Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 134. Siapa Susanti?


__ADS_3

Ting ... Tong.


Ceklek~


Bibi pembantu yang membukakan pintu. Lantas, satpam itu memberikan kotak itu di tangannya.


"Ini paket untuk Pak Mawan, Bi. Tolong berikan padanya," ucap satpam.


Bibi pembantu mengangguk dan menerima paket itu. Lalu menutup pintu kembali. Kakinya melangkah menuju ruang makan. Keluarga Hermawan tengah sarapan nasi goreng dengan tenang dan damai.


"Maaf menganggu Pak Mawan, ini ada kiriman paket untuk Bapak, mau taruh dimana?" tanyanya, ia tak enak melihat bosnya tengah sarapan.


Mata semua orang langsung tertuju pada paket yang berada di tangan Bibi. Mawan juga sampai mengerutkan keningnya dengan wajah binggung.


"Paket apa? Aku tidak pesan paket."


"Sejak kapan Papah belanja online?" tanya Indah menimpali, karena memang yang sering sekali belanja online adalah Santi dan Reymond.


"Salah kirim kali," seloroh Reymond.


"Tapi ini dari satpam depan, Pak. Katanya ini buat Bapak. Lalu bagaimana?" Bibi pembantu nampak binggung, ia juga melihat Mawan enggan menerima paket itu dari tangannya.


"Coba sini aku lihat." Santi mengulurkan tangannya, mengambil paket. Ia membaca nota yang tertera diatas paket itu.


Bertuliskan seller 'Toko Obat Pria' beserta nomornya. Penerima juga atas nama Hermawan, lengkap dengan nomor ponsel dan alamat rumahnya.


"Tapi ini bener kok paket Papah. Ini lihat saja." Santi memberikan paket itu pada Mawan. Ia mengambilnya dan membaca notanya.


"Tapi Papah tidak pesan paket apa-apa, Papah juga tidak pernah belanja online." Mawan menggelengkan kepalanya dan menaruh paket itu diatas meja.


Empat orang yang berada di meja makan terlihat kebinggungan. Tapi Bibi pembantu lebih memilih pergi menuju dapur, tidak mau ikut-ikutan binggung.


"Coba telepon pihak sellernya, Pah," usul Reymond.


"Di buka saja dulu. Aku penasaran, mau lihat isinya," ucap Indah.


Ternyata ucapan Indah sama halnya dengan Santi yang ikut penasaran. Lantas, ia mengambil ponselnya yang berada diatas meja. Mengetik nomor itu untuk segera di telepon.


"Halo, selamat pagi. Dengan toko obat pria, ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara berat pria dari seberang sana.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya ingin bertanya ... suami saya dapat kiriman paket dari toko Bapak, tapi masalahnya suami saya tidak pesan," papar Santi.


"Tidak pesan? Memang siapa namanya, Bu?"


"Hermawan di jalan Xxx Jakarta Utara."


"Sebentar ya, Bu. Saya mau lihat daftar pembeli dulu di laptop."


"Iya." Santi menunggu beberapa menit, dan lalu pria itu berbicara kembali.


"Disini memang tertera nama Hermawan sebagai penerima, Bu." Mungkin pria disana mengatakan sambil menatap layar laptopnya. "Tapi yang memesan bukan nama Hermawan," tambahnya lagi.


Deg!


Belum apa-apa jantung Santi sudah berdegup kencang, ia langsung mencurigai Mawan. Menatapnya dengan lekat.


Untuk sepintas dari nama tokonya saja, feeling Santi sudah tidak enak.


"Siapa yang pesan kalau begitu?" tanya Santi.


"Namanya Susanti, Bu."


Santi langsung memutuskan sambungan telepon. Dengan kesalnya ia merobek paket itu untuk melihat isi didalamnya. Netranya kembali membola tatkala melihat isinya adalah sebotol obat kuat didalam kardus, ada kertas persegi empat juga didalam paket itu, yang bertuliskan.


...Jangan lupa nanti malam diminum ~ Susanti...


Membaca tulisan yang tertera pada kertas itu lantas membuat emosi Santi menjadi-jadi. Ia memang bukan tipe wanita pemarah, bisa dibilang sabar, sabar menghadapi sikap temperamental nya Mawan. Tapi jika melihat wanita lain mengirimkan sesuatu untuk suaminya, dia tentu berhak marah, kan? Tentunya iya.


