tau aku ini Papahnya Rio?!" geram Mawan seraya berdiri, ia sampai melototi Indra.


"Itu sebabnya saya tidak pergi, karena Bapak adalah Papahnya Pak Rio," sanggah Indra.


"Apa maksudmu?" Mawan menatapnya dengan curiga.


"Saya diperintahkan oleh Pak Rio untuk berada di samping Nona Wulan, apalagi jika dia bertemu dengan Bapak."


Mawan berdecak kesal, ia kembali duduk sambil bersedekap.


Keterlaluan sekali Rio, masa aku tidak boleh bicara empat mata dengan istrinya. Berlebihan sekali jadi orang.


"Papah ingin bicara apa denganku? Bicara saja, Pah," kata Wulan ragu-ragu. Ia tak enak hati melihat Mawan yang tengah memalingkan wajahnya karena kesal.


Mawan menoleh padanya, menatap mata Indra sebentar dan menatap wajahnya lagi. "Apa kau cinta sama Rio?"


Ah bukan, sebenarnya bukan itu yang mau Mawan katakan. Tapi lidahnya begitu Kelu saat Indra ikut-ikutan mendengarnya. Pasti ia akan melaporkan semuanya pada bosnya itu. Mawan tidak mau rumah tangganya terancam. Lho, kok jadi Mawan yang merasa tertekan bathin sekarang.


"Iya, Pah. Aku mencintai Mas Rio," jawabnya tanpa ragu.


Pipi Wulan langsung bersemu merah, ia juga tersenyum malu-malu. Sungguh, Mawan makin mual melihatnya, sangat menyesal bertanya seperti itu.


Dasar! Nggak Rio, nggak Wulan. Mereka berdua lebay!


"Oh, berapa usia kandunganmu?" tanyanya lagi.


Wulan langsung memegangi perutnya, menarik senyum bahagia. Merasa kalau Mawan mulai memperhatikannya. "Baru sebulan, Pah."


"Apa kau ...." Mawan mengantung ucapannya, ia susah berbicara dengan bebas.


"Kau apa, Pah? Aku kenapa?" tanya Wulan.

__ADS_1


"Tidak, kau lupakan saja." Mawan menggelengkan kepalanya.


***


Sepulang sekolah, Wulan langsung mengantar Clara untuk pulang. Tadinya niat Indah ingin main ke rumah Wahyu juga. Tapi Mawan melarangnya dengan keras. Alhasil, ia tidak jadi untuk main.


"Ayah!" teriak Clara saat turun dari mobil, ia berlari menghampiri Wahyu yang tengah membuatkan pesanan untuk para pembeli. Sudah siang hari, jadi banyak para membeli yang membeli baksonya untuk dijadikan makan siang.


"Nona Wulan, saya pamit ke kantor Pak Rio, ya?" tanya Indra saat melihat Wulan yang akan turun dari mobil.


"Iya, Pak. Bapak hati-hati. Terima kasih sudah mengantar aku dan Clara."


"Sama-sama." Indra memundurkan mobilnya. Lalu mengemudi menuju kantor Rio.


Wulan melangkahkan kakinya menuju teras depan rumahnya, menghampiri Clara yang tengah duduk. Ia mencium aroma bakso buatan Wahyu, seketika itupun perutnya terasa lapar dan lidahnya menginginkannya.


"Ayah, aku mau makan bakso, apa Ayah bisa membuatkan untukku?" tanya Wulan.


"Clara juga mau, Ayah!" timpal Clara.


"Tumben kalian ingin makan bakso. Tapi ... apa tidak sebaiknya kamu makan nasi saja, Wulan. Ini 'kan sudah siang," kata Wahyu yang masih sibuk dengan aktivitasnya.


"Iya, makan bakso pakai nasi 'kan bisa Ayah," jawab Wulan.


"Iya, Kak. Aku juga mau pakai nasi," timpal Clara.


"Hehehe ...." Clara terkekeh karena merasa lucu. "Iya, Kak." Clara melangkah masuk kedalam rumah.


"Ini baksonya." Wahyu memberikan dua mangkuk bakso di tangan Wulan.


"Terima kasih, Ayah."


"Permisi. Apa ini rumahnya Wulan Priyanka?" tanya seorang pria yang membawa satu buket bunga mawar merah. Ia seperti kurir pengantar paket.


Wulan yang hendak masuk kedalam rumah sampai berbalik, menghadap ke arah kurir yang tengah berdiri didepannya. Lantas, Wulan menaruh kedua mangkuk bakso itu di atas meja.


