
"Papah ... dia selingkuh dengan wanita lain, Indah," jawab Santi. Ketika itu pula Mawan sudah datang menghampirinya, berdiri dibelakang mereka berdua.
Indah terbelalak. "Apa? Papah selingkuh?" ia lantas menatap tajam wajah Mawan. "Papah benar-benar tidak tau malu!"
Indah melepaskan pelukan Santi dan
dengan entengnya tangannya mengibas pada pipi kiri Mawan tanpa permisi.
"Indah, Papah tidak--"
Plak!!
Mawan membulatkan matanya, ia tercengang dengan apa yang Indah lakukan. Tamparannya memang tak seberapa sakitnya, tapi hatinya bak tersambar petir, begitu sakit ... sakit sekali. Putri kesayangan, untuk pertama kali berani menamparnya.
"Sayang ... kamu menampar Papah?" tanya Mawan dengan sendu, ia memegangi pipinya.
"Iya! Itu pantas untuk Papah. Dulu saat Papah berselingkuh dari Mamah Sarah ... aku tidak berani melakukan hal ini. Tapi sekarang, tidak lagi! Sudah cukup Papah menyakiti Mamah Sarah dan aku, Papah tidak boleh menyakiti Mamah Santi!" sembur Indah dengan nafas yang tersengal-sengal, ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Padahal ia sendiri hanya mendengar ucapan Santi tanpa penjelasan, tapi itu tidak penting baginya. Santi adalah orang yang paling jujur dan terpercaya, jauh dari Mawan. Jadi wajar kalau dirinya begitu yakin.
"Tapi Papah tidak berselingkuh Indah, sumpah demi Allah," jawab Mawan dengan jujur. Ia memasang wajah memelas, seakan meminta rasa iba pada istri dan putrinya. Supaya mereka percaya. Namun mereka berdua malah bersikap acuh padanya.
"Kamu tidak apa-apa Sayang?" tanya Santi seraya menghampiri Indah sambil menyeka air matanya sendiri.
"Tidak, Mah. Aku tidak kenapa-kenapa. Kita pergi sekarang." Indah menggenggam tangan Santi dan menyuruh Santi untuk menggendong Bayu, karena tidak mungkin dirinya yang mengendong saat perutnya sudah mulai membesar.
Bayu yang sedang asik nonton televisi langsung Santi gendong begitu saja dan keluar dari rumah itu dengan Indah dibelakangnya.
"Indah ... ini semua salah paham sayang. Papah bersumpah demi apapun, Papah tidak berselingkuh. Semuanya hanya salah paham," papar Mawan seraya memegang lengan Indah, mencoba menghentikan putrinya yang akan keluar dari rumahnya.
Indah berbalik badan, menatap Mawan dengan sendu. Ia bukan hanya kecewa saja. Tapi sangat sangat kecewa.
Tanpa berkata sepatah katapun, ia menepis tangan Mawan pada lengannya. Lalu berlari kecil keluar dari rumah Mawan.
Tentunya Mawan tidak mau tinggal diam, ia berlari dan mengejar Indah, memeluknya dari belakang. Mungkin hanya Indah, satu-satunya orang yang mampu menyelamatkan dirinya.
"Indah, Papah mohon jangan pergi ... Papah akan cari buktinya kalau Papah tidak berselingkuh. Kamu tidak boleh pergi meninggalkan Papah, kamu bujuk Mamah." Mawan melihat Santi yang sudah masuk kedalam mobil Irwan bersama Bayu pada halaman depan rumahnya.
"Lepaskan, Pah! Kalau mau cari bukti, cari saja! Tapi sekarang ... izinkan aku pergi dengan Mamah."
"Tidak! Tidak boleh, kamu dan Mamah tidak boleh meninggalkan Papah sayang. Papah sayang kalian berdua."
__ADS_1
"Pak Irwan!" teriak Indah pada Irwan yang sedari tadi berdiri melihat mereka berdua. "Tolong bantu aku untuk terlepas dari pria hidung belang ini!" titahnya.
"Tapi Nona--"
"Cepat!" perintah Indah dengan lantang.
Dengan rasa takut dan ragu, terpaksa Irwan mencoba untuk melepaskan rengkuhan lengan Mawan pada Indah. Mawan juga sudah menangis karena tak rela melihat putri dan istrinya pergi. Tenaganya jadi melemah, hingga Irwan berhasil membuka celah untuk Indah melepaskan diri.
Lantas, Indah langsung berlari masuk kedalam mobil yang kebetulan pintunya terbuka. Irwan juga melakukan hal yang sama, berlari menuju pintu dan langsung melajukan mobilnya, meninggalkan Mawan yang tengah termangu ditempat.
"Oma ... kita mau mana?" tanya Bayu seraya mendongak, ke arah Santi yang tengah menangis. "Oma angis napa?" tangan kecilnya meraih kedua pipi Santi, lalu menyeka air matanya.
"Bayu sayang ... kita mau pergi ke rumah Ayah," jawab Indah.
