
Wahyu menutup teleponnya dan tak lama ia mengirimkan alamatnya.
"Bagaimana? Kamu sudah tau alamatnya?" tanya Bu Lina.
"Sudah, Bu. Yasudah ... saya dan Clara pamit dulu. Terima kasih."
"Sama-sama, kalian hati-hati."
"Iya."
Wulan kembali menaiki taksi dengan Clara, Ia memperhatikan alamat yang Wahyu kirimkan dan ciri-ciri rumahnya.
"Kita kemana, Mbak?" tanya sang sopir.
"Kita ke jalan Xxx ya, Pak."
"Baik."
.
.
.
.
.
.
.
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka turun disebuah rumah sederhana, hampir seukuran dengan rumah kontrakannya yang lama. Hanya saja disebelah rumah tersebut ada sebuah kios kecil.
"Ini rumah baru Ayah, Kak?" tanya Clara.
"Iya Sayang, ayok!"
Wulan menggandeng tangan Clara, mengajaknya untuk menghampiri rumah tersebut. Tangannya terangkat dan mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok.
Ceklek.....
Wahyu membuka pintu rumah tersebut dan langsung disambut pelukan hangat oleh kedua putrinya itu.
"Wulan ... Clara, Ayah kangen sama kalian." Ia mengecup kening kedua anaknya bergantian.
"Aku juga kangen Ayah!" sahut Wulan dan Clara.
Wahyu mengajak mereka berdua masuk dan menutup pintu.
Mereka bertiga langsung duduk dibawah beralaskan tikar.
"Kamu tambah cantik sekarang, Wulan," puji Wahyu.
"Terima kasih, Ayah. Ayah juga tampan."
Wahyu membelai rambut panjang Wulan.
"Perasaan kemarin rambut kamu masih sebahu. Kok cepat sekali panjangnya?"
Wulan hanya menjawabnya dengan senyum yang terukir. Matanya berkeliling pada sudut ruangan rumah itu, benar-benar seukuran dengan rumah kontrakannya. Hanya saja jauh lebih bagus ini. Karena rumah ini terlihat masih baru.
__ADS_1
"Ayah, sebenarnya ini rumah siapa?" tanya Wulan.
Clara sudah duduk dalam pangkuan Wahyu, gadis cantik itu memeluk tubuh sang Ayah.
"Ini rumah Ayah."
"Ayah dapat uang dari mana? Kok bisa membeli rumah?"
"Sebenarnya ini masih nyicil. Tapi harganya sama seperti biaya kita membayar sewa kontrakan yang dulu. Cuma bedanya ini akan jadi milik Ayah, kalau Kontrakan tidak," jelas Wahyu.
Wulan mengangguk paham. "Terus kenapa harus pindah kesini? Jauh sekali dari kontrakan kita yang lama. Nanti Ayah capek dorong gerobak, dan tempat mangkalnya jadi lebih jauh."
"Ayah tidak jualan keliling lagi sekarang, rencananya Ayah ingin jualan di rumah. Kamu lihat didepan ada kios, kan?"
"Iya."
"Rencananya besok Ayah mau mulai jualan. Karena di kantor sebelah ... banyak karyawan yang suka beli bakso Ayah."
"Memangnya Ayah pernah mangkal disini sebelum pindah?"
"Iya ... sudah sekitar dua minggu. Dan alhamdulilah, dagangan Ayah laris manis, Wulan. Ayah bisa nabung juga buat berobat Clara."
Wulan langsung menarik senyum bahagia dan memeluk tubuh Ayahnya, "Syukurlah ... aku ikut bahagia Ayah. Ayah juga tidak akan capek jualan keliling lagi. Maafin aku ya, Yah. Sampai sekarang ... aku belum bisa bahagiain Ayah ...."
Tiba-tiba Wulan langsung terisak tangis, air matanya begitu deras hingga membasahi kaos putih yang Wahyu kenakan.
"Kamu ini bicara apa?! Harusnya Ayah yang minta maaf padamu dan Clara. Ayah belum bisa jadi Ayah yang terbaik dan membahagiakan kedua putri Ayah."
"Clara bahagia kok, Yah ...," sahut Clara.
Tangan Wulan terulur pada tubuh kecil Clara, ia memeluknya.
"Aku juga bahagia, cukup dengan kebersamaan kita bertiga ... aku sudah sangat bahagia Ayah," ucap Wulan.
Aku merasakan begitu banyak kebahagiaan, walau kita masih kekurangan.
Tidak seperti saat aku tinggal bersama Mas Rio. Aku memang tidak kekurangan apapun, tapi aku sama sekali tidak bahagia dan banyak mengalami tekanan.
