
Hai semua, Author bawa cerita baru nih. Cerita tentang kisahnya Ihsan Maulana. judulnya "Mendadak Jadi Suami"
masih inget dia, kan? semoga sih masih ingat, ya! 😁
berikut sinopsisnya~
Ihsan Maulana, pria sederhana yang memiliki wajah tampan keturunan bule.
Pernah merasakan patah hati, membuat Ihsan trauma untuk menjalin kasih kembali dalam waktu dekat, terutama kepada gadis yang memiliki latar belakang anak orang kaya.
Namun, suatu ketika dia tak sengaja menabrak seorang gadis yang tiba-tiba berlari di depan mobilnya dengan memakai gaun pengantin, hingga membuatnya langsung tak sadarkan diri.
Dokter mengatakan jika gadis itu amnesia.
Entah benar atau tidak, namun tingkah gadis itu begitu mencurigakan. Apalagi saat baru siuman dia malah mengatakan Ihsan adalah suaminya. Padahal mereka tak saling mengenal.
cuplikan bab~
Brak!
Sebuah pintu kamar dibuka dengan sekali hentakkan oleh seorang pria berbadan tegap dan berotot, dia bernama Irwan Maulana.
Pria berusia 50 tahun itu terpaksa melakukannya sebab sejak tadi mengetuk pintu tak kunjung dibuka. Khawatir, takut kenapa-kenapa. Pintu itu juga kebetulan tak dikunci.
Seorang pria tampan berwajah bule di dalam sana menoleh, dia tengah duduk di sofa panjang di dekat jendela yang terbuka. Sebatang rokok yang menyala di tangannya itu langsung dia matikan, lalu melemparnya ke dalam tong sampah.
"Ihsan, sejak kapan kamu merokok dan ngapain saja seharian di dalam kamar?" tanya Irwan dengan wajah garangnya. Melangkah maju ke arah pria yang dipanggil Ihsan itu.
Pria itu adalah keponakan angkatnya, dia berusia 30 tahun. Irwan mengangkatnya jadi keponakan karena kasihan.
Ihsan adalah korban kebakaran sebuah panti asuhan yang berhasil selamat. Dia tak tahu siapa sanak keluarganya, karena dia sendiri sejak bayi tinggal di sana.
Awal pertemuan mereka di terminal Tanjung Priok Jakarta Utara. Ihsan yang berumur 12 tahun itu menjadi tukang sol sepatu, dan Irwan adalah orang yang memintanya untuk membersihkan sepatunya.
Irwan bukan orang kaya, dia hanya pemilik bengkel mobil dan berprofesi sebagai sopir pribadi. Namun, dia sungguh-sungguh ingin menjadikan Ihsan sebagai keponakannya dan menyayanginya.
Pria itu juga menyekolahkan Ihsan dari SD sampai sekarang kuliah.
"Maaf, Om. Sejak kemarin sih ngerokoknya," jawab Ihsan sambil menundukkan wajah dan merapatkan duduknya. "Tapi besok-besok aku nggak akan ngerokok lagi."
"Om sih nggak masalah kalau kamu ngerokok, asal jangan minum minuman keras dan narkoba saja. Tapi Om hanya heran ... nggak biasanya kamu ngerokok."
Benar, Ihsan selama ini memang selalu menjaga pola hidup sehat. Dia juga rajin olahraga. Maka dari itu tubuhnya kekar, berotot dan juga sixpack. Ihsan juga bisa bela diri, hasil pembelajaran dari Irwan yang sudah mengantongi sabuk hitam karate.
__ADS_1
Irwan menghempaskan bokongnya di sofa, di samping Ihsan. Lalu menepuk bahu kekar keponakannya. Wajah tampan itu terlihat sendu, seperti ada yang membebani pikirannya.
"Kamu kenapa? Ada masalah? Kata juniormu kamu nggak keluar dari kamar sejak pagi," imbuh Irwan.
"Aku tadi habis bertemu Nella, Om. Dan rasanya aku—"
"Ihsan, sudahlah," sela Irwan cepat. "Berhenti menyebutkan nama Nella, kalau pun kamu bertemu dengannya ... anggap biasa saja. Memangnya sampai sekarang kamu belum bisa mengikhlaskan dia juga? Ini sudah 2 tahun berlalu, San."
Nella adalah mantan kekasih Ihsan, cinta pertamanya. Hubungannya kandas lantaran perbedaan status. Nella anak orang kaya sedangkan Ihsan—dia saja tak tahu siapa orang tuanya. Dan tak yakin juga kalau masih mempunyai orang tua.
Ihsan yang berniat melamar dan mengajaknya menikah ditolak mentah-mentah oleh papanya Nella, lalu besoknya dia langsung mendapatkan kabar kalau Nella dijodohkan dengan pria kaya.
Sakit! Patah hati. Sudah ditolak dia juga mendapatkan hinaan karena miskin. Sampai dua tahun berlalu, rasanya Ihsan masih trauma untuk mencintai. Apalagi jika gadis itu anak orang kaya.
Irwan sendiri selalu menasehati, jika ingin menikah, carilah dari kalangan sepadan. Supaya tidak dihina seperti dulu.
"Aku sudah berusaha ikhlas, tapi kalau bertemu kadang masih sakit, Om."
