
Permainanku rasanya sangat pelan, kurang hot. Aku melepaskan milikku seraya bangun dan menggeser lengan Bayu di perut Indah, aku menghimpit tubuh Indah yang berada di bawah. Aku dan dia masuk ke dalam selimut dan memasukkan lagi milikku padanya.
Bress......
"Aahhhh ... Mas kalau Bayu bangun, bagaimana?"
"Tidak sayang, mangkanya cepat kita lakukan!" desak ku memaksa.
Aku langsung memompanya begitu cepat, sangat cepat. Kasur ini ikut bergetar mungkin Bayu juga, 'Bayu sayang jangan bangun dulu sebelum Ayah dan Bunda selesai ya, Nak.'
Aku mencium bibir Indah, dan menghentakkan milikku sampai ruang terdalam.
Setelah beberapa saat.
Bug....
Tangan siapa yang memukul punggungku? Apa Bayu?
"Bunda ..."
Astaga Bayu bangun! Sebentar lagi sayang, tanggung! Sebentar!
Aku mempercepat gerakan ku lebih cepat, dan sangat cepat, Indah menarik-narik rambutku. Enak sekali rasanya. Mata Indah sampai merem melek, dia seperti menikmati permainanku. Aku memang paling jago memuaskannya, tidak salah kalau selama 3 tahun dia tidak bisa melupakan ku. Aku mencintaimu sayang.
"Mas ... Aaakkhhh."
Akhirnya sampai di titik yang paling nikmat, sebentar lagi larva panas ku akan keluar.
"Aaarrrrgghhhh ...." Aku mengerang begitu keras, sampai Bayu membuka selimut di atas kepala kita berdua.
Sayang kamu tidak sopan!
Aku mengatur nafas dan menyeka keringatku di atas dahi, syukurlah mendarat dengan selamat.
"Ayah cama Bunda agi apa?" tanya Bayu sambil mengucek mata.
Aku memandang wajah Indah, nafas kami sama-sama tidak beraturan.
"Kamu sudah keluar belum sayang?" tanyaku pada Indah seraya bangun untuk tidak menindihnya di bawah, tidak lupa mencabut juniorku yang sudah lemas tak berdaya. Aku berbaring di belakangnya.
"Sudah Mas," lirihnya pelan.
Bayu mendekati Indah dan memeluknya, kami masih menutupi diri dari selimut. Bayu tidak boleh melihat kita polos begini, nanti mata kecilnya sakit. 'Maafkan Ayahmu ini sayang, Ayah terlalu mesum.'
"Bunda, adi Bunda cama Ayah agi apa?" tanya Bayu seraya memeluk Indah.
Kenapa Bayu tanya itu terus? Kacau sudah aku ini!
"Bunda tidak ngapa-ngapain kok sayang, Bayu bobo lagi ya," Indah mengelus-elus punggung Bayu.
__ADS_1
Bola mata kecil Bayu terus menatapku, sedikit memicing dan mengintimidasi. Dia seperti minta penjelasan.
Aku tersenyum padanya, "Ada apa sayang?"
"Ayah adi teliak, napa?" tanya Bayu.
Aku menghela nafas, mungkin dia sangat penasaran. Tanganku terulur mengapai rambut kepalanya, "Ayah tidak teriak tadi, Ayah cuma kaget."
"Bayu juga aget!" Dia memegangi dada kecilnya itu, lucu sekali kamu sayang.
"Ayah mimpi buluk?"
Ayah mimpi basah sama Bunda sayang. Aku terkekeh sambil mengangguk.
"Iya sayang."
"Napa Ayah di atas bunda adi? kacian Bunda atit."
Aku menelan saliva ku begitu kasar, kenapa dia banyak bertanya? Bunda di bawah karena itu lebih nikmat sayang. Bocil ku ini kepo sekali, aku harus jawab apa?
"Ayah!" Panggil nya lagi.
"Bayu sudah bobo lagi, nanti ngobrolnya di lanjut besok ya?" Indah mengalihkan pembicaraan supaya Bayu kembali tidur.
"Iya Bunda," Bayu langsung memejamkan matanya, pintar juga istriku ini. Bisa merayu Bayu dan dia menurut, aku jadi cemburu sama Bayu.
