
Ia menarik senyum.
"Itu pasti, Bu. Saya dan anak saya akan mencintai dan membahagiakannya," ucapnya dengan yakin dan mencium pipi sang bayi.
Setelah aku mempersiapkan semuanya kini pria itu pulang dengan membawa bayi yang sekarang sudah menjadi anaknya.
Satu bulan berlalu, ada seorang wanita cantik dengan tubuh yang tidak kalah cantiknya. Ia datang sebagai tamu.
Kini kami sudah duduk bersama di sofa.
"Maaf, Bu. Perkenalkan saya Siska." Dia memperkenalkan dirinya tanpa berjabat tangan padaku.
"Saya, Susan Bu. Maaf Ibu ini ada perlu apa?"
Wanita itu menghela nafasnya dengan gusar.
"Sebelumnya saya mau minta maaf sama Ibu, sekitar sebulan yang lalu saya datang kesini dan menaruh bayi saya didepan pintu. Saat itu saya pergi begitu saja, tanpa mengatakan hal apapun pada Ibu, mungkin Ibu bisa mengatakan kalau saya ini tidak sopan. Tapi ... saat itu saya benar-benar sedang kebingungan."
"Oh jadi wanita itu, Ibu?"
"Iya."
"Lalu ... Ibu ada perlu apa datang kesini?"
"Saya ingin mengambil bayi saya, Bu. Apa dia baik-baik saja?"
"Ibu ini menaruh kedua bayinya didepan pintu rumah panti? Dua-duanya bayi Ibu?" tanyaku memastikan.
Bu Siska menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, Bu. Bayi saya hanya satu, bayi perempuan."
"Kedua bayi itu juga perempuan, Bu."
"Oh, jadi keduanya perempuan?"
"Iya, tapi ... saat itu ada dua bayi lagi, totalnya jadi empat. Saya mengurusnya secara bersamaan, dan ada salah satu bayi yang sudah diadopsi," jelasku.
"Begitu ya, Bu. Yasudah tidak masalah, saya ingin melihat mereka."
Aku langsung mengantarnya ke kamar bayi, aku melihat Bu Siska tengah memperhatikan ketiga bayi itu dengan seksama. Namun dari wajahnya terlihat begitu kebingungan.
"Bagaimana, Bu? Apa Ibu mengenali salah satu dari mereka?"
"Tidak, Bu. Saya binggung."
"Mungkin ada tanda lahir atau apa gitu, yang dapat Ibu kenali?"
"Saya juga tidak memperhatikannya, Bu."
"Yasudah mending Ibu lakukan tes DNA, mungkin saja ada salah satu dari mereka yang cocok," ucapku memberi ide.
"Darah kita tidak cocok, Bu. Saya O dan bayi saya B, Bu."
__ADS_1
"Kalau dengan Ibu tidak cocok, mungkin Ayahnya. Kita lakukan tes DNA."
Bu Siska langsung terdiam, entah apa yang dia pikirkan saat ini.
"Yasudah kalau begitu saya pamit pulang, Bu. Mungkin lain waktu saya kesini lagi," ucap Bu Siska.
"Baik, Bu."
...~Flashback Off~...
...(POV Author)...
"Tapi setelah itu, Bu Siska tidak datang sampai sekarang, Pak," jelas Susan.
Jadi golongan darahnya sama dengan Papah, lebih baik aku bicarakan dulu masalah ini pada keluargaku. Biar mereka semua tau.
Batin Reymond.
"Kira-kira anaknya seusia berapa sekarang, Bu?"
"6 tahun. Apa Bapak mau melihat ketiga anak itu?"
"Boleh, Bu."
Susan bangun dan berjalan keluar dari ruangan itu, tak lama ia masuk lagi bersama ketiga gadis cantik dan kini berdiri berjejer didepan Reymond.
"Ini anaknya, Pak. Namanya ... Shelly, Sisil dan Salsa," ucap Bu Susan mengenalkan satu persatu.
Reymond memperhatikan Shelly yang tampak tak asing di matanya.
"Iya, benar Pak. Dia Shelly yang waktu di taman Mbak Indah sempat bertanya," ucap Susan seraya mengusap bahu Shelly.
Pria tampan itu hanya mengangguk.
