
Sementara Rio, ia sudah berbaring, tapi belum tidur. Dalam hatinya menunggu Wulan yang tak kunjung kembali dari dapur. Ingin bangkit dari tempat tidur, rasanya enggan.
Wulan kemana? Kok tidak masuk lagi ke kamar ini? Apa dia tidur dengan Clara di kamar sebelah?
Ah biarkan saja deh, ngapain aku peduli. Biasanya 'kan memang Wulan tidur bersama Adiknya.
Batin Rio seraya menutup mata.
***
Keesokan harinya, Wulan terbangun karena seluruh tubuhnya pegal dan begitu susah bergerak. Apalagi perutnya seperti ada beban yang menimpa. Memang tidak seberat beban hidupnya, Tapi tetap saja. Terasa tidak nyaman.
Ia menoleh pada Clara yang berada disisi kiri, gadis itu masih tidur dengan memeluk boneka. Lalu siapa yang membuat Wulan susah bergerak?
Wulan kembali menoleh disisi kanan, matanya terbelalak kaget. Karena mendapati Rio yang sedang tidur disampingnya, begitu dekat dan erat memeluk tubuhnya.
"Mas Rio!"
Tersentak dengan refleks, Wulan mendorong tubuh Rio hingga pria itu terjatuh dari tempat tidur.
Brugg.......
"Auw!" pekik Rio sambil membuka matanya dengan paksa, nyawanya seakan belum terkumpul semua.
"Astaga! Mas Rio ... maafkan aku, Mas ...," ucap Wulan yang ikut bangun dan membantu Rio untuk berdiri.
Namun pria itu sepertinya marah dan segera menepis tangan Wulan.
"Tega sekali kau, ya! Bisa-bisanya membangunkan suami dengan cara seperti ini!" pekiknya murka.
Clara sampai terbangun gara-gara mendengar suara lantang Rio. Tapi dia begitu heran, kenapa pagi-pagi Rio ada di kamarnya? Pakai marah-marah segala lagi.
"Kak Rio, Kak Wulan ...," ucap Clara.
Wulan menoleh kearah Adiknya dan tersenyum, tapi tidak dengan Rio. Ia membanting pintu dan keluar. Ia berjalan masuk, menuju kamarnya sendiri.
"Selamat pagi sayang, sebentar Kakak tinggal dulu ...." Wulan berlari untuk keluar kamar dan masuk kedalam kamar Rio.
Pria itu sudah berbaring sambil menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala, memakai selimut putih.
"Mas Rio, maafkan aku. Aku kaget tadi ... sumpah, aku tidak berniat untuk mendorong Mas Rio hingga jatuh ...," lirihnya pelan.
Alasan!
Batin Rio.
Rio tidak menjawabnya sama sekali, dia seperti patung yang diam saja dibalik selimut.
Lagian aku heran sih, kenapa pagi-pagi dia sudah ada di kamar Clara dan tidur sambil memelukku seperti tadi?! Bukannya semalam dia ada di kamar ini.
__ADS_1
Batin Wulan.
"Mas ... Mas Rio mau mandi nggak? Aku akan siapkan air hangat," ucap Wulan.
Lagi-lagi ia tidak mendapatkan jawaban, mungkin saja memang Rio benar-benar marah padanya.
"Yasudah, aku mandi dulu. Nanti aku bangunkan Mas Rio setelah aku mandi ...," ucapnya dan lalu mengambil pakaian ganti didalam lemari. Setelah itu dia keluar lagi meninggalkan Rio didalam kamar.
Sepeninggal Wulan, Rio membuka selimutnya dan berlari menuju kamar mandi dengan wajah keki.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seusai sarapan, mereka sekeluarga duduk berkumpul pada sofa ruang tamu. Tentunya semua orang disana penasaran dengan apa yang Reymond bicarakan.
"Apa sebenarnya yang mau kamu bicarakan Reymond?" tanya Mawan.
Reymond menghela nafas panjang dan perlahan membuka mulutnya.
"Papah ... waktu aku menyerahkan rekaman ke polisi yang berisi pengakuan Siska, itu yang dibicarakan Siska tidak lengkap," jelas Reymond.
Deg......
Mata semua orang disana terbelalak.
"Tidak lengkap bagaimana? Apa maksudmu?" tanya Mawan lagi.
