Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 35. Telur ceplok


__ADS_3

Mau bagaimana pun aku bicara, tetap saja Wulan itu terlihat sempurna di mata Mamah. Harusnya Mamah periksa mata, Wulan itu tidak ada sempurnanya sama sekali menjadi istriku!


Gerutu Rio dalam hati.


Rio terdiam dan memalingkan wajahnya, namun tiba-tiba perutnya kembali bergejolak.


Ia langsung mengangkat tubuhnya, namun kepalanya masih terasa pusing.


"Rio kau kenapa?" tanya Santi.


"Aku mual. Mau muntah, Mah," lirihnya sambil meringis. Mulutnya sudah ia tutup, takut didalam perutnya keburu keluar.


"Wulan! Panggilkan Dido suruh bantu Rio!" titah Santi.


"Iya, Mah."


Wulan langsung bangun dan keluar dari ruangan Rio, ia meminta Dido untuk memapah tubuh Rio masuk kedalam kamar mandi.


"Uueekk ... uueekk ... uueekk ...." Berhasil keluar dengan selamat pada westapel, Rio segera membasuh mulutnya dengan air.


"Uueekk ... uueekk ... uueekk ...."


Hampir sudah beberapa menit Rio muntah-muntah. Sampai yang keluar hanya air, tapi tetap saja perutnya mual.


Setelah tidak lagi muntah, Dido memapah tubuh Rio kembali pada tempat tidur.


Pria itu berbaring lemas tanpa tenaga.


"Apa tadi kau sudah makan siang?" tanya Santi seraya mengusap rambut Rio.


"Sudah, tapi sedikit dan tadi aku keluarkan lagi," lirihnya pelan.


"Obatnya? Kau sudah minum? Apa Dokter memberikan obat untuk menghilangkan rasa mualnya juga?"


"Iya, aku sudah minum obat yang Dokter berikan, Mah. Tapi perutku masih mual," sahutnya sambil memegangi perut.


Kasihan Mas Rio.


Batin Wulan menatap sendu kearah suaminya.


Krukuk-krukuk......


Tiba-tiba terdengar bunyi cacing pada perut Rio, rasa mualnya berubah menjadi rasa lapar.


"Kau lapar?" tanya Santi.


"Iya, Mah."


"Mau makan dengan apa? Nanti Dido belikan."


"Eemm ... aku ingin makan dengan telur ceplok, Mah."


"Sama apa lagi?" tanya Santi.


"Telur ceplok campur kecap dan nasi," jelas Rio.


"Tumben?! Kok kamu mau makan kayak gitu? Seperti anak kecil saja. Hahahaha ...." Entah kenapa Santi menjadi tertawa karena merasa lucu sekaligus aneh.

__ADS_1


"Tapi aku ingin Mamah yang membuat telurnya."


Deg......


Tawa Santi langsung terhenti dan membelalakkan kedua matanya.


"Mamah yang buat?! Apa kau tidak salah?!" Ia menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, aku ingin Mamah yang masakin untukku."


"Tapi kau 'kan tau Mamah ini tidak bisa masak Rio. Kau sengaja meledek Mamah?" tanya Santi kesal.


"Biar aku sa-" awalnya Wulan ingin menawarkan diri. Namun ucapannya tidak jadi diteruskan, karena takut Rio tidak terima.


"Nah ... bagaimana Wulan saja yang membuatnya?" Santi memberikan penawaran pada Rio.


Pria itu menggelengkan kepalanya, "Aku ingin Mamah yang masakin untukku. Masa Mamah tidak mau sih?!"


Aneh sekali Rio ini, masa aku yang masak?! Ya walau hanya buat telur ceplok, tapi sama saja ... diakan tau aku tidak bisa masak.


Batin Santi.


"Mamah bukan tidak mau, Mamah tidak bisa membuatnya."


"Masa telur ceplok saja tidak bisa," dengkus Rio kesal.


"Kau ini benar-benar meledek Mamah atau bagaimana, sih?! Kau 'kan tau sejak dulu Mamah tidak pernah masak dan tidak bisa masak!" bentak Santi.


"Yasudah, sekarang Mamah masak untukku. Hanya telur ceplok saja kok, Mah. Nanti Mamah bisa minta Bibi ajarkan," terang Rio.


"Kau ini aneh-aneh saja! Restoran banyak, Cafe banyak! Tapi kau menyuruh Mamah yang masakin. Tinggal beli saja beres, langsung makan!" Karena merasa kesal, akhirnya Santi berpindah posisi duduknya pada sofa disamping Wulan.


