Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 40. Aku mau ikut dengar


__ADS_3

"Kita ke kantor polisi sekarang!" seru Mawan seraya berdiri.


Guntur juga ikut berdiri. "Kita mau membebaskan Rizky, Pak?"


Mawan tidak menjawab perkataan dia sama sekali, dia langsung saja keluar dari ruangan. Jojo tengah berdiri depan ruangan Mawan, dia menghentikan langkah kakinya sejenak. Menoleh ke arah Jojo di samping kiri.


"Jo ... Batalkan semua janji sampai sore, aku ada urusan!" tegas Mawan.


"Bapak mau saya antar?" tanya Jojo.


"Tidak usah, kau di sini saja."


Mawan berjalan ke keluar sampai di depan kantor, Guntur juga mengikutinya dari belakang. Mereka berdua menghampiri mobilnya masing-masing yang berada di parkiran.


"Papah ..." panggil Rio, dia baru saja turun dari mobil. Berada di parkiran, bersama Dion.


Mawan menghentikan langkah untuk dirinya masuk ke dalam mobil, Rio berjalan menghampiri. "Papah mau kemana? Ada hal yang ingin Rio bicarakan dengan Papah."


"Nanti saja ya, Papah mau ke kantor polisi."


Mawan langsung masuk ke dalam mobilnya, duduk di kursi depan di tempat stir mobil. Tapi Rio juga ikutan masuk ke dalam mobilnya, duduk di samping.


"Kantor polisi mau ngapain Pah? Rio ikut ya."


"Papah mau temui Reymond dan Rizky, kalau kamu mau ikut. Kau saja yang menyetir," Mawan langsung keluar dari mobilnya dan berpindah posisi dengan Rio. Rio sudah menyalakan mesin mobil seraya mengendarai.


"Bukannya Reymond dan Kak Rizky, orang yang menculik Indah dan Bayu kan, Pah?" tanya Rio.


"Iya."


"Lalu Papah ngapain ke kantor polisi? Mau membesuknya? Untuk apa Pah?" tanya Rio penasaran.


"Papah hanya ingin bicara dengan mereka Rio."


"Bicara apa? Aku dengar Pak Harun jadi pengacara mereka, dan tadi Pak Guntur menemui Papah. Jangan bilang Papah ingin membebaskan mereka Pah!"


"Kau ini bicara apa? Sudah fokus saja menyetir, Papah tidak akan membebaskan mereka."


Rio mengangguk dan melajukan mobilnya untuk sampai ke kantor polisi, sampainya di sana dia langsung memakirkan mobilnya.

__ADS_1


Mawan membuka pintu, dia melihat Irwan tengah duduk di teras kantor polisi seraya menyeruput segelas kopi.


Emosi Mawan tiba-tiba saja datang, "Irwan, ngapain kau ada di sini?!"


Entah bertanya atau memaki, intinya nada Mawan begitu lantang hingga Irwan terperanjat dan langsung berdiri. Kopinya bahkan tumpah dan terjatuh dari tangannya, untuk saja pakai gelas plastik. Jadi tidak menimbulkan suara dan serpihan beling berceceran.


"Saya mengantar Nona Indah, Pak," sahut Irwan.


Mata Mawan terbelalak. "APA?! Bisa-bisanya kau tidak memberitahu ku! Aku bilang kan kalau ada apa-apa bilang! Kau ini bodoh atau apa!" Mawan mengumpatnya habis-habisan.


Rio dan Guntur menghampiri mereka. "Papah ... Kita langsung saja masuk," ajak Rio seraya menarik tangan Mawan.


Mereka bertiga masuk ke dalam, dan sama-sama membulatkan kedua matanya. Kala melihat Indah sedang duduk dan memeluk Antoni, Reymond sudah kembali lagi ke dalam selnya.


"Opa Wawan," panggil Bayu di pangkuan Indah, dia sudah merentangkan tangannya ingin di gendong sang kakek.


Indah langsung melepaskan pelukan dari Antoni dan membelalakkan matanya, kala melihat Mawan datang dengan wajah merah dan alis mata yang terangkat. Sungguh begitu mengerikan.


"Papah," panggil Indah seraya bangun dari duduknya dan mengendong Bayu.


Mawan menghampiri Indah. Dia sebenarnya kesal melihat Indah berada di penjara, dia tahu tujuan Indah pasti membesuk Reymond. Tapi dia tidak melupakan rasa sayangnya itu, apa lagi Indah masih berlarut dalam kesedihan. Dia tidak tega untuk memarahi anaknya yang sedang rapuh.


