
"Siapa yang telepon Sayang?" tanya Reymond datang menghampiri Indah dan Santi sambil menggendong Bayu.
"Rio, Mas. Mana hasilnya? Apa sudah ada?" tanya Indah.
Reymond mendudukkan bokongnya tepat disamping Indah, tangannya merogoh amplop berwarna putih kemudian menyerahkan pada istrinya.
"Ini Sayang, tapi aku harap ... apapun hasilnya kamu bisa terima, ya?"
Indah tidak menjawab ucapan dari Reymond, segera ia mengambil amplop itu dan membukanya. Manik mata itu seakan mengelilingi tulisan, sampai akhirnya ia menemukan kata 'TIDAK COCOK' antara Shelly dan Hermawan, tertera dengan jelas disana. Indah termangu dengan buliran air mata yang jatuh membasahi pipi.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Reymond dan Santi secara bersamaan.
Kepala Indah ia angkat kearah wajah Reymond, wajahnya terlihat begitu sendu. "Mas ... kok begini hasilnya? Kenapa tidak cocok?"
Deg......
Mata Reymond membulat sempurna. "Benarkah? Coba aku lihat." Ia mengambil kertas itu dari tangan Indah dan membacanya.
"Benarkan kata Mamah, Shelly itu bukan anak Papah. Yang anak Papah itu hanya kamu satu-satunya Sayang," ucap Santi dengan senang, ia begitu puas akan hasilnya.
Kok bisa begini?! Apa mungkin Siska berbohong padaku?! Tapi masa iya, sih.
Batin Reymond.
"Mas ... itu pasti ada yang salah dengan hasilnya ...," rintihnya sambil menangis.
Reymond langsung memeluk tubuh istrinya dan menciumi rambut, mencoba menenangkan, "Itu tidak mungkin Sayang, semuanya akurat."
"Tapi, Mas ... bukannya kamu bilang aku punya Adik?! Aku yakin Shelly itu Adikku." Indah melepaskan pelukan tubuhnya dari Reymond, ia bangun dan menarik lengan suaminya untuk ikut bangun. "Kita ke panti sekarang, Mas. Kita ajak Shelly pulang dan tinggal bersama kita."
"Sayang, tapi Shelly bukan anak Papah," elak Santi.
"Mamah ... hasil itu pasti salah. Mas Reymond saja dengan Bayu pernah tes DNA lalu tidak cocok. Mungkin Shelly dan Papah juga seperti itu."
"Itu beda lagi, kalau Rey dulu ada yang memalsukannya dan sudah terbukti adalah Anton. Kalau ini tidak, Indah ... siapa yang memalsukannya dan untuk apa?"
"Tapi Mamah ... aku yakin Siska tidak berbohong. Dia pasti punya anak dengan Papah yaitu Adikku!"
Indah menatap wajah Reymond yang terdiam sedari tadi. "Mas ayok ke panti! Kita ajak Shelly ke rumah kita!"
Indah sudah menarik lengan Reymond sampai kakinya ikut melangkah, namun tiba-tiba Reymond menghentikannya,
"Sayang, tunggu dulu. Aku pernah dengar cerita dari Bu Susan kalau ada satu bayi yang diadopsi berbarengan dengan kedatangan Shelly, aku akan cari tahu dulu siapa bayi itu."
"Berbarengan?! Maksud kamu bagaimana, Rey?" tanya Santi seraya berdiri.
__ADS_1
"Jadi berapa tahun yang lalu kata Bu Susan menemukan ...." Reymond menceritakan semua yang ia dengar dari cerita Bu Susan. Karena menurut dia, Indah dan Ibunya juga harus tau.
"Yasudah, kita ke panti Mas. Kita tanya padanya," ajak Indah.
"Kamu pulang saja Sayang, tidak perlu ikut. Biar semua aku yang urus. Lagian kita juga tidak mungkin langsung bertemu dengan orang tua yang mengadopsinya, kita tidak tau orang itu tinggal dimana," jelas Reymond.
"Tapi, Mas aku ingin-"
"Sayang, Rey benar. Kamu tidak perlu ikut-ikutan, serahkan semuanya pada Reymond. Dia pasti akan menemukan Adikmu," sela Santi.
Indah menghela nafas, "Yasudah, tapi kamu janji untuk secepatnya mencaritahu ya, Mas ...?"
"Iya, Sayang. Kamu tenang saja."
Reymond mengajak semuanya untuk pulang dari rumah sakit, ia mengantarkannya.
Namun dalam perjalanan ia menyempatkan untuk mengirim pesan pada Dion. Karena hari ini dia banyak kerjaan di kantor. Jadi, biar asistennya saja yang mencari tahu.
