
Tak beberapa lama seseorang pria dewasa memanggilnya dari belakang, "Maaf dengan Nona Indah bukan?"
Indah menenggok. "Ah iya, Bapak siapa ya?" tanyanya.
"Saya supir baru. Di suruh pak Rendi untuk mengantar jemput Nona ke kampus." Sahutnya.
Tiittt... Tiiitt.... Rio mengklakson mobil dan membuka kacanya, "Indah ayok." Ajaknya.
Indah berjalan menghampiri mobil Rio dan berkata. "Rio, Bapak ini bilang sopir dari Mas Rendi, dia ingin menjemput ku pulang."
Rio keluar dari mobilnya, lalu mengambil ponselnya di saku celana untuk menelepon Rendi.
"Hallo kak, emang lu suruh sopir buat jemput Indah?" tanya Rio.
"Iya, coba lu video call gue, gue mau lihat orangnya," Rio langsung memencet tombol video call dan mengarahkan kameranya ke wajah sang sopir.
"Iya bener dia orangnya, biar dia saja yang mengantar Indah. Lu jangan coba-coba pengantarnya pulang." Ancam Rendi.
"Lu ngancem gue nih."
"Sudah Rio gue sibuk, sebentar lagi mau meeting." Kemudian Rendi langsung menutup teleponnya.
Dia menatap wajah Indah. "Ya sudah lu pulang bareng sopir kak Rendi saja Ndah." Kata Rio dengan wajah sedih karena tidak jadi pulang bareng Indah. Indah berjalan masuk ke dalam mobil itu dan berlalu pergi.
Rio masuk mobil dengan rasa kecewanya.
Makin hari bukannya makin lupa, gue malah tambah cinta sama lu Ndah. Tapi hati gue juga sakit, kita pernah deket tapi lu kenapa nikah sama kakak gue. Gue belum bisa menerimanya sampai detik ini juga. Apa mesti gue rebut lu dari kakak gue sendiri?! Sungguh semua ini menyiksa....
"Aarrrggghhhh..." Pekiknya sambil menonjok stir mobil.
***
"Pak kita ke jalan Xxxx dulu ya," ucap Indah menyuruh sang sopir untuk ke rumahnya, Indah ingin mengambil beberapa perlengkapan kuliahnya tempo dulu.
"Baik Non..."
Sampainya di rumah Indah, dia masuk ke dalam terlihat rumahnya sepi sekali seperti tak berpenghuni. Tapi bi Mirna masih kerja di sana, dia di suruh oleh Rendi untuk membersihkan rumah tersebut. Supaya tetap terawat. Dan tiap malam juga ada 2 satpam yang stand bye. Sebenarnya Indah sendiri lebih nyaman tinggal di situ, ketimbang di rumah Rendi. Baginya rumah Rendi terlalu besar dan luas. Jadi terlalu capek untuk melangkah ke sana ke mari.
"Non Indah..." Sapa Bi Mirna yang kaget melihat Indah datang.
"Eh Bibi.. Aku kira di rumah ini nggak ada orang." Sahut Indah kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil air minum di dalam kulkas.
"Nggak Non... Bibi tetap ada di sini, di suruh pak Rendi."
__ADS_1
"Bibi nggak takut sendirian?" tanya duduk dan meminum air dingin itu untuk mengalir kedalam tenggorokannya.
"Nggak Non, kenapa mesti takut. Non Indah mau makan apa bibi bikinin deh..."
"Aku mau di bikinin roti bakar aja Bi, sama jus ya. Aku tunggu di kamar ya." Ucap Indah berjalan naik tangga.
Ceklek, Indah membuka pintu kamar dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
BRUKK....
"Aaahhh nyamannya," katanya sambil mengelus-ngelus seprei. Bukan Indah namanya kalau ketemu bantal tidak langsung tidur. Matanya tiba-tiba saja kantuk, niat untuk membereskan pelataran kuliahnya di tunda dulu sampai dia bangun.
***
Sementara itu jam 5 sore Rendi sudah berada di rumah Indah, sebenarnya dia sudah pulang ke rumahnya, tapi melihat Indah tidak ada di rumah, Rendi menelepon sopir dan dia di beritahu kalau Indah memintanya untuk pergi ke rumah Indah.
