Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 45. Aku mohon...


__ADS_3

...{POV Reymond/Rendi}...


"Baik, Pak. Aku bersedia."


"Aku tidak mau lihat kau dan Indah sedang bersama. Jika Indah yang mengajakmu bertemu, kau tolak saja. Kasih dia alasan apapun itu!"


Aku mengangguk paham. "Iya, Pak. Aku mengerti."


Papah menanda tangani dokumen itu dan memberikan kembali pada Om Guntur.


"Hari ini kalian bebas, tapi ingat!" tunjuk Papah kepada kita di depan.


"Kalau kalian sampai melanggar syarat ku! Aku akan memenjarakan kalian selamanya, dan jangan pernah katakan apapun pada Indah. Itu syarat kedua untuk kalian berdua," desak Papah seraya berdiri, dia membenarkan jas dan berjalan keluar dari kantor polisi bersama Rio yang membuntut di belakang.


Aku dan Rizky berdiri. "Pah, aku dan Reymond ganti baju dulu," ucap Rizky seraya berjalan pergi bersama ku kembali ke dalam sel.


Om Guntur mengangguk.


Kami berdua masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaian.


"Rey, syarat Om Mawan sangat berat. Apa lagi syarat untuk lu," ucap Rizky seraya melepaskan baju tahanan yang ia kenakan.


"Memang berat, tapi gue sudah dapatkan solusinya Riz," sahutku seraya melepaskan celana.


"Apa Rey?" aku membisikkan sesuatu pada telinga Rizky.


Rizky hanya mengangguk-angguk seolah-olah paham. "Lu yakin nggak itu berhasil, kalau tidak bagaimana?" tanya Rizky cemas.


"Gue sih yakin aja Riz, yang penting sekarang kita sudah bebas. Lu tidak usah mengikuti acara balas dendam gue sama si Jalang itu, biar gue sendiri saja. Gue bisa Riz."


"Tapi lu ..."


Aku menepuk pundaknya, "Lu jangan khawatir, gue mampu sendiri. Ini saatnya gue yang berjuang sendiri, gue nggak mau bawa-bawa lu lagi dalam masalah gue. Lu juga punya masa depan sendiri Riz, kejar saja masa depan lu. Gue sudah berterima kasih banyak pada lu, lu sudah relakan waktu dan uang lu buat gue. Selamanya gue tidak akan bisa melupakan nya," Kami sudah berpelukan dan mengusap punggung saling bergantian.


Setelah kami menganti pakaian dan pamit pada polisi, Rizky pergi bersama Om Guntur menaiki mobil. Sedangkan aku pulang sendiri menunggu taksi di depan.


Ku raba seluruh wajahku, rasanya begitu kaku dan sakit. Sepertinya aku harus bawa ke klinik kecantikan, wajah operasi ku ini harus di rawat. Apa lagi tadi habis di keroyok sama Papah, Sumpah! Papah seperti monster. Begitu garang sekali, merinding aku jadinya.


Aku mengulurkan tangan pada taksi yang lewat, taksi itu berhenti di pinggir jalan. Aku langsung masuk ke dalam mobil.


"Kita mau kemana Pak?" tanya sopir di depan.


"Kita ke klinik kecantikan Xxx Pak."


"Baik."


Aku menyenderkan punggungku di kursi, aku jadi mengingat perkataan Indah sebelum Papah Mawan datang. Dia bilang sebelum Mamah Sarah meninggal, dia meminta Indah untuk menikah dengan Rio.


Bagaimana ini? Aku sudah terlanjur mengarang cerita pada Papah dan Om Guntur. Memang itu sudah niatku juga dari awal dengan Rizky, tapi tetap saja. Kadang aku takut. Takutnya seperti ini, Papah menyuruhku menjauhi anak dan istriku. Tapi tadi apa yang Papah bicarakan dengan Rio? Kenapa aku begitu penasaran.

__ADS_1


Lebih baik aku telepon Indah dulu, aku akan memberitahu semuanya. Aku mengambil ponselku pada kantung celana, tadi aku sempat minta nomor Indah dari Dion.


Aku langsung meneleponnya.


"Halo, ini siapa?" langsung saja dia angkat.


"Sayang, ini aku."


"Mas Reymond?"


"Iya sayang, kau ada di mana? Bisa masuk ke kamar? Aku ingin bicara penting dengan mu, jangan sampai ada yang dengar."


"Aku sudah ada di kamar Mas, lagi rebahan."


