Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 81. Tolong aku


__ADS_3

Kemarin Papah seperti tidak suka melihat aku dan Bayu kesini. Tapi sekarang Papah malah mengajak kita liburan sama-sama. Kenapa sifatnya jadi berubah-ubah begini?


Batin Santi.


Santi menghela nafas dengan lega. "Tapi syukurlah, ternyata memang niat Papah hanya mengajak Indah liburan saja. Aku pikir Papah berniat menikahkan Indah dan Rio."


***


Perlahan Indah membuka mata, dia begitu asing pada ruangan ini. Seperti bukan kamar Hotel tempat ia menginap.


Dimana aku?


Batin Indah.


Dia mengangkat tubuhnya untuk duduk menyender diatas tempat tidur, dia merasa tak nyaman dengan pakaian yang saat ini terpasang pada tubuhnya. Mata Indah melihat seluruh tubuhnya dan langsung terbelalak kaget.


"Apa ini? Kenapa aku memakai kebaya? Apa jangan-jangan Papah akan menikahkan aku? Dengan Siapa? Apa Rio?!"


Glek.....


Perasaan Indah langsung tak tenang, dia segera berdiri. Jari jemarinya mencoba untuk melepaskan kancing kebaya. Namun tiba-tiba ada suara dari gagang pintu.


Ceklek.....


Baru satu kancing dari atas yang ia buka, kepalanya langsung menghadap pintu yang sudah terbuka.


Kedua wanita dewasa masuk kedalam dan menghampiri Indah.


"Siapa kalian?" tanya Indah dengan langkah mundur mencoba menjauhi mereka, sesaat dia seperti dejavu. Mengingat dulu pernah diculik untuk menikah dengan Rio.


Punggungnya sekarang sudah menempel pada tembok. "Saya penata rias pengantin, Nona. Saya akan buat Nona menjadi wanita cantik."


"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau menikah! Aku sudah bersuami, Bu," elak Indah.


Kedua wanita itu melayangkan pandangan dan tersenyum. Salah satu dari mereka memegangi lengan Indah dengan lembut.


"Nona, Nona tenang saja. Kami akan membuat Nona cantik didepan suami Nona nanti."


Indah menepis tangan wanita itu dan mulai memberontak.


"Tidak! Kalian ini gila atau bagaimana? Aku ini sudah menikah!" dengkus Indah.


Jarinya kembali memegang kancing urutan kedua, ingin membukanya. Tapi segera dihentikan oleh wanita itu. "Apa yang Nona lalukan? Jangan dilepas. Biarkan saja, Nona sudah cantik."

__ADS_1


"Aku tidak mau memakai pakaian seperti ini, terasa gatal!" pekik Indah.


Namun wanita itu berhasil mengancingkan kedua kancing hingga dadanya kembali tertutup.


Ceklek.....


Seseorang datang menuju kamar Indah, Indah terbelalak kaget. Dia adalah Mawan.


"Sayang, kenapa kau lama sekali? Acaranya akan dimulai," ucap Mawan dengan nada lembut, kakinya perlahan menghampiri Indah.


"Papah! Apa yang Papah katakan?! Aku tidak mau menikah, Pah. Aku hanya mencintai Mas Reymond," bantah Indah.


"Iya, kamu akan menikah dengannya," sahut Mawan.


Mata Indah langsung berbinar-binar dan tersenyum. Tapi langsung berubah seketika, dia tidak percaya dengan omongan Mawan. Karena selama ini, dia tahu Mawan sangat membenci Reymond.


"Papah berbohong! Tidak mungkin Papah setuju aku menikah dengannya, siapa yang mau Papah nikahkan denganku? Apa Rio?! Aku tidak mau, Pah! Rio bukan pria yang baik! Aku hanya mau bersama Mas Reymond!" seru Indah dengan lantang.


Tak ingin berdebat lama dan mengulur waktu, Mawan dengan cepat mengangkat tubuh Indah. Membawanya untuk keluar, Indah tidak diberi polesan sama sekali. Bahkan rambut panjangnya saja sampai belum di sisir sedari tadi.


"Papah! Apa yang Papah lakukan! Turunkan aku, Pah! Aku tidak mau menikah!" pekik Indah seraya memukul-mukul dada Mawan, tubuh besar Mawan bahkan tidak merasakan apa-apa.


Mawan mengangkat tubuh Indah sampai pada tempat ijab kabul, sudah ada Rio yang duduk didepan dan terdiam dengan wajah bahagia.


