
"Nanti malam saja ya, Pah? Sekarang Mas Reymond pergi denganku," pinta Indah.
"Tidak, harus sekarang. Tidak boleh nanti-nanti," jawab Mawan.
Tanganku sudah gatal sekali ingin menonjok wajahnya itu.
Batin Mawan.
"Opa, Bayu mau calan-calan cama Ayah Lemon," ucap Bayu seraya memegangi kedua pipi Mawan.
Reymond hanya terdiam sambil menelan saliva.
"Kalau begitu mending Papah ikut saja dengan kita bertiga. Papah bisa ngobrol dengan Mas Reymond di taman, bagaimana?" tanya Indah memberikan usul.
Mawan menghela nafas dengan gusar. "Tidak, Papah capek ingin istirahat. Yasudah kalian pergi saja bertiga."
Reymond langsung bernafas dengan lega, nafasnya tadi seperti tersendak.
"Tapi, nanti malam kau keruang kerjaku Reymond. Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Mawan.
"Baik, Pah," jawab Reymond seraya mengangguk.
Reymond mengambil Bayu lagi dari tangan Mawan. Kini mereka bertiga sudah masuk kedalam mobil dan pergi dari rumah Mawan.
Dibelakang mobil Reymond sudah ada Ali dan Aldi, mereka selalu mengikuti kemanapun Reymond pergi.
Indah duduk sambil memangku Bayu diatas kedua pahanya, sedangkan Reymond menyetir mobil.
"Sayang, kamu laper nggak? Sebelum kita ke taman. Kita beli makanan dulu, biar bisa makan di sana," ucap Reymond.
"Tidak, Mas. Tapi tidak apa beli saja untuk Mas dan Bayu."
Reymond memegangi salah satu tangan kecil Bayu. "Bayu mau makan apa?" tanya Reymond.
"Bulgel, Ayah," jawab Bayu.
"Oke, nanti kita mampir beli dulu."
Oya, Mamah kok sudah sore belum pulang. Tadi siang dia bilang ada urusan. Urusan apa kira-kira?! Apa Mamah sedang ada masalah?!
Batin Indah.
Ia mengambil ponsel pada tas miliknya, untuk menelepon Santi. Tidak menunggu waktu yang lama Santi segera mengangkatnya.
"Halo, Mamah. Mamah ada dimana?" tanya Indah.
"Mamah sedang di jalan, kenapa sayang?" tanya Santi dengan nada lembut.
"Di jalan mana? Aku, Bayu dan Mas Reymond ingin pergi ke taman. Apa Mamah bisa menyusul? Aku tunggu disana."
__ADS_1
"Kalian saja bertiga, Mamah masih ada urusan sayang."
Deg.....
"Apa Mamah ada masalah?! Kenapa tidak cerita padaku?" tanya Indah dengan wajah sedih, dia juga begitu penasaran.
Reymond menoleh kearah Indah dan mengelus rambutnya.
"Mamah tidak ada masalah sayang, nanti kalau kau sudah pulang. Mamah akan beritahu semuanya. Kamu jangan cemas dan mikirin Mamah, Mamah baik-baik saja. Kalian bersenang-senanglah bertiga, jarang-jarang kalian bisa menghabiskan waktu bersama ... Tapi ingat, hati-hati. Kamu sedang hamil."
"Iya, Mah. Yasudah aku tutup teleponnya, semoga urusan Mamah cepat selesai."
"Iya, sayang."
Setelah sambungan telepon itu terputus, Indah segera menaruh ponselnya kembali kedalam tas.
"Mamah kenapa sayang?" tanya Reymond.
"Aku tidak tau, Mas. Mamah sepertinya sangat sibuk. Tapi katanya nanti kalau aku sudah sampai rumah. Mamah akan menceritakan semuanya."
Tangan kekar itu perlahan mengelus perut Indah. "Oh, yasudah. Kamu tidak perlu memikirkannya, Mamah akan baik-baik saja. Kita akan bersenang-senang sayang."
"Iya, Mas."
***
Sampainya mereka disana. Reymond sudah mengelar tikar diatas rumput-rumput hijau didepan danau, lokasi yang sama dengan beberapa tahun yang lalu. Cuma bedanya sekarang mereka bertiga dengan Bayu, bukan dengan Sarah.
"Kamu tidak makan sayang?" tanya Reymond.
"Tidak, aku tidak pengen Mas."
"Kamu sedang pengen apa?"
