Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
109. Wanita


__ADS_3

Mata Dion dan Melly membulat sempurna, mereka saling bertatapan. Akal sehat Irene di mana sih?


"Apa maksudku Rene? Kau pikir Pak Rendi butuh dua sekretaris?" Dion mengerutkan dahi.


Dia menggelengkan kepala, "Bapak kan dekat dengan Pak Rendi. Bapak bisa kan bantu saya kembali lagi dengan menukarkan dia." Irene mengangkat sedikit dagunya, seraya melihat ke arah Melly.


Apa-apaan wanita ini.


Batin Dion.


Dion memiringkan bibir. "Irene-irene..." Dia menggeleng-geleng kan kepalanya, "Pak Rendi menukar kamu dengan Melly itu sengaja, karena dia tidak menyukaimu." Tunjuk nya.


"Sekarang kau mau Pak Rendi menukar Melly denganmu? Itu nggak mungkin." Dion menyenderkan punggungnya di kursi.


"Kenapa Pak? Memang saya salah apa? Semua pekerjaan saya benar. Dan memangnya...." Dia kembali menatap Melly dengan tajam. "Dia sepintar apa sampai Pak Rendi rela menukarkan ku." Dia menunjuk dirinya sendiri.


"Irene. Aku jauh lebih lama bekerja jadi sekretaris Pak Rendi, di banding denganmu." Ucap Melly tiba-tiba, sedari tadi dia sudah berusaha menahannya.


"Saya tidak tahu sebab Pak Rendi tidak menyukaimu. Mungkin ada masalah pribadi di antara kalian, tapi saya sarankan. Kamu jangan lagi berharap jadi sekretaris atau pun bekerja di bawah Pak Rendi." Dion berdiri dan memegang tangan Melly mengajaknya pergi dari cafe.


Irene berlari kecil menyusulnya, "Pak saya tidak betah kerja dengan Pak Andra, saya mohon bantu saya." Irene berkata dengan memelas.


"Tinggal keluar. Repot banget kamu, kantor banyak di luar sana. Bukan cuma kantor Pak Rendi." Dia mengerakkan tangannya seraya menunjuk jagat raya.


"Katanya kau juga pintar." Tutur Dion, sebenarnya dia sudah sangat emosi. Tapi dia mencoba bersikap tenang.


"Tapi saya hanya menginginkan kerja dengannya, saya sangat menyukainya Pak."


"Apa maksudmu menyukainya? Pak Rendi sudah punya istri kau tidak boleh mengganggunya. Sudahlah, kau hanya membuang-buang waktuku Irene." Dion melangkahkan kaki dengan masih mengandeng tangan Melly, Irene di tinggal sendiri bersama lamunannya.


...๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ...


Beberapa hari yang lalu akibat insiden Siska yang di dorong oleh Rendi begitu kencang. Kini Siska tengah berbaring di rumah sakit karena mengalami keguguran, sebetulnya dia harusnya senang bukan? Karena dia tidak usah susah payah meminta tanggung jawab dari Andra, atau mencari batu loncatan Rendi sebagai orang yang pernah tidur bersamanya.


Tapi tetap saja, dia merasa sedih karena kehilangan bayinya, ini kehamilannya yang kedua. Dia sempat melahirkan, dan membuang bayinya yang pertama, bayi itu lahir dan hidup. Tidak seperti yang di alaminya sekarang.


Sekarang Siska hanya menunggu pemulihan atas operasi pembersihan rahimnya, tapi dia merasa pinggulnya sangat sakit.


Ceklek.....

__ADS_1


Bunyi suara dari gagang pintu, terlihat Dokter kandungan datang menghampirinya sambil membawa selembar kertas.


"Bu Siska bagaimana keadaannya?" tanya Dokter itu.


"Saya sudah baikan Dok, tapi kok pinggul saya masih terasa sakit dan area sensitif saya masih keluar darah. Kenapa ya Dok?"


"Itu tidak masalah Bu. Tapi masalahnya, Ibu punya penyakit lain di dalam rahim Ibu." Tutur Dokter.


Mata Siska membulat, dia merasa takut. Apa yang di maksud dengan penyakit di rahim?


"Maksud Dokter bagaimana? Rahim saya kenapa?"


Dokter itu memberikan kertas yang sedari tadi dia pegang ke tangan Siska. "Ibu baca saja."


Siska langsung membalik kertas itu, sontak matanya membulat dan air matanya menetes. "Saya kena......."


"Iya Bu, sudah stadium 3."