Santi memeras botol itu dan menatap tajam mata Mawan seraya berkata, "Ikut Mamah ke kamar, Pah! Papah musti jelasin semuanya!"


Santi melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dengan hati dongkol, berlalu pergi meninggalkan mereka di ruang makan.


Reymond dan Indah melayangkan pandangan, merasa terheran-heran melihat tingkah Santi tadi. Indah langsung menoleh ke arah Mawan yang baru saja bangun dari duduknya, dengan wajah binggung.


"Pah ... Mamah kok seperti marah? Ada apa sebenarnya?" tanya Indah.


Mawan menggelengkan kepalanya. "Papah juga tidak tau. Papah akan susul Mamah ke kamar." Pria tua itu langsung berlari naik anak tangga. Lalu masuk kedalam kamarnya.


Terlihat Santi sedang duduk disisi tempat tidur, wajahnya begitu cemberut dan memerah.

__ADS_1


Mawan melangkah pelan menghampirinya. "Mah ... Mamah kenapa?"


"Siapa Susanti?" tanya Santi saat Mawan sudah mendaratkan bokongnya diatas kasur, sebelahnya.


Alis mata Mawan bertautan, bukankah Santi seperti menyebut namanya sendiri? Lantas, apa maksudnya?


"Susanti? Ya Susanti 'kan Mamah," jawab Mawan sambil tersenyum santai.


"Susanti yang lain, selain Mamah!" Santi melempar kardus botol itu beserta kertas persegi empat. Ia melemparnya tepat pada dada bidang suaminya.


Mata Mawan langsung melotot melihat apa yang berhasil ia tangkap pada tangannya.


"Apa ini? Obat kuat dari Mamah?" Mawan belum mengerti maksud dari Santi. "Jadi yang memesan paket ini Mamah? Mamah ingin kita bercinta nanti malam dan Papah harus minum obat?" tanyanya sambil mengelus dagu Santi, mencoba untuk menggoda istrinya. Tapi nyatanya Santi memalingkan wajahnya.


"Mamah ini seperti anak muda saja, Papah masih kuat dan perkasa kok. Tidak perlu pakai obat segala," tambahnya lagi.


"Siapa yang pesan paket?" Santi langsung menatap mata Mawan dengan nyalang. "Bukan Mamah yang pesan paket itu untuk Papah. Dan siapa Susanti? Susanti selain Mamah?!" cecar Santi dengan emosi yang meluap-luap.


"Apa? Apa maksud Mamah? Tidak ada Susanti lain selain Mamah," bantah Mawan seraya memegang punggung tangan istrinya. Namun langsung ditepis oleh Santi.


"Papah masih tidak mengaku walau sudah ketahuan?"


"Ketahuan apa sih, Mah? Papah tidak mengerti," sanggah Mawan.


Santi berdiri sambil bersedekap. "Mamah tidak menyangka, padahal Papah sudah berjanji pada Mamah untuk tidak melakukan kebiasaan buruk di masa lalu, tapi nyata ... Papah mengulanginya ...," lirihnya dengan bola mata yang sudah berkaca-kaca.


Mawan ikut bangun dan mendekati Santi, tapi lagi-lagi Santi seperti menghindar, enggan untuk bersentuhan dengannya. "Masa lalu apa sih, Mah? Papah tidak mengerti."


Santi langsung mengambil tas branded miliknya didalam lemari, ia memasukkan dompet dan juga ponselnya didalam sana.


"Mamah ... jelaskan pada Papah, apa maksudnya? Dan Mamah mau kemana?" tanya Mawan seraya menghampiri.


"Papah tidak usah pura-pura tidak tau, Mamah tau kalau ini sudah termasuk bukti kalau Papah berselingkuh!" tuduh Santi sambil melotot.


"Selingkuh? Papah tidak selingkuh. Papah tidak selingkuh, Mah!" Mawan mengejar Santi yang keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga dan menghampiri Indah yang tengah duduk di sofa bersama Bayu di ruang keluarga, menonton televisi.


"Sayang, kamu dan Bayu ikut Mamah pergi. Mulai sekarang ... kamu, Bayu dan juga Reymond ... kita tinggal di rumah Rendi yang lama," ucap Santi.


Indah membulatkan matanya saat melihat Santi yang sudah berderai air mata, ia bangun dari duduknya dan langsung memeluk tubuh mertuanya. "Kok gitu? Lalu kenapa Mamah menangis?"

__ADS_1


^^^Kata: 1066^^^


__ADS_2