
Indah hanya bisa diam tak menjawab apapun. "Sayang kok kamu diem aja?" tanya Rendi lagi sambil mengecup kening Indah.
"Apa aku nggak salah denger Mas?"
"Telinga mu bermasalah emang?" bisik Rendi di telinga Indah, hembusan nafasnya membuat Indah merasa geli.
"Ah bukan Mas," sahut Indah menggeliat. "Maksud ku kata 'sayang' tadi."
"Oh...." Rendi tersenyum kecil. "Mulai sekarang aku akan memanggilku sayang."
"Apa itu tidak terlalu berlebihan Mas? Nama aku kan Indah."
"Tidaklah, mulai sekarang kamu adalah satu-satunya ke sayangan Mas Rendi."
Blush..... Itu kalimat romantis yang pertama kali Rendi ucapkan.
"Wah cuma begitu saja pipimu sudah merona sayang." Ucapnya lagi, memang pipi Indah saat ini sudah merah seperti tomat.
"Mas kamu ini apaan sih." Ucapnya memalingkan wajah, tiba-tiba saja Rendi mengangkat tubuh polos Indah yang sedari tadi dia tutupi dengan selimut. "Mas... Aku bisa jalan sendiri kok." Rendi membawanya sampai kamar mandi.
"Aku tau kamu pasti merasa kesakitan kan habis kita tempur semalam. Jadi sebagai suami yang baik aku hanya membantumu."
"Terima kasih Mas." Jawab Indah dengan senyum di bibirnya, Rendi perlahan menurunkan tubuh Indah. Lalu menyerahkan baju ganti dan salep pereda nyeri.
"Nanti kamu oleskan lagi, semalem habis wikwik aku sudah mengolesinya,"
"Ini salep buat......" Tanyanya sambil menyentuh selangk*ng*n area yang di maksud.
"Ah iya, kamu jangan menggodaku begitu dong. Pisang ku sudah bangun lagi nih," Katanya menunjuk celana yang sudah melembung tinggi.
"Aku mandi dulu Mas." Kata Indah merasa malu dan langsung menutup pintu.
Rendi terkekeh melihat expresi malu di wajah istrinya, tapi dia malah tambah senang untuk menggodanya.
Rendi memunggut baju dan pakaian d*lam Indah yang berserakan di lantai, dia memasukkannya ke dalam koper. Rendi juga menarik seprei tempat tidur serta selimut lalu membereskan dan memasukkannya ke dalam kantong. Soalnya ada sisa darah perawan.
__ADS_1
Rendi membuka hordeng dan kunci pintu lalu membukanya, terlihat Dokter dan Suster tengah duduk menunggunya.
"Maaf Pak, apa tugas negara Bapak sudah selesai?" tanya Harun dengan mata panda sisa begadangnya.
Rendi menjawab dengan anggukan kepala. "Ini kamu bawa ke tukang laundry." Perintah Rendi kepada Harun sambil menyerahkan kantong berisi seprei.
"Baik Pak."
"Bapak Rendi bisa saya cek kondisinya sekarang?" tanya sang Dokter.
"Bisa Dok." Sahut Rendi kemudian berjalan masuk.
"Lho Bapak kok sudah melepas jarum infusan." Kata Suster yang baru saja melihat infusan nganggur di dekat tempat tidur. Tempat tidur pun seakan bugil tanpa alas seprei.
"Lalu ini tempat tidur kenapa bisa begini pak?" tanya Suster.
"Haduh Sus.... Sudah deh nggak usah banyak bertanya," Sahut Rendi dengan malas tanpa menjawab satu pertanyaan pun.
Suster memasang alat tensi darah dan Dokter menempelkan stetoskop ke dada bidang Rendi.
Tak lama Indah keluar habis mandi dengan rambut yang basah, ayah dan ibu Rendi juga baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Itu pasti gara-gara tugas negaramu semalam ya Ren." Goda Santi.
"Sepertinya begitu Mah, lihat saja Indah dan Rendi rambutnya basah." Timpal Mawan sambil terkekeh.
"Mamah sama Papah ini apa-apaan sih!" Cicit Rendi yang tersipu malu dengan pipinya yang memerah.
🍃🍃🍃🍃
Mereka berempat pulang menuju arah Jakarta. Tapi di tengah jalan mereka mampir dulu di sebuah Restoran yang duduk di lesehan dengan pemandangan pantai di depan mata dan deburan ombak.
Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat mata Indah mengantuk. Bahkan beberapa kali dia menguap sehabis makan, Indah menyenderkan kepalanya ke dada Rendi.
"Ren... Mamah mau tanya masalah kamu dengan Rio." Kata Santi memulai obrolannya.
__ADS_1
"Masalah? Maksud Mamah?" tanya Rendi, sambil mengusap-usap rambut Indah.
"Iya... Mamah sudah baca surat perjanjian itu dan dengar dari mulut Rio sendiri."
"Masalah itu sudah selesai kok Mah." Ujar Rendi dengan santai sambil melihat pemandangan pantai.
"Syukurlah." Santi menghela nafas dengan lega. "Bagaimana keputusan dari Indah?" tanyanya ke arah menantunya, tapi Indah sudah tertidur dalam senderan nya. "Lho dia tidur Ren." Santi tertawa pelan.
"Biarkan saja Mah, dia capek habis bertempur semalam dengan Rendi." Lirih Rendi sambil mencium mesra rambut istrinya.
Mawan di buat geleng-geleng kepala atas ucapan anaknya itu. "Topcer juga ya obat dari Papah." Kata Mawan menggoda Rendi.
"Obat? Obat apa?"
"Obat kuat perkasa, Papah beliin lho buat kamu. Semalam sudah titip ke Harun."
"Rendi belum terima. Lagian Papah ini apa-apaan sih, nggak usah pakai obat juga Rendi kuat kok sampai pagi." Dengkus nya kesal. Merasa tak terima di anggap lemah.
"Bagus dong. Jadi kapan nih kamu masih Mamah dan Papah cucu." Timpal Santi seolah mendesak.
"Aih... Sabarlah, kan butuh proses." Ujarnya sambil memutar bola mata dengan malas.
"Lalu keputusan Indah sendiri bagaimana?" tanyanya.
"Dia memilih aku Pah." Jawabnya dengan penuh semangat. Lagi-lagi sepasang orang tua itu menjadi lega dan bahagia.
Sebelum mereka sampai ke rumah, Rendi mengajak Indah dan kedua orang tuanya untuk ziarah ke makam Almarhum ayahnya.
"Assalamualaikum Pak Alex." Ucapan salam keluar dari mulut Mawan.
Rendi pun merangkul Indah dan duduk nongkrong bareng di samping makam ayahnya, "Ayah kenalin ini menantu Ayah." Ucap Rendi sambil menatap wajah Indah dengan senyuman tulus.
"Assalamualaikum, Ayah. Salam kenal." Kata Indah, sambil tersenyum.
"Ayah, maafkan Rendi karena baru sempat mengenalkan Indah pada Ayah. Dia wanita yang sempurna seperti Mamah, Rendi yakin kalau Ayah masih ada. Ayah pasti menyayanginya," kata Rendi sambil mengelus batu nisan. Tak terasa air matanya kini mengalir, rasa rindu dalam hatinya semakin terasa.
__ADS_1
Rendi mengangkat kedua tangannya, untuk memimpin do'a dan di ikuti oleh Ibu, papah dan istrinya.
setelah itu mereka menyirami dua botol air mawar dan menaburi bunga di sekeliling makam Ayah tercintanya.