Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 141. Hebat


__ADS_3

Pagi hari.


Indah dan bayinya sudah dipindahkan pada kamar inap VVIP nomor 119, kamar khusus ibu dan anak. Melihat Indah sudah sadar dari obat biusnya, Reymond langsung menyuapi istrinya dengan bubur ayam, yang ia beli tadi di Restoran depan.


"Sayang ... apa tubuhmu ada yang sakit?" tanya Reymond seraya mengelus pucuk kepala istrinya.


"Hanya perutku yang sakit, Mas," lirihnya, ia masih berbaring sambil memegangi perutnya yang terasa kaku.


"Mungkin efek operasi sayang, itu tidak masalah. Nanti akan sembuh sendiri."


Indah mengedarkan pandangannya pada sudut ruangan itu, hanya ada dirinya, bayi, Reymond, Santi dan Mawan yang ia lihat.


"Bayu kemana, Mas? Kok dari tadi aku tidak melihatnya?"


"Bayu bersama Wulan dan Rio, mungkin mereka sebentar lagi kesini."


Mawan bangun dari duduknya, lalu menghampiri Reymond yang tengah duduk di kursi kecil disamping Indah. "Oya Indah, Papah ingin beri nama Bunga untuk bayi cantik kamu, kamu mau 'kan kasih nama itu?"


Sebelum keduluan oleh Reymond, ada bagusnya ia mengusulkan namanya terlebih dahulu. Mungkin saja Indah akan mau menerima nama itu.


"Nama yang bagus Pah. Tapi kenapa harus Bunga?"


"Lho, memang kenapa? Bunga itu tanaman yang indah, bukan? Kamu saja waktu lahir, Papah yang memberimu nama Indah. Karena kamu yang terindah untuk Papah sayang."


Indah mengangguk pelan, perkataan Mawan terdengar seperti rayuan, bukan kenyataan.


"Tapi Sayang ...." Reymond mengenggam tangan istrinya. "Aku sudah menyiapkan nama untuk anak kedua kita."


"Siapa namanya, Mas?"


"Bianca, Bianca Herma Pratama. Nanti panggilannya, Caca. Manis 'kan sayang?" sekarang giliran Reymond yang mengusulkan nama.


"Iya, manis Mas." Indah tersenyum dan mengangguk.


"Bunga juga sama manisnya, kok. Kamu pilih Bunga saja sebagai namanya." Mawan kembali membujuk Indah, supaya nama darinya yang terpilih.


"Dua-duanya bagus sih, tapi aku suka nama Bianca, Pah."


"Iya, Sayang itu bagus." Reymond langsung tersenyum dan menimpalinya, merasa bahagia jika nama darinya yang Indah setujui.


Mawan ingin protes, mulutnya sudah menganga, namun tidak jadi karena merasakan ponselnya bergetar hebat dalam saku jas. Ia berjalan keluar dari kamar itu, lalu mengangkat telepon.


***


Rio, Wulan, Wahyu, Clara dan Bayu. Mereka mengantar Bayu ke rumah sakit dan untuk menjenguk Indah dan bayinya. Namun sebelum kesana, Rio mengajak Wulan untuk periksa kandungan. Karena dari perhitungannya, sudah pas delapan Minggu setelah ia melakukan USG untuk pertama kali.


Wulan berbaring di ranjang pasien dengan perut yang ditutupi selimut, dokter mengolesi cairan bening dan mengusap-usap alat yang akan tersambung ke depan layar monitor.


Ternyata feeling dokter waktu itu tidak salah, memang benar bayi itu kembar. Sebuah kejutan luar biasa untuk mereka.

__ADS_1


"Bagaimana bayi saya, Dok? Apa dia sehat?" tanya Rio sambil menggendong Bayu.


"Sehat, Pak."


"Kata Dokter, kita akan diberi kejutan. Apa itu, Dok?" tanya Wulan, ia seakan menagih ucapannya.


Dokter itu tersenyum. "Kejutannya, bayi kalian kembar."


Rio, Wulan dan Wahyu terbelalak. Tapi mereka langsung menggembungkan senyuman terindah.


"Alhamdulilah, sekali dapat langsung dua. Hebat kamu, Rio!" puji Wahyu pada menantunya, sambil merangkul bahunya.


"Iya, Ayah. Aku memang hebat. Untung saat itu Ayah tidak jadi menganggu aku dan Wulan bercinta."


"Apa maksudmu? Memang pernah Ayah menganggu kalian?" Wahyu mengerenyitkan kening.


"Waktu ranjang roboh itu, Ayah sempat mengetuk-ngetuk pintu. Aku lagi enak-enak itu."


"Ish kau ini! Tidak tau malu sekali!" Wahyu menepuk kasar bahu Rio, ia merasa malu karena sedari tadi dokternya Wulan tersenyum mendengar cerita mesum dari Rio.


"Ngapain malu? Itu memang kenyataannya, kok." Rio yang tak tau mau justru meneruskan ucapannya.


"Nah, ini hasil foto USG nya, Pak. Bapak bisa menyimpannya." Dokter itu memberikan selembar foto tiga dimensi ke tangan Rio. Rio langsung mencium foto itu dan mengantongi kedalam saku jas.


