
"Ini masih pagi sayang. Kamu bahkan belum sarapan." Aku langsung mengendong dia dan menuruni anak tangga.
"Pagi sayang.... Sini sarapan dulu." Sapa Mamah dan Papah begitu hangat.
Aku mendudukkan Bayu di kursi sebelahku, dan mulai menyuapinya, semangkuk bubur ayam.
"Sayang besok baby sitter Bayu datang, Mamah sudah carikan orang yang cocok." Ujar Mamah Santi yang duduk di sebelahku.
"Mah, kan aku sudah bilang. Aku nggak mau pakai baby sitter, aku bisa urus Bayu sendiri." Tolak ku. Memang benar, rasanya aku masih tidak rela membiarkan anakku di jaga oleh orang lain. Aku khawatir takut kenapa-kenapa.
"Indah sayang. Katanya kemaren kamu mau jadi sekretaris Papah, lalu bagaimana kamu kerja? Apa mending tidak usah." Ucap Papah.
Papah benar juga, aku memang sudah berniat ingin kerja dengan Papah. Papah dan Mamah sebenarnya tidak mengizinkanku, mereka memilih aku tidak usah kerja. Tapi kayaknya kalau aku tidak menyibukkan diri dan hanya di rumah, aku makin ingat Mas Rendi. Lagian sayang juga sama ijazah kuliahku.
Rasanya benar-benar sakit, merindukan orang yang tidak tahu kapan kita akan bertemu. "Bukannya Papah bilang aku boleh kerja sambil bawa Bayu?"
"Iya boleh sayang, tapi Bayu juga kan perlu di awasi. Kalau kamu punya baby sitter kan enak, kamu bisa kerja sambil bawa Bayu dan dia ada yang jagain." Tutur Papah.
"Ya sudah deh." Sahutku pasrah.
"Oma.... Opa, Bayu mau pelgi cama Bunda ke supelmaket bolleh nggaa." Ucap Bayu tiba-tiba, mata ku mendelik. Kapan aku bilang ingin mengajaknya ke supermarket?
"Boleh sayang. Oma ikut ya? Boleh nggak?" tanya Mamah.
"Bolleh Omaa..."
Setelah sarapan aku dan mereka berdua kini menaiki mobil dengan Pak Irwan, dia masih kerja sebagai sopirku. Tapi di gaji oleh Papah. Sampainya di supermarket kita langsung masuk dan Bayu sudah berlarian mencari Snack, tapi langsung aku pegangin tangannya takut dia terjatuh dan hilang.
"Bunda mau iniiiiii...." Tunjuk Bayu pada biskuit gandum.
"Ambil sayang." Sahutku.
Mamah membawa keranjang belanjaan. "Mah apa sekalian belanja bulanan?" tanya ku seraya mengambil pembalut dan menaruh di keranjang.
"Tidak usah sayang, kan ada Bibi." Aku mengangguk dan memilih-milih beberapa yang di butuhkan, tapi semuanya aku sudah punya. Akhirnya aku hanya membeli yang Bayu pengen saja.
Setelah beres. Mamah membayarkannya di depan kasir, aku menunggu Mamah di luar.
"Indah..." Sapa seorang laki-laki di belakangku. Aku berbalik badan dengan masih memegangi tangan Bayu, dia sedang menjilati ice cream.
__ADS_1
"Pak Steven ya?" tanyaku mengingat-ingat.
Dia mengangguk. "Bagaimana kabarmu Ndah?" tanya Pak Steven. Belum sempat aku jawab dia langsung berjongkok dan mengelus rambut Bayu. "Wah.... Nama kamu siapa sayang? Boleh kenalan?" tanya Pak Steven dengan hangatnya ke anakku.
"Bayu Om." Jawab Bayu.
Pak Steven bangun lagi. "Indah... Apa aku bisa minta nomor telepon mu?" tanyanya.
Lho tumben. Ini terdengar agak aneh sih, aku kan tidak begitu mengenalnya, kenapa dia tiba-tiba meminta nomorku?
"Maaf buat apa ya Pak?" tanyaku ragu-ragu.
"Ya buat teleponan atau chattan gitu." Pak Steven menggaruk tengkuknya, dia terlihat seperti malu-malu, "Apa tidak boleh?"
"Oh boleh Pak." Aku langsung meraih ponselku, masa orang minta nomor saja tidak boleh. Nanti aku di kira sombong kan.