Andai aku sedang bersamanya sekarang, kita pasti sudah mendesah bersama.


"Mas ada apa? Kamu benar sudah bebaskan? Sedang apa kamu?"


"Sayang, aku memang sudah bebas. Tapi aku ada masalah."


"Masalah? Masalah apa Mas? Apa Papah mengancam mu?"


Indah seperti punya mata bathin, dia begitu mengerti.


"Papah memberikan ku syarat, jika aku ingin di bebaskan aku harus jauhi kamu dan Bayu."


"APA?!" suara Indah sampai terdengar melengking, mungkin sangking kagetnya. "Keterlaluan sekali Papah!"


"Mas ... Aku ingin kita sama-sama, aku tidak mau jauh darimu."


"Aku juga maunya begitu, nanti aku akan cari cara. Kamu tenang saja sayang, kita akan sama-sama."


"Iya Mas."


"Ya sudah, kamu jaga diri baik-baik di sana. Aku tutup teleponnya ya."


"Iya Mas. Kamu juga."


"Aku mencintaimu."


"Aku juga ... Mas."


Aku tutup sambungan telepon, aku keluar dari mobil taksi.


Langkah ku berjalan masuk ke dalam klinik untuk mendaftar dan masuk pada salah satu ruangan Dokter kecantikan.


Dokter wanita menyuruhku berbaring dan memeriksa keadaan wajahku.


"Tidak ada masalah dengan wajah Bapak, hanya lebam-lebam. Itu bisa di atasi dengan mengompres dengan es batu, nanti malam sebelum tidur Bapak pakai masker yang saya berikan dan mengoleskan cream wajah. Sementara wajah Bapak di usahakan jangan sampai terkena tamparan dan tonjokan dulu ya, Pak. Supaya cepat sembuh."

__ADS_1


"Baik Dok."


Dokter itu mengambilkan beberapa obat vitamin, cream dan masker. Di bungkus pada paper bag kecil dan memberikannya padaku.


Setelah selesai dan membayar, aku keluar dari ruangan Dokter. Untuk sejenak langkah kakiku terhenti melihat wanita tengah duduk di kursi, letaknya lumayan jauh. Tapi aku tahu betul siapa dia, dia adalah ibuku, Santi.


Tiba-tiba saja terlintas di dalam pikiranku. Mamah, ya! Hanya Mamah yang bisa membantuku, dia akan menemukan jalan untuk menyatukan ku dengan Indah. Aku harus jujur dulu padanya kalau aku Rendi, hanya Mamah saja. Buatku itu tidak masalah.


Tapi sekarang aku harus bisa buat dia yakin dulu kalau aku anaknya, aku berjalan perlahan menghampiri. Mamah terlihat tengah sibuk bercermin dan melihat riasan wajahnya, aku sudah celingak-celinguk. Melihat sekeliling, ternyata Mamah sendirian, ini kesempatan yang bagus untuk aku bicara padanya, aku akan coba panggil dulu.


"Mamah ..."


Mamah langsung menoleh padaku dengan mata melotot, dia bangun seraya berdiri.


Dia menunjuk-nunjuk wajahku. "Kau Reymond, kan? Ngapain ada di sini? Bukannya kau di penjara? Kau kabur dari penjara ya! Kurang a ..."


Tangannya sudah mulai terangkat, aku tahu Mamah akan menamparku. Aku langsung berlutut di bawah kakinya, ku pegang betis Mamah. Bukan memegang lagi, lebih tepatnya sudah memeluk.


"Aku mohon ... Kasih aku waktu sebentar untuk kita bicara. Aku ini anakmu, Mah. Rendi."


"Apa-apaan kau ini, lepaskan kakiku! Kau tidak waras atau apa!" betisnya mulai bergerak-gerak seakan menolak tubuhku.


Aku berdiri dan langsung memeluk tubuhnya dengan erat seraya berbisik.


"Mamah ... Aku Rendi Pratama, anak pertamamu dari Ayah Alex Pratama. Mamah, aku tahu, sekarang Mamah memandangku seperti orang lain karena wajah ini. Tapi aku tetap anakmu Mah ... Papah tidak percaya padaku, tapi aku harap Mamah bisa percaya. Tolong bantu aku, bantu aku kembali bersama Indah dan Bayu. Dia istri dan anakku."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Selamat hari raya Idul Adha sayang ❤️ semoga kita sehat selalu


__ADS_2