Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 78. Aku betah tidak, ya?


__ADS_3

Sepeninggal mobil Rio, Wulan langsung menghampiri Bibi di teras depan rumahnya. Ia juga melemparkan senyuman pada wanita paruh baya itu.


"Nona Wulan, bagaimana kabar Nona? Bibi dengar ... katanya Nona habis keguguran, ya? Yang sabar ya, Nona."


"Iya, aku sudah baik-baik saja kok, Bi." Kalau ingat akan hal itu, lagi-lagi Wulan merasa benci pada Rio.


Wulan mengambil kunci pada kantong dressnya, lalu membuka pintu rumahnya. Ia dan Bibi masuk kedalam rumah dan mendorong satu koper masing-masing.


"Nona ini kopernya taruh dimana? Nanti biar Bibi yang tata didalam lemari."


"Isinya pakaian Mas Rio semua, Bi?"


"Iya, tapi ada pakaian Nona juga."


"Kita bawa ke kamarku dulu, Bi."


Mereka masuk kedalam kamar dan Wulan lantas membuka lemari plastik dua pintu. Ia memindahkan pakaian milik Clara pada lemari ayahnya terlebih dahulu, supaya bisa memasukkan pakaian milik Rio.


Bibi kemudian membuka koper dan menata pakaian milik bos-nya disana.


Apa Mas Rio serius mau tinggal disini?


Sementara Bibi sibuk menata pakaian Rio, ia mengangkat koper salah satunya, menaruhnya diatas kasur. Dibukanya secara perlahan koper tersebut.


Ternyata memang benar, ada beberapa dress miliknya yang waktu itu dibelikan oleh Santi. Namun yang membuatnya heran adalah pakaian dalam dan baju tidurnya, sangat tipis dan transparan. Beberapa lingerie berenda, lima stel dengan warna berbeda. Baru melihatnya saja Wulan nyengir ngeri, apalagi kalau memakainya?


Apa ini? Perasaan Mamah Santi belum pernah membelikan aku baju tidur dan pakaian dalam seperti ini? Kok seksi banget?


"Ini sudah selesai semua Nona, apa ada yang ingin Bibi bantu lagi?" tanya Bibi setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Tidak ada, Bi. Pakaianku yang di koper biarkan saja. Lagian tidak muat lemarinya." Mata Wulan masih sibuk melihat-lihat isi koper itu, ada semua alat make-upnya juga ternyata.


"Oh yasudah, Nona mau makan apa? Nanti Bibi buatkan."


"Di kulkas tidak ada bahan makanan sepertinya, Bi."


"Nanti Bibi yang beli ke supermarket, Nona."


"Bareng saja denganku."


"Jangan, Nona istirahat saja di rumah. Bibi pergi sendiri."


"Eemm ... yasudah deh." Wulan mengambil dompet pada tas miliknya, ia mengambil beberapa uang berwarna merah dan memberikan pada Bibi.


"Tidak usah Nona, Bibi sudah dikasih uang oleh Pak Rio." Ia menolaknya dengan gerakan tangan. "Bibi berangkat sekarang ya, Nona."


"Iya, Bibi hati-hati di jalan." Bibi mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Wulan.


Wulan kini menatap kasur miliknya lekat-lekat.

__ADS_1


Nanti malam Mas Rio tidur dimana, ya? Apa tidur di kamarku saja?


Iya, nanti biar aku yang tidur di kamar Ayah.


Tapi kasurku tidak empuk, apa dia bisa tidur nanti? Ah biarkan saja, deh. Dia 'kan yang mau sendiri ikut tinggal di rumah Ayah. Kita lihat saja, dia akan betah sampai berapa hari.


Wulan tersenyum miring, kemudian menurunkan koper yang berada diatas kasur, dan menaruhnya di pojok samping lemari. Ia juga mengganti sprei, selimut dan sarung bantal yang bersih.


***


Setelah menyelesaikan meetingnya, Reymond segera bangun dari duduk. Namun tiba-tiba Rio memegang lengannya, mencegahnya untuk keluar meninggalkan ruang rapat itu.


"Kakak, aku ingin ngobrol dulu dengan Kakak."


"Masalah apa? Penting? Aku masih banyak pekerjaan Rio." Reymond melihat jam pada pergelangan tangannya menunjukkan pukul 2 siang.


"Iya, penting."


Rio menoleh kearah Dion dan Dido yang tengah berdiri sambil melihat kearahnya.


"Kalian keluar! Aku ingin bicara empat mata!" usirnya.