"Kamu sudah boleh pulang dari rumah sakit? Kamu sudah baik-baik saja sayang?" tanya Mawan dengan helaan nafas panjang, menenangkan sejenak rasa emosi di dada.


"Iya, Pah. Aku baik-baik saja," tangan Indah terulur pada Antoni yang berdiri di sampingnya, Antoni membalas uluran tangannya. "Aku tadi habis ke makam Mamah, dan pulangnya sengaja mampir ingin membesuk Mas Reymond."


Deg.....


Mawan mencium kening Indah dan melepaskan pelukannya, "Ya sudah tidak apa, kau pulang saja sekarang dengan Papah Antoni," sahut Mawan dengan nada lembut.


"Tapi, Papah kenapa ada di sini? Apa Papah mau membebaskan Mas Reymond dan Pak Rizky?" tanya Indah dengan senyuman di bibir.


"Itu tidak mungkin."


"Tidak mungkin?" Indah mengerutkan dahi. "Kenapa tidak mungkin? Bukannya aku kemarin meminta Papah untuk membebaskan Mas Reymond!"


Mawan menoleh ke arah Antoni. "Antoni bawa Indah pulang!"


Tangan Antoni dan Indah masih saling menggenggam, dengan cepat Indah melepaskannya. "Aku tidak mau pulang! Aku ingin tahu tujuan Papah ke sini!"

__ADS_1


Indah menggeser kan badannya sedikit dan melihat ada Rio di sini, dan ada pria paruh baya. Hampir seumuran dengan ayahnya.


"Papah kok ajak Rio juga? Terus Om itu siapa?" Indan mengulurkan tangannya pada Guntur.


Guntur membalasnya, "Saya Guntur, Papahnya Rizky. Jadi kamu yang namanya Indah?" tanya Guntur.


"Iya Om, aku Indah."


Indah menatap wajah ayahnya yang terdiam, dia memegangi lengannya. "Papah ... Kenapa Papahnya Pak Rizky juga ada di sini? Jawab Indah, Pah!" Indah sudah menggoyangkan lengan Mawan.


"Papah ingin bicara dengan Rizky dan Reymond."


Mata Indah terbelalak. "Bicara? Ya sudah aku mau ikut dengar. Aku duduk di sini," Indah kembali mendudukkan bokongnya di kursi yang sama, bekasnya sendiri.


"Kau tidak perlu ikut mendengarkan. Kau pulang saja," sepertinya Mawan tidak mau Indah ikut serta mendengarkan hal yang ingin dia sampaikan, Mawan malah terus menyuruh Indah pulang.


"Aku tidak mau!" Indah kekeh tidak ingin pulang.


"Sayang! Banyak yang ingin Papah tanyakan pada mereka! Kau tidak perlu tahu!" Nada suaranya sudah meninggi, dia mulai kesal.


"Ya sudah tidak apa-apa, aku akan diam saja Pah. Aku janji, aku hanya mendengarkan pembicaraan kalian."


Indah tetep bersikukuh tidak ingin pulang. Dia juga penasaran dengan apa yang ingin Mawan katakan, apalagi di tambah kehadiran Rio yang ikut serta meramaikan kantor polisi ini.


"Indah!" Teriak Mawan.


"Pak Mawan, turuti saja Indah. Kasihan Pak," Antoni berusaha untuk membela Indah.


Mawan menghela nafas. "Baiklah, kau menyingkirlah dari situ, aku akan duduk di sebelah Indah."


Akhirnya Mawan menurut dan kini duduk di sebelah Indah. Antoni, Rio dan Guntur masih berdiri.


"Ya sudah kalau begitu saya akan meminta polisi untuk memanggilkan Rizky ya, Pak," ucap Guntur seraya melangkah.


"Dua-duanya kau panggil bodoh!" umpat Mawan kesal.


Indah mencubit lengan ayahnya itu, yang bahkan tidak terasa apa-apa. "Ada apa?" tanya Mawan.


"Papah ini bicara kasar! Ada Bayu, Pah," Indah mendengkus kesal, harusnya ayahnya bisa melihat sekeliling jika hendak mengumpat seseorang.

__ADS_1


Mawan mengelus rambut Bayu, "Iya sayang, maafkan Papah," nadanya kembali melembut.


__ADS_2