
"Aahhhhhh......." Jerit Indah terjatuh dengan kepala yang terbentur di aspal. Dia tergeletak di bawah dengan dahi berlumuran darah, lalu dia merasa pusing dan pandangannya mulai buram dan dia langsung jatuh pingsan.
Keluarlah seorang pria dengan memakai stelan jas berwarna biru. Dia keluar mobil dan membuka kacamatanya, pria tersebut adalah Steven. Orang-orang sekitar datang menghampiri. Steven pun sebenarnya menyetir kurang fokus karena dia sedang banyak masalah dan dia juga tidak tau kalau ada orang yang sedang jongkok mengambil hp di tengah jalan.
Steven menghampiri Indah dengan tangan bergetar, dia takut kalau perempuan yang dia tabrak sampai kehilangan nyawa, karena banyak sekali darah yang keluar dari kepala Indah. Dia langsung cepat mengangkat Indah ke mobilnya dengan di bantu orang sekitar dan membawanya ke rumah sakit.
Sampainya di rumah sakit dengan di bantu tenaga medis Indah langsung di baringkan ke brankar dan membawa Indah ke ruang UGD.
semoga dia baik-baik saja.
Gumamnya yang cemas sambil duduk menyender. Setelah 30 menit Dokter keluar dari ruangan dan Steven langsung bangun dari duduknya dan bertanya, "Dok gimana keadaannya?"
"Luka di kepalanya cukup parah jadi ada beberapa yang harus di jahit. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa."
"Ah syukurlah Dok." Ucapnya sambil menghela napas.
Lalu Indah di pindahkan di ruang perawat tak lama suster datang menghampiri Steven. "Pak pasien atas nama siapa ya? Tadi saya tidak sempat mencatat namanya," tanya suster sambil membawa beberapa berkas di tangannya.
"Saya nggak tau Sus. Tapi tunggu ya Sus saya tadi membawa tasnya juga." Ucap Seven yang berjalan ke parkiran untuk mengambil tas Indah yang dia bawa di mobilnya, lalu dia langsung menyerahkan kepada suster untuk mengecek nama identitasnya.
Setelah itu Steven berjalan dan masuk ke ruangan Indah. Terlihat Indah sedang berbaring tidak sadarkan diri dengan tangan yang di infus dan balutan perban di bagian dahinya, Steven duduk di sofa di samping tempat tidur Indah dia mulai memperhatikan wajah Indah yang merasa familiar.
Sepertinya aku pernah ketemu dengannya.
Ucapnya dalam hati yang mengingat-ngingat.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba Indah membuka matanya dan mencoba bangun. "Ah sakit sekali." Ucapnya sambil memegang dahi yang di perban.
Steven langsung bangun dan duduk di kursi kecil di dekat tempat tidur dan berkata. "Kamu jangan bangun dulu." Memegang bahu Indah. "Berbaring lah." Indah pun langsung berbaring lagi.
"Bapak siapa ya. Kok aku ada di sini?" tanya Indah.
"Aku yang menabrak kamu tadi. Maaf ya aku nggak konsentrasi saat menyetir." Ucapnya dan Indah langsung mengingat kejadian kecelakaan tadi.
"Ponselku mana ya?" tanya Indah sambil melihat sekelilingnya,
"Nanti aku ambil tas kamu dulu." Bangun dan berjalan keluar untuk mengambil tas yang dia tadi dia berikan kepada suster. "Ini tas kamu." Ucap Steven yang masuk lagi ke ruangan dan memberikan tas selempang milik Indah. Indah langsung membuka dan mencari-cari ponselnya dengan berbaring namun terlihat kesusahan.
Di mana hp ku?
"Apa mau aku bantu carikan?" tanya Steven yang kemudian mengambil tas Indah dan mengeradainya, "Di sini nggak ada ponselmu apa mungkin terjatuh pas kecelakaan tadi." Ucapnya.
Air mata Indah berlinang dan dia menutup kedua matanya dengan tangan dia pun menanggis dan kemudian kepalanya mendadak sakit.
"Kenapa kamu menanggis? Apa kepalamu sakit?" tanya Steven yang binggung karena tiba-tiba melihatnya menanggis.
Steven langsung berjalan dan membuka pintu sambil berteriak "Sus..... Suster." Pekiknya, Suster datang menghampirinya dan menghampiri Indah.
"Apa kepala Mbak sakit?" Tanyanya, Indah mengangguk. "Saya periksa dulu perbannya ya Mbak." Setelah selesai suster pergi dan setelah Indah cukup tenang Steven duduk menghampirinya lagi.
"Apa aku bisa menghubungi keluarga kamu?" Tanyanya, "Aku nggak ingat nomornya, ada di hpku." Jawab Indah.
__ADS_1
"Oya sepertinya kita pernah ketemu. Aku Steven." Ucapnya mengulurkan tangan Indah pun membalasnya, "Indah. Eemm di mana ya?" tanya Indah.
"Di depan minimarket yang pas kamu menemukan dompetku." Indah tersenyum tipis sambil mengangguk. "Indah apa kamu kerja di restoran Xxxx." Tanya Steven yang pertama melihat Indah dengan seragam restoran yang berwarna krem.
"Iya Pak." Jawab Indah dengan pelan.
"Wah kebetulan banget. Yang punya restoran itu kakak ipar ku." Ucapnya merasa takjub.
"Tante Nissa maksudnya?" Steven mengangguk. "Apa Bapak kenal sama Nella? Dia temanku."
"Kenallah." Ucapnya lalu Indah meminta Steven menelepon Nella temannya untuk memberitahu Rio dan mertuanya kalau Indah sedang di rumah di rumah sakit. Steven menurut dia keluar ruangan Indah dan duduk sambil menelepon.
Apa aku sekalian kasih tau mas Rendi juga? Ah nggak usah lagian apa pedulinya, nanti mamah Santi juga akan memberitahunya.
Gumam Indah yang tengah berbaring di dalam dan kemudian dia mulai tertidur lagi.
🍀🍀🍀
Setelah beberapa jam kemudian ibu Santi dan Rio datang dan menghampiri Steven yang tengah duduk di samping ruangan Indah.
"Maaf ini ruangan Indah?" tanya mertuanya yang ngos-ngosan karena dia tadi berjalan buru-buru akibat panik mendengar kabar Indah masuk rumah sakit.
Steven berdiri dan berkata. "Iya Bu. Indah di dalam sedang istrahat tadi habis makan dan minum obat." Ucapnya.
"Ah syukurlah. Gimana kejadiannya kok Indah bisa kecelakaan?" tanya lagi mertuanya, Steven pun menceritakan kalau dia tidak sengaja menabrak Indah yang sedang menyebrang jalan. Dia juga sudah membayar semua biaya pengobatannya di rumah sakit. Setelah keluarga Indah datang Steven pamit pulang dan dia juga memberikan kartu namanya, bila sewaktu-waktu Indah membutuhkan biaya lagi dia akan bertanggung jawab.
__ADS_1
Sementara itu Rio dan ibu Santi memutuskan untuk duduk di luar karena tidak mau mengganggu Indah yang sedang tidur.
Ibu Santi lalu mengambil ponsel di tasnya untuk menelepon anaknya Rendi untuk segera datang ke rumah sakit. Dan Rio juga menghubungi ayahnya.