
Pagi hari setelah Rendi mengantar Indah ke kampus, dia langsung pergi ke kantor dan berjalan masuk kedalam lift, tak sengaja dia bertemu dengan seorang wanita cantik yang tak asing di matanya, "Kak Rendi." Sapa wanita yang sekarang berada dalam satu lift dengannya, dia mengenakan rok span selutut berwarna hitam dengan kemeja merah dengan motif bunga ngepres badan.
Rendi yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, baru menyadari dan menoleh kearah wanita tersebut. "Kamu..." Tunjuk nya mengingat-ingat.
"Wah Kakak lupa sama aku ya?" tanya wanita itu. "Aku Irene." Ucapnya mengenalkan diri.
Rendi hanya mengangguk pelan. "Ada apa kamu ke kantorku?" tanyanya dengan acuh.
"Aku kan sekarang kerja di sini." Sahutnya dengan percaya diri.
Ting.... Bunyi suara lift terbuka. Rendi bergegas melangkah ke arah ruangannya, Dion juga tengah berdiri menunggu Rendi di depan pintu.
"Bapak bagaimana keadaannya? Saya dengar Bapak masuk rumah sakit." Tanya Dion yang ikut membuntut masuk di belakang Rendi.
"Aku hanya kurang kasih sayang saja." Sahutnya dengan wajah sumringah dan duduk di kursi putar miliknya.
Wah sepertinya Pak Rendi sedang jatuh cinta.
"Mood Bapak lagi bagus, ada apa nih?" tanya asistennya itu sedikit kepo.
"Gara-gara Indah." Jawabnya sambil menaruh salah satu tangannya di atas dagu.
"Sepertinya sudah ada benih-benih cinta nih Pak," goda sang asisten.
"Kamu bener banget Dion. Oya gimana masalah Sekretaris baru sudah ada kan?"
"Lho bukannya tadi Bapak satu lift?" Sahut Dion.
"Maksud mu Irene?" Dion mengangguk dengan semangat, tapi tidak dengan expresi wajah Rendi yang terlihat sangat datar.
"Itu Bapak tau namanya,"
__ADS_1
Irene wanita cantik berumur 25 tahun, seumuran dengan Melly. Dia adalah anak dari Munah teman sosialita Santi, ibu Rendi. Wanita yang pernah ibunya kenalkan untuk jadi istri Rendi, Rendi bahkan di paksa jalan bareng Irene selama 2x. Namun dari lubuk hati Rendi, dia merasa tak ada kecocokan di antara mereka entah dari hal apa.
"Kalau bisa kau ganti lagi saja, cari yang baru." Jawab Rendi.
"Memang kenapa Pak? Bukannya saya di suruh untuk mencari sekertaris yang berpengalaman. Dia masuk kriteria, Bapak lihat saja profil datanya," Kata Dion menjelaskan.
Rendi langsung melihat data Irene di laptopnya, yang memang benar dia adalah salah satu sekretaris berpengalaman, malah dia yang di kirim langsung oleh perusahaan pak Hermawan.
"Kalau Bapak tidak suka nanti saya carikan yang baru. Tapi buat sekarang biar dia dulu di sini, soalnya saat ini kantor Bapak sedang butuh sektretaris seperti dia. Kemaren saja dia bisa di handel pekerjaan yang sempat terbengkalai," Ucap Dion menjelaskan lagi, karena sedari tadi Rendi hanya diam.
Rendi bukannya tidak suka dengan Irene sang sekretaris baru. Hanya saja dia tidak mau ada yang menganggu rumah tangga dia dan Indah, apa lagi sekarang sudah ada cinta yang bersemayam di hati Rendi. Memang sih Irene sendiri bukan siapa-siapa Rendi, tapi tetap saja namanya orang yang pernah ada di masa lalu itu membuat Rendi agak was-was.
Tok... Tok... Tok. Bunyi suara ketukan dari pintu ruangan Rendi.
"Masuk." Sahut Rendi dari dalam, wanita yang baru saja di omongin itu masuk kedalam ruangan Rendi sambil memberikan proposal untuk meeting siang ini.
"Maaf permisi, aku mau kasih tau kalau siang ini Kak Rendi ada meeting dari perusahaan Anjana Grup dan ada undangan wawancara dari Universitas Xxx." Ucapnya dengan bahasa yang biasa dia katakan kepada Rendi, sembari memberikan proposal dan surat undangan di atas meja.
Batin Dion.
"Kalau begitu saya permisi Pak." Ujar Dion berjalan keluar Ruangan.
Rendi meraih proposal itu dan membuka-buka beberapa halaman.
"Bagaiman Kak? Apa ada yang kurang?" tanya Irene yang masih berdiri di samping Rendi.
Rendi menggelengkan kepalanya dan menaruh proposal itu kembali, kemudian dia membaca undangan wawancara yang ternyata Universitas dari jurusan yang sama dengan jurusan Indah.
Wah... Kalau sampai Indah yang mewawancarai ku sepertinya akan seru.
Batin Rendi.
__ADS_1
"Kalau masalah undangan itu, terserah dari Kak Rendi ingin wawancarai kapan. Nanti aku akan kasih tahu dari pihak yang ingin mewawancarainya," ujar Irene.
Rendi langsung menanda tangani undangan tersebut dan menaruhnya di atas meja. "Irene, kau kerja di sini sebagai apa?" tanya Rendi tiba-tiba, pertanyaan yang sangat aneh dan terlihat tidak masuk akal.
Lho kok Kak Rendi nanya, emang sampai sekarang dia tidak tau aku sekretarisnya.
Batin Irene sambil mengerutkan dahinya.
"Aku jadi sekretaris Kak Rendi sekarang." Jawab Irene.
"Sebagai seorang sekretaris harusnya kamu lebih sopan bicara padaku. Aku ini atasanmu, kau jangan menyebutku dengan panggilan Kakak. Aku tidak suka." Kata Rendi dengan dingin sambil menyenderkan bahunya di kursi tanpa memandang wajah Irene.
"Maafkan aku Kak. Ah maksud saya Pak." Sahutnya yang langsung meralat ucapannya.
"Sekarang kamu bisa keluar." Kata Rendi seolah sudah mengusir, Irene langsung melangkah cepat meninggalkan ruangan itu.
🌾🌾🌾
Setelah masalah antara Rendi dan Rio selesai. Sikap Rio seakan menjauh dan sangat cuek terhadap Indah, bahkan setiap kali ketemu hanya ada senyum tipis di bibirnya, tak ada sapaan dan pertanyaan yang biasa dia lontarkan. Mungkin dia sengaja melakukan hal itu demi proses move on nya.
Indah sendiri tidak ambil pusing, malah dia bisa merasa lega dengan perubahan sikap Rio yang mencoba untuk melupakannya.
"Indah. Aku dapet email dari kantor Prasetyo Grup, beliau setuju untuk kita wawancarai," ujar Maya sumringah, dia adalah salah satu teman kelas Indah. Mereka tengah melihat layar laptop masing-masing miliknya sendiri secara berhadapan.
"Serius kamu May, wah berita bagus nih. Ya sudah sekarang kamu buat janji untuk wawancara di kantornya," sahut Indah dengan penuh semangat.
"Oke deh aku bikin janji sekarang." Kata Maya yang langsung mengetik keyboard laptop.
"Indah.... Sibuk banget sih." Ucap Nella tiba-tiba datang sambil mengerucutkan bibirnya.
"Nella." Sahut Indah yang langsung menoleh ke samping dimana Nella berada. "Aku ada tugas wawancara CEO nih."
__ADS_1