
Wulan melihat sebuah mobil keluar dari rumah Hermawan, ia hafal betul mobil siapa itu.
Untung saja Wulan menyuruh sopir taksi untuk memberhentikan mobilnya dulu berjarak dari rumah mewah itu. Karena ia tak ingin sampai bertemu dengan Santi, nanti dia akan banyak bertanya. Apalagi sampai melihat wajah Wulan yang sudah berantakan.
Setelah membayar ongkos taksi, Wulan langsung masuk kedalam rumah. Suasana rumah begitu sepi, yang terdengar suara hanya di lantai atas.
Wulan menaiki anak tangga. Niat hati ingin buru-buru masuk kedalam kamar. Tangannya bahkan sudah menegang gagang pintu. Tapi tiba-tiba Indah memanggil namanya.
"Wulan ... kok kamu pulang?" tanyanya seraya menghampiri, Indah seperti habis mandi. Rambutnya saja masih basah.
Wulan tersentak kaget dan langsung menoleh.
"Iya ... aku ingin mandi dan mengambil pakaian ganti."
Indah memperhatikan wajah Wulan, apa lagi mata temannya itu sudah merah dengan wajah yang berantakan. Segera ia pegang kedua tangan yang terasa basah karena keringat.
"Wulan ... kamu kenapa? Kamu habis menangis?"
"Tidak, aku tidak apa-apa kok," jawabnya berbohong.
Apa Wulan berantem lagi sama Rio?
Batin Indah.
"Kalau kamu ada masalah, cerita padaku, Wulan. Bukankah kita ini teman dan sekarang menjadi saudara?"
Wulan mencoba tersenyum manis pada Indah, supaya tidak curiga.
"Iya, kamu adalah teman sekaligus Kakak iparku. Tapi memang aku tidak ada masalah kok, kamu tenang saja ...."
Sejujurnya ketika Indah bertanya tadi, ia ingin langsung menangis. Tapi tidak! Wulan menahannya dan masih bersikap seolah-olah dia baik-baik saja.
Maafkan aku Indah, bukan aku tidak mau cerita padamu. Hanya saja, untuk sekarang aku tidak bisa. Lagian aku tau, kamu ini sedang hamil. Aku tidak mau membuat kamu memikirkan masalahku, cukup aku saja sendiri.
Batin Wulan
"Tadi kamu bilang ingin mandi dan mengambil pakaian ganti?! Bukannya Mamah sudah membawanya?" tanya Indah.
Apa?! Mamah sudah membawa pakaian ganti?! Ah ... maafkan aku, Mah.
Batin Wulan.
"Iya, ada punya Mas Rio yang ketinggalan. Jadi aku ingin sekalian mengambilnya," jawabnya berbohong.
Indah sebenarnya paham gelagat dari sikap Wulan. Tapi dia sendiri tidak bisa memaksa kalau memang Wulan tidak ingin cerita. Ia hanya memeluk tubuh Wulan sekilas dan mengusap pipinya.
"Yasudah, kamu mandi dulu. Sudah sore ...."
"Iya, Ndah."
Wulan segera masuk kedalam kamar Rio untuk mandi dan mengganti pakaian.
Supaya Indah tidak curiga padanya, Wulan berpenampilan seperti biasa. Ia mengenakan dress. Tapi lebih rapih dari tadi, ia juga memakai make up dan menyisir rambutnya.
Apa aku sekalian membawa semua pakaianku dan pakaian Clara?! Ah tidak-tidak. Nanti Indah akan curiga kalau aku membawa koper. Bisa-bisa dia akan mencegahku untuk pergi.
__ADS_1
Lebih baik aku tinggalkan saja. Iya ... lagian aku dan Clara membawa sedikit pakaian. Pakaian kita banyak cuma dari Mamah Santi.
Pakaian lama kita semuanya jelek. Mungkin Mas Rio akan menyuruh pembantunya untuk membuang.
Benar. Yang terpenting sekarang ... aku harus keluar dulu dari rumah ini.
Batin Wulan.
Wulan hanya membawa tas selempang miliknya yang berisi dompet, ponsel dan beberapa hal penting miliknya sendiri. Dan yang lainnya ia tinggalkan. Ia merasa tidak berhak juga untuk membawanya.
Kakinya melangkah menuju kamar Clara, ia sedang bermain dengan Bayu dan Shelly.
"Clara ... ikut Kakak, yuk!" tangannya terulur kearah Clara.
Gadis cantik itu menoleh dan menghampirinya dengan masih memegangi boneka panda.