"Tetap saja kesehatan ya, Mbak Wulan. Semoga bayi dan ibunya sehat selalu," kata Dokter lagi, saat melihat Wulan yang tengah bangun dari ranjang dibantu oleh Rio.


Mereka semua keluar dari ruangannya itu. Namun saat mereka menuju kamar Indah, Rio meminta untuk berhenti sebentar, ia ingin menelepon Santi. Bertanya kamar inap kakak iparnya, karena memang ia belum diberitahu.


"Halo, Mah."


"Halo Rio, kau sudah sampai?"


"Iya, Mah. Kamar Indah nomor berapa, Mah?"


"119."


"Oke aku kesana. Oya ... apa ada suami Mamah juga?" rasanya malas sekali kalau bertemu dengan pria itu, Rio lebih baik menghindarinya.


"Suami? Apa maksudmu? Papah maksudnya?" Santi merasa heran, karena Rio mengucapkan kata 'suami' yang jarang sekali ia katakan, bahkan terdengar begitu canggung di telinga. Tapi mungkin bagi dirinya, Rio hanya bercanda. Padahal kenyataannya, Rio tidak mau memanggil suaminya dengan sebutan Papah lagi.


"Iya, Mah."


"Papah ke kantor Rio, memang ada apa? Kau mau bertemu dengannya?"


"Tidak, aku akan segera kesana." Rio menutup sambungan telepon. Ia mengajak keluarganya untuk ikut bersama, menuju kamar Indah.


*


"Oma!" seru Bayu saat melihat Santi yang tengah berdiri didepan kamar Indah. Anak kecil itu sudah merentangkan tangannya, ingin segera digendong oleh Santi.

__ADS_1


"Bayu sayang. Oma kangen sama kamu." Santi mengambil alih Bayu dari tangan Rio untuk ia gendong. Lantas, ia menciumi seluruh wajah tampan cucunya


"Bayu uga angen Oma!"


Wulan mencium punggung tangan Santi begitu pula dengan Clara.


"Apa kami boleh menjenguk Nona Indah, Bu?" tanya Wahyu.


"Oh boleh, silahkan masuk. Ada Reymond didalam. Tapi jangan berisik ya, Pak. Bayinya sedang tidur," tegur Santi.


"Iya, Bu." Wahyu yang sedari tadi menenteng keranjang buah, lalu mengajak Clara masuk. Wulan juga ikut masuk kedalam, karena sudah tak sabar ingin bertemu dengan temannya.


Rio mendudukkan bokongnya di kursi panjang sambil menghela nafasnya dengan gusar, Santi juga ikut duduk dengan Bayu yang berada di pangkuannya.


"Kamu tidak mau menjenguk Indah dan Caca? Dari kemaren 'kan kamu belum sempat melihatnya?" tanya Santi.


"Caca siapa, Mah?" Rio menoleh kearah ibunya.


"Anak Indah dan Reymond. Mereka memberi nama Bianca, panggilannya Caca. Bagus, kan?"


Rio langsung menarik senyum "Oh, jadi bayinya perempuan ya, Mah?"


Santi mengangguk. "Iya, Rio."


"Nanti saja aku menjenguknya, giliran sama yang lain." Rio merogoh saku jasnya untuk memberikan foto hasil USG tadi, rasanya kurang afdol jika Santi tidak diberitahu.


"Apa ini? Wulan melakukan USG lagi?" Santi bertanya dengan tangan yang mengambil foto dari tangan Rio.


"Coba Mamah perhatikan foto itu, nanti juga mengerti."


Mata Santi langsung memusatkan pada foto itu, mencari-cari maksud dari perkataan Rio. Setelah tau, ia segera mengelus punggung anaknya, merasa bangga.


"Bayi kamu kembar? Alhamdulilah, Rio. Kamu hebat sekali. Sekali dapat langsung dua. Mamah tidak menyangka, Mamah bangga padamu sayang." Santi mendekatkan bibirnya pada kening Rio. Lalu menciumnya sebentar.


Rio ikut tersenyum bahagia, melihat ibunya begitu antusias merespon bayi kembarnya.


"Terima kasih, Mah."


"Sama-sama." Santi memegang punggung tangan Rio dengan lembut. "Mamah perhatikan ... rumah tangga kamu dan Wulan ada kemajuan, apa kamu sudah mencintainya?"


Kedua pipi Rio langsung merona karena malu. Belum dijawab saja, Santi sudah mengerti, mengerti kalau anaknya sudah berhasil mencintai istrinya.


"Bagus itu, Rio. Mamah ikut bahagia melihat kamu bisa mencintai wanita lain, yaitu Wulan. Ternyata pilihan Mamah dulu tidak salah, kan? Meminta kamu untuk menikah dan mempertahankan rumah tanggamu. Mamah mau kamu dan Wulan berjodoh."


Rio menatap mata Santi dengan lekat, rona bahagia pada wajahnya langsung memudar, berganti dengan sedih.


"Aku juga berusaha untuk mempertahankan rumah tanggaku. Tapi bagaimana jika ada orang terdekat yang mau memisahkan kita, Mah?"


Jangan lupa like 💕

__ADS_1


__ADS_2