To: Dion
10.30 AM
Dion, ternyata hasil tes DNA Shelly dan Papah tidak cocok. Kau katakan pada Bu Susan, nanti aku kirim foto sebagai bukti.
Dan kau tanya juga padanya, siapa orang tua yang mengadopsi satu bayi itu yang datang berbarengan dengan Shelly. Kemungkinan dia adalah Adiknya Indah. Tapi kita harus lakukan tes DNA lagi, takutnya Siska yang berbohong.
Hari sudah menjelang siang, terik matahari begitu panas, namun Rio masih belum menyerahkan untuk dapat menemukan Wulan dan mengajaknya kembali ke rumah.
Tepat pada gedung sekolah dasar, Jojo memarkirkan mobilnya.
Rupanya kedatangan mereka bertepatan dengan jam istirahat, beberapa gerombolan anak-anak yang memakai seragam putih dan merah keluar dari gerbang. Mereka menghampiri beberapa pedagang yang berjejer didepan gerbang itu. Banyak sekali pedagang yang memakai gerobak.
Rio menurunkan kaca mobilnya, ia melihat beberapa pedagang. Tentunya ia mencari pedagang bakso, tiada lain adalah Wahyu sang Ayah mertua. Namun segitu banyaknya pedagang, ia tidak melihat batang hidung Wahyu.
"Bapak ingin saya yang bertanya pada para pedagang mengenai Pak Wahyu?" tanya Jojo menawarkan diri.
"Tidak usah, biar aku sendiri saja." Rio membuka pintu mobil dan menghampiri pedagang somay didepan.
"Permisi Bang," ucap Rio.
Abang tukang somay itu menoleh, tapi ia tengah sibuk melayani anak-anak yang membeli.
"Iya, ada apa Mas? Mas mau beli somay?"
"Tidak. Saya ingin bertanya, apa Abang tau pedagang bakso yang biasa mangkal disini? Namanya Pak Wahyu."
__ADS_1
"Iya kenal, Mas."
"Dimana dia Bang? Apa hari ini tidak jualan?" tanya Rio seraya menoleh ke kanan dan ke kiri, masih ingin memastikan keberadaan Wahyu.
"Dia sudah lama tidak jualan disini, Mas. Pindah tempat."
"Abang tau tempatnya?"
"Saya tidak tau, cuma ada yang bilang kalau dia jualan didepan gedung perkantoran besar."
"Abang tau nama kantornya? Apa dekat dari sini?"
"Saya kurang tau, Mas."
Di kantor? Kantor mana? Masa iya aku harus keliling Jakarta cari tempat Ayah jualan?! Bisa-bisa kepalaku botak!
Ayah juga kenapa pakai pindah rumah dan pindah tempat jualan, sih? Nggak tau apa menantunya pusing mencari. Nggak Wulan, Nggak Ayah! Kalian berdua jahat dan menyebalkan!
Ia hanya bisa menggerutu dalam hati, merasa kesal dan pusing berkecamuk menjadi satu.
"Yasudah, terima kasih Bang. Saya permisi."
"Iya sama-sama."
Rio buru-buru masuk kedalam mobil, keringat pada wajah tampannya sudah mengalir deras. Ia menarik tissue dan segera mengusapnya.
"Bagaimana Pak? Bapak sudah tau keberadaan Pak Wahyu?" tanya Jojo.
"Belum."
"Lalu sekarang kita kemana?"
"Ke kantorku saja."
"Baik, Pak." Jojo kembali menyetir mobil menuju kantor Rio.
Rio melihat arloji pada pergelangan tangannya, perutnya sudah berbunyi karena terasa lapar.
"Sudah siang begini! Lapar iya, panas iya, capek iya, kerjaan di kantor numpuk dan sekarang Wulan tidak ketemu! Brengs*k!" ia melontarkan kata demi kata, berupaya untuk menghilangkan rasa kekesalan pada dadanya. Tapi itu tidak berhasil, dia tetap kesal.
"Dimana Wanita itu? Kenapa dia seperti sembunyi dariku!" seru Rio seraya menonjok penyangga kursi didepannya, tepat pada tempat duduk Jojo.
Rio seperti orang gila, ia sibuk mengoceh tidak jelas dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Jojo hanya terdiam sambil melihat tingkah Rio didepan spion mobil, merasa aneh dan binggung.
Kasihan Pak Rio ... padahal dia masih muda dan tampan. Tapi tingkahnya seperti orang gila sekarang.
__ADS_1
Batin Jojo.
^^^Kata: 1050^^^