Kedua pria tampan itu mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan, lalu menutup pintu dengan rapat.


Reymond mendudukkan bokongnya kembali, disamping Rio.


"Ada apa? Kau mau bertanya tentang cara mengunakan alat pencukur bulu?" terka Reymond.


"Benarkah? Memangnya sudah kau pakai?"


"Sudah, Kak."


"Coba lihat! Apa kau mencukur semua bulumu?!" Reymond sudah menegang gesper yang Rio kenakan. Hendak membukanya. Tapi sang adik segera menghentikan aksi mesum kakaknya itu.


"Kakak ini apa-apaan sih! Masa mau lihat burungku. Punya burung sendiri juga! Aku mau bicara serius ini, Kak!"


Reymond terkekeh, padahal ia hanya menggoda adiknya saja. Lantas ia menarik kembali tangannya.


"Yasudah bicara saja."


"Aku ingin Kakak menyuruh Dion untuk mencarikan aku asisten yang baru, Kak."


"Memang kenapa dengan si Dido? Bukannya dia banyak membantumu dalam urusan kantor?"


"Iya, dia memang banyak membantuku. Tapi aku kesal padanya, Kak."


"Kesal kenapa?"


"Dia selalu memperhatikan Wulan, dia juga sering mencuri-curi pandang. Aku benci padanya, Kak." Rio mendengus kesal dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Kau cemburu padanya?"


"Tidak!"


"Kau takut Dido merebut Wulan?"


"Dia tidak akan bisa merebut Wulan dariku, Kak!" tegasnya dengan percaya diri.


"Terus kenapa kau seperti takut begitu?"


"Takut apanya? Aku hanya kesal padanya, maka dari itu aku ingin memecatnya, Kak." Rio lagi-lagi mengelak, sepertinya ia masih malu kalau mengatakannya dengan jujur.


"Kau ini! Yasudah nanti aku bicara pada Dion, tapi jangan sekarang. Aku dan Dion sedang banyak urusan."


Ah Kakak ini, masa cari pengganti Dido sana suruh nanti-nanti!


"Lebih baik kau beri peringatan saja pada Dido. Jangan langsung pecat dia. Itu urusan pribadi Rio, jangan kau campur dengan urusan pekerjaan."


"Aku sudah kasih dia peringatan kok, dianya saja masih berani begitu." Rio mengerucutkan bibirnya.


"Hah ...." Reymond membuang nafas dengan gusar. "Yasudah nanti, kau sabar dulu saja." Ia mengelus bahu Rio sekilas dan bangun dari duduknya.


***


Malam hari sekitar jam 7. Rio pulang dari kantor, namun sebelum sampai pada tujuan, ia mampir dulu untuk membelikan ponsel dan kartu perdana. Rio sekalian memasang GPS yang tersambung pada ponsel itu dan ponsel miliknya.


Rio mau, dimana pun Wulan berada, ia bisa mengetahuinya. Sepertinya ia trauma, takut kehilangan Wulan untuk kedua kalinya.


Karena rumah Wahyu halamannya terlalu sempit, jadi Rio memutuskan untuk menyuruh Dido memarkirkan mobilnya pada parkiran kantor Hermawan.


"Saya langsung pulang apa gimana, Pak?" tanya Dido seraya memberikan kunci mobil pada bosnya.


"Iyalah pulang, mau ngapain lagi. Menginap?" Rio menatap sinis padanya.


Mereka berdua berjalan menuju jalan raya. Dido mencari taksi, sedangkan Rio melangkahkan kakinya. Berjalan menuju rumah Wahyu.


Tok ... tok ... tok.


Ceklek~


"Pak Rio, Bapak sudah pulang," ucap Bibi pembantu.


Padahal Rio sempat berharap Wulan yang membukakan pintu, tapi yasudah lah. Tidak masalah.


"Dimana Wulan, Bi?"


"Nona Wulan sedang istirahat di kamarnya, Pak." Bibi melebarkan pintu untuk Rio masuk kedalam.


Pria tampan itu masuk kedalam sambil mencermati setiap sudut ruangan. Menurutnya memang benar apa yang di katakan Wahyu, sempit dan sumpek. Tapi kalau jelek, masih lebih jelek kontrakan tempo dulu.

__ADS_1


Kira-kira betah tidak aku tinggal disini? Tapi dicoba dulu saja. Kalau hati Wulan sudah luluh, aku bisa mengajaknya pulang ke rumahku.


__ADS_2