Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 162. Tamu undangan


__ADS_3

"Semalam gue di omelin sama Tante Santi, saat dia tau kalau gue disuruh Papah lu untuk mengajak lu meeting ke Restoran. Kalau gue tau Papah lu mau menjebak, gue nggak akan mau, Rio," terang Rizky dengan tulus.


"Oh." Rio mengangguk. "Iya nggak apa, Kak. Lagian ... itu sudah berlalu dan bukan salah Kakak."


"Yasudah, gue duluan kalau begitu." Rizky tersenyum pada Rio, ia mengajak sang mamah pergi bersamanya.


Wulan segera memegangi lengan Rio saat kakinya menginjak eskalator, jantungnya terasa berdebar dan kakinya seakan bergetar.


"Kau kenapa?" tanya Rio, ia ikut memperhatikan istrinya yang seperti ketakutan naik mesin itu.


"Aku takut, Mas."


"Takut? Kenapa takut? Memang kau belum pernah naik beginian?"


"Pernah sekali sama Mamah. Tapi itu sudah lama sekali dan aku jadi takut." Wulan makin erat memegangi lengan Rio.


"Takut kenapa? Jatuh?"


Wulan mengangguk pelan.


"Tidak akan jatuh, ada aku yang menjagamu." Rio merangkul pinggang Wulan segera, supaya meredakan ketakutan pada istrinya.


Ucapan Rio mampu membuat pipi Wulan bersemu merah, rasanya sangat bahagia mendapatkan kehangatan dari sikap Rio.


Hal yang pertama mereka datangi tentunya di toko baju, Rio ikut memilih-milih pakaian yang cocok untuk istrinya. Wulan sudah bergonta ganti untuk mencoba apa saja yang Rio pilihkan. Tentunya ia tidak menolak, karena selera Rio benar-benar bagus.


Rio sudah mendapatkan satu lusin baju pilihannya. Lantas, ia memberikan pada Indra supaya pria itu memegangnya.


"Pegang ini," titah Rio.


"Baik, Pak."


"Selain baju, apa ada lagi yang terasa sempit?" tanya Rio.


"Eemm ... ada, Mas," jawab Wulan ragu-ragu.


"Apa?"


Wulan mendekatkan bibirnya pada telinga Rio seraya berbisik. "Pakaian dalam."


Ia sengaja tidak mau bicara terang-terangan karena merasa malu pada Indra. Padahal, pria plontos itu seperti patung yang bernyawa. Diam dan begitu patuh.


Rio menoleh kebelakang, pada Indra. "Kau tunggu disini dulu. Aku ingin kesana dengan istriku." Rio menunjuk beberapa pakaian dalam yang berada di satu toko itu. Ia hendak melangkah, namun terhenti. Ia kembali menatap wajah Indra yang seperti orang kebingungan. "Kalau kau ingin membeli untuk istrimu, beli saja Indra. Nanti aku yang bayar."


Manik mata Indra langsung berbinar, ia memang sedari tadi melihat beberapa pakaian wanita. Merasa banyak sekali yang sangat bagus jika dipakai istrinya. Tapi rasanya ragu untuk membeli, karena harganya pasti sangat fantastis.


"Bapak serius?"

__ADS_1


"Memang wajahku terlihat becanda?" Rio menunjuk wajah tampannya sendiri.


"Tidak."


"Yasudah beli saja, tapi hanya satu stel."


Setelahnya, Rio berlalu pergi bersama Wulan ketempat pakaian dalam. Memang toko yang mereka kunjungi hampir semua jenis pakaian wanita apa saja ada, jadi enak untuk memilihnya.


Banyak sekali model yang bervariasi. Wulan hanya memilih apa yang biasa ia pakai, namun dengan satu ukuran yang lebih besar.


Ting~


Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel milik Rio. Pria tampan itu mengambil ponselnya pada kantong celana. Ternyata isi pesan itu undangan melalui email.


Netra Rio membola sempurna merasa tak yakin dengan apa yang ia baca barusan.


Kak Rizky menikah dengan Nella? Kok mendadak sekali?


"Mas ... aku mau beli yang ini." Wulan memperlihatkan apa yang ia pegang, CD dan bra dengan model berenda, masing-masing 5 buah.


"Beli selusin aja."


"Iya, deh."


"Oya ... habis ini kita ke butik Mamah."


"Memang mau apa?"


"Acara Pak Rizky? Memangnya Pak Rizky buat acara apa?"


"Nikahan."


Wulan terbelalak. "Benarkah? Eemm ... lalu, Mas Rio mau mengajakku?"


"Iyalah, kau 'kan istriku. Cepat kita bayar dulu." Rio mengambil apa yang Wulan pegang, membawanya menuju kasir. Tak lama Indra menghampirinya, sambil membawa belanjaan milik Rio dan satu dress untuk istrinya.