Sebetulnya pada saat Siska mengungkapkan kalau dia punya anak dan itu adalah Adiknya Indah, suara Siska tidak terekam. Entah karena apa, Reymond sendiri baru sadar ketika mengeceknya lagi semalam. Dia juga memang mengingat rekaman itu pada saat di kantor polisi, pernyataan tentang Adiknya Indah tidak terekam.
"Iya, di rekaman itu harusnya ada ucapan Siska saat menyebutkan kalau dia punya anak. Dan anaknya adalah Adiknya Indah," jelas Reymond.
Deg......
Mata semua orang disana terbelalak kaget, apalagi dengan Indah. Dia segera memegang lengan suaminya yang duduk disamping.
"Adikku, Mas? Aku ... aku punya Adik?!" tanya Indah binggung.
__ADS_1
"Adiknya Indah?!" Santi, Rio berucap secara bersamaan.
"Reymond, apa yang kau katakan? Anak Papah hanya Indah, dia satu-satunya anak Papah," ucap Mawan tak terima.
Aku masih heran dengan Papah, sebenarnya Papah dulu tau atau tidak Siska hamil, ya?
Batin Reymond.
"Papah ... Siska dan Papah itu punya anak, Adiknya Indah." Reymond merangkul bahu istrinya, "Dia berumur 6 tahun, seorang anak perempuan," tambahnya lagi.
"Apa Siska yang bilang sendiri padamu, Rey?" tanya Santi masih tidak percaya. Bahkan mereka semua seperti tidak percaya dengan ucapan Reymond, kecuali Indah.
Reymond mengangguk, "Iya, dia bilang seperti itu padaku, Mah."
"Tapi Papah hanya punya anak, yaitu Indah, Reymond. Kau juga kenapa bisa percaya dengan si Jal*ng itu, bisa saja dia berbohong!" bantah Mawan.
"Iya, juga ... bisa saja Siska berbohong padamu," timpal Santi.
"Tidak. Aku yakin seratus persen Siska tidak berbohong. Karena setelah Siska mengatakan hal itu ... dia langsung meninggal, itu seperti amanah untukku," jelas Reymond.
Kapan Siska hamil? Dia tidak memberitahuku?! Apa jangan-jangan dia hanya berbohong saja. Oh aku tau, mungkin anak itu terlantar dan dia ingin aku yang membiayai hidupnya. Dasar jal*ng, wanita jahat! Sudah mati juga masih membuat hidup orang lain susah.
Gerutu Mawan dalam hati.
"Lalu dimana anaknya? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Santi.
Tak lama Dion datang bersama Shelly, menghampiri mereka.
"Selamat pagi semuanya," sapa Dion dengan sopan.
Shelly menyalami semua orang yang berada disana. Clara dan Bayu yang sedang bermain di lantai juga ikut melihat keberadaan Shelly.
Indah langsung menyangka bahwa anak yang Reymond maksud adalah Shelly, karena dia datang tiba-tiba bersama Dion.
"Apa Shelly Adikku yang kamu maksud, Mas? Apa dia anaknya?" wajah istrinya sudah terlihat senang dan penuh harap.
Shelly yang hendak berjalan menghampiri Dion saja sampai Indah cegah dan memintanya untuk duduk dalam pangkuan.
"Aku belum tau sayang, tapi darahnya sama-sama B dengan Papah. Aku ingin meminta Papah untuk melakukan tes DNA dulu," sahut Reymond.
Aku tidak menyangka dapat kabar gembira seperti ini, aku punya Adik?! Berarti Bayu tidak hanya punya Om pribadi, tapi dia punya Tante. Aku senang sekali.
Batin Indah.
"Papah tidak mau lakukan tes DNA! Dia bukan anak Papah! Papah hanya punya satu orang anak, yaitu Indah!" seru Mawan dengan lantang.
Ia mengangkat bokongnya seraya berjalan menuju pintu utama rumahnya, Reymond ikut bangun dan mengejarnya.
"Papah ... tunggu, Pah ...," ucap Reymond dengan tangan yang berhasil memegang lengan Mawan.
__ADS_1
"Apa?! Kau ini konyol Reymond, kenapa kau bisa percaya dengan omongan wanita kotor itu?! Kau bukannya tau dia itu seorang jal*ng?! Sudah pasti itu anak seorang pria lebih dari satu!" tebak Mawan.
^^^Kata: 1033^^^