"08577xxxxxx." Aku menyebutkan angka.
"Indah..." Ucap Mamah yang keluar dari pintu supermarket. "Ini siapa?" tanyanya.
Pak Steven langsung mengulurkan tangannya, "Saya Steven Tante, apa Tante lupa sama saya. Dulu saya yang menabrak Indah pas kecelakaan."
"Iya Tante, ya sudah saya duluan." Ucapnya tersenyum padaku dan pada Mamah juga, dia juga mengelus rambut Bayu.
Mamah menoleh kearah ku. "Kamu kenal dekat dengannya sayang?"
"Tidak Mah, tapi dia Omnya Nella."
Mamah mengangguk-angguk. "Tadi Mamah dengar dia minta nomer kamu, bener nggak?" Lho Mamah tahu. Apa dia akan marah karena aku memberikan nomorku pada laki-laki lain?
"Iya Mah, maafin Indah ya. Habis aku nggak enak kalau nggak ngasih." Tutur ku seraya menurunkan pandangan.
Tiba-tiba Mamah memelukku dan menanggis. "Kamu tidak perlu minta maaf sayang, Mamah tidak marah. Bahkan Mamah mengizinkan mu, mulai sekarang kau harus membuka hatimu untuk orang lain." Ucap Mamah, mataku ikut menanggis. Kenapa rasanya begitu kesal mendengarkan perkataan Mamah. Karena di hatiku masih ada Mas Rendi.
Aku melepaskan pelukan dan mengusap air matanya, "Mah aku belum bisa melupakan Mas Rendi. Aku.... Aku masih sangat mencintainya," Ucapku.
"Mulai sekarang kamu bisa mencoba melupakan Rendi."
"Lihat Bayu..." Mamah mengarahkan matanya kearah Bayu. "Dia juga butuh sosok seorang Ayah." Ucap Mamah sambil mengelus rambutnya.
__ADS_1
"Tapi Mah......"
"Sayang... Mamah tahu kamu tidak percaya atas hilangnya Rendi." Mamah memegangi kedua pipiku. "Tapi tolong... Jangan menyiksa dirimu, ikhlaskan Rendi.... Kalau Rendi masih hidup, dia pasti akan kembali. Bukan meninggalkanmu selama tiga tahun seperti ini."
Perkataan Mamah membuatku semakin sendu dan kembali menanggis. Aku memeluknya dengan erat, apakah yang di ucapkan Mamah itu benar? Apa mulai sekarang aku harus melupakan Mas Rendi dan membuka hatiku untuk orang lain? Entahlah aku pun tak yakin bisa melupakan cinta pertama ku atau tidak.
"Ya sudah Mah. Lebih baik kita pulang saja, tidak usah membahas hal itu." Ucapku seraya meraih tangan Bayu. Lho kok tidak berhasil aku raih. Aku menoleh ke bawah dan melihat kesana kemari. Tapi Bayu tidak ada.
"Mamah Bayu kemana?" tanya ku panik. Mamah juga ikut panik melihat ke sana kemari.
"Ya ampun Bayu kemana? Cucu Mamah...."
Aku dan Mamah langsung berpencar mencari kesana kemari. Mamah mencari di sekitar luar area supermarket dan aku masuk kedalam supermarket mencari keberadaan Bayu tapi tidak ketemu.
Supermarket ini juga sangat ramai, mungkin karena hari libur dan banyak diskon yang bertaburan.
Apa jangan-jangan Bayu hilang dan di culik? Tidak-tidak. Pertama aku kehilangan ayahnya, dan sekarang aku tidak mau kehilangan Bayu.
Aku menghampiri petugas keamanan yang sedang berdiri. "Bu bisa tolong infokan anak hilang? Anak saya hilang Bu." Tutur ku memberitahu.
Petugas itu pun mengangguk dan langsung berbicara lewat microfon kecil yang berada di depannya, aku memberi tahu ciri-cirinya.
"Perhatian bagi para pengunjung, bagi yang menemukan anak laki-laki yang berusia dua setengah tahun. Dia memakai kaos putih dan celana pendek berwarna biru. Di harapkan untuk mengantarkannya kepada petugas keamanan."
Petugas itu bahkan berbicara beberapa kali, menginformasikan pengunjung.
Setelah menunggu beberapa lama Mamah menelepon ku.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
🍂Reader jangan lupa like, author butuh banget like dari kalian. Soalnya masih butuh support banyak-banyak..... ❤️❤️❤️