
"Yang Bapak pakai untuk si Kembar, kan?" Rio mengangguk. "Terus kenapa Bapak musti memikirkan hal yang lain. Yang penting 'kan si Kembar senang."
"Iya juga, ya? Kenapa aku tidak mikir ke situ." Rio mengusap-usap tengkuknya. "Ya sudah, kau belikan aku pakaian seperti ini lagi, buat hari-hari berikutnya."
Indra langsung terbelalak. "Bapak serius mau pakai pakaian seperti ini lagi besok?" Indra seakan tak menyangka dengan kepercayaan Rio yang tingkat tinggi ini.
"Iyalah serius, belikan warna yang berbeda. Oya ... sekalian belikan dress dan dua kain bedong dengan motif yang sama. Untuk Wulan dan si Kembar, biar kami satu couple."
"Baiklah, saya akan membelinya." Indra berlalu pergi meninggalkan Rio.
***
Malam hari.
Wulan sudah tertidur pulas sehabis makan malam dan meminum obat. Di bawah tempat tidur Wulan ada Santi dan Clara yang tengah bertidur beralaskan kasur, mereka juga menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Sedangkan Wahyu, pria paruh baya itu juga sudah tidur di sofa.
Berbeda dengan keempat orang yang berada satu ruangan, Rio justru belum tidur. Ia tengah duduk di kursi kecil didekat kedua bayinya. Si Kembar sudah terlelap dari tidur lantaran kenyang sehabis minum susu. Namun bukan minum susu asi, melainkan susu formula. Asi Wulan belum berhasil keluar.
Rio menoel-noel pipi gembul kedua anaknya silih berganti. Kalau saja tidak takut menangis, Rio pasti sudah menggendong salah satu dari mereka lantaran merasa gemas.
Kedua anaknya memang tidak ada yang nyaman dalam gendongannya. Rio sendiri binggung, kenapa itu sampai terjadi. Padahal saat Santi, Wahyu dan Wulan mengendong mereka, tidak ada yang menangis kecuali mereka pup atau lapar.
Wulan mendusin, ia melihat Rio tengah senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan wajah kedua anaknya.
"Mas ...," panggil Wulan lirih.
Rio langsung menoleh padanya dan mengedikkan kepala.
"Sini." Wulan menggerakkan tangannya, seolah meminta Rio menghampirinya.
Rio mencium kening si Kembar dengan lembut. Lantas ia menghampiri istrinya di tempat tidur, duduk di sana.
"Ada apa Manis? Kau lapar?" tanyanya dengan lembut.
"Tidak, Mas Rio kenapa tidak tidur?" Wulan menatap wajah Rio begitu intens, kantung mata suaminya semakin menghitam saja. Kemarin ia kurang tidur dan sekarang, sudah larut malam tak kunjung memejamkan mata.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Rio berbohong, padahal matanya sudah sayu. Sebenarnya bukan Rio tidak bisa tidur, hanya ia seperti tidak bisa sedetikpun melepaskan pandangannya pada kedua anaknya. Ingin selalu dekat dengan mereka.
"Tapi aku melihat Mas Rio seperti lelah. Tidur dulu, Mas. Ini sudah malam."
"Aku boleh tidur di sampingmu?" tawar Rio.
Mata Wulan mengelilingi isi ruangan itu, seakan mencari tempat untuk Rio tidur. Namun sayangnya tidak ada, dan tempat tidur Wulan juga cukup besar. Bisa untuk berdua.
"Boleh deh, tapi Mas Rio tidak boleh mengajakku bercinta, ya?" tegur Wulan. Belum apa-apa Wulan sudah curiga. Padahal benak Rio tidak memikirkan hal itu.
__ADS_1
Berhubung sudah diingatkan, Rio jadi mengingat kalau dirinya sekarang sudah mulai berpuasa.
"Iya, aku ingat kok. Mamah tadi memberitahuku." Rio mengangkat tubuh Wulan, menggeserkan-nya ke samping, supaya Rio bisa berbaring di sebelahnya.
"Syukurlah." Wulan menghela nafas dengan lenag. "Ya sudah, Mas Rio tidur."
Rio mengangguk dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Ia mengelus-elus pipi kiri Wulan. "Apa kau bahagia Wulan?"
"Tentu aku bahagia, Mas. Mas Rio bagaimana?"
"Sangat-sangat bahagia. Kau wanita yang hebat, bisa melahirkan dua sekaligus dan kau baik-baik saja sekarang." Rio mengecup bibir Wulan sekilas.
