
Rasanya begitu sakit dan pedih, dia langsung menarik kembali pisau itu.
Membuat daging di dadaku begitu ngilu.
"Jalang sialan! Berani sekali kau menusukku!" Mataku masih melototi nya, dengan menahan rasa sakit.
"Kenapa hah? Kau kaget?" Dia kembali menyeringai, wajahnya begitu menjijikan. Kemeja ku seketika rembes terkena darah.
"Aku akan beri kamu kesempatan Ren. Aku akan membawamu ke rumah sakit. Asalkan kau tinggalkan Indah atau mati di tanganku?" tanya Siska yang kini menyodorkan pisau di dada sebelah kananku, aku yakin dia akan menusukku lagi.
"JAWAB AKU REN!!!" Dia berteriak. Sungguh membuat gendang telingaku begitu sakit.
Apa bedanya aku menikah dengannya dan mati? Bukannya itu sama-sama meninggalkan Indah? Aku tidak mau meninggalkan Indah dengan cara menyakiti dia kembali. Lalu apa aku harus mati saja?Aku tidak mau ada tetesan air mata rasa kecewa atas penghianatan ku, rasanya begitu sakit. Aku tidak mau Indah terluka.
Apa hari ini takdirku mati di tangan si Jalang ini ya Allah? Aku harus bagaimana? Indah..... Dia sedang hamil, hamil anak pertama ku. Ya lebih baik aku mati saja, setidaknya dia bisa mengenang ku dengan rasa cintanya, bukan karena rasa benci.
Indah wanita yang kuat dan tidak bisa di pungkiri dia juga cantik, hatinya juga cantik, dia akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Iya aku yakin. Mamah Santi, Mamah Sarah dan Papah akan menjaganya, suatu hari nanti dia akan bahagia walau tidak bersamaku.
Tetesan air mata di pipiku mengalir deras, bersama dengan darahku. "Kau ingin membunuhku Sis? Bunuh saja aku." Ucapku menegaskan.
"Oke....." Tanpa pikir panjang dia kembali menusukku.
Bruuuussssss........
Aku benar-benar tak menyangka wanita yang dulu aku cintai dan membuat hidupku gila, dia sekarang jadi orang yang menghancurkan hidupku bahkan membunuhku.
"Aaaarrrrggggghhhh...."
Sakit! benar-benar sakit. Apa hati Indah merasa sesakit ini? Waktu dulu aku menyakitinya? Mungkin aku mendapatkan balasannya, tidak masalah bukan? Ini mungkin karma atas perbuatan ku.
Bruuukkkk....
Seketika tubuhku tersungkur jatuh di bawah tanah, dengan masih terikat tali di tangan dan kakiku.
__ADS_1
"Kau gila Ren! Kau rela mati demi wanita bodoh itu!" Umpat Siska.
"Aku cinta mati padanya...." lirihku menjawab dengan pelan dan menahan rasa sakit. Seluruh tubuhku sudah mandi darah.
"Sebentar lagi akan ada janda yang di tinggal mati. Ckckck." Dia berdecak dengan tawa ejekannya, "Hahahaha..... kasihan sekali, janda muda Ren. Apa kau ikhlas lihat dia bersama orang lain setelah kau mati?"
Tidak ikhlas tentunya! Tapi aku tidak mau egois. "Aku ikhlas melihatnya bahagia, walau bukan bersamaku. Aarrggghhhh..." Sakit sekali.
Siska menghela nafas. "Oke... Ya sudahlah, aku bosan dengan kalimat cintamu. Aku pergi Ren...." Dia melangkahkan kakinya.
"AKU AKAN MEMBALAS MU JALANG!!!" Pekik ku.
"Balas saja kalau bisa, itu juga kalau kau masih hidup Ren."
"Hei! Kalian bakar gubuk ini, biarkan dia menjadi abu." Perintahnya pada pria berkacamata itu, yang masih berdiri mematung.
"AKU AKAN BUNUH KALIAN JUGA, SIALAN!!"
Pria itu mengambil jerigen di sudut ruangan. Mungkin memang mereka sudah mempersiapkan untuk membunuhku dengan cara seperti ini. Mereka menyirami semua sudut ruangan itu, dan menyalakan korek api. Lalu melemparnya di sudut ruangan dan pergi meninggalkanku sendiri.
