Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 115. Apa dia tidak datang?


__ADS_3

"Tapi kau tidak akan membunuhnya, kan? Pak Anton ... Apa dia kamu bunuh?"


Reymond menggelengkan kepalanya, "Tidak sayang, aku bukan orang yang jahat seperti mereka. Aku tidak akan membunuhnya, tapi ... Biarkan mereka mati dengan sendirinya." Perlahan air mata Reymond lolos membasahi pipi, kini ia memeluk tubuh istrinya begitu erat.


Om ... Kau benar-benar jahat! Kenapa kau bisa membenci wanita sebaik Indah hanya gara-gara hartaku. Dia tidak pernah meminta apapun padaku, tapi kau begitu tega padaku dan Indah.


Batin Reymond.


Indah menyeka air mata Reymond dengan lembut.


"Aku tau ini sakit bagimu, Mas. Tapi kau coba untuk menerimanya. Kamu pria yang baik, Mas. Aku tau ... Mau Rio ataupun Om Andra, kamu menyayangi mereka."


Reymond mengangguk dan perlahan bibirnya mendarat pada lawannya, menciumi begitu dalam. Cara sejenak melepaskan emosi di dada adalah bercinta, itu yang kini ada dalam benaknya.


Reymond sudah melepaskan seluruh benang yang menempel pada tubuh Indah. Hingga mereka berdua sekarang sama-sama polos.


"Kita, tempur dulu sayang. Biar besok aku punya kekuatan mengungkapkan semuanya," ucap Reymond.


"Iya, Mas," jawab Indah sambil mengangguk.


Reymond sudah menciumi seluruh lekukan tubuh istrinya, mulai dari wajah hingga turun sampai area sel*ngk*ngan. Menjilati dan menghisap inti kenikmatan itu.


"Aaaahhhh." Satu ******* lolos dari mulut Indah.


Reymond naik lagi keatas, kini mereka berhadapan. Bibirnya kembali ia tempel dan beradu lidah.


Perlahan pinggul Reymond bergerak-gerak. Ia menggesekkan juniornya menuju goa itu. Tidak menunggu waktunya yang lama, mereka saling menyatu.


Bress............


"Ah."


"Yes!"


Reymond menghentak-hentakkan pinggulnya naik turun.


"Enak, sayang!"


"Ah!"


Ia memompa miliknya begitu cepat, hingga tubuh keduanya bergetar bersama kasur.


Setelah beberapa menit mereka saling mengeluarkan cairan kenikmatan.


"Aaaaaaahhhhhhhh!"


"Aaaaaarrrrrggghhhh!"


Mereka saling mendesah bersama. Keringat keduanya sudah bercucuran dengan nafas yang tersengal-sengal, tubuh Reymond sudah jatuh diatas tubuh Indah. Sama-sama sudah lemas dan akhirnya mata dua sejoli itu menjadi sayup dan terpejam.

__ADS_1


Mereka tidur dengan saling memeluk satu sama lain, bahkan tubuh mereka masih menyatu.


***


Keesokan harinya, di rumah Andra.


Ia sudah bersiap menghadiri acara pernikahan Rio, walau hanya melaksanakan prosesi ijab kabul. Tapi suatu kewajiban untuknya datang.


Andra tengah bercermin didepan kaca besar. Ia membenarkan jas dan dasi. Setelan jas berwarna merah maroon tampak begitu pas dan cocok pada tubuh sempurnanya itu.


"Walau usiaku sudah tua, tapi ... Memang benar, ketampananku tidak perlu di ragukan lagi," ucapnya memuji diri sendiri didepan pantulan kaca.


Irene baru saja keluar dari kamar mandi, ia mengenakan handuk kimono dan berjalan menghampiri Andra.


"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Irene menatap heran.


Semenjak menikah panggilan mereka menjadi berubah, tapi entah dengan perasaan Irene.


"Rio menikah, kita akan datang kesana." Tubuh Andra masih didepan cermin.


"Rio? Kok dia menikah? Bukannya dia itu jomblo?"


Andra tersenyum. "Iya, padahal aku juga binggung. Dia tidak pernah mau aku kenalkan pada seorang wanita. Tapi tau-tau Mbak Santi bilang hari ini dia menikah, mungkin dia menjodohkannya."


Ternyata Tante Santi masih melakukan hal yang sama pada kedua putranya, baik Pak Rendi ataupun Rio. Sayang sekali aku tidak menjadi istrinya Pak Rendi, kalau saja dulu Pak Rendi mau menikah denganku. Dia tidak akan meninggal, benar kata si Andra, si Indah itu memang pembawa sial.