"Mau kemana Kak?"
"Kita ke rumah sakit, jengguk Kak Rio."
"Bayu ikut Ante ...," ucap Bayu yang ikut menghampiri.
"Bayu disini saja ...," sahut Wulan seraya mengelus rambut Bayu.
Tak lama Indah dan Reymond datang menghampiri, masuk ke kamar itu.
Bayu langsung memeluk lutut Bundanya.
"Bunda ... Ante Ulan mau pelgi cama Kaka Lala. Bayu mau ikut ...." Kepalanya sudah mendongak keatas, kearah wajah Indah.
Reymond langsung membungkuk untuk mengendong Bayu.
Wulan mengangguk pelan.
"Apa sekalian menginap juga?" tanyanya lagi.
"Iya."
"Kenapa harus ajak Clara?! Dia biar disini saja. Lagian di rumah sakit tidurnya tidak enak. Kasihan dia ...," ucap Indah.
Aku tidak mau ke rumah sakit Indah, tapi aku harus kasih alasan apa?
Batin Wulan.
"Iya Kaka. Clara nggak mau ke rumah sakit, baunya nggak enak ...," tolak Clara.
"Tadinya aku ingin mampir dulu ke rumah Ayahku, Indah. Mumpung hari belum gelap. Aku juga mau sekalian ajak Clara."
"Tapi-"
"Sayang ... sudah biarkan saja, lagian Clara ini Adiknya Wulan. Mau dibawa kemana juga terserah dia. Kamu tidak usah melarangnya," sergah Reymond dengan tangan yang merangkul bahu istrinya.
Indah menghela nafas.
"Yasudah, kalian pergi saja. Nanti kamu kasih tau Mamah juga, ya? Takutnya Mamah nungguin kamu di rumah sakit," tegurnya.
__ADS_1
"Iya Ndah."
"Kaka, aku ingin membawa semua bonekaku. Apa boleh?" tanya Clara.
"Kenapa harus bawa semua boneka? Bawa satu saja Sayang ... nanti ribet membawanya," sahut Indah.
"Kakak Indah benar, kamu bawa satu boneka saja," balas Wulan.
Clara memperhatikan boneka panda yang ia pegang dan boneka beruang diatas kasur, ada boneka Barbie juga.
"Yasudah, bawa ini saja," ucapnya seraya memeluk boneka yang ia pegang.
Maafin Kakak ya Sayang. Mungkin hanya satu boneka yang kamu bawa, sisanya biar ditinggal disini.
Batin Wulan.
Wulan sudah menggandeng tangan Clara, hendak keluar dari kamar. Namun tiba-tiba Indah menghentikan sebentar untuk membungkuk, supaya bisa mencium kening gadis cantik itu.
"Kalian hati-hati dijalan."
"Iya."
"Dadah Kaka Lala, dadah Ante Ulan ...," ucap Bayu dengan lambaian tangan.
Mereka berdua menoleh dan melambaikan tangan pada Bayu.
"Dadah Dede Bayu ...," ujar Clara dan Wulan.
Keduanya sudah menuruni anak tangga, Indah memperhatikan mereka dari lantai atas sampai Wulan dan Clara keluar menuju pintu utama.
Tak terasa air matanya menetes, merasa sedih tapi dia juga binggung sedih karena apa.
Reymond yang melihat air mata itu segera ia hapus dan mencium pipi istrinya.
"Kamu kenapa sayang?! Kok nangis?"
Indah menoleh kearah Reymond. "Nggak apa-apa, Mas."
Kenapa aku merasa sedih mereka pergi?! Padahal mereka hanya pergi ke rumah sakit menjenguk Rio.
Batin Indah.
***
...~Flashback On~...
Sebelum Wulan berhasil menoleh, Rio keburu jatuh pingsan. Tubuhnya begitu lemas dan tidak berdaya. Dia muntah saja sudah beberapa kali dan sekarang perutnya kosong.
Dido dan para perawat membantu mengangkat tubuh Rio, membawanya masuk kedalam ruang rawatnya untuk segera diperiksa kembali oleh Dokter.
Aku tidak menyangka, ternyata rumah tangga Wulan serumit ini. Sepertinya Pak Rio benar-benar tidak ada perasaan dengan Wulan. Apa ini peluang untukku supaya bisa balikkan dengannya?
Tapi kok ... kenapa tadi Pak Rio sampai mengejarnya begitu?!
Batin Dido seraya duduk di kursi panjang didepan ruang rawat Rio.
__ADS_1
...~Flachback Off~...
^^^Kata: 1024^^^