
Wahyu memperhatikan wajah Antoni dengan seksama, merasa seperti tidak asing di matanya.
"Pak Wahyu saya pesan bakso empat makan disini. Yang satu baksonya saja, yang satunya lagi pakai bihun dan yang dua campur," jelas Antoni.
"Baik, Pak." Wahyu segera menyiapkan empat mangkuk dan membuatkan pesanan.
Setelah semuanya siap, ia mengantarkan menuju mobil, mereka sudah kembali duduk di tempatnya masing-masing. Irwan juga sudah membeli air mineral untuk minum.
"Apa rasanya enak sayang?" tanya Antoni kearah Indah yang sudah mengunyah bakso dalam mulutnya.
"Iya, enak Pah. Papah juga coba."
"Iya sayang."
Perlahan satu biji bakso itu masuk kedalam mulutnya, Bayu di dudukan tepat ditengah mereka. Anak kecil itu sedang makan bakso dengan lahapnya, bahkan meminta untuk makan sendiri.
Wahyu berdiri disamping Antoni yang sedang duduk didalam mobil, pintu mobilnya masih Antoni buka.
"Pak Antoni, maaf. Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya," ucap Wahyu.
"Oh. Iya, saat Wulan dan Pak Rio menikah saya 'kan ada disana," jawab Antoni.
"Bukan saat itu, Pak. Tapi dulu beberapa tahun yang lalu."
"Kapan? Memang pernah?" tanya Antoni binggung.
"Iya, saat Bapak menolong saya dan istri saya ke rumah sakit untuk melahirkan. Apa Bapak ingat?"
"Melahirkan?" Antoni terdiam dan mencoba mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
...~Flashback On~...
Hujan lebat pada malam hari, Antoni melajukan mobilnya menuju jalan kearah rumah. Namun ditengah perjalanan ia melihat seorang pria yang tengah menopang tubuh wanita, mereka berada dipinggir jalan. Tidak memakai payung ataupun jas hujan. Tubuh keduanya sudah basah kuyup.
Pria itu mengulurkan tangannya untuk melambai pada mobil yang dikendarai Antoni. Sebenarnya Antoni begitu capek karena habis pulang kerja lembur. Namun dia tidak tega melihat mereka berdua, apalagi setelah sadar melihat wanita berjilbab dengan perut besar.
Antoni memberhentikan mobilnya dan menurunkan kaca mobil, pria itu langsung mendekatkan kepalanya.
"Pak ... tolong saya, Pak," pinta Wahyu.
"Bapak dan istri Bapak mau kemana?" tanya Antoni.
Wajah istrinya sudah meringgis kesakitan.
"Istri saya ingin melahirkan, Pak. Tolong antarkan saya ke rumah sakit," pinta Wahyu dengan wajah memelas.
"Masuk saja, Pak," sahut Antoni.
Pria itu langsung membuka pintu belakang mobil dan mengangkat tubuh istrinya untuk duduk di pangkuannya, Antoni segera menancapkan gas full.
"Pah ... sakit sekali, aku tidak tahan rasanya," lirihnya pelan sambil menangis.
__ADS_1
Wahyu memeluk tubuh istrinya dan mengusap-usap perut.
"Sabar Mah, kita segera ke rumah sakit."
Malam itu benar-benar hujan lebat dan angin yang begitu kencang, Antoni tidak bisa lagi mengendarai mobil dengan cepat. Ia takut malah menjadi bahaya bagi dirinya dan orang yang dibelakang.
Sesuatu cairan putih kini mengalir pada selangk*ngan, betis hingga menuju kaki berjilbab itu.
"Pah ... air ketuban Mamah sudah keluar, Mamah benar-benar sudah tidak kuat," lirihnya pelan.
"Sebentar lagi ... Mah, sebentar lagi kita sampai," jawab Wahyu.
Wanita berjilbab itu memeras bahu suaminya begitu keras, kini bukan hanya cairan putih saja yang keluar, melainkan cairan merah.
Ia sudah mengatur nafasnya naik turun, tapi perutnya seperti merasakan serangan dahsyat. Wajahnya sudah pucat pasih dan tak lama ia memejamkan mata.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Antoni membukakan pintu belakang mobil untuk Wahyu keluar.
Pria itu langsung berlari sambil mengangkat tubuh istrinya.
"Suster ... tolong istri saya! Dia akan melahirkan!" teriak Wahyu.