Umpat Irene dalam hati.


"Tidak, di rumah Kak Hermawan."


"Ish!" Irene berdecak kesal. "Aku tidak ikut deh, ya? Aku malas bertemu si Indah."


"Bukannya kamu sudah lama tidak bertemu lagi dengannya? Jangan seperti itu Irene ....," Andra berbalik badan dan memeluk tubuh istrinya, "Masa aku pergi tidak bersama pendamping. Lagian Rio hanya ijab kabul saja, kita hanya sebentar." Ia seperti tengah merayu istrinya.


"Pakaianku mana?"


"Ada di lemari, aku sudah membelikannya, senada dengan setelan jasku."


Irene segera melepaskan pelukan dan membuka lemari, ia mengambil gaun cantik berwarna merah maroon dengan panjang dibawah lutut.


"Apa gaun ini mahal?" tanya Irene sambil memperhatikan gaun didepan matanya.


"Kamu ini bicara apa? Aku tidak akan memberi kamu dan anak kita pakaian dan makanan yang murah. Semuanya mahal Irene, aku ini orang kaya," jawab Andra seraya mengusap perut istrinya secara perlahan.


"Apa Riana kau ajak juga?"


"Iya, nanti kita jemput dia dulu."


"Kita berdua saja, aku malas kalau kamu mengajak dia, Mas," ujar Irene dengan ketus.

__ADS_1


"Riana adalah sepupu Rio. Tidak mungkin dia tidak ikut datang, kamu juga kenapa sih tidak suka sekali sama Riana? Diakan anak kamu juga."


Anak aku?! Sejak kapan aku mengandungnya?!


Batin Irene.


Ia melepaskan tangan Andra yang sejak tadi menempel pada perutnya.


"Yasudah, kau keluar dulu. Aku ingin bersiap-siap, jangan ganggu aku." Irene seperti mengusir suaminya.


Andra mencium keningnya sekilas dan berjalan keluar pintu. "Aku tunggu di ruang tamu sayang."


Irene melepaskan handuk kimono dan mulai mengenakan pakaian. Tidak lupa memberikan polesan make up.


Oya, disana pasti ada Pak Reymond juga. Tapi sayangnya dia sudah jadi calon suami Indah. Menyebalkan!


Batin Irene.


***


Di rumah Hermawan.


Rumah megah nan besar itu menjadi acara prosesi ijab kabul, bukan karena tidak ingin menyewa gedung Hotel. Hanya saja ini permintaan atas nama Santi, menikah dengan sederhana asalkan 'sah'


Tapi dalam rumah itu sudah disiapkan seperti acara di gedung Hotel pada umumnya, ia juga menyewa catering makanan dan minuman untuk jamuan para tamu.


Hermawan mengundang beberapa rekan bisnisnya dan rekan bisnis Rio. Santi juga mengundang beberapa orang terdekat dan teman-teman Rio, mereka ikut meramaikan acara.


Mereka yang menghadiri memakai pakaian bertema merah maroon, semuanya sudah tampak cantik dan tampan.


Sebuah meja panjang dan beberapa kursi mengelilingi meja itu. Sudah ada seorang Penghulu, Ustadz, para saksi dan Hermawan.


Rio duduk di kursi depan, namun sebelah kursinya masih kosong karena mempelai wanitanya belum datang. Ia mengenakan setelan jas berwarna putih dengan dasi hitam kupu-kupu, hanya kedua mempelai yang menggunakan tema warna putih.


Santi, Indah, Reymond dan Bayu yang tengah di gendong. Mereka berdiri didekat tempat ijab kabul itu.


Pakaian mereka nampak sama persis dan serasi, semuanya hasil rancangan dari butik Santi.


"Ayah! Napa banyak olang?" tanya Bayu melihat pada wajah Reymond.


Reymond mencium rambut anaknya, "Kita lagi mengadakan pesta sayang, buat Om Rio."


Anak polos itu mengangguk dan mata kecilnya mengelilingi orang-orang yang berdatangan.


Mereka semua menunggu kedatangan mempelai wanita, tapi tidak dengan Reymond. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Andra. Kali ini dia masih bisa tenang dan sabar, tapi entah kalau sudah bertatap muka.


Om Andra kenapa lama sekali? Apa dia tidak datang? Rencanaku yang terakhir ini harus berhasil.


Batin Reymond.

__ADS_1


^^^Kata: 1037^^^


__ADS_2