Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 157. Kebingungan Wulan


__ADS_3

Dari lubuk hati Rio yang terdalam, ia sama sekali tidak menginginkan perceraian antara Mawan dan Santi. Ia tau orang tuanya saling mencintai. Memang dirinya sempat meminta Mawan untuk bercerai, tapi itu hanya berupa ancaman, tidak tulus dari hatinya.


Namun sekarang ia binggung, binggung karena mengetahui tentang kesalahan Mawan yang sudah berlipat-lipat ganda terhadap pernikahannya. Memang rencana itu gagal dan dirinya baik-baik saja sekarang. Tapi bukankah dengan adanya peristiwa ini sudah cukup jelas, jika Mawan tidak benar-benar menyayanginya? Lantas, Rio harus bagaimana? Apa lebih baik ia menyetujui saja perceraian Santi dan Mawan?


"Rio, kenapa kamu diam saja? Mamah ingin mendengar jawaban dari kamu." ucapan Santi menepis semua lamunan dalam otak Rio.


"Aku binggung, Mah. Memang aku sangat membenci Papah, apalagi dengan semua yang sudah dia lakukan padaku. Tapi aku tidak tega melihat Mamah dan Papah bercerai. Aku tidak tega melihat Mamah jadi janda lagi," lirihnya dengan sendu.


"Kenapa tidak tega?" Santi tersenyum tipis. "Mamah baik-baik saja, Rio. Kau tidak perlu memusingkan Mamah. Mamah juga sudah capek berumah tangga dengan Papah, dia terus-menerus menyakiti Mamah dan anak-anak Mamah." Buliran bening pada sudut mata Santi mengalir, membasahi kedua pipinya. Melihat semua itu, Rio segera memeluk tubuh Santi, mengusap-usap punggungnya.


"Aku tau, Mah. Kelakuan Papah memang benar-benar tidak baik, bahkan sangat buruk. Tapi, apa sampai sekarang dia tidak menyesal? Apa dia tidak merasa bersalah atas kesalahannya?"


"Entah, Mamah tidak tau. Dia pernah bilang menyesal, tapi Mamah tidak percaya. Kau juga tau kalau Papah itu tukang bohong. Bagaimana Mamah bisa percaya dari mulut orang yang sering berdusta?"


"Iya, itu benar. Kalau Papah tidak menyesali kesalahannya, kapan-kapan dia akan seperti itu lagi. Tapi ... apa Mamah sanggup, jika bercerai dengan Papah? Sanggup mengawali hari-hari Mamah tanpanya? Aku tau Mamah dan Papah sudah berumur, tapi aku juga tau kalian saling mencintai. Aku tidak mau melihat Mamah terluka jika terus hidup bersama Papah, tapi aku juga tidak mau Mamah terluka saat merasa kesepian kehilangan Papah."


"Tidak, Rio. Mamah tidak akan kesepian. Ada kamu, Reymond, Indah, Wulan dan cucu-cucu Mamah. Mamah akan bahagia hanya bersama kalian dan tanpa Papah. Mamah juga tidak ada niat untuk menikah lagi."


Apa Mamah jujur? Apa Mamah sama sekali sudah tidak mencintai Papah?


Kalau Mamah dan Papah bercerai, apa itu salahku?


"Apa Mamah sudah bercerita dengan Kak Reymond dan Indah?"


"Baru sama Reymond, sama Indah belum."

__ADS_1


"Bagaimana kata Kak Reymond?"


"Reymond menyuruh Mamah untuk pikir-pikir dulu, untuk sementara Mamah diminta pisah rumah dengan Papah. Dia juga bilang ingin meminta pendapatmu dan Indah, apa kalian setuju atau tidak."


"Kalau aku terserah Mamah saja, apapun yang Mamah lakukan aku yakin, semuanya memang yang terbaik. Aku hanya ingin Mamah bahagia."


"Mamah juga sama, Mamah ingin anak-anak Mamah bahagia."


***


Keesokan harinya.


Setelah selesai mandi dan sarapan, Wulan pulang dulu ke rumah Wahyu diantar oleh Indra. Ia awalnya binggung, karena aneh sekali Wahyu menyuruhnya pulang tanpa sebab. Padahal, ia tau kalau Wulan tengah menemani Rio di rumah sakit.


