
"Tapi aku betah kok tinggal disini denganmu!" sergah Rio, rupanya ia melihat wajah Wulan yang seketika berubah kecewa karena ucapnya.
Wulan menatap matanya dengan lekat, tapi terlihat ada kebohongan dalam manik mata suaminya.
Padahal Mas tidak perlu berpura-pura, aku tau kok seorang Rio Pratama tidak akan betah tinggal di rumah seperti ini.
Rio mengulurkan tangannya menuju tangan Wulan. Ia menggenggamnya dengan lembut. "Aku memang tidak betah tinggal disini Wulan, tapi aku bisa apa? Aku ingin terus bersamamu," ucapnya sambil tersenyum pilu.
Maafkan aku Mas, aku belum bisa tinggal di rumahmu. Rasanya aku trauma ... aku takut kau melakukan hal yang semena-mena padaku lagi.
"Maafkan aku, Mas. Yasudah ... nanti aku pijat tubuh Mas Rio yang sakit."
Mata Rio langsung berbinar. "Eemm ... tapi yang sakit seluruh tubuhku, Wulan. Bagaimana dong?" ia menarik-narik alis matanya keatas, seperti tengah menggodanya.
"Yasudah nanti aku pijat semua, Mas."
'Asik! Aku hari ini mau libur ke kantor deh. Biarkan saja si Duda yang mengurus semua pekerjaanku' batin Rio seraya tersenyum puas.
"Kapan kau mau memijatku? Sekarang?" tanya Rio memastikan
"Terserah Mas Rio. Apa Mas Rio mau mandi dan sarapan dulu?"
"Iya deh, habis mandi dan sarapan."
"Yasudah, ayok mandi dulu, Mas." Rio mengangguk semangat seraya bangkit dari tempat tidur.
Kok aku merasa seperti mengurus bayi besar? Tapi yasudahlah, yang penting Mas Rio tidak marah-marah.
Wulan melangkahkan kakinya terlebih dahulu, sedangkan Rio membuntut dibelakangnya.
"Aku mandi sendiri saja deh," ucapnya setelah sudah sama-sama didalam kamar mandi.
Sejujurnya Wulan merasa bersyukur, tapi ada rasa heran juga. Namun kesempatan emas begini tidak ingin ia sia-siakan. Lebih baik Wulan tidak perlu menanyakan sebabnya.
"Oh yasudah, aku siapkan sarapan saja ya, Mas. Mas Rio mau sarapan dengan apa? Nasi goreng mau?"
Rio mengangguk pelan dan mencelupkan tubuhnya didalam bak mandi yang sudah Wulan siapkan.
"Mau kopi atau teh manis hangat, Mas?"
__ADS_1
"Kopi."
"Yasudah, aku permisi kalau begitu." Wulan keluar dari kamar mandi seraya menutup pintu.
'Aku sengaja tidak memintamu memandikanmu. Nanti kau capek, kau 'kan mau memijat seluruh tubuhku, Wulan' batin Rio seraya tersenyum dan bermain dengan sabun.
Wulan memindahkan nasi goreng didalam wajan pada dua piring. Kemudian, ia mengambil cangkir untuk membuatkan kopi, namun saat menuangkan air panas pada dispenser, Wulan mendengar suara ketukan dari pintu.
Tok ... tok ... tok.
"Permisi, Wulan!"
Terdengar suara perempuan dari depan rumahnya, Wulan mengurungkan niat untuk membuat kopi. Lebih baik ia membuka pintu terlebih dahulu.
"Permisi!"
Ceklek~
Ia melihat perempuan dan laki-laki tengah berdiri, masing-masing dari mereka memakai baju serupa dan menenteng paper bag.
"Rani, Kak Ivan. Kalian kesini?" antara senang dan binggung, Wulan melihat kedatangan kedua temannya.
Kok mereka tau?
"Kita masuk dulu, deh ...." Wulan melebarkan pintu.
'Apa Wulan memakai make-up? Wajahnya terlihat lebih cantik' batin Ivan.
"Kita ngobrol di teras saja, Wulan. Ini aku bawakan buah untukmu," ucap Ivan seraya mengulurkan tangannya memberikan paper bag yang ia bawa.
"Kok repot-repot segala, tidak usah." Wulan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa, kan kami menjenguk orang sakit." Ivan segera meraih tangan Wulan untuk memberikan paper bag itu, ia tidak mau pemberiannya ditolak.