"lumah Ayah? dimana lumah Ayah, Bunda?"
"Nanti kamu akan tau kalau sudah sampai."
Indah memeluk tubuh Santi dan mencium punggung tangannya, mungkin dengan begini sedikit menenangkan hati dan pikirannya. "Eemm ... Mah, maafkan aku. Aku ingin tanya sesuatu."
"Tanya apa?"
"Mamah bisa tau Papah berselingkuh itu dari mana? Aku sampai tidak curiga sebelumnya."
"Berani sekali wanita itu ya, Mah! Bisa-bisanya dia mengirim paket di rumah Papah!" Indah mendengus kesal.
Papah dapat j*l*ng dari mana kira-kira? Apa jangan-jangan dia model di kantor Papah? Aku harus beritahu Mas Reymond soal ini.
Indah baru sadar kalau dirinya lupa membawa ponsel. Ia mengajak Santi pergi buru-buru dan tidak mengingatnya.
"Mah ... boleh pinjem ponsel Mamah sebentar? Aku mau telepon Mas Reymond."
"Mamah lupa tidak lihat Reymond tadi, dimana dia?" Santi berbalik tanya.
"Mas Reymond sudah berangkat kerja, Mah."
"Oh, kamu mau apa telepon Reymond? Mau cerita padanya?"
"Iyalah, aku juga mau minta Mas Reymond mencari tau siapa Susanti itu. Pasti dia seorang model, Mah. Biar Mas Reymond yang memberi dia perhitungan, karena berani menjadi selingkuhan Papah!" geram Indah dengan tangan yang mengepal.
__ADS_1
Santi mengangguki ucapan Indah. Ia juga begitu tak suka dengan sosok perempuan yang menjadi perusak rumah tangga orang. Apalagi perusak rumah tangganya sendiri.
Santi membuka tasnya untuk mengambil ponsel. Lalu ia berikan pada Indah. Kemudian, Indah mencari-cari nomor kontak Reymond, tapi tidak ada namanya sama sekali.
"Namanya My Boy 1 Indah, nomornya Reymond," kata Santi ketika melihat wajah Indah yang kebinggungan.
"Oh, pantesan aku cari nama Reymond tidak ada," jawab Indah sambil tersenyum. Baru saja ia hendak menelepon Reymond, tiba-tiba ada panggilan masuk yang bertuliskan nama 'My Boy 2' mungkin itu adalah Rio. "Rio telepon, Mah." Indah menyerahkan lagi ponsel itu pada Santi, tapi Santi enggan menerimanya.
"Kamu saja yang angkat, sekalian beritahu dia."
Indah mengangguk dan mengangkat telepon itu.
"Halo, Mah. Apa Mamah baik-baik saja?" tanya Rio.
"Baik-baik saja? Apa maksud kamu Rio?" Indah merasa heran, karena Rio tiba-tiba bertanya seperti itu. Ia seakan sudah tau apa yang terjadi pada Santi. Tapi memang itu semua ulahnya.
"Eemm ... perasaanku dari pagi tidak enak dan memikirkan Mamah, Indah. Mangkanya aku tiba-tiba tanya begitu," jawab Rio berbohong, padahal ia hanya ingin tau reaksi Santi. Karena dirinya belum mendapat panggilan dari Mawan. Mungkin Mawan belum curiga padanya.
"Oh, Mamah baik-baik saja. Cuma sekarang Mamah sedang sedih Rio."
"Sedih? Sedih kenapa?" tanya Rio pura-pura.
"Papah ternyata berselingkuh, Rio. Berselingkuh dengan seorang wanita yang namanya sama dengan Mamah."
"Nama sama? Susanti maksudmu?" tanyanya yang berlanjut dengan pura-pura tidak tau.
"Iya. Jujur, aku sebagai anak Papah ... aku malu sekali, malu pada Mamah, kamu dan Mas Reymond. Aku juga tidak menyangka, ternyata kelakuan Papah masih bej*t seperti dulu," keluh Indah.
"Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri, ini bukan salah kamu, Indah."
"Oya ... apa aku bisa minta Wulan datang ke rumah Mas Rendi yang lama, sekarang? Aku, Mamah dan Bayu sekarang mau kesana."
"Rumah Kak Rendi yang lama? Memang kalian mau apa kesana? Tumben."
"Mamah meminta aku, Bayu dan Mas Reymond tinggal disana, tentu dengan Mamah juga. Kami meninggalkan Papah."
"Itu bagus Indah, kamu turuti saja kemauan Mamah." Suara Rio terdengar begitu bahagia sekali, balas dendamnya berjalan dengan mulus, sesuai apa yang ia inginkan.
"Iya, yasudah. Kamu nanti jangan lupa suruh Wulan datang, ya? Mungkin dengan ada aku dan Wulan, rasa sedih Mamah terobati sedikit, kita bisa mengobrol bersama."
__ADS_1
"Iya, nanti aku suruh sopirku mengantar Wulan kesana, Indah."
^^^Kata: 1163^^^