Rasa kebinggungan Wulan bertambah tatkala dirinya turun dari mobil, melangkahkan kakinya menuju teras depan rumahnya. Ia membulatkan netranya saat melihat siapa orang yang tengah duduk kursi teras depan. Orang itu adalah Mawan. Yang membuat Wulan kembali binggung adalah, ada Wahyu juga disana, ikut duduk bersebelahan. Di atas meja depan mereka ada dua cangkir kopi hitam, seolah menemani mereka berdua.


"Papah, Papah tumben ada disini?" Wulan bertanya basa basi, tak mungkin juga ia diam saja melihat mertuanya. Lantas, ia mencium punggung tangan Mawan dan Wahyu bergantian.


"Pak Mawan ingin bicara denganmu, Wulan. Kamu bicaralah berdua dengannya." Wahyu mengangkat bokongnya, ia berjalan masuk kedalam rumah.


Apa yang ingin Papah bicarakan kira-kira?


Entah kenapa tiba-tiba perasaan Wulan tidak enak. Jujur, setiap kali bertemu dan dekat dengan pria paruh baya itu, Wulan merasakan hawa panas dan tidak mengenakan. Apa mungkin memang karena sikap Mawan padanya? Atau karena memang pembawaan pria tua itu?


Indra yang berada didalam mobil tentunya tidak ingin tinggal diam. Ia ikut turun dan menghampiri mereka berdua, ingin ikut mendengarkan apa saja yang ingin Mawan bicarakan.

__ADS_1


"Maaf, apa saya boleh ikut duduk, Nona?" Indra meminta izin dulu pada Wulan, ia menunjuk kursi kosong yang berada disebelah kursi yang Wulan duduki.


"Boleh, Pak. Silahkan," jawab Wulan sambil tersenyum.


Mawan menatap tajam mata Indra, ia tak suka sekali dengan pria itu, salah satu algojo yang tidak bisa membuat dirinya bergerak bebas. Tapi sekarang, Mawan harus pasrah dan menerima keadaan.


"Papah mau bicara apa? Bicara saja."


Mawan mengangguk, dengan ragu-ragu ia perlahan memegang tangan Wulan. Sontak saja, Wulan terbelalak saat merasakan hangatnya genggaman tangan itu. Rasa kagetnya Wulan sama halnya dengan Indra. Pria plontos itu langsung menepis tangan Mawan pada tangan Wulan. Bukan tidak boleh, hanya saja ia refleks dan itu terjadi seperti tidak masuk akal. Seorang Mawan memegang tangan Wulan? Kok bisa? Indra tentunya tau jika Mawan tidak pernah suka dengan istri dari bosnya.


"Maaf Pak Mawan, Bapak bicara saja. Tidak usah memegang tangan Nona Wulan," sanggah Indra.


Mawan hanya berdecak kesal, tapi ia memendam rasa kekesalannya di dada. Mulutnya terkunci, tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Maaf kalau buat kamu tidak nyaman, Wulan," kata Mawan dengan nada lembut.


"Tidak apa-apa, Pah."


Tumben Papah mengatakan kata 'maaf? Kok aku jadi tambah curiga?


Mawan memegangi jari jemarinya, ia menatap mata Wulan begitu dalam. Tapi Wulan sama sekali tidak berani menatap mata Mawan, ia hanya menunduk sedari tadi.


"Wulan. Eemm ... Papah minta maaf padamu. Maafkan semua kesalahan Papah yang selama ini Papah perbuat pada kau dan Rio. Papah mengaku Papah salah, benar-benar salah. Tapi ... Papah sekarang ingin berubah, Papah tidak ingin anak dan menantu Papah membenci Papah. Papah tidak ingin jauh dari keluarga Papah."


Tes!

__ADS_1


Air mata Mawan mengalir membasahi kedua pipinya, namun Mawan segera menghapusnya. Indra memperhatikan wajah Mawan dengan seksama. Tapi dirinya tidak tau, jika air mata yang Mawan keluarkan adalah tulus atau air mata buaya.


Jangan lupa like 💕


__ADS_2