"Aku sudah sembuh, kok. Yasudah terima kasih. Aku bikin minuman dulu untuk kalian, ya? Kalian tunggu di teras."
"Kita langsung ngobrol saja," pinta Rani.
"Oh yasudah. Sebentar." Wulan menaruh paper bag itu didalam rak televisi. Kemudian, ia dan kedua temannya duduk di teras depan.
__ADS_1
Rio sudah menyelesaikan mandinya, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk diatas perut.
Ia melihat nasi goreng dan kopi yang belum selesai dibuat, tapi hanya melihat sekilas saja. Rio langsung menuju kamar untuk menemui Wulan.
Namun saat sampai didalam kamar, ia tidak melihat keberadaan Wulan. Malah telinganya terdengar suara samar-samar orang mengobrol. Arah suara itu dari jendela kamar yang memang kebetulan posisinya mengarah pada teras.
Karena rasa penasaran, Rio membuka hordeng jendela. Terlihat Wulan dan kedua temannya tengah duduk di bangku.
'Siapa laki-laki dan perempuan yang bersama Wulan?' batin Rio.
"Kalian kok tau, aku habis tertabrak mobil?" tanya Wulan, itu adalah salah satu pertanyaan yang pertama muncul dalam otaknya ketika bertemu dengan mereka berdua.
"Iya, saat kau di kejar-kejar orang, aku sempat melihatmu, Wulan. Aku saat itu ingin menolongmu. Aku bahkan memanggil namamu, tapi kau tidak mendengarnya dan sampai akhirnya kau tertabrak mobil," papar Ivan. Memang benar yang ia katakan, waktu itu ia tak sengaja melihat Wulan, ia juga orangnya yang melaporkan pada pihak polisi.
"Apa orang itu sudah masuk kedalam penjara?" tanyanya lagi.
Mata Wulan membelalak. Ia bahkan tidak mengetahui hal itu. "Aku malah tidak tau kalau orang yang menabrakku mau dimasukkan penjara, Kak."
"Mungkin sudah diurus oleh Ayahmu," balas Ivan, sedari tadi ia mengobrol sangat fokus menatap wajah Wulan, bahkan wanita didepannya itu masih mengenakan perban kecil pada dahinya.
'Kok Ayah tidak cerita padaku? Kenapa?' batin Wulan.
"Aku dan Rani juga sempat ke rumah sakit ingin menjengukmu waktu itu, tapi tidak boleh sama suster, karena didalam kamarmu selalu ada orang yang menjengukmu. Kita tidak pernah dapat giliran. Alhasil kita pulang. Maaf ya, Wulan ... kita tidak bisa menjengukmu di rumah sakit," ucap Ivan tak enak hati.
"Tidak apa-apa kok, sekarang kalian kesini saja aku sudah senang," balas Wulan.
'Apa mereka juga tau aku keguguran? Tapi kok mereka tidak tanya mengenai hal itu? Ah lagian ... kalau bicara masalah itu, aku jadi sedih' batin Wulan.
Sayang sekali, semua yang mereka obrolkan tidak bisa Rio dengar dengan jelas. Padahal pria itu sudah menempelkan telinga kirinya pada celah jendela, supaya dapat menguping pembicaraan mereka.
'Apa sih yang mereka obrolkan? Dan kenapa laki-laki itu menatap wajah Wulan terus-menerus?' gerutu Rio dengan wajah memerah.
"Oya, Wulan. Ini aku bawa seragam Restoran untukmu," ucap Rani seraya memberikan paper bag yang ia bawa sejak tadi, ia lantas menaruhnya diatas kedua paha Wulan.
"Seragam? Memangnya aku tidak dipecat sama Bu Nissa dan Mbak Nella? Aku 'kan baru kerja sehari, sudah gitu ... aku bolos seminggu lebih."
"Aku tidak tau masalah itu, tapi Bu Nissa sendiri yang menyuruhku untuk membawakan seragam ini padamu. Memangnya kamu masih mau bekerja disana lagi atau tidak?" tanya Rani.
Memang niatnya Wulan ingin kerja lagi. Mengingat, ia masih punya hutang pada Dido yang belum dibayar nyicil sama sekali. Tapi masalahnya sekarang, ia belum izin sama Rio. Walau bagaimanapun, Wulan harus meminta izin pada suaminya, kan?
__ADS_1