Kobaran api mengelilingi ku sekarang, panas dan sakitnya tubuh ini tercampur menjadi satu.
Aku merasa seperti ada di neraka sekarang, mungkin habis mati aku juga masuk ke sana. Aku tak yakin masuk ke surga, karena aku bukan orang baik.
Ingin rasanya aku keluar dari sini dan memeluk Indah. "Uhukk..... Uhukkk..... Uhukkk." Asapnya begitu menyengat dan membuatku sesak.
Andai waktu bisa di ulang, aku tidak akan pergi dari rumah dan mungkin kita sedang tempur sekarang. Tapi semuanya tidak ada gunanya, semuanya sudah berakhir. Juga hidupku.
"Indah sayang. Maafkan aku telah meninggalkan mu, aku yakin kau bisa melewati hari-harimu tanpaku. Aku akan membawa cinta ini sampai mati, kau jaga buah hati kita ya sayang. Sesuai janjiku, kau akan jadi wanita dan cinta terakhir dalam hidup ku."
"Uhukkk.... Uhukkkk... Uhukkkk..." Seluruh tubuhku sudah mati rasa dan api itu semakin mendekat padaku, beberapa kayu juga berjatuhan. Mataku dan nafasku sudah tidak bisa aku kendalikan. Perlahan mataku terpejam, semuanya semakin gelap gulita. Apa aku beneran akan meninggal dan menyusul Ayah sekarang?
Bagaimana mana rasanya di tinggalkan suami ketika kita sedang hamil? Sedih, sakit, kesal sudah pasti tercampur jadi satu.
__ADS_1
Hari itu, dimana aku mendapat kabar kalau aku tengah mengandung dan besoknya aku dapat kabar Mas Rendi menghilang. Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Aku masih sabar menunggu kamu Mas. Sampai akhirnya tiga tahun sudah kepergian mu.
Kamu kemana? Apa kamu pergi karena tidak mencintaiku lagi? Tapi aku tidak percaya. Aku tahu kamu sangat mencintaiku. Aku selalu berkata pada hatiku sendiri.
Mungkin semua orang sudah menganggap mu tiada, tapi tidak denganku. Aku merasa kamu masih hidup dan masih ada di hatiku Mas.... Meskipun sampai sekarang tak ada kabar yang pasti, rasanya aku masih tetap berharap kamu akan kembali padaku.
Mas kamu dimana? Kalau benar kamu sudah tiada, setidaknya aku bisa lihat jazad mu. Kalau misalkan kamu lupa ingatan, setidaknya kita bisa bertemu. Meski kau tidak lagi mengingat ku.
Lihatlah anak kita Mas, dia sudah berusia dua tahun setengah. Meskipun dia lahir prematur, tapi dia sehat seperti anak yang lain. Namanya Bayu Herma Pratama, anak laki-laki. Dia mengemaskan dan tampan seperti mu.
Aku rindu padamu Mas Rendi.... Suamiku.
🌼🌼🌼🌼
Pagi hari, aku tengah duduk di balkon jendela, menghirup udara segar di pagi dengan secangkir susu putih panas yang menemaniku.
Setelah kehilangan sosok suami, aku mencoba untuk bangkit dari keterpurukan dan menjalani hidup seperti biasa. Karena sekarang aku sudah punya Bayu.
Aku sekarang tinggal bersama Papah dan Mamah Santi. Sebenarnya aku bisa tinggal di mana saja bersama anakku, kadang di rumah Papah Mawan. Kadang di rumah Papah Antoni.
Ya, sekarang Mamah Sarah juga sudah menikah lagi. Aku ikut senang dan bahagia, Mamah dan Papahku kini bisa bahagia walau dengan keluarga masing-masing. Aku juga punya dua ibu dan dua ayah sekaligus.
Ceklek...
"Bunda...." Ucap seorang anak kecil yang baru masuk ke dalam kamarku.
Aku menoleh dan tersenyum padanya, "Ada apa sayang?" aku merentangkan kedua tanganku dan berjongkok menyambut pelukannya, dia langsung berlari memelukku.
"Bunda... Bayu mauuu calan-calan." Ucapnya dengan cadel.
"Jalan-jalan?" Aku bertanya kearah wajahnya, dia mengangguk.
Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️
__ADS_1