Tadi siang saat pergi ke mini market—Ihsan memang tak sengaja bertemu Nella bersama suaminya. Mereka terlihat bahagia dan sudah memiliki dua orang anak.
Irwan menghela napas kasar. "Ya sudah, sekarang 'kan malam Minggu. Lebih baik kamu keluar sana, cari angin supaya nggak mumet." Tangannya merogoh ke dalam kantong celana, lalu memberikan sebuah kunci mobil. "Pergi dengan mobil Om. Nanti pulangnya belikan nasi goreng."
"Ah, bilang saja ini Om menyuruhku beli nasi goreng." Ihsan merengut kesal lalu mengambil kunci mobil itu. Sudah biasa Irwan seperti ini, meminjamkan mobilnya lalu menitip sesuatu.
"Mana ada ketemu jodoh dijalan." Sebelah sudut bibir Ihsan terangkat. Tangannya mengibas menolak uang itu. "Pakai uangku saja."
"Jodoh mah datangnya dari mana saja, San. Tapi kamu belinya mandi dulu, biar wangi dan ganteng. Om keluar dulu kalau begitu." Irwan berdiri, lalu menepuk pundak kiri Ihsan dan perlahan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu kemudian menutup pintu.
Setelahnya dia pun berdiri sambil memperhatikan beberapa montir yang sibuk dengan mobil. Ruangan yang mirip kamar itu terletak diujung, berada di bengkel mobil milik Irwan.
Ihsan juga menjadi salah satu montirnya yang sudah senior. Irwan sendiri sengaja meminta Ihsan tinggal di sana supaya bisa sambil mengawasi bengkel. Namun, kalau Ihsan sedang ingin tidur di rumahnya juga tak masalah.
Di dalam sana bukan hanya ada sofa, tapi kamar mandi, televisi, kasur, kipas angin, dan sebagainya. Semuanya hampir lengkap seperti rumah kontrakan. Mungkin yang tidak ada hanya kompor, karena Ihsan sendiri tak bisa masak.
***
"Terima kasih ya, Pak," ucap Ihsan saat menerima nasi goreng yang berada di kantong plastik putih, lalu membayarnya.
"Sama-sama," jawab pedagang kaki lima yang berada di pinggir jalan.
Setelah itu, Ihsan masuk kembali ke dalam mobil, lalu meletakkan kantong plastik itu di samping kursi kemudinya.
Dia menyalakan mesin mobil, lalu menarik gas dan mulai mengemudi dengan kecepatan sedang. Matanya fokus menatap ke depan.
Tiba-tiba, entah datangnya dari—seorang gadis sudah berada di depan mobilnya. Dia sontak menjerit kencang kala melihat mobil Ihsan mendekati tubuhnya. Segera pria itu pun menginjak rem.
__ADS_1
"Aaakkh!" pekiknya kencang.
Brukk!!
Sayangnya, Ihsan terlambat mengerem sebab gadis itu telah berhasil menghantam badan mobilnya, lalu terjatuh di aspal.
"Astaghfirullah!" seru Ihsan dengan mata melotot. Gegas dia pun membuka pintu mobil, lalu berjongkok menghampiri gadis yang kini sudah tak sadarkan diri.
Kepala belakangnya mengeluarkan darah segar yang cukup banyak dan membasahi gaun pengantin yang dia pakai.
Wajahnya terlihat masih belia, mungkin umurnya sekitar belasan tahun. Dia cantik, putih dan berambut panjang. Ada mahkota di atas kepalanya.
Perlahan Ihsan meraih tubuh ramping itu, lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Dia kembali mengemudi menuju rumah sakit terdekat.
*
*
"Semoga dia baik-baik saja, ya Allah. Aku takut dia meninggal lalu aku masuk penjara," gumam Ihsan yang duduk di kursi tunggu di depan ruang UGD. Jantungnya terasa berdebar kencang, keringat di dahinya seketika mengalir.
Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, akhirnya pintu ruangan itu dibuka.
Ceklek~
Keluarlah seorang Dokter pria yang memakai kacamata, Ihsan yang melihatnya langsung berdiri dan menghampiri.
"Bagaimana keadaan dia, Dok? Dia baik-baik saja, kan?" tanyanya dengan mimik cemas.
"Untuk saat ini, istri Bapak baik-baik saja. Tapi tunggu dia siuman dulu."
"Dia bukan istriku, Dok." Ihsan menggeleng cepat.
Dokter berkacamata itu mengerenyitkan keningnya, lalu menatap Ihsan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pria bule itu memakai celana bahan warna hitam, juga dengan kemeja putih lengan panjang. Tampak rapih dan tercium aroma wangi.
"Sudah kecelakaan begini kok Bapak nggak ngakuin Nona itu istri Bapak? Jahat amat," tukas Dokter itu.
"Bukan nggak mengakui, tapi dia memang bukan istriku, Dok."
Dokter itu melambaikan tangan ke arah seorang satpam yang baru saja lewat. Pria berseragam yang melihatnya pun langsung berlari menghampiri.
"Ada apa, Pak?" tanyanya.
Kepala Dokter itu mendekat ke telinga kiri sang satpam, lalu berbisik.
silahkan baca komen Author di bawah, ya. Biar tahu novel ini berada, tapi gratis kok Guys, tenang aja, sampai tamat 👇
__ADS_1