"Saya Wulan Priyanka, ada apa ya, Pak?"


"Ini ada kiriman buket bunga, untuk Mbak," ucapnya seraya mengulurkan tangannya, tapi tangan Wulan tidak langsung menerimanya.


"Saya tidak pesan bunga, Pak. Memang siapa yang kirim?"


"Saya tidak tau, saya hanya disuruh mengantarnya saja dari toko. Mbak bisa periksa sendiri, mungkin ada namanya." Kurir itu kembali memberikan buket bunga itu, mendekati tangan Wulan.


"Mungkin dari Rio kali, terima saja. Nanti tanya sama Rio," terang Wahyu.


Wulan mengangguk dan memegang buket bunga itu di tangannya. "Terima kasih ya, Pak."

__ADS_1


"Sama-sama. Silahkan Mbak tanda tangan dulu, bukti penerimanya." Kurir itu memberikan kertas bukti dan pulpen pada Wulan. Tanpa berlama-lama, Wulan menanda tanganinya.


"Mbak ... Pak, kalau begitu saya permisi," pamitnya dengan sopan.


"Iya, Pak," ucap Wulan dan Wahyu secara bersamaan.


Wulan langsung mencari-cari nama pengirimnya, tangannya masuk kedalam rangkaian bunga itu dan akhirnya ia menemukan kertas kecil persegi empat yang bertuliskan.


..."Aku mencintaimu, Wulan ~ Rio Pratama"...


Membaca tulisan itu, sungguh membuat jantung Wulan berdebar. Bukan hanya tangannya yang memegang bunga, tapi hatinya berbunga-bunga sekarang, seperti terbang ke udara. Wahyu tersenyum saat melihat Wulan menciumi bunga itu terus menerus, pipi anaknya juga sampai merona.


"Jadi benar dari Rio?"


"Iya, Ayah. Lihatlah." Wulan menunjukkan kertas persegi empat itu pada Wahyu, membuat sang Ayah mengangguk dan mengelus rambutnya.


"Sepertinya Rio sudah mulai mencintaimu, Ayah ikut senang."


"Iya, aku juga senang Ayah."


"Semoga kamu dan Rio selalu bahagia, Ayah selalu mendo'akan yang terbaik untuk putri Ayah." Wahyu memeluk tubuh Wulan sebentar dan mencium keningnya.


"Amin Ayah, aku juga mau bahagia bersama Mas Rio."


"Eemm ... habis makan kamu masak untuk nanti malam, buat Rio. Itung-itung menyenangkan hatinya. Jangan lupa sambut juga tiap pulang kerja, dia pasti sangat senang."


"Tapi ... aku hanya tau Mas Rio suka nasi goreng. Selain itu, aku tidak tau masakan kesukaannya, Ayah," keluh Wulan.


"Tanya sama Bibi pembantu di rumahnya, pasti dia tau," usul Wahyu.


"Ayah benar, aku akan telepon dia sekarang." Wulan langsung masuk kedalam rumahnya, berjalan dengan riang gembira menuju kamar. Ia tidak henti-hentinya untuk menciumi bunga itu.


"Baksonya tidak dibawa. Dasar, Wulan ... Wulan." Wahyu geleng-geleng kepala saat melihat dua mangkuk bakso itu ditinggal begitu saja. Lalu, ia sendiri yang membawakannya masuk kedalam rumah.


*


Malam hari.


Tok ... tok ... tok.


Sepertinya yang diusulkan oleh Wahyu, Wulan sudah menyiapkan makan malamnya bersama Rio didalam kamar. Sekarang ia tengah membukakan pintu, menyambut kedatangan Rio yang baru saja pulang kerja. Wajahnya terlihat begitu penat dan lelah. Rambut dan pakaiannya sedikit berantakan. Tapi pria tampan itu masih bisa tersenyum menawan menatap wajah istrinya yang berseri-seri.


"Mas Rio sudah pulang." Wulan mencium punggung tangan Rio dan secara tiba-tiba, ia mengecup pipi kanannya. Rio tersentak kaget karena perlakuannya, tidak biasanya sang istri melakukan hal itu. Apalagi tiba-tiba mencium pipi tanpa disuruh. Tapi jujur, Rio sangat senang mendapatkan perlakuan seperti itu.


Tumben. Kok Wulan sedikit agresif, ada apa, ya?


^^^Kata: 1117^^^

__ADS_1


__ADS_2