"Apa Dok? Lalu apa-apa. Saya bisa sembuh?" air matanya masih mengalir.


"Ibu harus segera melakukan kemo saat ini juga, setelah pemulihan."


Kemo? Aku tidak punya uang. Operasi ini saja aku memakai tabungan ku, sekarang kalau aku sakit-sakitan begini mana bisa aku kerja. Mana semua jadwal pemotretan ku di pending gara-gara aku sering mual-mual. Bagaimana ini?


...๐ŸPOV Rendi๐Ÿ...


Aku melajukan mobilku sampai ke depan rumah Mamah dan Papah, aku mengandeng tangan Indah untuk masuk ke dalam.


Tapi di dalam rumah hanya ada Rio, dia tengah asyik bermain game di ponselnya, dia juga tidak menyadari kehadiran ku.


"Rio... Mamah kemana?" tanyaku yang tiba-tiba mengalihkan fokus Rio kearah kita berdua.


"Eh elu Kak, tumben ke sini. Mamah lagi pergi ke kantor Papah." Entah kenapa semenjak kejadian penculikan itu sikap Rio sangat berubah padaku, memang kita tidak begitu dekat. Tapi aku berfikir hubungan kita makin jauh.


Aku menyuruh Indah duduk di sampingku. Kita bertiga duduk di sofa dan aku di tengahnya, "Bi....." Aku memanggil Bibi pembantu. "Sayang kau mau makan atau tidak?" tanyaku kearah Indah. Aku melihatnya hanya terdiam, seakan ada rasa kecanggungan diantara dia dan Rio.


"Tidak Mas... Aku masih kenyang." Sahutnya sembari tersenyum manis. Bibi itu menghampiri kita.


"Lalu mau minum apa? Sekarang apa yang lagi kamu pengen?" aku takut dia merasa pengen sesuatu.

__ADS_1


"Apa saja Mas terserah kamu."


"Jus alpukat mau?" Indah mengangguk, "Bi bikinkan jus alpukat dua. Eh tiga deh dengan Rio juga." Tutur ku.


Bibi itu mengangguk dan pergi membuatkan minum, mataku beralih kearah Rio yang terdiam. "Lu nggak kuliah Rio?"


"Kuliah Kak, gue masuk pagi tadi."


"Indah...." Aku mendengar panggilan nama dari seorang perempuan yang baru masuk ke dalam. Siapa lagi kalau bukan Mamah, tapi Mamah tengah merangkul Papah, Papah memegangi kepalanya.


Aku langsung bangun membantunya, "Lho Papah kenapa Mah? Apa sakit lagi?"


"Papah tidak apa-apa, cuma pusing sedikit Ren." Aku membantunya duduk di sofa yang berada di samping, tapi Papah meminta duduk di sofa yang sama dengan yang di duduki Indah, persis bekas bokongku barusan.


Papah meminum obat sembari menenggak air putih. Pasti darah tinggi Papah kumat lagi.


"Papah yakin nggak apa-apa? Apa mau aku antar ke dokter?" Indah mengusap bahu Papah dengan lembut, aku lagi-lagi merasa iri pada Papah, tapi diakan ayah kandungnya, masa aku cemburu.


"Tidak sayang Papah nggak apa-apa. Oya ngomong-ngomong kenapa kalian ke sini tumben sekali." Papah bertanya sambil mengecup kening Indah, dia seperti sedang mencari kesempatan. Aku pun kini duduk di sofa bersebelahan dengan Mamah.


"Aku mau nunjukin sesuatu buat Mamah dan Papah. Ah buat Rio juga." Aku sampai melupakan Rio yang masih ada di sini. Aku mengambil tespeck dan juga foto hasil USG di dalam saku jas ku dan memperlihatkan pada mereka.


"Wah... Apa ini." Mamah langsung mengambilnya dari tanganku, wajahnya bersemu merah.


"Ini, Mamah akan jadi Oma. Sayang kamu hamil?" Mamah memandang Indah penuh dengan kebahagian.


"Iya Mah..." Indah menyahut. Mamah langsung bangun dan memeluk Indah, begitupun dengan Papah. "Selamat ya sayang... Duh menantu Mamah, sebentar lagi jadi ibu. Mamah bangga sama kamu sayang."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Yang udah baca jangan lupa tinggalin jempolnya dong sayang... Author juga mau lihat dong siapa aja yang baca ๐Ÿ˜ jangan jadi pengangum rahasia doang ๐Ÿ˜†


... ...


__ADS_2