Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 11. Asisten Baru


__ADS_3

Indah dan Wulan tengah duduk bersantai pada kursi panjang di taman halaman rumah Rio. Sedangkan Bayu dan Clara masih asik bermain lempar bola, kedua anak kecil itu nampak senang dan bahagia.


Indah tersenyum, mata cantiknya tidak pernah lepas memandangi mereka. Disisi lain, Wulan yang tengah duduk bersebelahan memperhatikan Indah dari ujung kaki ke ujung kepala.


Indah memang cantik, wajar Mas Rio sangat menyukainya, tapi ... kenapa dia bisa menikah dengan Kakaknya? Apa memang Indah sendiri tidak suka dengan Mas Rio? Aku begitu penasaran. Apa aku tanya saja padanya.


Batin Wulan.


Perlahan Wulan memegangi tangan Indah dengan lembut, hingga membuat Indah menoleh kearahnya dan tersenyum manis.


"Indah ... apa aku boleh tanya sesuatu padamu?" tanya Wulan.


"Boleh."


"Apa kamu dan Mas Rio pernah pacaran?"


Deg......


"Pacaran?! Tidak, Wulan."


"Jujur saja padaku, Ndah. Aku tidak akan marah," ucap Wulan tak percaya.


Kok tiba-tiba Wulan tanya seperti itu padaku.


Batin Indah.


"Aku sudah jujur padamu, aku memang tidak pernah pacaran dengan Rio."


"Lalu, hubungan kamu dengan Mas Rio apa?"


"Masa kamu tidak tau, diakan Adik suamiku. Jadi dia Adik iparku," jelas Indah.


"Bukan ... bukan itu maksudku, maksudku. Apa kalian pernah dekat? Mungkin ... sebelum kamu menikah dengan Kak Reymond?"


Apa kalau aku jujur Wulan akan marah? Tapi ... aku dan Riokan tidak ada hubungan apa-apa. Lebih baik aku jujur saja padanya.


Batin Indah.


"Kita hanya teman kuliah, aku memang dulu dekat dengannya. Tapi hanya sebatas teman saja," jelas Indah.


"Lalu ... kenapa Mas Rio bisa sangat mencintaimu?"


Deg.......


"Kamu ini bicara apa? Rio tidak cinta denganku," elak Indah.


"Aku tau Indah ...." Tiba-tiba air mata Wulan lolos membasahi pipi, namun dengan cepat Indah menghapusnya. "Aku tau dia mencintaimu, aku dengar saat dia bicara dengan Kak Reymond."


"Tapi bukannya kamu juga dengar dia bilang ingin melupakanku? Dia mengatakan itu juga, kan?"


Wulan mengangguk. "Iya ... aku dengar. Tapi ... apa kamu juga cinta atau suka padanya?"


Deg.......


Indah tersenyum. "Apa maksudmu? Aku punya suami Wulan, aku sangat mencintainya. Aku tidak pernah mencintai pria lain, selain Mas Reymond."


"Tapi ... Mas Rio ...."


"Wulan ... sudahlah jangan bicara masalah itu, aku tau ... mungkin Rio belum mencintaimu. Tapi aku yakin ... seiring berjalannya waktu dia bisa mencintaimu," tutur Indah.


"Aku tidak yakin, Ndah. Dia selalu bilang aku bukan wanita idamannya, dia sama sekali tidak tertarik padaku," lirih Wulan pelan.

__ADS_1


Indah mengelus rambut Wulan secara perlahan.


"Dulu Mas Reymond juga begitu, dia tidak pernah suka, apalagi mencintaiku. Tapi setelah beberapa bulan menikah ... dia bisa mencintaiku apa adanya."


"Tapi kamu berbeda denganku, Ndah. Kamu cantik, sedangkan aku ini apa?!" Wulan memperhatikan dirinya sendiri. "Aku memakai makeup saja, tapi masih jauh lebih cantik dengan kamu yang tampil natural."


Jari telunjuk Wulan perlahan mengusap pipi Indah.


"Kamu bahkan tidak memakai bedak sama sekali, tapi kamu tetap cantik. Aku yang sudah memakai bedak tebal begini ... tapi Mas Rio tidak mengatakan apapun padaku, apa memang aku sejelek itu di matanya?" tanya Wulan sambil menangis.


"Lho ... kok kamu malah merendahkan dirimu begitu, sih? Jangan begitu Wulan ... semua wanita itu cantik. Allah sudah memberikan kita semua wajah dan tubuh yang sempurna. Jangan hanya gara-gara Rio ... kamu malah tidak mensyukuri apa yang telah Allah berikan padamu," tutur Indah.


Wulan langsung terdiam dan menyeka air mata.


