Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 10. Tapi aromanya harum juga


__ADS_3

Tapi kenapa Mas Rio menatapku biasa saja tadi? Dia tidak menghinaku dan mengatakan aku tidak berdandan. Apa artinya wajahku terlihat berdandan sekarang? Dia juga tidak berkomentar apa-apa tentang rambut panjangku. Padahal aku berharap dapat mendengar komentar yang bagus darinya.


Batin Wulan.


Karena merasa belum yakin, Wulan kembali menatap pada cermin pada meja rias. Memperhatikan wajahnya yang menurut dia sudah cantik.


Tangannya memegang lembut kedua pipinya.


"Walau tidak terlihat cantik, setidaknya dia tidak menghinaku. Ternyata Bu Santi benar-benar hebat, video tutorialnya sangat bermanfaat," lirih Wulan.


***


Rio sudah menyelesaikan mandinya, ia keluar dengan lilitan handuk diatas perut. Kakinya melangkah menuju kasur, sudah ada setelan jas berwarna coklat tua. Handuk itu langsung ia lepaskan dan mengenakan pakaian, namun tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu.


Rio langsung membungkuk dan mengambil benda itu, setelah ia perhatikan dengan seksama ternyata itu adalah CD. Namun anehnya berwarna merah dengan renda-renda bunga.


"CD siapa? Kok ada CD wanita di kamarku? Apa punya Wulan?"


Hidungnya mengendus kain itu hingga tercium aroma khasnya.


"Ish ... Wulan ini jorok! Kenapa dia mengganti CD kotor di kamarku!" Kain itu langsung ia lempar kearah pojok lemari.


Tapi aromanya wangi juga.


Batin Rio.


Pakaiannya sudah rapih, kini dia berjalan menuju meja rias untuk menyisir rambut. Matanya terbelalak kaget kala melihat beberapa makeup tertata rapih pada meja itu.


"Ish ... kenapa taruh disini semua, sih! Inikan kamarku! Dia tidak izin lagi!" dengkus Rio kesal.


Tiba-tiba ia mendengar suara deringan panggilan masuk, Rio berlari menuju kasur untuk mengambil ponsel.


Jantungnya langsung berdegup sangat kencang, kala melihat nama 'MAMAH' pada layar ponselnya.


Dengan ragu-ragu Rio mengangkat.


"Rio!"


Deg.....


"Bagaimana?" tanya Santi.


Apa maksud Mamah? Kenapa tiba-tiba telepon tanya bagaimana?Apa jangan-jangan Kak Rizky sudah cerita padanya? Mampus aku.


Batin Rio.


"Rio! Kau ini tuli atau apa?! Mamah tanya kenapa tidak di jawab?!" suara Santi terdengar begitu lantang.


"Ba-ba-bagaimana apa maksud Mamah? Aku tidak mengerti," sahut Rio gugup.


"Kok tidak mengerti?! Bagaimana penampilan Wulan. Apa kamu suka?! Mamah yang memberikan dia contoh untuk berdandan seperti itu."


Rio menghela nafas dengan lega.


Aku kira masalah semalam. Syukurlah Kak Rizky belum cerita.


Batin Rio.

__ADS_1


"Rio!" teriak Santi.


Rio langsung menjauhkan ponselnya pada telinga. "Iya, Mah ... kenapa Mamah teriak-teriak, sih. Rio denger kok."


"Denger! Denger! Tapi kau tidak menjawab! Bagaimana penampilan Wulan sekarang? Cantik, kan?"


"Iya, Mah."


"Iya, apa?"


"Iya ... cantik!"


Cantik?! Tidak, ah! Biasa saja.


Batin Rio.


"Syukurlah, jangan lupa puji dia. Dia sudah berusaha tampil cantik didepanmu."


"Iya. Terima kasih juga, Mah. Mamah sudah membantunya."


"Tidak masalah. Oya ... apa semalam kamu tidur sekamar dengannya?"


Deg.....


Tidur sekamar? Aku saja tidak ingat.


Batin Rio.


"Tidak, Mah."


Jadi ini semua kerjaan Mamah.


Batin Rio.


"Mamah tidak mau tau, mulai malam ini kamu harus tidur sekamar dengannya. Bukan hanya sekamar saja. Tapi satu ranjang!"


Deg.....


Kenapa Mamah yang mengaturku. Aku tidak mau, aku juga tidak mau menyentuhnya lagi, hanya sekali ... ya, hanya sekali saja sudah cukup. Aku juga tidak mau memperpanjang rumah tanggaku dengannya.


