
Rio cepat-cepat keluar dari mobilnya dan menghampiri wanita tersebut dengan luka di bagian lutut dan tumit akibat goresan aspal di jalan. Celana jeans panjang yang dia kenakan sampai robek di bagian lutut.
"Maaf-maaf, gue nyetir nggak konsen jadi begini." Ucap Rio yang langsung mengulurkan tangan membantu wanita itu berdiri.
Terlihat wajah wanita itu tampak meringgis kesakitan, "Gue akan anterin lu ke rumah sakit." Kata Rio sambil memapah tubuh wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya
Rio langsung mengendarai mobilnya, tapi wanita itu malah menanggis sejadi-jadinya di dalam mobil. "Hueee... Hik... Hik... Hik..." Rintih wanita itu, derayan air mata membasahi pipinya.
"Lho... Jangan menanggis, apa sakit sekali?" tanya Rio sambil memberikan secarik tissu.
Wanita itu mengambil tissu dan mengusap air matanya, tapi tak lama dia menanggis lagi. "Hik... Hik.... Hik..."
"Kok nanggis lagi kenapa? Sabar dong ini kan lagi di jalan. Gue cari rumah sakit terdekat." Ujar Rio mempercepat perjalanannya dan menaruh satu kotak tissu di samping wanita itu. Dengan cepat wanita itu mengambilnya lagi dan menyusut beberapa ingus di hidungnya sampai mengeluarkan bunyi.
"Prottt... Prott...."
"Eh... Jorok banget sih." Gerutu Rio yang seakan ilfeel melihat wanita itu.
Wanita itu melempar beberapa tissu bekas di dalam mobil, membuatnya berserakan di bawah.
"Sakit tahu!" Dengkus nya.
"Kan gue bilang sabar, jadi cewek nggak sabaran banget. Cuma lecet doang juga." Cicit Rio ngedumel, karena memang yang dia lihat cuma goresan dan luka kecil.
"Yang kelihatan cuma luka kecil, tapi ada luka besar yang tidak terlihat." Ujar wanita itu dengan nada sendu.
Mendengar ucapan dari wanita itu, sontak Rio mengerem secara mendadak untuk memberhentikan mobil.
Ckittt.....
"Aw.... Bisa pelan nggak sih ngeremnya," cicitnya kesal dengan tubuh yang ikut bergerak mengikuti rem dadakan.
"Lu tadi bilang luka apa? Luka yang nggak terlihat. Dimana?" tanya Rio penasaran. Apa mungkin ada luka lain selain di area kaki gara-gara tadi Rio menyerempetnya.
"Di sini." Jawab wanita itu sambil menepuk dadanya.
__ADS_1
"Di situ?" Rio melihat kearah dua gundukan gunung yang masih berlapis kemeja.
Wanita itu menyadari sorotan mata Rio yang mengarah kearah buah dada miliknya, dengan cepat wanita itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, guna menutupi. "Dasar mesum! Lihat apa kau." Dengkus nya kesal.
"Ah maaf-maaf bukan maksud gue nggak sopan." Sahut Rio yang sudah mengalihkan pandangan. "Gue penasaran saja, dengan luka yang lu maksud tadi."
"Luka hati. Ya maksudku aku sedang sakit hati." Jawabnya yang kemudian meneteskan air mata.
Rio mengecap mulutnya sambil menghela nafas. "Jadi lu lagi patah hati?" tanyanya, wanita itu mengangguk dengan semanggat.
"Jadi masalah luka yang terlihat, tidak jadi di obati?" tanya Rio dengan santai.
"Enak saja, tetap di obati lah. Ini perih tahu." Sahutnya sambil meniup-niup lutut kaki. "Kamu belikan saja obat merah dan kapas.
Rio kembali menjalankan mobilnya, "Oke kita cari apotek sekarang."
