Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
92. Giliran di cari nggak ketemu


__ADS_3

"Om kamu yang bilang!" Pekik Indah marah.


Mata Rendi membulat sempurna. "Om Andra maksudnya?" tanya Rendi. Indah mengangguk pelan. "Kapan kamu bertemu dengannya sayang? Dan apa saja yang dia katakan?" tanya Rendi penasaran.


"Aku bertemu dengannya di cafe tadi, dia bilang kalau kamu tidak benar-benar mencintaiku, kau malah masih berhubungan dengan Siska dan berjanji palsu padaku." Ucap Indah menceritakan.


Rendi mengenggam erat selimut, emosinya meluap-luap. "Om Andra benar-benar keterlaluan!" Pekik Rendi geram.


Dahinya sudah sangat berkerut, dia langsung beranjak dari tempat tidur dan segera meraih ponselnya untuk menelepon Andra. Tapi sudah beberapa kali tidak di angkat.


"Kenapa nggak di angkat-angkat sih." Rendi menggerutu.


Indah hanya duduk diam di kasur yang melihat Rendi mondar-mandir sambil memegang ponsel, tapi dia tidak sadar kalau selimutnya sudah jatuh ke bawah. Alhasil tubuh polosnya terlihat. Ah benar-benar keterlaluan! Indah bangun dan meraih selimut itu, kemudian dia langsung melilitkan ke pinggang Rendi.


"Ah terima kasih sayang." Ucapnya rada kaget. Indah mengangguk pelan dan duduk lagi di tepi kasur.


Siapa orang yang ingin Mas Rendi telepon? Apa Omnya?


Batin Indah.


"Halo Pak Rendi selamat sore." Ucap seseorang yang mengangkat telepon.


"Anton, apa Om Andra masih ada kantor?" tanya Rendi, dia memutuskan untuk menelepon asisten pribadi Andra.


"Tidak ada Pak, sejak dari jam makan siang dia sudah keluar kantor." Sahut Anton, mendengar ucapan itu Rendi langsung menutup telepon dan menaruh ponselnya kembali.


Rendi berjalan mengambil pakaiannya, dan pakaian Indah di lemari yang berbeda. "Sayang kau ganti baju ya," ucapnya seraya memakai kaos.


"Memang mau kemana Mas?" tanya Indah.


"Rumah Om Andra." Rendi langsung bergerak cepat memakai pakaian, dan berjalan menuju pintu kamar, rasanya dia ingin menyelesaikan kesalahpahaman malam ini juga. "Aku tunggu di mobil ya," Indah mengangguk pelan dan langsung berganti pakaian.


"Rendi sayang mau kemana?" tanya mertuanya yang tengah duduk di sofa.


"Rendi mau pergi sama Indah ke rumah Om Rendi Mah," ucapnya memberitahu, tak lama Indah datang menghampiri Rendi.

__ADS_1


"Oh ya sudah, hati-hati ya." Ucap Ibu Sarah, Indah mengecup kening ibunya dan Rendi mencium punggung tangan sang mertua.


S


K


I


P


Setelah mengendari cukup jauh akhirnya mereka sampai di kediaman Andra, rumah mewah nan elite. Ya biasa rumah-rumah orang kaya, tapi terasa begitu sepi hanya ada dua satpam dan satu pembantu, tapi ada seorang wanita yang hampir seumuran dengan Indah.


Wajahnya cantik, putih, langsing berambut panjang dengan warna pink hasil di warnai, sudah macam gulali.


Rendi dan Indah masuk dan langsung bertemu dengannya, "Kak Rendi...." Ucapnya ketika mata melihat pada Rendi, dia langsung memeluknya. Tapi Rendi tidak membalasnya, karena tangannya masih menggenggam tangan Indah.


Mata Indah membulat sempurna melihat pemandangan ini, dia bertanya-tanya siapakah perempuan yang berani-berani memeluk suaminya di depan mata kepalanya?


"Ah lepaskan...." Ucap Rendi melepas pelukan wanita itu, dia takut Indah makin salah paham.


"Tidak.... Biasa saja." Ucap Rendi dengan enteng. "Oya kenalin ini Indah, istriku. Sayang ini Riana anaknya Om Andra." Kata Rendi mengenalkan satu sama lain.


Berarti dia sepupu Mas Rendi.


Batin Indah.


Indah menjulurkan tangannya kedepan Riana. Tapi bukannya, cepat membalas Riana justru melihat Indah dari ujung kaki ke ujung kenapa. "Hei apa yang kau lihat bocah!" Ucap Rendi marah, membuat Riana terkejut. "Tidak sopan! Cepat balas tangannya," perintah Rendi.