Batin Rio.


"Iya, iya. Mamah tenang saja."


"Yasudah, Mamah mau sarapan dulu," ujar Santi seraya menutup telepon.


Setelah selesai menelepon kini Rio menuruni anak tangga dan berjalan menuju meja makan. Matanya membulat sempurna.


Ia melihat Rizky dan Anna tengah duduk diantara Clara dan Wulan. Malah sekarang Rizky sedang melambaikan tangan padanya sambil tersenyum miring.


"Hai Tuan rumah," goda Rizky.


"Kak Rizky!" Rio berlari dan segera duduk didekat pria itu.


"Kakak kok bisa ada di rumahku?" tanya Rio.


"Iya, gue semalam menginap disini dengan Anna." Ia mengusap lembut punggung wanita disampingnya, "Kenapa lu kaget? Memangnya istri lu nggak cerita?"

__ADS_1


Rio menggelengkan kepalanya, kini ia duduk agak mendekat dan memegang tangan Rizky. "Kak ... aku minta Kakak jangan cerita sama Mamah dan Kak Reymond."


"Kenapa memangnya? Lu takut?"


"Iya ... aku takut dimarahi."


"Hahahaha ... dasar bocah! Kalau lu takut dimarahi, kenapa lu minum di Bar?!"


Rio mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Ya itu ... karena lagi kepengen aja, lagian aku sudah lama juga."


Rizky menghela nafas. "Gue sih terserah lu ya, tapi kalau sekali lagi gue pergoki elu minum. Gue nggak janji kalau nggak ngadu sama Reymond."


"Tapi sekarang Kakak belum ngadu, kan?" tanya Rio.


"Ngadu! Ngadu apa?!" pekik seseorang yang baru saja datang.


Deg......


Semua yang berada di meja makan melihat kearah sumber suara itu. Ternyata itu suara dari Reymond, ia datang bersama anak dan istrinya.


"Kak Reymond. Kakak kok kesini?" tanya Rio, ia mencoba bersikap santai.


Sejak kapan Kak Reymond datang? Apa dia mendengar ucapanku dengan Kak Rizky barusan?


Batin Rio.


Reymond, Indah dan Bayu ikut duduk di meja makan.


"Memang kenapa? Aku tidak boleh kesini?"


"Tidak, bukan itu maksudku. Kakak dan Indahkan baru pertama kali datang ke rumahku. Menurutku tumben saja."


"Rizky! Lu bicara apa tadi tentang jangan mengadu sama gue? Ada apa?" tanya Reymond kearah Rizky yang tengah makan nasi goreng.


Kalau gue cerita masalah Rio mabuk, nanti yang ada mereka berantem ... hubungan mereka 'kan tidak pernah akur. Oke deh ... buat kali ini gue tidak akan cerita, gue juga kasihan sama Rio. Mungkin saja semalam dia sedang ada masalah, apalagi dia mengoceh nama Indah.


Batin Rizky.


"Biasa Rey, masalah kerjaan. Adik lu inikan kerja masih asal-asalan. Kantor gue sampai rugi gara-gara kerjasama dengannya," tutur Rizky berbohong.


Reymond menatap tajam pada Rio. "Kau ini! Malu-maluin! Masa pegang kantor sudah setahun buat rugi perusahaan!" pekik Reymond marah-marah.


"Aku belum berpengalaman Kak, wajar saja kalau begitu. Nanti kalau sudah terbiasa aku pasti bisa," ucap Rio dengan yakin.


"Bisa tapi kapan?! Perusahaanku hampir bangkrut! Nggak kau nggak Om Andra! Kalian benar-benar tidak berguna!" Reymond segera bangun dan menarik lengan Rio untuk ikut bangun.


"Sekarang kita langsung ke kantor! Mulai malam ini kau lembur! Kau harus serius kerja karena sekarang kau sudah menikah! Kau jangan memberi nafkah istrimu dari hasil kerja kerasku! Tapi kau juga harus bekerja keras! Enak saja kau!" pekik Reymond emosi.


Reymond mencium kening Indah dan Bayu.


"Sayang ... aku ingin berangkat dulu, kamu disini saja. Nanti aku minta Irwan juga untuk kesini." Nada suaranya langsung berubah menjadi lembut jika bicara dengan istrinya.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati," jawab Indah.


Reymond menarik kasar tangan Rio hingga keluar dari rumahnya, mereka bahkan belum sarapan.


^^^Kata: 1033^^^

__ADS_1


__ADS_2