Batin Rio terdiam.


Santi menghela nafas dengan gusar.


"Dido. Kau pergi ke Restoran depan, belikan apa yang Rio inginkan," titah Santi pada Dido yang sedari tadi berdiri mematung.


"Iya, Bu."


Dido sudah mulai melangkah, namun tiba-tiba Rio berkata, "Aku tidak mau makan kalau bukan Mamah yang membuatnya!" ancam Rio.


"Yasudah, tidak usah makan!" balas Santi.


Dido menoleh kearah Santi dan Rio secara bergantian, dia jadi binggung sendiri.


"Lalu saya jadi beli ke Restoran atau tidak, Bu?"


"Tidak usah, Rionya saja tidak mau makan. Sudah kau keluar saja Dido," usir Santi.


Pria berkumis tipis itu mengangguk dan keluar dari ruang rawat Rio.


Wajah Rio sudah berpaling sambil cemberut, ia bahkan tidak menatap wajah Wulan dan Santi. Merasa begitu jengkel, karena permintaannya tidak dituruti.


"Aku tidak menyangka, Mamah ternyata benar-benar tidak sayang padaku. Aku sakit begini saja, Mamah tidak peduli," lirih Rio kesal.


"Kalau Mamah tidak sayang, Mamah tidak akan kesini!" balas Santi ikut kesal.

__ADS_1


"Ya 'kan Mamah tau aku sedang sakit, masa hanya meminta dibuatkan telur ceplok saja sampai menolak. Mamah jahat padaku!"


"Rio! Kau ini seperti anak kecil saja, kenapa begitu aneh dan makin menyebalkan sih?!"


Kok Mamah sama Mas Rio jadi berantem begini. Padahal hanya perkara telur ceplok.


Batin Wulan.


Rio menoleh kearah Santi dengan tatapan sendu.


"Memang salah, ya? Jika seorang anak ingin merasakan masakan Ibunya sendiri?! Aku hanya minta Mamah buat telur ceplok. Bukan rendang ataupun sayur yang buat Mamah kerepotan. Begitu saja Mamah menolak! Aku ini sedang sakit, Mah," lirihnya sambil memegangi perut. Ia mengekpresikan wajah sesedih mungkin, supaya Ibunya mengiba.


Benar saja, lama-lama Santi menatap Rio dengan tatapan kasih sayang, akhirnya ia mengalah.


Santi bangun dari duduknya dan menghela nafas.


"Yasudah, Mamah akan coba buatkan. Tapi kalau hasilnya tidak memuaskan, kamu jangan menghinanya, ya?"


Wajah sedih Rio langsung berubah, ia menarik senyum menawan.


"Tidak, Mah. Tidak akan. Apapun hasilnya nanti ... Rio akan memakannya, bahkan sampai habis."


"Kau ingin di masakin berapa telurnya?"


"Tiga, Mah."


"Yasudah, berarti Mamah pulang dulu ke rumah, nanti kesini lagi. Kamu disini dengan Wulan dulu."


"Mamah hati-hati di jalan," ucap Wulan dan Rio secara bersamaan.


"Iya." Santi sudah keluar dari ruang itu dan meninggalkan Rio dan Wulan berdua.


Keduanya terdiam tanpa kata. Sejujurnya Wulan ingin bertanya mengenai kondisi Rio, tapi ia ragu. Takut nantinya Rio jadi marah-marah.


Rio mengangkat tubuhnya untuk bangun, punggungnya ia sandarkan pada sisi tempat tidur.


Tangannya terulur hendak meraih segelas air diatas meja. Karena terlihat begitu kesusahan, akhirnya Wulan bangun dari duduknya, menghampiri Rio untuk memberikan gelas itu.


"Ini, Mas ...."


Dengan wajah cemberut, Rio mengambilnya dan menenggak air sampai habis. Hingga tak ada yang tersisa.


"Mas Rio, maafkan aku Mas ... gara-gara aku, Mas Rio masuk ke rumah sakit," ucapnya pelan.


Sadar juga ternyata. Iya! Memang ini salahmu Wulan.


Batin Rio.


"Apa kau senang lihat aku sakit begini?"


Deg.......


Mata Wulan terbelalak.


"Masa aku senang?! Aku sedih lihat Mas Rio sakit."


"Bohong!"

__ADS_1


"Benar, Mas. Tidak mungkin seorang istri senang melihat suaminya sakit."


^^^Kata: 1025^^^


__ADS_2