Kuakui, semua keluarga Mas Rio semuanya baik. Terutama Mamah Santi dan Indah, tapi suamiku sendiri seperti itu. Dia bahkan tidak pernah menghargai perasaanku. Menyebalkan!
Batin Wulan.
Wahyu melepaskan pelukannya dan menyeka air mata, dia juga ikut menangis. Tapi menangis karena bahagia.
"Sudah-sudah, kenapa kita bertiga jadi nangis begini. Harusnya kita tertawa bahagia dan melepaskan rindu," ucap Wahyu.
Wulan segera menyeka air matanya dan berdiri. "Sebentar ... aku akan buatkan minum untuk kita semua." Ia berjalan menuju dapur.
"Oya Clara ... kok kalian kesini hanya berdua? Kak Rio tidak ikut?" tanya Wahyu.
"Kak Rio sakit, Ayah. Dia sedang ada di rumah sakit," jawab Clara.
Mata Wahyu terbelalak kaget. "Sakit?! Sakit apa Kak Rio?"
"Dia tidak apa-apa kok, Yah! Hanya kelelahan saja," balas Wulan yang baru saja datang, ia membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan segelas susu.
"Kalian tidak ke rumah sakit untuk menjenguknya? Dia sama siapa disana?"
"Aku sudah kesana kok, cuma pihak rumah sakit menyuruh kita jangan terlalu banyak orang untuk menjenguknya. Lagian disana Mas Rio tidak sendiri, ada asisten dan orang tuanya," jelas Wulan.
"Jadi kita nggak jadi ke rumah sakit, Kak?" tanya Clara.
"Iya, Sayang."
__ADS_1
Wajah Clara langsung terlihat begitu bahagia, dia memang sebenarnya tidak terlalu suka ke rumah sakit. Bahkan bisa dibilang bosan.
"Apa malam ini aku boleh bobo disini, Kak?"
"Tentu boleh, kita bertiga tidur disini," jawab Wulan.
Clara bangun dan melompat-lompat kegirangan.
"Hore!! Aku bisa tidur di rumah Ayah! Di rumah baru!"
"Apa kamu sudah izin pada Rio untuk menginap disini? Nanti kalau dia mencarimu bagaimana?" tanya Wahyu.
Mencari?! Manusia jahat seperti Mas Rio tidak mungkin mencariku, Ayah. Dia justru akan senang. Kepergianku membuatnya cepat sembuh nanti.
Batin Wulan.
"Sudah, Ayah tenang saja," sahutnya berbohong.
Setelah beberapa saat melepaskan rindu, Wulan kini berbaring diatas tempat tidur. Pada kamar barunya. Ia tidur sendiri, karena Clara ingin tidur bersama Wahyu.
Kedua manik mata itu menatap langit-langit kamar.
"Aku akan tinggal lagi bersama Ayah disini. Tapi bagaimana caranya? Apa aku harus jujur pada Ayah mengenai pernikahanku dengan Mas Rio?!" tanyanya pada diri sendiri.
Perlahan Wulan memejamkan mata dan mulai tertidur pulas.
***
Di rumah sakit.
Ceklek......
Wulan membuka pintu ruangan Rio dan berjalan masuk menghampiri pria yang tengah duduk menyandar pada sisi tempat tidur.
Mata Rio terbelalak, ia merasa heran dengan Wulan yang datang. Wulan memakai dress rapih dan menarik senyum, kali ini Wulan terlihat begitu cantik. Lebih cantik dari biasanya.
"Wulan! Apa ini benar-benar kau?" tanya Rio heran.
Karena mengingat lagi, tadi siang Wulan pergi meninggalkannya.
"Iya. Ini aku, Mas ...." Suara Wulan terdengar begitu halus dan lembut.
Entah kenapa Rio terlihat begitu senang dan dia juga ikut tersenyum menatap wajah Wulan.
"Kau tidak pergi meninggalkanku, Wulan?"
"Tidak, Mas. Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Benarkah? Apa kau berbohong?"
"Tidak, aku jujur. Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu ... karena aku mencintaimu, Mas ...."
Deg........
Mata Rio terbelalak kaget, ia begitu terkesima dengan ucapan cinta itu. Namun entah kenapa lagi-lagi ia merasa sangat senang.
Apa yang dia katakan? Cinta? Dia mencintaiku?
Batin Rio.
"Apa Mas Rio masih tidak percaya padaku? Aku akan membuktikannya ...."
^^^Kata: 1027^^^
__ADS_1