Tak di sangka Indah masih tidur dengan lelapnya, apa mungkin dia merasa capek karena untuk pertama kalinya masuk kuliah lagi?! Rendi membuka lemari Indah melihat ada stelan bajunya yang rapih di sana. Dia memutuskan untuk mandi.
Cipratan air terlempar oleh kelopak mata Indah, membuat Indah perlahan membuka mata. Air tersebut berasal dari kibasan rambut Rendi sehabis keramas. Mata Indah masih sayup dan nyawanya belum 100% mengumpul. Dia mengira, Indah sedang bermimpi melihat Rendi yang habis mandi dengan memakai handuk di atas perut, otot punggung dan lengannya sangat sexy. Apalagi dengan aliran air yang masih mengalir di tubuhnya sehabis mandi.
Mata dan mulutnya terkesima melihat pemandangan yang menakjubkan itu, sampai akhirnya Rendi melepas lilitan handuk di bagian perut dan berbalik ke arah Indah hendak memakai celana d*l*m. Namun yang pertama Indah lihat adalah pisang raja yang besar nan panjang, bergelantungan di sana.
"Aakkkhhhhhh.." Teriaknya, "Mataku..... Mataku...." Sontak Indah menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
"Mas ini beneran kamu kah?" tanya Indah yang masih menutup wajahnya.
Rendi meraih kemejanya dan langsung memakainya, "Iya ini aku. Buka saja, aku sudah memakai kemeja." Ucapnya membuka selimut di wajah Indah.
Rendi mendudukkan badannya di samping Indah yang masing berbaring. "Apa kamu melihatnya tadi?" tanya Rendi, namun Indah masih tercengang sambil menggeleng-geleng kan kepala. Mencoba melupakan kejadian tadi.
"Ah aku mau mandi Mas..." Ucap Indah bangun dan langsung berdiri.
Rendi menarik lengannya sampai tubuh Indah berada di pangkuannya, "Kamu harus terbiasa melihatnya," Ucapnya sambil mengelus-elus pipi.
"Aku.... Aku...." Sahutnya gugup.
"Tidak usah takut, santai saja." Bisik nya.
Degg... Indah langsung menelan ludahnya dengan kasar.
Kini wajah Rendi sudah sangat dekat dengannya, tubuh Indah sudah ada dalam dekapannya.
"Tapi Mas.. Aku..." Sahutnya, Rendi mengangkat dagu Indah, bibirnya seakan sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Pejamkan matamu." Lirih Rendi. "Aku akan melakukannya dengan lembut." Indah menurut, dan perlahan menutup matanya rapat-rapat. Dan akhirnya bibir Rendi mendarat.
...
...
...
Cup.... Bunyi pertama kali yang terdengar.
YES!! BERHASIL!
Batin Rendi.
Perlahan Rendi membuka sedikit bibirnya, lalu ******* bib*r Indah dari atas sampai bawah, dengan lembut secara berulang-ulang. Lidahnya mulai menjelajahi setiap rongga mulutnya. Menyesap dan meneguk manisnya.
Deg.....
Deg....
Lembut dan nikmat sekali.
Batin Rendi
Deg....
Deg....
Bunyi debaran jantung yang semakin lama semakin cepat.
Ciuman pertamaku, rasanya aneh, tapi?...
Batin Indah.
"Eeemmmm." Gumam Rendi. Rendi memperdalam cium*nnya, dengan refleks tangan Indah memegangi dada bidang milik Rendi.
Perlahan Rendi membaringkan tubuh Indah dan tubuhnya secara bersamaan. Posisi Rendi di atas dan Indah di bawah.
Indah sesekali membuka matanya sedikit, ya hanya sedikit untuk melihat expresi Rendi saja. Yang penuh dengan semangat melakukannya, mungkin karena sudah 2x gagal.
Setelah merasa puas pada bibir, Rendi langsung beralih ke bagian leher dia mulai menjilati secara perlahan.
...💜 Tinggalkan Jejak Like💜...
__ADS_1