Indah melihat wajah Rio yang sudah bersemu merah dan senyum terukir, namun justru membuat Indah makin kesal.


"Papah! Aku mohon ... Jangan nikahkan aku dengan Rio, aku tak suka padanya, Pah," pinta Indah dengan wajah memelas.


"Nanti kalau sudah menikah, kamu akan suka sayang. Percaya sama Papah."


Disebelah kursi Rio sudah ada satu kursi kosong yang khusus untuk Indah. Namun Mawan yang duduk disana, sambil memangku Indah. Dia tahu betul, anaknya pasti akan lari.


"Papah ini gila! Tidak waras! Aku benci Papah!" umpat Indah kesal, tubuhnya sudah didekap oleh Mawan.


Mereka yang menonton dibuat kebinggungan dengan tingkah anak dan ayah itu. Tapi hanya melihat saja, lagian semua orang disana sudah dibayar oleh Mawan.


Mawan menatap wajah penghulu didepan. "Ayok, Pak. Kita mulai sekarang," titah Mawan.


"Tidak! Pak Penghulu, aku mohon. Jangan nikahkan aku ... Aku wanita bersuami, Pak. Kalau Bapak ikut serta menikahkan aku dengan Rio. Bapak akan berdosa!" pekik Indah dengan lantang.


Deg.....


Mata penghulu itu terbelalak. "Apa itu benar, Pak Hermawan? Saya tidak mau menikahkan wanita yang sudah bersuami, itu haram, Pak."

__ADS_1


"Iya, Pak. Itu haram," timpal Pak Ustadz.


"Apa maksud kalian? Putriku ini seorang janda! Suaminya sudah meninggal 3 tahun yang lalu, memang kalian pikir aku sebodoh itu tentang agama?!" dengkus Mawan kesal.


Kedua pria paruh baya itu saling memandang dan menganggukkan kepala, mereka sudah memulai do'a terlebih dahulu.


Bagaimana ini? Mas Rendi masih hidup. Tapi bagaimana cara aku menghentikan acara ini. Mamah Santi, Mas Reymond, Papah Antoni, tolong aku.


Batin Indah.


Tubuhnya sampai susah bergerak akibat didepan erat oleh Mawan.


"Tapi, Pak penghulu. Dia ... Dia bukan Ayahku!" serbu Indah mengada-ngada, matanya melihat pada Mawan hingga menghentikan acara do'a.


Deg.....


"Apa yang kau katakan? Bodoh sekali! Papah ini Papah kamu Indah! Papah kandungmu!"


"Tidak! Papahku hanya Papah Antoni!" seru Indah.


"Benar itu, Pak?" tanya Penghulu lagi.


"Kau juga sama saja! Jangan percaya omongan putriku. Dia sedang terkena pelet oleh pria mesum! Jadi mulutnya mengoceh tidak jelas."


Penghulu itu mengangguk dan memulai do'a itu dari awal lagi.


Tiba-tiba terdengar suara ricuh dari luar gedung itu, seperti orang yang tengah berkelahi dan beradu tonjok. Membuat acara sakral yang baru saja ingin dimulai terhenti lagi.


Jojo berlari menghampiri Mawan yang masih memeluk Indah, bahkan Indah sudah terdiam saja sedari tadi. Tenggorokannya terasa kering dan tubuhnya begitu lemas, kepala Indah sudah menyender pada dada Ayahnya. Dia merasa sudah tak berdaya untuk melawan ego Mawan, yang tetep bersikeras ingin dia menikah dengan Rio.


"Pak, gawat! Di luar gedung, ada keributan. Ada beberapa orang yang mengajak para penjaga kita berkelahi!" tutur Jojo dengan wajah panik.


Mata Mawan terbelalak. "Siapa? Siapa mereka? Kurang ajar sekali! Menganggu acara pernikahan anakku!" Tangannya sudah mengepal dan wajahnya begitu emosi.


"Orang-orang itu suruhan Reymond, Pak."


Deg......


Mata Indah langsung berbinar-binar, seperti ada pahlawan berkuda putih yang akan menolongnya.


Apa?! Mas Reymond? Pria mesum itu kesini? Kenapa Mas Reymond bisa tahu aku ada disini?! Aku rindu sekali padanya. Mas, cepat selamatkan aku dari kedua pria gila ini.


Batin Indah.

__ADS_1


Mata Mawan kembali membulat sempurna. "Berengsek! Si mesum itu kenapa kesini?! Kurang ajar sekali!" umpat Mawan kesal.


__ADS_2