Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
112. Itu pasti Mas Rendi


__ADS_3

Ibunya mengangguk dan langsung mengambil ponsel di kantong celana untuk menelepon Rendi tapi tetap nomornya tidak aktif. "Tidak aktif Ndah."


"Mah..." Indah mengenggam tangan ibunya, "Perasaanku nggak enak. Aku takut Mas Rendi kenapa-kenapa."


"Mamah coba telepon Bu Santi ya." Indah mengangguk.


Sarah langsung menelepon Santi.


"Selamat pagi Bu Santi." Sapa Sarah lewat telepon.


"Pagi Bu Sarah. Ada apa tumben pagi-pagi menelepon. Oya gimana Indah? Apa dia sudah sarapan dan minum susu?"


"Indah sudah minum susu Bu, tapi biasa namanya hamil muda, dia tadi mual-mual. Oya Bu ini Indah khawatir sama Rendi. Semalam Rendi pergi untuk jenguk Omnya di rumah sakit, tapi sampai sekarang belum pulang dan nomornya tidak aktif." Tutur Sarah.


"Apa? Rendi jengguk Omnya?" Santi malah menjawab dengan pertanyaan, dia begitu tak menyangka. Padahal semalam dia sudah berpesan pada Rendi untuk tidak menemui Omnya lagi, tapi kenapa Rendi tidak menurut.


"Iya Bu." Sahut Sarah.


"Ya sudah Bu, nanti saya cari Rendi. Indah suruh istirahat saja tidak perlu khawatir, Rendi nanti akan pulang."


"Iya Bu, ya sudah saya tutup teleponnya."


Santi menaruh ponselnya di meja makan, dia juga tengah sarapan bersama Mawan. Kalau Rio, dia semalam menginap di rumah Dimas.


"Siapa yang telepon Mah? Indah?" tanya Mawan sambil mengunyah roti.


"Ibunya Pah, dia bilang Indah khawatir kalau Rendi dari semalam belum pulang." Ucapnya seraya mengelap mulutnya memakai tissu.


Mata Mawan mendelik. "Belum pulang? Memang Rendi kemana? Indah berantem sama Rendi?"


Santi menggelengkan kepalanya, "Tidak. Rendi jengguk si Andra, Mamah binggung deh." Santi mengusap pelipis matanya, "Padahal ya Pah."


Dia memegang bahu suaminya, "Mamah sudah bilang kalau dia tidak usah bertemu lagi sama si keparat itu. Tapi Rendi tidak mendengarkan omongan Mamah." Tuturnya dengan kesal.


"Andra kan juga Omnya Mah, mungkin Rendi khawatir. Dia masuk rumah sakit juga gara-gara Papah." Mawan juga sadar, kalau perlakuannya begitu keterlaluan pada Andra.


"Mamah mending telepon Rendi suruh pulang saja, kasihan Indah. Wanita hamil kan kadang manja Mah, pengen deket sama suaminya terus."


"Mangka dari itu, nomornya saja katanya tidak aktif." Santi mencoba menelepon Rendi dan benar nomornya masih tidak aktif. Dia kemudian menelepon Anton.


"Halo selamat pagi Bu Santi." Sapa nya.


"Bilang pada Rendi. Suruh dia pulang sekarang."


"Pulang? Pulang kemana Bu. Di sini tidak ada Pak Rendi." Tutur Anton, karena Rendi sendiri bahkan tidak sampai ke rumah sakit.

__ADS_1


"Hei bodoh! Kau tidak perlu berbohong padaku." Pekiknya tak percaya.


"Saya bersumpah Bu."


"Lalu Rendi kemana?" tanya Santi.


"Saya tidak tahu, Pak Rendi memang bilang ingin pergi ke rumah sakit. Tapi dia tidak kemari Bu." Tuturnya.


Setelah mendengar ucapan dari Anton, Santi langsung menutup telepon dan kini menelepon Dion.


"Selamat pagi Bu Santi." Sapa Dion.


"Apa hari ini kau lihat Rendi?" tanya Santi.


"Tidak Bu."


"Di kantor tidak ada?"


"Saya hari ini tidak masuk ke kantor Bu, saudara saya masuk rumah sakit."


"Bisa tolong cari Rendi, Dion? Dari semalam dia belum pulang. Istrinya cemas, kasihan dia sedang hamil." Tuturnya.