Riana dengan cepat menjabat tangan Indah. "Aku Riana." Ucapnya.


"Indah." Sahutnya.


Mereka bertiga duduk di sofa, Indah sambil melihat sekeliling ruangan dan ada foto wisuda Rendi yang begitu tampannya, dengan Andra yang merangkul bahunya, benar-benar begitu sangat harmonis.


Sepertinya Mas Rendi dan Om Andra begitu dekat.

__ADS_1


Batin Indah.


Memang benar, Rendi sendiri juga pernah tinggal di situ pada masa kecilnya dulu. Karena Andra juga tidak punya anak laki-laki, dia hanya punya Riana satu-satunya itu juga Riana aslinya tidak tinggal bersamanya, dia tinggal bersama manta istrinya, Riana juga kuliah di Amerika. Tapi, karena ada masalah dia pulang ke Indonesia.


Bibi pembantu memberikan mereka minuman dan juga cemilan dan meletakkan di atas meja. "Jadi di mana Papah mu?" tanya Rendi. Lah emang tujuan mereka kan ketemu sama si Casanova.


"Papah? Nggak tau dia kemana, siang tadi sih pulang terus pergi lagi." Sahutnya malas.


"Pulangnya kapan kira-kira?" tanya Rendi.


"Nggak tau Kak."


"Biasanya?" tanya Rendi mengerutkan dahi.


"Nggak tau Kak, kan aku baru sampai di Jakarta hari ini." Ucap Riana.


"Ya sudah aku pulang saja." Ujar Rendi berdiri dan mengenggam tangan Indah lalu berjalan melangkah.


"Lho kenapa buru-buru kita kan ngobrol baru sebentar." Sahut Riana ngedumel.


Tapi Rendi tidak memperdulikannya, dia langsung masuk mobil dengan Indah dan mengendarainya.


"Kemana dia? Giliran di cari nggak ketemu. Sialan!" Umpat Rendi sambil memukul-mukul stir mobil.


Tangan Indah perlahan memegang tangan Rendi. "Mas...." Lirihnya, emosi Rendi menjadi mereda. Dia langsung menepikan mobil di pinggir jalan dan menggeser bokongnya untuk memeluk Indah.


"Sayang aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Tapi aku tau kamu meragukan ku, aku harus bagaimana?" tanya Rendi. Dia menciumi rambut Indah, "Sayang... Aku tidak berhubungan lagi dengan Siska, besok kalau aku ketemu dengan Om Andra aku akan beri perhitungan padanya, dia hanya menghasut mu. Aku juga tidak tau tujuannya apa, tapi kali ini kau harus percaya padaku. Aku mohon..." Ucap Rendi memohon dengan tulus.


Rendi melepaskan pelukannya, dan memegangi kedua pipi Indah yang sudah merona. "Sayang lihat mataku, apa terlihat ada kebohongan?" tanya Rendi tak terasa air mata Rendi mengalir. Ah ini pertama kali Rendi meneteskan air mata.


Indah perlahan menghapusnya, "Kau tidak cocok menanggis Mas." Lirih Indah. "Aku tidak tahu kau jujur atau tidak, aku juga tidak mengenal Om kamu seperti apa. Yang aku mau cuma menjadi satu-satunya di hatimu, aku takut.... Aku takut kau menghianati ku lagi, sakit Mas... Sakit melihatmu bersama Siska, dia bukan cuma mantan pacarmu, dia juga selingkuhan Papah dulu... Apa kau tidak sadar betapa menderitanya aku dulu? Melihat Mamahku dihianati..... Dan sekarang aku, bahkan sesudah menikah kau bersamanya, melihatmu merangkulnya... Ah mungkin juga kau bercumbu dengannya di belakang ku, sedangkan aku kau anggap apa? Cuma sebatas istri untuk kau kenalkan kepada ibumu...." Lirih Indah menanggis sejadi-jadinya, Rendi memeluknya lagi dengan erat.


"Sayang maafkan aku.... Aku dulu benar-benar berdosa padamu, aku laki-laki bodoh! Apa aku harus sujud di kakimu? Supaya kau bisa memaafkan dan percaya padaku sayang?" tanya Rendi yang menyadari kesalahannya di masa lalu, dia begitu sangat menyesal.


^^^🌾 Bersambung 🌾^^^

__ADS_1


__ADS_2