Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 57. Hari Keberuntungan


__ADS_3

Sementara itu Dion masih mengikuti Indah, Indah pergi di antar oleh Nella ke ATM sekalian arah jalan pulang. Nella juga tadi berbohong dengan niat ingin meminjam uang kepada pamannya untuk biaya perawatan, padahal dia melakukan itu semua demi membantu Indah.


Karena Indah tidak mau hutangnya kembali menumpuk, dia mengadaikan ponsel yang Rendi kasih itu. Ya meskipun dia sendiri tidak tahu harganya berapa, tapi minimal dia bisa memberikan jaminan kepada Nella.


Indah masuk ke dalam mesin ATM dan memasukkan kartu. Dia mengecek isi saldonya yang tinggal 3 juta, dia mengambil beberapa untuk uang jajan dan kalau uang yang dari Nella, Indah sudah meminta Nella untuk langsung mengirimkannya ke Dimas, dia melunasi semua hutangnya sebesar 10 juta.


Indah pun mengambil ponselnya dan ternyata sudah ada 5 panggilan tidak terjawab dari Rendi, dia memang sengaja tidak mengangkatnya karena malas bicara padanya, kemudian Indah mencoba menelepon Dimas.


"Hallo Mas,"


"Iya Ndah."


"Aku sudah transfer atas nama Nella ya, aku lunasi semua."


"Iya Ndah, sudah gue cek kok. Terima kasih banyak ya?"


"Harusnya aku yang terima kasih ke kamu, ya sudah ya aku tutup teleponnya,"


Indah menutup teleponnya, dan seketika dia mengingat hutangnya di koperasi.


"Ya ampun aku lupa hutang ku di koperasi." Ucapnya mengepak jidat.


"Pasti dari pihak koperasi akan menambah bunganya," Indah melihat tanggal kalender di ponselnya, dia melihat sudah 2 hari berlalu harusnya Indah sudah menerima uang bulanan yang 10 juta dari Rendi. Tapi sepertinya Rendi lupa.


Mana ingat juga dia sama aku, yang dia ingatkan cuma Siska dan Siska.


Jari Indah sudah hampir memencet tulisan panggil di ponselnya, hendak menelepon Rendi. Tapi rasanya masih ragu-ragu.


Ah aku malas ngobrol dengannya, tapi aku butuh uangnya, masa bodo deh.


Dan akhirnya Indah menelepon, langsung saja di angkat sama Rendi, di sana dia sedang menyetir untuk mengantar Sarah pulang.


Dret... Dret... Dret, getaran ponsel Rendi, "Ah Indah.." Kata Rendi yang merasa senang. Rendi meminggirkan mobilnya, "Mah aku angkat telepon dulu ya?" tanyanya kepada Sarah yang berada di sampingnya.


"Iya Ren," sahutnya sambil mengangguk.


Rendi memencet tombol jawab.


"Hallo Indah, kamu ada di mana?" Rendi.


"Mas apa kamu lupa?"


"Lupa? Lupa apa?"


"Kamu belum transfer aku uang bulanan."

__ADS_1


Ya ampun aku lupa.


"Ah iya, aku transfer sekarang deh. Kamu ada di mana?" tanyanya lagi.


"Aku tunggu sekarang ya Mas," sahutnya kemudian menutup telepon.


Huh, giliran di tanyain aja nggak di jawab, dasar Indah ini.


Gumamnya sedikit kesal, lalu Rendi langsung mentransfer uang tersebut lewat ponselnya ke rekening Indah.


Setelah saldonya terisi Indah pergi menaiki ojeg supaya cepat sampai ke kantor koperasi, hari sudah menjelang siang. Cuacanya pun cukup panas. Indah mengambil topi di dalam tasnya, namun ketika hendak memakainya dia teringat topi itu dari Rendi. Indah hendak membuangnya di jalan, tapi tidak jadi.


Ah topi kan hanya barang, ngapain di buang kan dia nggak salah apa-apa.


Pikirnya dalam hati dan langsung memakainya di atas kepala.


🌤️🌤️🌤️


Sampainya di kantor koperasi Indah langsung masuk kedalam dan menemui resepsionis di depan.


"Selamat siang ada yang bisa saya bantu." Sapa salah satu karyawan itu dengan ramah.


