Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 53. Aku yang akan membunuhmu!


__ADS_3

Indah mengambil keduanya, dia meletakkan susu itu di atas meja. "Papah mau masuk dulu?" tanya Indah.


"Tidak."


Indah membuka paper bag berisi dress selutut berwarna abu muda, begitu cantik dan menarik.


"Papah belikan aku baju? Aku 'kan sudah punya banyak, Pah."


"Kamu ini aneh. Di belikan baju bukannya senang, malah ngedumel!"


Indah tersenyum dan memasukkan kembali paper bag itu untuk di taruh ke dalam lemari.


Dia kembali menghampiri sang Ayah yang sedari tadi berdiri di depan pintu.


"Iya deh. Terima kasih, Pah."


"Besok di pakai."


"Iya, Pah."


Mawan meraih tangan Indah. "Papah ingin bicara berdua denganmu. Apa kamu sudah mengantuk?"


"Belum. Bicara saja, Pah."


"Kita bicara di ruang kerja Papah sayang. Di sini takut Bayu bangun," ucap Mawan seraya menutup pintu kamar Indah.


Dia mengajak Indah masuk ke dalam ruang kerjanya, dan menyuruhnya duduk di atas sofa. Berdua dengannya, Santi dan Bayu sudah terlelap tidur.


Kok tiba-tiba perasaanku nggak enak ya? Apa yang akan Papah bicarakan? Semoga tidak aneh-aneh.


Batin Indah seraya menelan saliva, dia memegangi jari jemarinya.


Mawan mengenggam tangan Indah begitu hangat. "Indah. Papah mau tanya sama kamu, tapi kamu harus jujur."


Deg....


"Katakan saja, Pah," ucap Indah mencoba bersikap dengan santai.


"Bagaimana perasaan kamu sama Rio?"


"Perasaan? Perasaan apa, Pah?" tanya Indah menatap heran.


"Ya semacam,? perasaan suka."


"Papah ... Aku bukannya sudah pernah bilang kalau aku cinta sama Mas Reymond?! Kenapa Papah bertanya seperti itu," moodnya berubah menjadi jelek.


"Tapi sayang, kamu dengar sendiri. Permintaan terakhir Mamah adalah kamu harus menikah dengan Rio."


Tapi aku masih punya suami Papah. Bagaimana bisa aku menikah dengan orang lain, sedangan aku masih berstatus suami orang?


Batin Indah.


"Tapi Mamah juga berpesan supaya aku tetap bahagia, kan Pah? Aku bahagia bila bersama dengan Mas Reymond. Tidak ada yang lain," sedikit membolak-balikkan ucapan Sarah. Tapi memang benar dia sempat berpesan seperti itu.


"Reymond tidak akan bisa buat kamu bahagia Indah."

__ADS_1


"Rio juga sama Pah, dia belum bisa menjamin aku bahagia bila menikah dengannya."


"Tapi Rio sudah jelas! Pendidikan, kerjaan, dia juga anak yang baik dan penurut. Rio adalah adiknya Rendi, Kakak tiri kamu juga. Papah yakin dia bisa mengantikan posisi Rendi, sayang."


Deg....


Indah mengangkat bokong, merasa malas kalau sudah berbicara tentang perjodohan. "Aku mau tidur, Pah. Aku mengantuk."


Tangannya sudah memegang gagang pintu, tapi di hentikan oleh Mawan. "Mulai sekarang dan seterusnya, kau jangan pernah berhubungan atau bertemu dengan Reymond."


"Apa maksud, Papah? Kenapa Papah yang mengatur hidupku! Aku tidak mau!" seru Indah menepis tangan Mawan. Namun justru Mawan memeluk tubuhnya.


"Sayang, percayalah. Apa yang Papah katakan ini hanya demi kamu, untuk hidup kamu yang lebih bahagia. Papah tidak suka dengan Reymond, dia bukan pria yang baik untuk kamu."


Indah melepaskan pelukan dari Mawan. "Tapi aku tidak mau menikah dengan Rio!" bantah Indah, tangannya sudah memegang gagang pintu dan keluar sedikit membanting pintu.


Brakk....


Mawan kembali duduk dan mengusap pelipis matanya, "Bagaimana caranya supaya Indah mau menikah dengan Rio?"


Tiba-tiba ponsel di kantong kolor nya berdering, Rio yang menelepon. Dengan cepat Mawan mengusap layar ponsel ke atas dan menempelkan pada telinga kanan.


***


Sementara itu, di tempat yang berbeda.


