
"Tidak, Pak. Maafkan saya ... tadi saya kurang konsentrasi."
Dido hendak menarik gasnya kembali. Namun tiba-tiba Rio berkata. "Berhenti!" sergahnya.
Dido segera memberhentikan mobilnya. Ia melihat Rio menarik lembut lengan Wulan untuk keluar dari mobil itu.
Rio mengulurkan lengannya untuk menyetop taksi yang baru saja lewat. "Kau naiklah," ucapnya seraya membukakan pintu untuk Wulan masuk.
Wanita itu menurut dan masuk kedalam mobil tanpa banyak bicara.
Rio membungkuk dan menatap tajam wajah Wulan. "Nanti aku kirim nomor Ayah, tapi ingat Wulan. Hanya nomorku dan nomor Ayah, pria yang ada dalam kontak ponselmu! Tidak ada kakak-kakak yang lain!" tegasnya.
"Iya, Mas," sahutnya sambil mengangguk.
"Yasudah, kau hati-hati nanti kerjanya. Kalau butuh apa-apa, hubungi aku."
"Iya, Mas."
Rio menutup pintu mobil itu dan mendekati sopir yang membuka kaca mobilnya. "Pak, hati-hati bawa mobilnya. Istri saya ini trauma dengan kecelakaan," jelasnya.
"Baik, Pak."
Pria tampan itu mengambil dompet pada kantong celananya. Lalu, ia memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada sang sopir.
'Kok aku merasa Mas Rio seperti perhatian padaku? Apa hanya perasaanku saja?' batin Wulan.
Setelah mobil taksi itu melaju dan meninggalkannya, kini Rio membuka pintu depan mobilnya. Tepat pada posisi Dido duduk, ia menarik lengan pria berkumis tipis itu dengan kasar untuk keluar.
"Tidak becus kau! Sana cari taksi! Aku akan menyetir sendiri!" Rio langsung masuk dan melajukan mobilnya untuk meninggalkan Dido di tengah jalan.
"Aku benar-benar muak sekali padanya! Kenapa Dido itu sangat menyebalkan! Kalau saja aku bisa cepat memecatnya, aku akan pecat dia dari awal!" makinya seraya memukul stir.
Tak lama Rio menyambungkan teleponnya pada Dion.
"Halo, pagi Pak Rio."
"Dion, aku ingin kau carikan aku sopir."
"Sopir? Baik, Pak."
"Tapi aku ingin yang seperti Irwan, sopirnya Indah."
"Seperti Pak Irwan? Maksudnya bagaimana?"
"Iya, seperti dia. Berbadan kekar dan berwajah garang. Kau jangan cari yang masih muda apalagi tampan. Pokoknya seumuran dengan Irwan saja."
"Baik, Pak."
"Hari ini kau mencarinya, aku minta sore ini orang itu sudah ada di kantorku!"
"Saya usahakan ya, Pak."
Rio mematikan sambungan telepon dan menghela nafas dengan panjang. Ia memfokuskan dirinya untuk menyetir.
***
"Wulan," panggil Ivan saat ia membuka helm, posisinya sekarang masih duduk diatas jok motor.
__ADS_1
Wulan memberhentikan langkahnya dan menoleh kearah pria yang kini berjalan menghampirinya.
"Ka--"
"Eemm ... Ivan," ucapnya meralat.
"Kok kamu panggil aku Ivan? Bukannya biasanya memanggilku, Kakak?" tanyanya dengan wajah binggung.
"Maaf, aku tidak boleh memanggil pria lain dengan sebutan Kakak."
"Tidak boleh? Memang kenapa?"
Mereka berbincang-bincang sambil berjalan masuk kedalam Restoran itu.
"Aku tidak tau alasannya, tapi Mas Rio melarangku, Kak. Eh ... Ivan."
"Mas Rio? Siapa itu Mas Rio?"
"Dia--"
"Wulan ... kau sudah sehat sekarang?" tanya Nissa, entah darimana datangnya. Tiba-tiba wanita itu sudah berdiri didepan mereka berdua. Hingga membuat langkah kaki mereka terhenti.
"Bu Nissa." Wulan menarik senyum kearah wanita itu. "Iya, Bu. Saya sudah sehat."
"Bu Nissa, saya permisi ke dapur," ucap Ivan pamit.
"Iya."
Pria itu berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Katanya kau kecelakaan, benar?"
"Iya, Bu."
"Iya, Bu."
Nissa mengelus bahu Wulan sekilas. "Lain kali hati-hati kalau sedang berada di jalan raya. Kau ini sering sekali kecelakaan. Nanti kau coba mandi tolak bala, Wulan."