Tiba-tiba datang seorang wanita dewasa berkacamata dengan pakaian rapih dan memegang buku. Dia datang bersama pria tampan berkumis tipis, ia memakai setelan jas berwarna hitam. Kedua orang itu berjalan menghampiri Indah dan Wulan.


"Selamat siang," ucap pria berkumis tipis itu.


Indah dan Wulan langsung menoleh kearah mereka berdua dan berdiri.


"Siang," jawabnya berbarengan.


Deg......


Wulan dan pria berkumis tipis itu melayangkan pandangan dan terbelalak kaget.


Kak Dido. Apa dia benar-benar Kak Dido?


Batin Wulan.


Wanita ini, dia seperti tak asing di mataku. Tapi siapa?


Pria itu mengulurkan tangannya, mengarah pada Wulan, mengajaknya berkenalan.


"Nona perkenalkan saya Dido Sukmana, Asisten baru Pak Rio Pratama."


Deg........


Mata Wulan kembali terbelalak kaget.


Iya, benar. Dia ... dia Kak Dido.


Batin Wulan.


Wulan membalas uluran tangan itu seraya berkata. "Aku, Wulan."


Deg........


Kini mata Dido yang kembali terbelalak.


"Wulan?! Maaf, apa saya boleh tau nama lengkap Anda, Nona?"


Apa dia ini? Dia pura-pura tidak mengenalku atau memang basa-basi saja?


Batin Wulan kesal.


"Wulan Priyanka."


Deg.......


Ah Wulan. Astaga ... kenapa aku baru sadar, tapi ... apa benar wanita ini Wulan yang aku kenal? Penampilan dan wajahnya sangat berbeda. Tapi ... dia terlihat cantik.

__ADS_1


Batin Dido.


Wulan segera melepaskan tangannya pada pria didepannya itu, kini Dido beralih menjabat tangan Indah.


"Saya Dido, Nona."


"Aku, Indah."


Mereka langsung melepaskan tangannya masing-masing.


"Perkenalan ini Bu Widya, dia adalah Guru home schooling Nona Clara," tutur Dido seraya menoleh pada wanita disampingnya.


Home schooling?! Apa Mas Rio yang mendaftarkannya?


Batin Wulan.


"Nanti setiap Senin sampai Kamis. Bu Widya akan datang untuk mengajari mata pelajaran pada Nona Clara," lanjut Dido lagi.


"Apa Kak ... ah, maksudku. Bapak, apa Bapak disuruh Mas Rio?" tanya Wulan.


Apa Wulan ini istrinya Pak Rio? Apa wanita cantik disebelahnya yang menjadi istri Pak Rio?


Batin Dido.


Dido mengangguk pelan. "Iya ... itu benar Nona. Yasudah, kalau begitu saya permisi," ucapnya pamit pulang.


Ia sudah berlalu pergi meninggalkan mereka disana. Wulan langsung terdiam, entah apa yang ada dalam otaknya.


"Wulan ...," panggil Indah seraya menyenggol lengan Wulan.


"Ah ... iya," sahut Wulan kaget.


"Kamu kenapa melamun? Sana panggilkan Clara, tidak enak sama Bu Widya," ucap Indah.


Wulan mengangguk pelan, kini dia berbalik badan dan memanggil gadis kecil yang tengah asik bermain dengan Bayu.


"Clara ... sini sayang!" teriak Wulan.


Gadis itu langsung menoleh dan menghampirinya dengan mengandeng tangan Bayu.


"Sayang ini kenalkan, dia Bu Widya. Dia jadi Guru kamu sekarang," ucap Wulan.


"Guru?!" Clara nampak kebinggungan.


Widya langsung mengulurkan tangan padanya, "Nama Ibu Widya sayang, Ibu yang akan jadi Guru home schooling kamu."


Clara membalas uluran tangan itu. "Hom kulling? Apa itu, Kak?" kelapanya menoleh pada Wulan.


"Guru sekolah, tapi bedanya kamu sekolah di rumah," jelas Wulan.


"Oh ... kenapa aku tidak belajar di sekolah saja? Kenapa musti di rumah?"


Wulan mengelus rambut Clara secara perlahan. "Sayang ... kamukan tau sendiri, kadang kalau ke sekolah, kamu gampang sakit. Jadi ... lebih baik kamu sekolah di rumah saja, lagian lebih enak di rumah. Kamu bisa bersama Kakak terus," tutur Wulan.


Clara mengangguk paham.


"Bisa kita mulai belajarnya, Mbak? Mau belajarnya dimana?" tanya Widya.


"Di ruang tamu saja, mari Bu. Aku antar," jawab Wulan seraya mengajak mereka semua untuk masuk kedalam rumah Rio.


^^^Kata: 1046^^^

__ADS_1


__ADS_2