Pertemuan terakhirnya dengan Indah, dia hampir setiap malam tidak bisa tidur. Siska masih gulang-guling di atas kasur. Beberapa hari kebelakang ucapan Indah terus terngiang-ngiang di telinganya.


"Kenapa kau menyakiti suamiku? Siapa yang menyuruhmu!"


"Berhenti kau berakting Jalang! Aku sudah muak padamu!"


"Iya Pah, Siska penyebab Mas Rendi menghilang. Dia ... Dia tersangkanya!"


"Papah ... Bawa Siska ke kantor polisi! Penjarakan dia, dia orang jahat!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


"Aakkkhhhh ..." Pekik Siska seraya menutup kedua telinganya.


Dia bangun dan menuangkan air minum pada gelas seraya menenggak habis.


Takut? Ya jelas takut! Ada rasa takut dalam diri Siska. Tapi dia begitu binggung juga, bagaimana Indah tahu tentang dirinya dalang dari tragedi hilangnya Rendi? Bahkan dia saja sudah menusuk dan membakar tubuh Rendi, niatnya memang ingin menjadikan Rendi sebagai abu.


Terdengar sangat sadis, bukan? Tapi itu karena dia ingin menghilangkan jasad Rendi, biarkan saja Rendi hilang bak di telan bumi. Yang penting dia sudah menikmati hasilnya, tapi sekarang dia sudah mulai cemas.


"Indah brengsek! Bagaimana dia bisa tahu! Aaakkhhhh ..." Siska kembali berteriak sambil meremas rambut kepalanya.


Akhirnya dia memutuskan untuk mengubungi orang yang di belakangnya, sebenarnya Siska sudah menelepon sejak kemarin-kemarin. Tapi baru berhasil di angkat.


"Halo. Apa kau ada waktu?" tanya Siska.


"Ngapain kau hubungi aku lagi? Aku sudah tidak punya urusan denganmu Jalang!"


"Aku yang punya urusan, aku punya masalah sekarang."


"Itu bukan urusanku!" pekik seseorang dari telepon itu.


"Tapi ini menyangkut Rendi."


"Rendi? Bukannya sudah kau tusuk dan kau buat jadi abu?"


"Iya itu, benar. Tapi aku ada masalah."


"Ada apa?"


"Indah ... Aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Dia bilang kalau aku penyebab Rendi menghilang. Kenapa dia bisa tahu?!"


"Mana ku tahu bodoh! Bukannya kau yang saat itu bersamanya?! Kau ini bagaimana?!"


"Aku juga binggung, tapi dia juga tahu aku di suruh oleh orang lain."


"Apa maksudmu?! Kau jangan pernah sebut namamu di depan siapa saja!" ucapnya dengan lantang.


"Tapi aku tidak mau masuk penjara sendirian. Om Mawan, Ayahnya Indah. Aku takut dengannya, bagaimana kalau aku bukan hanya di penjara? Tapi di bunuh olehnya? Aku tidak mau mati, aku ingin menikmati hidupku!"


"Banyak bicara kau! Pokoknya jangan pernah sebut namaku. Kalau tidak, aku yang akan membunuhmu!" pekiknya mengancam.


Dia langsung menutup panggilan telepon. Tubuh Siska makin bergetar tak karuan, dia makin takut.


"Kenapa aku yang di ancam? Dia juga kan ikut bersalah dalam masalah ini?!" tanya Siska pada diri sendiri.


"Sialan!" umpatnya sambil melempar ponsel mengarah pada tembok.


Prag.......


Alhasil ponselnya hancur, padahal dia tidak salah apa-apa. Kenapa barang yang harus menjadi sasaran emosi seseorang?


***


Pagi-pagi, sudah selesai mandi dan memakai pakaian, lebih tepatnya pakaian yang semalam Ayahnya belikan. Tapi dia belum berdandan, hanya menyisir rambut dan menguncir kuda. Indah menoleh pada Bayu, dia masih terlelap dari tidurnya sambil memeluk bantal guling.

__ADS_1


Indah berjalan keluar kamar dan menutup pintu. Tangannya sambil menatap layar ponsel, kemarin pagi dia sempat meminta resep nasi goreng pada Melly, Indah melangkah menuju dapur, niat hatinya ingin mencoba membuat nasi goreng.


Pertama dia membuka rice cooker di atas meja rak dapur, terlihat masih banyak nasi sisa semalam. Siap untuk di jadikan nasi goreng Ala Indah, yang tidak tahu akan berhasil atau tidak.


__ADS_2