
"Pak saya Dion." Ucap Dion dari balik pintu.
"Masuk." Sahut Rendi.
Ceklek.....
Terlihat Rendi sehabis mandi, dia mengenakan stelan jas yang Dion bawa. Sangat tampan dan menawan. "Wah Bapak sangat tampan, baju dan celana cocok untuk Bapak." Puji asistennya itu sambil menaruh secangkir kopi di atas meja.
"Aku sudah tahu. Aku memang tampan." Sahutnya yang tidak merasa haus akan pujian. "Dimana Indah. Kok sampai sekarang belum sampai juga?" tanyanya sambil melihat jam di pergelangan tangan yang menunjukkan pukul 5 sore.
"Bukannya tadi...." Kata Dion berbalik, melihat kearah pintu ruangan Rendi yang terbuka, dia pikir sedari tadi Indah berjalan di belakanganya, tapi ternyata tidak.
"Mas Rendi...." Ucap seorang wanita yang baru saja datang, dia sudah Rendi tunggu-tunggu sedari tadi, dengan cepat Rendi menghampirinya tidak lupa dengan senyuman menawan di bibirnya.
"Sayangku.... Kamu kemana saja? Kenapa lama sekali." Kata Rendi yang langsung menyambut Indah dengan pelukan hangat dan mencium keningnya.
"Maaf Mas, tadi aku ngobrol dulu sama Pak Antoni dan Tia." Jawab Indah.
"Haduh... Padahal aku sudah merindukanmu, kamu malah mampir dulu ketemu orang lain." Kata Rendi dengan gombalnya sambil merangkul Indah untuk duduk di sofa bersamanya.
"Mas kamu wangi sekali." Kata Indah yang mencium aroma minyak wangi yang Rendi pakai hampir terasa setengah botol.
"Wow... Apa tadi barusan kamu memujiku sayang. Ah kamu manis sekali." Jawab Rendi sambil memegang kedua pipi istrinya.
"Kalau gitu saya permisi Pak." Ucap Dion yang pamit keluar, keberadaan sudah tidak di anggap lagi.
"Ah tunggu Dion." Kata Rendi mencegah langkah kaki Dion. "Sayang kamu mau minum apa? Teh, susu atau jus atau apa gitu?" tanyanya ke arah Indah, takut ia merasa kehausan.
Indah menggelengkan kepalanya, "Tidak usah Mas, tadi aku sudah minum teh di ruangan Pak Antoni." Sahut Indah. "Oya Mas, sebenarnya aku ke sini mau apa ya? Jangan bilang kamu ingin melakukan tugas negara denganku?" tanya Indah dengan polosnya.
"Tugas negara? Aku tidak bilang begitu. Memang kamu kata siapa?" tanya Rendi sambil terkekeh.
"Pak Harun yang bilang, Mas aku nggak mau ah kalau melakukan tugas negara di sini. Malu..." Ucap Indah sambil melihat sekeliling ruangan Rendi.
Dion yang masih berada di antara Indah dan Rendi hanya bisa diam dan jiwa jomblonya sudah meronta-ronta. "Hei Dion ngapain kau masih di sini. Sudah sana keluar." Cicit Rendi mengusir asistennya.
__ADS_1
"Baik Pak." Pamit Dion dengan agak membungkuk dan melangkah keluar ruangan.
"Oya mandi gih. Dan pakai ini." Kata Rendi sambil menyerahkan gaun yang sudah menunggu untuk ia pakai.
"Lho memang kita mau kemana Mas?" tanya Indah binggung sambil memperhatikan gaun cantik yang Rendi berikan.
"Nanti aku beritahu." Jawab Rendi kemudian meraih secangkir kopi dan perlahan menyeruputnya.
Prufff.... Rendi menyemprotkan kopi yang hampir setengah dia telan, lalu dia tersendak. "Uhuk.... Uhuk... Uhuk..."
"Mas kau kenapa?" tanya Indah seraya memijit tengkuk Rendi.
"Ah, kopi ini. Benar-benar tidak enak, bahkan rasanya aneh." Ucap Rendi menggerutu lalu berdiri dan berjalan melangkah menuju tong sampah. Rendi menekan injakan tempat sampah dengan kakinya, dan ketika terbuka dengan cepat Rendi menuangkan semua isi dari kopi itu.