"Tidak pengen apa-apa, sudah kamu dan Bayu teruskan saja makannya."
Reymond mengangguk dan memakan satu burger itu sampai. Ali dan Aldi tengah berdiri di belakang mereka, keduanya tidak bersuara seperti patung.
Suasananya cukup ramai, banyak orang-orang pulang kerja berdatangan untuk sekedar menghilangkan stres. Hawanya juga terasa sangat sejuk, memang lebih cocok kalau ke taman pagi dan sore hari.
Mata Indah sudah berbinar-binar dia begitu senang melihat pemandangan sekitar. Reymond merangkul pinggul Indah seraya menciumi rambutnya.
"Sayang. Kamu terlihat senang sekali, aku juga senang melihatmu seperti ini."
Namun tiba-tiba air mata Indah langsung lolos, berjatuhan keatas rok dress yang ia kenakan. Bayu masih sibuk mengunyah burger.
Mata Reymond terbelalak. "Hei, kenapa kamu menangis sayang?! Apa kata-kataku ada yang salah?"
Tubuhnya langsung memeluk dengan erat. "Aku rindu Mamah Sarah, Mas. Aku ingat dulu kita kesini dengan Mamah."
__ADS_1
Benar. Aku juga sangat rindu dengan Mamah Sarah, sampai sekarangpun aku belum pernah makan masakan yang paling enak selain buatannya.
Batin Reymond.
Reymond menciumi rambut Indah dan mengelus punggungnya.
"Aku juga rindu padanya, sayang. Tapi kau jangan sedih begini. Mamah disana nanti ikut sedih."
"Aku tidak mau Mamah sedih, Mas. Aku ingin Mamah disana bahagia."
Reymond melepaskan pelukan, ia memegangi kedua pipi mulus itu seraya menyeka air mata.
"Itu pasti sayang, Mamah orang yang baik. Nanti pulang dari sini kita ke makam, Mamah. Kita kirim do'a. Aku juga belum sempat kesana."
Indah mengangguk. "Iya, Mas."
Cup.....
Reymond mencium bibir Indah sekilas. "Sudah ... Jangan menangis lagi, kita kesini mau bersenang-senang, kan?"
"Iya, Mas."
Bayu berdiri dan memeluk tubuh Indah. "Bunda ... Bayu sayang Bunda."
"Bunda juga sayang Bayu." Indah segera membalas pelukan dan membersihkan mulut Bayu sisa makanan dengan menggunakan tissue.
"Bunda, Bayu mau main bola cama Ayah. Bole idak?"
"Boleh sayang. Tapi tidak ada bolanya," sahut Indah.
Reymond berbalik badan untuk menatap wajah Ali yang tengah berdiri di belakangnya.
"Ali, kau belikan bola sepak sekitar sini," pinta Reymond seraya memberikan beberapa lembar uang padanya.
"Baik, Pak."
Setelah Ali membeli bola sepak, akhirnya Reymond dan Bayu bermain bola di depan, Indah hanya melihat dan tersenyum. Kaki kecil itu menendang bola kearah Ayahnya, Reymond juga ikut menendang balik bola itu kearah Bayu.
Mereka bertiga tampak begitu senang dan tertawa bersama. Sesuatu kebahagiaan yang jarang terjadi dan selalu di impikan masing-masing.
Di seberang depan, ada perkumpulan anak-anak kecil. Laki-laki dan perempuan tercampur jadi satu, mereka juga sedang duduk lesehan beralaskan tikar. Terlihat mereka semua sedang makan bersama, ada dua wanita paruh baya yang mengenakan jilbab. Mereka duduk diantara anak-anak itu.
Entah apa yang sedang mereka santap, namun lidah dan mata Indah seakan menginginkannya, perutnya sudah ia usap-usap seraya bangun dari duduk.
Kakinya melangkah menuju perkumpulan itu, Indah seperti ingin ikut bergabung dan tentunya ingin ikut makan disana. Reymond dan Bayu masih sibuk dengan aktivitas mereka berdua. Tidak sadar jika Indah sudah berjalan ke depan, hingga sampai pada perkumpulan anak-anak itu.
"Selamat sore, Bu. Anak-anak," sapa Indah dengan senyuman manis.
"Sore!" sorak semuanya dengan ramah.
__ADS_1
"Boleh aku ikut duduk disini?" tanya Indah sambil menunjuk tikar yang masih bisa diduduki oleh bokongnya.
^^^Kata: 1032^^^