Beberapa perawat langsung menghampiri dengan mendorong brankar. Segera ia baringkan tubuh istrinya yang sudah tidak berdaya. Perawat itu mendorongnya hingga masuk kedalam ruang UGD.
Kini Antoni dan Wahyu duduk di kursi panjang depan ruang UGD, terlihat Wahyu begitu cemas. Kedua telapak tangannya sudah menempel dan ia berdo'a dalam hati.
Semoga istri dan anakku selamat, ya Allah. Lindungi mereka.
Batin Wahyu.
"Semuanya akan baik-baik saja, Pak. Bapak tenang dan berdo'a," ujar Antoni.
"Iya, terima kasih Bapak telah mengantarkan saya dan istri. Bapak benar-benar orang baik."
"Iya, sama-sama. Tapi saya tidak bisa ikut menunggu, saya harus segera pulang ke rumah." Antoni melihat jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Tidak apa-apa. Bapak pulang saja, hati-hati di jalan," ujar Wahyu.
Antoni hanya membalasnya dengan senyuman, ia mengangkat bokongnya dan kini berjalan meninggalkan rumah sakit.
...~Flashback Off~...
"Oh. Iya, saya ingat. Lalu bagaimana sekarang keadaan anak dan istri Bapak? Laki-laki atau perempuan anaknya?" tanya Antoni.
Air mata Wahyu lolos membasahi pipi, namun dengan cepat ia mengusapnya memakai handuk kecil yang melingkar pada tengkuknya.
"Anak dan istri saya meninggal, Pak. Mereka tidak tertolong," lirihnya pelan.
Deg.......
Mata Indah dan Antoni terbelalak, bahkan Indah sampai tersendak.
__ADS_1
"Uhuk ... uhuk ... uhuk." Antoni langsung membukakan tutup botol air mineral dan memberikan padanya.
"Minum sayang, pelan-pelan makannya," ucap Antoni.
"Iya, Pah." Indah meminum air itu secara perlahan hingga masuk kedalam tenggorokan.
Kasihan sekali istri dan anaknya Pak Wahyu, aku jadi takut.
Batin Indah.
Antoni mengusap lengan pria tua itu secara perlahan.
"Yang sabar ya, Pak. Memang kehilangan orang yang kita cintai itu sangat berat, apalagi dua orang sekaligus. Saya juga sudah kehilangan istri saya untuk kedua kalinya."
Niat hatinya ingin menenangkan, tapi Antoni justru ikut sedih karena mengingat Sarah. Ia juga melihat mata anaknya sudah berkaca-kaca.
Lebih baik obrolannya diakhiri.
"Yasudah ... jadi berapa totalnya, Pak?"
Wahyu sudah membereskan mangkuk sisa mereka makan, menaruhnya didalam ember.
"Tidak usah, Pak. Nona Indah suka dengan bakso saya saja, saya sudah senang," tolak Wahyu.
Antoni mengambil dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang dengan paksa pada pria tua itu.
"Jangan begitu, saya Papahnya Indah. Masa saya tidak membayar makanan yang telah anak saya habiskan," ucap Antoni sambil tersenyum.
"Terima kasih, Pak. Bapak dan semuanya hati-hati di jalan," balas Wahyu.
"Iya."
Antoni menutup pintu mobilnya dan Irwan mulai menyetir lagi.
Bayu bangun, dan mendudukkan bokongnya diatas paha Antoni. Tangan Antoni meraih bahu Indah untuk menggesernya lebih dekat, wanita itu tampak diam saja sedari tadi.
"Sayang, kamu kenapa? Kok diam saja begitu?"
Kepala Indah mendongak kearah wajah Antoni.
"Papah, aku takut. Aku takut kejadian Mamahnya Wulan terjadi padaku ...."
"Husss ...." Antoni segera mencium kening Indah. "Kamu jangan ngomong begitu, kamu akan baik-baik saja. Masalah tadi jangan dipikirkan."
"Iya, Pah. Tapi ... bukannya Wulan punya Adik yang masih kecilkan, Pah? Papah taukan anaknya?"
"Iya, lalu kenapa?"
"Lalu Clara? Apa saat itu Mamahnya Wulan hamil anak ketiga?"
"Mungkin saja, iya. Sudah ... jangan dipikirkan lagi. Kamu fokus sama diri kamu saja, sayang."
__ADS_1
"Iya, Pah."
^^^Kata : 1021^^^