***


Keesokan harinya.


Rio dan Wulan tampak begitu serasi, Rio mengenakan stelan jas berwarna putih dan Wulan memakai gaun ibu hamil berwarna putih dengan panjang di bawah lutut.


Keduanya datang ke sebuah gedung Hotel berbintang lima. Ini pertama kalinya bagi Wulan, menginjakkan kakinya disebuah Hotel. Walau hanya sekedar ingin kondangan, tapi rasanya ia sudah bahagia. Ruangan itu begitu ramai sekali, tapi semua tamu undangan dari kalangan elite.


"Terima kasih sudah datang, kau Rio adiknya Reymond, kan?" tanya Guntur papahnya Rizky saat melihat Rio yang baru saja masuk kedalam, bergandengan tangan dengan Wulan.


"Iya, Om," sahut Rio sambil tersenyum.

__ADS_1


"Masuklah, jangan lupa cicipi hidangannya."


"Iya, Om."


Rio merangkul bahu Wulan, mengajaknya untuk lebih dalam memasuki ruangan Hotel itu. Rio melihat kursi pelaminan yang super megah, berada didepan matanya namun agak jauh. Sayang sekali, tidak ada siapa-siapa disana. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tentunya Rio mau mencari sosok Rizky. Tapi pria itu entah kemana. Padahal, niatnya ingin mengucapkan kata selamat.


"Mana pengantinnya, Mas? Kok Pak Rizky dan istrinya tidak ada?" tanya Wulan. Matanya ikut berkeliling untuk mencari.


"Iya, kemana kali pengantinnya, nggak jelas banget memang," gerutu Rio.


Krukuk-krukuk.


Tiba-tiba perut buncit Wulan berbunyi, karena sedari tadi ia tak ada henti-hentinya melihat beberapa tamu yang tengah duduk sambil makan. Lidahnya ikut tergiur untuk mencicipi menu katering itu.


"Mas ... aku laper." Wulan memegangi perutnya.


"Bukannya sebelum kesini kita sudah makan? Kok kamu lapar lagi? Ini masih siang." Rio memperlihatkan arlojinya ke depan wajah Wulan, menunjukkan pukul 1 siang.


"Iya, tapi aku mau makan lagi. Boleh ya, Mas?" rengek Wulan dengan manjanya.


Rio mengecup kening Wulan. "Yasudah deh, kita duduk disitu." Ia menunjuk kursi kosong yang berada disampingnya. Mereka berdua akhirnya duduk kursi itu yang sudah ada meja persegi empat didepannya.


"Permisi, apa ada yang ingin Anda pesan?" tanya salah satu pelayan yang baru saja datang menghampiri mereka, ia menyodorkan buku menu diatas meja.


"Kau mau apa?" tanya Rio, mengajak Wulan sama-sama untuk melihat menu.


"Aku mau satu porsi menu disini saja, dan minumannya es jeruk, Mas."


Rio menoleh ke arah pelayan pria yang berada disampingnya. "Satu porsi menu dan dua es jeruk."


"Baik, silahkan tunggu sebentar, Pak." Pelayan itu mencatat menu kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka.


Selang beberapa menit pelayan itu datang lagi sambil membawakan pesanan. Baru saja Wulan menyantap hidangan dan Rio menikmati es jeruk, tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri mereka berdua, tepatnya berdiri didekat Rio.


"Siang Rio. Apa Om boleh ikut bergabung?" tanyanya dengan nada lembut.


Rio menoleh padanya, ia memperhatikan wajah pria tua itu sebelum menjawab apa yang ia tanyakan tadi.


Dia Pak Aji 'kan? Mau ngapain dia menghampiriku?' batin Rio.


"Eemm ... Om tidak boleh bergabung, nih?" tanya lagi, wajahnya seperti berharap sekali ingin duduk bersebelahan dengan Rio.


"Boleh, kok. Duduk saja." Rio mengedikkan kepalanya sekilas pada kursi kosong yang berada didepannya.


Sebenarnya, ia tidak ingin mengizinkan pria itu ikut bergabung. Perasaan sudah mendadak tidak enak. Tapi rasanya tidak sopan jika dirinya terang-terangan melarangnya.


Aji langsung duduk dan memesan minuman yang sama seperti Rio, ia melihat sekilas pada Wulan yang tengah makan dengan lahapnya. Wanita itu tersenyum saat tatapannya bertemu, tapi Aji diam saja, ia mengukir senyumnya hanya saat didepan Rio.

__ADS_1


"Rio, maafkan Om tentang kejadian beberapa hari yang lalu. Jujur ... Om sangat menyesal. Itu semua bukan keinginan Om. Papahmu yang memaksa Om untuk melakukannya," tuturnya dengan wajah bersalah.


Jangan lupa like 💕


__ADS_2