
...Dua Tahun Berlalu...
Tak terasa dua tahun sudah gue menemani hari-hari Rendi di sini. Pagi-pagi gue sudah di temani Anna untuk datang ke rumah sakit, ini hari di mana perban Rendi akan di buka setelah hampir menjalani 20 kali operasi.
Operasi tidak di lakukan secara 20 kali berturut-turut, namun sedikit demi sedikit memperbaiki bentuk wajah. Tapi gue belum pernah lihat sama sekali bentuknya bagaimana.
Karena Dokter sendiri bilang, kalau operasinya sudah selesai baru gue bisa melihatnya secara langsung. Semoga saja hasilnya bagus.
Gue duduk di kursi panjang di depan ruang perawatan VVIP bersama Anna, menunggu Dokter datang.
Dia sengaja gue ajak supaya gue tidak merasa jenuh tinggal di Korea menunggu orang sakit. Lagian cuaca di sini berbeda dengan di Indonesia, jauh lebih dingin. Gue juga butuh kehangatan setiap malam, itu mungkin gunanya Anna menemani gue.
"Riz.... Mana Dokternya kenapa lama sekali, aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah baru teman kamu. Apa dia akan lebih tampan darimu?" Tanya Anna sambil mengusap dagu, masih pagi dia sudah mulai menggoda gue.
"Lu ini apaan. Lebih tampan gue pastilah Anna, gue nggak ngarepin Reymond akan tampan kembali sih. Tapi setidaknya tidak seseram seperti mayat hidup." Sahut gue sambil terkekeh.
"Hahahaha.... Jahat kamu Riz."
Tiba-tiba suara ponsel gue berbunyi, gue mengambil dari saku celana. Tertulis nama Dion di depan layar.
"Halo... Pak Rizky, selamat pagi. Bagaimana keadaan Pak Rendi?" Tanya Dion.
"Mulai sekarang jangan panggil nama itu Dion. Gue sudah merubahnya, apa lu lupa?"
"Ah maaf. Maksud saya Pak Reymond, apa operasinya lancar Pak? Saya dan Melly sudah tidak sabar melihat wajah Pak Reymond."
"Lu ini lebay banget, Reymond seperti bayi yang baru lahir saja. Gue juga belum tahu Dion. Ini gue masih menunggu Dokter datang. Semoga hasilnya bagus ya..."
"Amin Pak, saya juga ingin memberitahu. Kalau nanti siang saya akan menikah, namun hanya ijab kabul dulu Pak. Pestanya belum."
"Syukurlah.... Semoga lancar semuanya, lu butuh biaya tambahan? Nanti gue transfer." Ucap gue menawarkan.
"Tidak Pak. Saya hanya ingin melihat wajah baru Pak Reymond sebelum akad, nanti Bapak bisa video call saya?" Permintaan seorang pengantin mana mungkin gue menolaknya kan.
"Iya tentu saja. Lu nggak usah khawatir." Sahut gue seraya menutup telepon.
Tiba-tiba seseorang Dokter tampan menghampiri gue, dia di temani suster cantik dengan membawa troli. Dia seperti Dokternya Rendi, gue dan Anna langsung berdiri dan menyapanya.
"Good morning Doc." Sapa gue dan Anna.
(Selamat pagi, Dok)
__ADS_1
"Good morning Mr. Rizky, you can come with us inside. I'll take off the bandage and you can see Mr Reymond's new face." Sahutnya seraya menunjuk ruangan Rendi.
(Selamat pagi Pak Rizky, Anda bisa ikut kami ke dalam. Saya akan melepas perban dan Anda dapat melihat wajah baru Pak Reymond)
"Yes Doc, thank you. Can I invite my girlfriend to come along too?" Tanya gue seraya melihat kearah Anna.
(Iya Dok, terima kasih. Apa saya bisa mengajak pacar saya juga ikut ke dalam?)
"Sure, please....." Sahutnya seraya membuka pintu.
(Tentu, silahkan)
Gue dan Anna masuk ke dalam ruangan. Rendi juga sudah bangun namun dia masih berbaring.
Gue membantunya untuk duduk dan menyenderkan punggungnya di tepi ranjang pasien.