"Baik Bu, habis dari rumah sakit saya akan cari Pak Rendi."


🌿🌿🌿


Ibunya sudah menyuruh dia untuk beristirahat di dalam kamar, tapi Indah menolak. Dengan alasan ingin melihat Rendi yang baru pulang dan datang ke rumah.


Sarah berjalan menghampiri Indah sambil membawa sepiring nasi goreng dan air putih, dia meletakkan air putih di meja dan kemudian duduk. "Kamu mau makan tidak?" tanyanya.


Indah menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau Mah, aku mau makannya nunggu Mas Rendi pulang saja." Sahutnya menolak.


"Kamu nggak kasihan sama anak kamu. Ini sudah mau siang?" Sarah menunjuk jam dinding. "Makan sedikit dulu ya, nanti kalau Rendi sudah pulang, kamu bisa lanjutkan lagi." Tuturnya merayu dan langsung menyendok nasi goreng dan menyuapinya.


Dua suapan berhasil masuk kedalam perut anaknya, tapi tidak dengan suapan yang ketiga. "Sudah Mah." Indah memegang tangan ibunya untuk menghentikan aksi menyuapi.


"Nanti aku lanjutkan makannya kalau Mas Rendi pulang. Boleh tidak?" Ucapnya memohon dan memasang wajah melas.


Dia mencubit lembut pipi anaknya itu, merasa sangat gemas pada tingkahnya. "Kamu ini sekarang manjanya sama Rendi ya? Cinta banget sama dia ya?" tanyanya dengan menggoda.


Pipi Indah bersemu merah, "Mamah apaan sih. Ini kan bawaan bayi." Sahutnya seraya memegang perut. Indah sekarang pintar sekali bersikap manja dengan bawa-bawa nama bayi, tapi ibunya terlihat sangat senang.


Ting Tong....


Bunyi suara bel di rumahnya, mata Indah langsung berbinar dan dia langsung bangun dari duduknya, "Itu pasti Mas Rendi Mah. Biar aku yang buka pintunya....." sahut Indah sambil berlari.

__ADS_1


"Hei jangan lari-lari ingat Dede bayi." Teriak ibunya yang merasa khawatir.


Indah dengan cepat menghampiri pintu dan membukanya, "Mas akhirnya kamuuu........" Ucapannya terhenti, rasanya begitu kecewa. Karena bukan Rendi yang datang, melainkan polisi.


"Selamat Siang. Apa benar ini rumahnya saudara Rendi Pratama?" tanya Polisi itu yang punya kumis tebal.


Indah tercengang, kenapa ada polisi datang dan menanyakan rumah Rendi. Apa terjadi sesuatu padanya?


"Nona Maaf." Indah langsung kaget, dan menepis lamunannya.


"Iya Pak. Benar ini rumahnya Mas Rendi, say-saya istrinya." Tuturnya seraya menunjuk diri sendiri.


"Eemmm.... Bapak silahkan masuk." Indah melebarkan pintu, dan kedua polisi itu masuk dan duduk di ruang tamu.


"Lho kok ada polisi?" Lirih Sarah yang berada di dapur.


Dia berjalan menuju ruang tamu. "Bapak cari siapa?" tanya Sarah seraya duduk di samping Indah.


Polisi itu membawa sebungkus kantong putih. "Apa ini barang-barang saudara Rendi?" Tanya polisi itu seraya menaruh kantong di atas meja.


Tangan Indah sudah bergetar dan perlahan mengambil kantong putih itu dan membukanya, terdapat dompet dan juga jas. Indah langsung membuka dompet tersebut dan ternyata benar. Tertulis jelas nama Rendi Pratama tertera pada id KTP.


Indah kemudian melihat ada jas di dalam kantong itu. Dia juga mengambil jas berwarna biru dongker itu dan menciumnya, benar sekali. Terdapat aroma minyak wangi Rendi. Dia tidak mungkin salah, ini benar punya Rendi.


Jantungnya berdegup sangat kencang, air matanya seakan sudah mengobrak-abrik ingin segera jatuh di pipi mulusnya itu.


"Iya Pak, ini punya suami saya..... kenapa dia Pak?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like ❤️❤️❤️


__ADS_2