"Siang Mas, saya Indah. Saya ingin membayar pinjaman saya di koperasi." Jawab Indah sambil memberikan kartu identitasnya.


"Oke Mbak, saya cek terlebih dahulu ya." Kemudian karyawan itu mengambil identitas Indah dan mengetik-ngetik laptop yang sudah ada di depan matanya.


"Lho? Yang bener Mas?" tanya Indah yang masih tidak percaya.


"Iya benar, di sini tertulis nama Rendi Pratama yang sudah melunasinya." Jawabnya.


Mas Rendi? Kok dia bisa tahu hutangku di koperasi?


"Ah ya sudah Mas, terima kasih. Kalau gitu saya permisi."


"Ya sama-sama."


Indah keluar dari ruang koperasi dan duduk di luar, dia kemudian mencoba menelepon ibunya untuk bertanya, namun teleponnya tidak di angkat.


Tapi ya sudahlah, akhirnya aku sudah terbebas dari hutang. Tinggal aku tebus saja ponselku.


Pikirnya sambil melihat-lihat orang yang sedang lewat, tak sengaja dia melihat di seberang jalan ada sebuah cafe yang lumayan besar. Indah berjalan menyebrang ke sana dengan hati-hati. Dia berniat untuk melamar pekerjaan.


"Maaf Mbak, apa di sini ada lowongan pekerjaan?" tanya Indah kepada wanita penjaga kasir di depan. Sebelum wanita itu menjawabnya, seseorang di samping Indah menoleh dan memanggilnya, "Indah..." Panggil seorang wanita di sampingnya itu.


Indah ikut menoleh juga. "Tante Nissa..." Sahut Indah kemudian Nissa memeluk Indah.

__ADS_1


"Kamu apa kabar Ndah?" tanyanya melepaskan pelukan.


"Aku baik Tante, Tante sendiri bagaimana?" tanya Indah balik.


"Tante juga baik."


"Eemm Mbak tolong ini pesenan saya di taruh di piring saja ya, saya mau makan sini sama bikinin satu porsi lagi." Ucap Nissa menyerahkan kantong berisi pesenannya yang tadinya dia minta untuk di bungkus.


"Indah kita ngobrol sebentar yuk sambil makan siang." Ucap Nissa menarik tangan Indah menyuruhnya duduk.


"Indah, Tante ikut prihatin ya dengan masalah kamu." Lirihnya sambil tersenyum.


"Iya Tante," Sahutnya tersenyum simpul, kemudian makanan mereka sampai.


"Oya kamu masih mau nggak kerja lagi di Restoran Tante Ndah?" tanyanya sambil mengunyah makanan.


Apa aku balik lagi ke Restoran tante Nissa saja ya, kan aku belum dapat pekerjaan juga.


Batin Indah.


"Indah...." Panggil Nissa lagi.


"Ah iya Tante maaf." Indah juga ikut makan.


"Kenapa kamu nggak mau? Kamu tenang saja nanti Tante naikkan gajih kamu."


Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku, hutangku sudah lunas semua. Dan sekarang aku bisa kerja lagi.


Dalam hati Indah yang merasa senang seperti habis dapat rezeki nomplok.


"Iya aku mau. Tapi nggak perlu Tante naikin gajih aku juga, nggak papa kok." Sahutnya tersenyum.


"Ah tidak apa-apa, besok kamu datang jam 8 pagi ya." Indah mengangguk. Di sebelah sana juga ada Dion yang sedang makan siang di cafe dia masih stand bye mengikuti Indah dari tadi untuk melaporkannya ke Rendi.


Indah pun pulang di antar Nissa naik mobilnya, tapi ketika dia hendak membuka pintu lengannya tiba-tiba di pegang oleh seorang laki-laki. Indah langsung menoleh.


Mas Rendi? Kenapa aku bisa ketemu dia di sini.


Batinnya.


"Indah..." Ucap Rendi.


Nissa menghentikan badannya ketika hendak masuk mobil dan bertanya, "Kamu kenal pria ini Ndah?"


"Eemm...." Gumamnya sambil menatap wajah Rendi.

__ADS_1


...💜Like dan beri votenya💜...


__ADS_2