☘️☘️☘️
Indah berjalan masuk kedalam kantor Rendi dengan sapaan penuh keramahan yang keluar di mulutnya untuk kedua satpam yang menjaga di depan. Seluruh karyawan dan karyawati di kantor Rendi tidak ada yang tahu tentang siapa istri Rendi sebenarnya, mereka hanya tahu Rendi sudah menikah. Iya hanya itu saja. Kecuali Dion dan Harun, Dion dan Harun juga di perintahkan oleh Rendi untuk tutup mulut. Padahal Indah sendiri pernah ke kantor Rendi bersama mertuanya, tapi mereka belum menyadari dan Rendi sendiri belum mengumumkan secara resmi siapa istrinya.
"Pak Antoni." Sapa Indah dengan senyum di bibirnya.
"Kamu sekarang tambah cantik." Puji Antoni, dia termasuk orang yang sangat ramah terhadap bawahannya, "Bagaimana kabarmu dan ibumu? Apa dia sudah sembuh? Ah ngomong-ngomong sudah lama kamu baru ke sini lagi. Ada perlu apa?" Rentetan pertanyaan yang belum salah satupun Indah berhasil jawab.
"Lho kok kamu bareng Pak Harun?" tanyanya lagi.
"Iya Pak, saya ada keperluan di sini." Jawab Indah. "Oya Pak Harun. Saya bisa ngobrol sebentar nggak sama Pak Antoni? Nanti setelah ini saya langsung ke ruangan Pak Rendi." Tanya Indah kearah Harun yang berada di sampingnya.
"Baik Nona." Sahut Harun sambil mengangguk.
Indah dan Antoni berjalan masuk kedalam ruangan HRD sambil berbincang-bincang. Terlihat mereka sangat akrab, Antoni adalah salah satu orang yang sering membantu Indah dan ibunya selama mereka masih bekerja di kantor itu, dia adalah orang baik. Malahan Indah sudah menganggap Antoni seperti ayahnya sendiri. Jauh sebelum dia bertemu kembali dengan pak Hermawan, ayah kandung Indah.
🌼🌼🌼
Setelah membelikan alcohol, obat merah, kapas dan plester Rio berjalan masuk lagi ke mobilnya.
__ADS_1
"Nih obatnya," Ucap Rio menyerahkan.
"Kamu bantu aku obatin lah, nggak peka banget sih." Dengkus wanita itu.
Tanpa menjawab Rio membuka tutup alcohol dan menaruhnya di kapas. Perlahan-lahan dia membersihkan luka itu.
"Aw.... Perih. Pelan-pelan dong." Ucap wanita itu sambil meringgis.
"Bawel." Sahut Rio kesal, tak lama wanita itu menanggis lagi.
"Hik... Hik.... Hik..."
"Sudah dong, nanggis mulu. Cengeng banget jadi cewek." Kata Rio yang masih fokus mengobati luka wanita itu.
"Aku ingat mantanku... Hik... Hik.."
"Aih sudah beres nih." Sahut Rio yang sudah selesai dari pekerjaannya, "Mantan itu tidak perlu di ingat, tapi di lupakan." Celotehnya.
"Masalahnya aku pacaran sama dia sudah 2 tahun, kenangan kita sudah banyak." Kata wanita itu sambil mengusap air mata di pipinya.
"Memang kenapa putus?" tanya Rio sedikit penasaran.
"Dia menikah dengan perempuan lain.... Hik... Hik..." Menanggis lagi.
"Kok bisa?" tanya Rio mengerutkan dahi.
"Iya, dia bilang ingin menikahi wanita cantik. Memangnya aku sejelek itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Rio langsung fokus memandangi wajahnya, "Lu emang nggak cantik. Bahkan hidungmu saja pesek." Ucap Rio dengan wajah meledek.
"Kurang ajar, ini tuh bukan pesek tapi mancung di dalem." Sahutnya sambil menunjuk hidung yang tidak berdosa.
"Sama saja." Ujar Rio dengan santai. "Pantas saja mantan lu lebih memilih perempuan lain." Kata Rio sambil terkekeh.
"Ah memang ya semua laki-laki tuh hanya memandang fisik wanita dari luar, tidak melihat dari hatinya," dengkus kesal. Karena sudah di remehkan.
__ADS_1
^^^Bersambung.....^^^