"Iya, Bu. Nanti sore aku akan mencobanya."
"Yasudah, kau simpan tasmu di loker. Lalu mulai bekerja."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Wulan melangkahkan kakinya berjalan menuju loker. Setelah itu, ia berjalan menuju ruangan khusus untuk mengambil apron hitam dan langsung ia kenakan. Tidak lupa mengambil buku kecil untuk mencatat dan bolpoin.
"Wulan," panggil Rani saat melihat Wulan baru saja keluar dari ruangan itu.
Wulan melangkahkan kakinya menuju temannya yang tengah berdiri sambil memegang nampan.
"Tolong antarkan ini di meja 04, aku mau ke dapur dulu."
Nampan yang berisi jus mangga itu langsung berpindah tangan pada Wulan. "Iya, Ran."
Dengan hati-hati Wulan membawakan pesanan itu pada nomor meja yang Rani sebutkan, rupanya yang memesan adalah wanita cantik berambut panjang sebahu dengan dress seksi berwarna pink. Ia duduk sendiri disana.
"Ini pesanannya, Mbak. Silahkan dinikmati," ucap Wulan sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
Wanita cantik itu meneladah. "Terima kasih."
Wulan mengangguk dan berbalik badan, namun tiba-tiba wanita itu memanggil namanya. "Wulan. Kau Wulan, kan?"
Wulan memutar kembali tubuhnya dan melihat kearah wanita itu. Ia bahkan memperhatikannya dari atas sampai bawah. Sepertinya sedang memastikan apakah ia kenal atau tidak. Tapi memang wajahnya seperti familiar.
"Maaf ... Mbak siapa, ya? Kok tau namaku?"
Wanita cantik itu mengulurkan tangannya, mengajak Wulan untuk berjabat tangan. Dengan senang hati ia membalas uluran tangannya. "Aku Adel, mantan istrinya Kak Dido. Kau Wulan mantan pacarnya, kan?"
Mata Wulan membelalak, ia segera menarik lengannya supaya tidak berlama-lama berjabat tangan.
Adel?! Ah iya ... wanita ini yang merebut Kak Dido dariku dulu. Ih, bukan, bukan dia yang merebut Kak Dido. Tapi Kak Dido yang meninggalkanku.
Terserah deh dengan apapun itu, intinya pria itu tidak penting lagi dari hidupku.
"Bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Adel.
"Maaf ... Mbak, aku tidak bisa. Aku banyak kerjaan." Wulan sudah melangkah, namun lagi-lagi wanita itu memanggil namanya.
"Wulan ... sebentar saja, kau duduklah," pintanya seraya mengedikkan kepala kearah kursi depan yang kosong.
Akhirnya Wulan menurut, ia mendudukkan bokongnya pada kursi kosong itu.
"Apa semenjak kau putus dengan Kak Dido, kau pernah bertemu dengannya lagi?"
"Iya, memang kenapa, Mbak?"
"Kau tau dimana dia bekerja sekarang? Atau kau punya nomor ponselnya?"
"Nomor ponsel aku tidak punya, tapi dia bekerja dengan suamiku."
"Suami? Kau sudah punya suami?"
Wulan mengangguk pelan. "Iya."
"Bagus deh, kau juga beruntung tidak menikah dengan Kak Dido."
Wulan mengerenyitkan dahi. "Beruntung? Memangnya kenapa?"
"Karena dia pria pengangguran! Pria malas yang ingin menggerogoti uang istrinya!"
Deg~
"Maksud Mbak bagaimana? Tapi Kak Dido sekarang bekerja."
"Iya, sekarang. Tapi dulu saat menjadi suamiku, dia malas-malasan. Bukan malas lagi, tapi pengangguran! Syukur aku selingkuhi dia, kalau tidak begitu aku, aku tidak akan bisa terlepas dari pria menyebalkan itu!" Adel membuang nafas dengan gusar.
Aku jadi makin tidak mengerti, masa Kak Dido begitu? Bukannya dia pria pekerjaan keras?
"Apa nama kantor tempat suamimu bekerja? Beritahu aku alamatnya, aku ingin menagih hutang padanya."
Menagih hutang? Kak Dido punya hutang pada mantan istrinya?
Wulan terdiam, ia saja tidak tau nama kantor Rio sekarang apa. Karena tempat kerjanya dulu sebagai OB, adalah di kantor yang dipegang oleh Reymond.
"Nanti setelah jam makan siang, aku tanya suamiku dulu ya, Mbak."
__ADS_1
"Mana nomor suamimu? Aku minta saja, biar aku langsung tanya padanya." Adel sudah meraih ponselnya diatas meja, sudah bersiap akan mencatat nomor.
^^^Kata: 1059^^^