Aku memeluk tubuh Indah dan ikut menutup mata. Akhirnya aku bisa tidur nyenyak, untung saja berhasil aku keluarkan walau keadaanya tadi sangat darurat.
***
Keesokan harinya, aku membuka mataku. Tubuhku masih berbalut selimut dan polos, rasanya pagi ini sangat cerah dan indah seperti istriku. Aku melihat sekeliling ruangan kamar.
"Di mana Indah dan Bayu?" tanyaku pada diri sendiri. "Apa mereka sudah pulang?"
Aku menghela nafas, mungkin memang iya. Mereka sudah pulang. Tapi tak apa, yang penting aku sudah bersyukur semalam bisa berkumpul dengan mereka.
Aku bangun dan berdiri, kulihat ada pakaian di atas kasur. Pakaian untuk kerja, stelan jas berwarna abu muda. Aku meraihnya dan melihat, sepertinya ini muat di tubuhku.
"Pasti Mamah yang berikan, dia memang paling mengerti anaknya ini. Aku jadi makin sayang sama Mamah."
Aku berjalan menuju kamar mandi, setelah selesai mandi dan berpakaian. Aku bercermin melihat wajahku.
"Tampan!"
Ku tunjuk pantulan wajah pada cermin besar, walau tidak di kompres dengan es batu dan memakai masker semalam. Tapi cream dari Dokter kemarin sangat ampuh, wajah lebam ku sembuh.
Aku membuka pintu, aku mendengar suara orang yang sedang makan di meja makan. Walau ini sebuah apartemen, tapi hampir mirip luasnya dengan rumahku. Hanya saja satu lantai.
"Sayang ... Bayu ... Mamah."
__ADS_1
Lho ternyata mereka masih ada di sini, mereka sedang sarapan bersama. Aku merasa sangat bahagia, aku berlari kecil menghampiri Indah yang sedang menyuapi Bayu makan.
Aku mencium keningnya.
"Pagi Mas," ucapnya menyapa.
"Pagi sayang."
Aku menggeser kursi di dekat Indah, aku berada di tengah antara Mamah dan Indah.
"Semalem, berhasil juga kayaknya," ucap Mamah seraya tersenyum meledek, berhasil apanya?
"Apanya yang berhasil Mah?" tanya Indah.
"Itu rambut kalian basah!" Mamah terkekeh dan melanjutkan sarapannya.
Aku dan Indah saling memandang, wajahnya merah merekah. Sering melakukan tugas negara tapi rasanya malu juga kalau di bahas, jadi bangunkan juniorku! Mamah sih!
Aku melihat ada nasi goreng di atas meja, Mamah juga sudah menghabiskan setengah dari piring.
"Kamu mau nasi goreng Mas? Aku ambilkan."
"Iya sayang."
Indah bangun dan menuangkan nasi goreng pada piring, dia memberikan pada ku.
Aku melirik Bayu yang sedang memegang bola di tangannya sambil makan bubur ayam.
"Sayang biar aku saja yang menyuapi Bayu," pintaku seraya mengambil mangkuk di tangan Indah.
"Kamu sarapan saja Mas," tolak Indah.
"Tidak. Kamu saja yang sarapan sayang, aku ingin menyuapi Bayu."
Indah menurut, dia bangun dan kita mengubah posisi duduk, akhirnya aku bisa menyuapi anakku.
"Mamah, ini nasi goreng beli di mana? Rasanya enak sekali," ucap Indah yang sedang makan nasi goreng. Itu nasi goreng yang tadi dia tuangkan untukku, kenapa dia makan?
"Mamah tidak beli, itu di kasih sama tetangga sebelah," sahut Mamah.
"Baik sekali mereka Mah," lanjut Indah.
Mamah tersenyum. "Iya, si Melly yang kirimkan. Katanya sengaja bikin nasi goreng banyak buat kita, itung-itung menyambut Reymond."
Aku melirik pada Indah, dia cemburu nggak ya dengan ucapan Mamah barusan? Tapi wajahnya ceria sekali.
"Wah ... Mbak Melly sekretaris Mas Rendi dulu?" tanya Indah melihat pada Mamah, Mamah menjawab dengan anggukan kepala.
"Mbak Melly wanita sempurna sekali ya Mah. Sudah cantik, pintar dan jago masak. Mas Dion beruntung mendapatkannya," ucapnya memuji.
__ADS_1