"Yasudah, begini saja. Nanti besok asisten saya datang kesini, dia akan membawa ketiga anak ini ke rumah sakit, untuk di cek golongan darahnya. Kalau ada yang bergolongan darah B, nanti saya akan coba melakukan tes DNA dengan Papahnya Indah."
"Baik, Pak."
"Tapi sepertinya amplop ini harus saya bawa, apa boleh?" tanya Reymond seraya mengangkat amplop putih yang masih dia pegang.
"Boleh Pak, silahkan."
Reymond mengangkat bokongnya.
"Kalau begitu saya permisi, Bu," ucap Reymond pamit pulang.
"Iya, Pak."
***
Sementara itu, Wulan dan Clara yang diantar Dido, mereka bertiga sudah sampai di halaman rumah Rio.
__ADS_1
Baru saja Wulan dan Clara keluar dari pintu mobil, Dido langsung ikut keluar juga.
"Wulan ...," panggil Dido.
Tapi wanita itu tidak menghiraukan ucapannya, ia masih fokus berjalan menuju pintu utama. Pria berkumis tipis itu mengikuti langkah mereka dan lagi-lagi memanggil.
"Wulan ... tunggu dulu, aku ingin bicara sebentar denganmu."
Clara bahkan sudah masuk kedalam rumah, wanita itu juga sudah berada di ambang pintu namun dengan cepat Dido memegang lengannya, menghentikan sebelum dia berhasil masuk.
"Tunggu sebentar, aku ingin bicara."
Wulan segera menepis tangan pria itu dan menoleh kearahnya.
"Ada apa lagi sih? Bukannya tadi kita sudah bicara banyak?! Aku sudah bilang, bersikaplah seperti kita tidak saling mengenal!" dengkusnya kesal.
"Tapi aku tidak bisa, Wulan. Kasih aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya, kita bisa mulai lagi dari awal," pinta Dido dengan wajah memelas.
Dia ini gila atau bagaimana? Lebih baik aku tidak perlu menghiraukannya, lagian ini rumah Mas Rio. Kalau ada yang tau dan melaporkan padanya, aku dalam bahaya. Tadi pagi saja dia bilang malam ini mau menghukumku.
Batin Wulan.
Wulan langsung berlari untuk masuk kedalam rumah, namun ada pria yang ikutan masuk. Dan Wulan menyadari, pria itu berjalan dibelakangnya menaiki anak tangga.
Karena merasa sangat kesal Wulan langsung berbalik badan dan berkata.
"Jangan mengikutiku!" pekiknya dengan lantang.
Deg......
Kedua matanya langsung membulat sempurna kala melihat pria yang kini sudah berada didepan mata. Ia kira dia adalah Dido, tapi ternyata bukan. Dia adalah suaminya, alias Rio.
Rio langsung memegang lengan Wulan dengan keras hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Apa yang kau katakan barusan, hah? Kau berani sekali membentakku! Kau ingin menjadi istri durhaka begitu?!" pekik Rio sambil melotot.
"Maafkan aku, Mas. Aku kira ... tadi bukan kamu," lirihnya pelan.
Rio menarik paksa lengan Wulan menuju kamarnya, ia membanting pintu itu saat menutupnya. Kini mereka sudah berada didalam kamar.
Dengan cepat Rio mendorong tubuh Wulan hingga wanita itu tersungkur di lantai.
Brukkk........
"Auw!" rintih Wulan.
Kedua bokongnya terasa begitu sakit, tapi kali ini dia tidak memikirkan rasa sakit itu. Yang dia takutkan sekarang adalah Rio yang kembali marah. Masalah semalam saja suaminya masih teramat kesal padanya, bukannya kesalnya mereda, malah sekarang menjadi dua kali lipat.
"Mas Rio, maafkan aku Mas ... bukan maksudku membentakmu tadi. Aku kira itu bukan kamu," ucap Wulan menjelaskan, jantungnya kini berdetak sangat kencang.
Bisa juga kau beralasan! Dia ini benar-benar wanita yang tidak ada kelebihannya sama sekali! Sudah jelek, tidak sopan lagi! Berani-beraninya dia berkata dengan nada tinggi didepanku, mana sudah dua kali lagi. Benar-benar tidak tau diri! Masih untung aku mau menikahinya, giliran sekarang tingkahnya sudah mulai songgong. Aku makin membencimu, Wulan.
__ADS_1
Batin Rio.
^^^Kata: 1015^^^