"Mas Rio juga hebat, bisa membuatku hamil langsung dua."
Rio terkekeh. "Kalau masalah itu tidak perlu diragukan, aku memang hebat di ranjang."
Wulan tersenyum. "Mas Rio sudah mencari nama untuk mereka?"
"Sudah dong."
"Siapa namanya?"
"Rafa Pratama dan Raka Pratama. Bagus, kan?"
"Bagus." Wulan mengangguk. "Kalau ditambah Naufal untuk nama tengahnya, boleh tidak?"
"Nama dari siapa itu? Kau bukan?"
Sebetulnya Rio tidak mengizinkan siapapun untuk memberikan nama pada kedua anaknya selain dirinya. Tapi kalau hanya nama tengah, menurutnya tidak masalah juga. Toh, yang menjadi panggilan adalah nama depan.
"Boleh."
"Tapi aku tidak tau mana abang dan adiknya. Mereka juga sangat mirip, bagaimana aku bisa membedakannya ya, Mas?"
"Lihat tahi lalat di leher salah satu dari mereka, Wulan. Yang ada tahi lalatnya dia abangnya, namanya Rafa, adiknya Raka." Rio tentu lebih tau, karena ia sangat memperhatikan kedua anaknya.
"Oh, aku tidak tau, Mas."
Rio tersenyum sambil memandangi wajah Wulan. Tangan yang tadinya mengelus pipi kini beralih, Rio mengelus bibir Wulan dengan ibu jarinya.
Ia baru saja ingin mendekatkan bibirnya ke bibir Wulan, namun Wulan segera menutup bibir Rio.
"Mas Rio mau apa? Bukannya aku sudah bilang tadi?"
"Aku hanya ingin mencium, memang tidak boleh?"
"Oh, ya sudah tidak apa-apa. Tapi di sini ada Mamah dan Ayah, bagaimana kalau mereka melihat?"
__ADS_1
"Memang kenapa? Kita 'kan hanya ciuman."
Cup~
Rio langsung menyerobot bibir Wulan dan mengajaknya berciuman, memagutnya secara perlahan. Keduanya baru saja memejamkan mata dan menikmati ciumannya, namun tiba-tiba punggung Rio ada yang menepuknya dengan kasar.
Rio membuka mata dan menoleh, orang itu adalah Santi.
"Kau jangan mengajaknya Wulan bercinta Rio," tegur Santi dengan nada pelan.
"Siapa yang mau mengajaknya bercinta? Aku hanya berciuman."
"Benar hanya berciuman? Tapi Mamah tidak yakin, kau tidur di luar saja, deh," usirnya.
"Kok Mamah begitu? Kenapa tidak percaya? Memang Mamah pikir aku tidak bisa menahan hasratku? Aku bisa kali." Rio mencebik bibirnya, kesal karena diremehkan.
"Mamah hanya menegurmu saja, takut kamu hilaf."
"Iya, iya. Aku mengerti. Ya sudah deh, aku langsung tidur saja." Rio menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
Mamah dan Wulan sama saja. Memang mereka pikir aku semesum itu? Aku sudah kenyang bercinta dua kali dari pagi. Aku bisa tahan sampai sebulan setengah' batin Rio.
Rio meraba miliknya yang masih berbungkus celana, terasa tegang.
Ini hanya sedang bangun, aku 'kan pria normal.
Rio mengangguk-ngangguk.
***
Keesokan harinya di rumah Aji.
"Pih, kita ke rumah sakit jenguk anaknya Mas Rio, yuk!" ajak Mitha. Ia tengah sarapan roti tawar di ruang makan bersama Aji.
"Mau ngapain menjenguknya? Memang penting?" suara Aji terdengar begitu ketus dan tidak terlalu menanggapi ucapan sang putri.
"Aku ingin melihat mereka, Pih. Kata Pak Wahyu mereka kembar, pasti sangat lucu dan mirip Mas Rio yang tampan."
"Kamu pasti bukan ingin bertemu anaknya, kan? Tapi Bapaknya?" tebak Aji yang langsung diangguki oleh Mitha.
Wanita itu menggembungkan senyum. "Iya, kok Papih tau sih? Aku rindu sama Mas Rio, Pih."
"Kamu lupakan Rio saja deh, Mit."
Deg!
Mitha terbelalak, ia merasa tak percaya dengan apa yang Aji katakan padanya. Bukankah selama ini sang papih terus mendukungnya mendapatkan Rio? Tapi kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? Aneh sekali.
__ADS_1
"Kok Papih begitu?"
Jangan lupa like 💕