Currrr.......
"Mas kenapa di buang?" tanya Indah dengan wajah sedih. Pasalnya kopi itu dia yang buat, apa kopinya benar-benar seburuk itu?
"Kopinya tidak cocok di lambungku, bisa-bisa asam lambungku kumat." Gerutunya lagi. Tak terasa air mata Indah menetes.
"Apa rasanya seburuk itu Mas?" tanya Indah lagi, memastikan.
"Boro-boro rasanya, di lihat dari penampakannya saja tidak cocok di sebut kopi tapi air kobokan." Umpatnya, mengomentari dengan pedas.
Jleb...... Indah menelan salivanya dengan kasar.
Kopi perdanaku benar-benar memalukan.
Batin Indah merasa teriris.
"Pasti yang bikin OB baru, yang belum pernah bikin kopi sama sekali, nekat banget dia buat kopi untukku." Kata Rendi menebak-nebak. sambil mengambil ponsel untuk memesan online 2 cup kopi.
"Kopi yang aku buat seperti air kobokan? Benar-benar memalukan." Kata Indah kemudian menutup wajahnya dan menanggis. "Hik... Hik... Maafkan aku Mas."
Jdarrrr..... Mata Rendi langsung terbelalak.
__ADS_1
"Kopi yang kamu buat? Maksudnya?" tanya Rendi dengan cepat membuka tangan Indah, untuk melihat wajahnya yang sudah berderai air mata.
"Iya Mas, itu kopi buatan aku. Bahkan perdana untukmu. Tapi sepertinya, aku gagal." Ucap Indah merasa kecewa.
"Dion.... Dion..." Pekik Rendi memanggil asistennya, di hatinya merasa tak yakin bahwa kopi tadi adalah kopi yang Indah buat. Dalam hitungan detik Dion masuk kedalam.
"Ada apa Pak?" tanya Dion.
"Kopi tadi... Kopi yang barusan kamu bawa, itu bukan Indah yang buat kan? Kau pasti salah bawa. Sekarang bawakan kopi yang Indah buat." Perintahnya dengan nada tinggi, sambil menunjuk cangkir bekas kopi.
"Kopi tadi istri Bapak yang buat, saya tidak salah bawa."
Jdarrr..... Entah kenapa jadi semakin banyak petir, tapi tidak hujan. Mata Rendi langsung terbelalak lagi, dia tidak menyangka mulut lemesnya itu bisa menyakiti hati istrinya.
"APA? Kenapa kau tidak bilang?" tanya Rendi kesal.
"Maafkan saya Pak, saya lupa."
"Lupa katamu?" Kata Rendi dengan mata yang sudah melotot.
"Mas sudah. Mas Dion tidak tahu apa-apa, aku yang salah," Sahut Indah dengan sendu sambil mengusap air mata di pipinya.
Rendi langsung memeluk Indah merasa tidak enak hati. "Tidak sayang, kau tidak salah. Kopi tadi, tidak seburuk itu kok...... Enak, ya rasanya enak. Aku bisa menghabiskannya bahkan sampai ampas-ampasnya," ucap Rendi berdusta demi menenangkan hati istrinya.
Indah melepaskan pelukannya, "Ah kamu bohong Mas,"
"Maafkan aku sayang, aku tidak ada maksud menyakitimu." Ucap Rendi sambil memegangi kedua tangan Indah.
"Tidak apa-apa Mas, aku yang harusnya minta maaf. Maafkan aku karena belum jadi istrinya yang baik. Boro-boro bisa masak, buat kopi saja seperti air kobokan." Sahutnya menurunkan pandangan.
"Tidak. Jangan bicara seperti itu, kamu yang terbaik untukku." Ucap Rendi merayu untuk melelehkan hati istrinya, dengan tangan yang sudah lembut mengelus rambutnya.
"Apa aku bisa mandi sekarang?" tanya Indah seraya mengambil gaun.
"Bisa sayang. Biar aku antar." Sahut Rendi berdiri dan mengantar Indah masuk ke kamar mandi yang ada di ruangannya.
__ADS_1
^^^Bersambung.....^^^