"Gimana keadaan lu Ren? Apa wajah lu terasa begitu sakit." Tanya gue, wajah Rendi masih berbalut perban. Hanya lubang hidung, mata dan bibir yang terlihat.
"Tidak Riz, wajah gue malah kebas, tak terasa apa-apa." Lirihnya pelan. Dia terlihat begitu susah bicara.
Gue melihat kearah Dokter.
(Dokter, teman saya bilang wajahnya terasa kebas. Apa itu bermasalah?)
"No sir. You don't have to worry, it's a common occurrence after the patient is finished with surgery. Maybe the effect of the drug, but it won't last long." Tutur Dokter, dada gue terasa begitu lega.
(Tidak Pak. Anda tidak perlu khawatir, hal ini biasa terjadi setelah pasien selesai menjalani operasi. Mungkin efek obatnya, tapi tidak akan bertahan lama)
Dokter itu mengambil gunting di atas meja troli.
"Now we start to open it, sorry Mr. Reymond." Ucapnya seraya mendekati wajah Rendi. Rendi mengangguk.
(Sekarang kita mulai membukanya, maaf ya Pak Reymond)
Dia sudah memotong beberapa lilitan perban di atas wajah Rendi, lagi-lagi gue hanya berdo'a dalam hati.
"Semoga wajah Rendi jauh lebih baik." Batin Gue.
Gue melihat kearah Anna, dia begitu antusias sekali, matanya sudah melotot mungkin dia juga begitu penasaran. Tapi jantung gue terasa berdegup kencang. Akhirnya gue menutup mata, gue takut. Sumpah benar-benar takut, takut semuanya tak membuahkan hasil.
Setelah beberapa menit.
__ADS_1
"Wow... Perfect, he's so handsome...."
Deg.....
Itu seperti suara Anna, apa yang dia katakan tadi. Handsome? Apa benar, apa aku tidak salah dengar.
"Riz... Cepat buka matamu, aku menyukai temanmu itu." Ucap Anna seraya menggoyangkan pundak gue.
Gue perlahan membuka mata. Mata gue terbelalak? Apa gue sedang bermimpi? Apa ini nyata? Gue terus mengucek-ngucek kedua mata gue.
"Apa gue sedang bermimpi? Apa di depan gue adalah teman gue?" Tanya gue kepada Anna. Dia langsung mencubit lengan gue.
"Awww.... Sakit pe'a." Gue dengan refleks memegang lengan, cubitannya begitu sakit.
"Kamu nggak bermimpi Riz. Lihatlah." Sahut Anna, menunjuk wajah pria di depan gue.
Gue benar-benar shock berat, pria di depan gue seperti pria asing. Dokter itu benar-benar merubah wajah Rendi seratus persen tidak sama dengan wajahnya yang dulu. Namun lebih menakjubkannya dia terlihat lebih tampan, benar-benar lebih tampan dari wajah sebelumnya.
Dokter itu memegang cermin dan mengarahkan pada wajah Rendi, dia juga sudah tahu kalau Rendi lumpuh.
Rendi memandanginya wajah menawannya itu, sambil tersenyum di depan cermin.
"Doctor. Is this really my face?" Tanya Rendi.
(Dokter. Apa ini benar-benar wajah saya?)
Dia mungkin merasa sangat heran dan tak menyangka. Gue juga sama halnya tak menyangka, tapi gue bahagia. Berarti tandanya operasi nya tidak gagal. Duit gue dan perjuangan gue tidak sia-sia.
"That's right sir, this is your new face. How? Looks more handsome right?"
(Betul Pak, ini wajah baru Bapak. Bagaimana? Terlihat lebih tampan bukan?)
"Yes Doc. Thanks, I really like my current face." Sahut Rendi.
(Iya Dok. Terima kasih, saya benar-benar suka dengan wajah saya yang sekarang)
Dokter itu mengangguk dan tersenyum pada Rendi dan pada gue.
"Then I'll excuse myself. Mr. Reymond get more rest and get well soon."
(Kalau begitu saya permisi. Pak Reymond perbanyak istirahat dan semoga cepat sembuh)
__ADS_1