
"Nona Wulan, selamat sore," sapanya dengan senyuman manis kearah wanita yang baru saja menghentikan langkah kakinya. Tapi di mata Wulan, senyuman itu bukan terlihat manis, tapi seperti senyuman menyeringai.
Seketika itupun, tubuh Wulan langsung bergetar.
Karena rasa takut, ia berjalan mundur beberapa langkah kebelakang.
Siapa dia? Apa dia orang jahat?
Pria itu melangkah beberapa langkah menghampirinya. "Nona Wulan, tenanglah. Nama saya Indra, saya adalah sopir pribadinya Pak Rio."
Wulan merasa ponselnya kini bergetar. Ia mengerakkan salah satu tangannya kedepan Indra, berusaha untuk menghentikan langkah kaki pria itu yang makin mendekat padanya.
"Maaf, Nona." Indra menghentikan langkah dan menunduk.
Melihat pria itu terdiam, Wulan cepat-cepat membuka resleting tas selempang miliknya untuk mengambil ponsel. Dan kebetulan sekali yang menelepon adalah Rio.
"Ha-halo, Mas."
"Halo, kau kenapa? Kok gugup begitu? Ada apa? Apa ada yang berbuat jahat padamu? Apa Ivan mengganggumu?" beberapa pertanyaan Rio lemparkan untuk wanita yang tengah mengusap keringat pada pelipis matanya.
"Mas ... aku bertemu dengan pria seram, dia mengaku sebagai sopir Mas Rio. Dia juga tau namaku."
"Oh itu, namanya Indra bukan?"
"Iya."
"Dia memang sopirku, Wulan. Sopir baruku."
Kenapa Mas Rio harus menyewa sopir?
"Apa kau sudah pulang kerja?" tambah Rio.
"Sudah."
"Kau ikut bersamanya. Aku tunggu di kantor, ya!"
"Di kantor? Maksud Mas Rio bagaimana?"
"Kau ikut saja dengannya dulu. Nanti kalau kita bertemu, aku beritahu."
"Baik, Mas."
"Hati-hati di jalan Wulan. Kalau si Indra menyetir dengan ugal-ugalan, kau marahi saja dia."
Marahi? Mana berani aku memarahi manusia dengan bentuk begitu.
Setelah mematikan sambungan telepon, ada seseorang yang menepuk pundaknya pelan. Membuat wanita itu menoleh.
"Wulan, kau mau pulang? Ayok! Bareng denganku," ajak Ivan.
"Tidak terima kasih, Kak. Aku sudah di jemput."
"Di jemput? Mana jemputannya?" Ivan bahkan tidak menyadari mobil mewah didepannya itu, ia mengira mobil itu milik pengunjung.
__ADS_1
"Nona Wulan pulang dengan saya, saya yang menjemputnya," sergah Indra menjawab.
Mata Ivan membulat sempurna. "Memang Bapak ini siapa?"
"Saya sopir pribadinya Pak Rio."
Pak Rio? Siapa itu Rio dan apa hubungannya dengan Wulan?
"Ivan, aku pulang duluan, ya. Aku takut di tungguin sama Mas Rio," kata Wulan pamit, seraya berjalan menuju mobil itu untuk masuk.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan Ivan yang tengah berdiri sambil termangu.
Wulan, semenjak kau kembali lagi bekerja disini. Aku jadi tertarik padamu. Tapi siapa Rio itu? Apa dia pacarmu?
Bukannya kau tidak bisa melupakan mantan pacarmu yang brengs*k itu?
Merasa penasaran, Ivan memutuskan untuk cepat-cepat memakai helm dan menghidupkan mesin motor. Ia mengikuti mobil itu dari belakang.
Sayang sekali, saat mobil itu masuk kedalam gerbang. Ivan tidak bisa ikut, ia terpaksa memberhentikan motornya disisi jalan raya. Kepalanya meneladah pada gedung pencakar langit, ia makin dibuat penasaran.
Mau ngapain Wulan kesini? Apa yang namanya Rio kerja disini?
Setelah mobil itu terparkir sempurna pada parkiran khusus, Indra buru-buru keluar dari mobil untuk membukakan pintu dari arah tempat duduk Wulan.
"Terima kasih, Pak," ucap Wulan.
Pria plontos itu lantas membuka bagasi mobil untuk mengambil koper.
'Dimana Mas Rio? Katanya menungguku? Apa akunya yang sangat berharap?' batinnya seketika sendu.
"Mari Nona, ikut saya ke ruangan Pak Rio. Beliau masih ada meeting," kata Indra mengajak. Salah satu tangannya mendorong koper.
Wulan melangkahkan kakinya disamping pria itu. "Kok Bapak bawa koper? Itu koper siapa, Pak?"
"Oh ini." Indra melihat sebentar kearah koper. "Didalam sini ada pakaian Nona dan Pak Rio."
Pakaian? Untuk apa membawa pakaian segala?
Tring~
Pintu lift itu terbuka dengan lebar, mereka berdua segera masuk kedalam.
Ternyata kebetulan sekali didalam sana ada Dido, mungkin inilah kesempatan Wulan untuk bertanya mengenai Adel.
"Wulan, kau kesini? Siapa dia?" tanya Dido melirik sebentar kearah pria plontos itu.
"Saya sopirnya Pak Rio. Kau Dido, kan?" terka Indra dengan wajah garangnya.
Sopir? Pak Rio menyewa sopir sekarang?
Dido memperhatikan pria itu dari ujung kaki menuju kepala. Namun tepat pada kedua matanya, pria itu justru melototi Dido.
"Apa kau lihat-lihat!"
__ADS_1
Dido menelan salivanya dengan kasar dan geleng-geleng kepala.
Bentukan kaya algojo begini dijadiin sopir, aneh Pak Rio ini.
"Kak Di ... Pak Dido, apa Bapak bertemu dengan Mbak Adel?" tanya Wulan menoleh sebentar pada Dido.
Kok Bapak? Yang benar saja dia memanggilku Bapak lagi. Bukannya kemaren memanggilku Kakak?
"Pak."
"Ah, kenapa Wulan?" Dido menepis semua gumamnya barusan.
"Bapak bertemu dengan Mbak Adel, tidak? Tadi aku bertemu dengannya."
"Adel? Adelia mantan istriku?" tanya Dido seraya memiringkan kepalanya, supaya mampu melihat wajah Wulan yang tengah menunduk.
Indra menyelipkan badannya yang kekar ditengah-tengah mereka berdua, seakan menghalangi pandangan mata Dido. Supaya tidak terus menatap wajah istri bos barunya itu.
Cih! Kenapa sih ini orang, udah badannya besar! Pakai nyelip-nyelip segala' gerutu Dido.
"Mantan istriku, bukan?" tanya Dido lagi.
"Iya."
"Aku tidak bertemu dengannya, memang kenapa? Kau bertemu dengan wanita murahan itu?"
"Iya, aku bertemu dengannya di Restoran. Dia minta nomor Bapak dan tanya Bapak kerja dimana. Aku hanya memberitahu Bapak kerja disini," papar Wulan.
"Kenapa kamu memberitahunya? Aku benci sekali padanya, Wulan. Aku tidak mau bertemu dengannya." Dido berusaha untuk melihat Wulan dari belakang tubuh pria plontos itu, tapi sia-sia saja.
"Aku tidak tau masalah itu. Cuma aku hanya ingin bertanya pada Bapak, apa benar Bapak meminjam uang padanya?"
Si jal*ng itu cerita apa saja pada Wulan? Apa dia menjelek-jelekkanku?
"Tidak, aku punya banyak tabungan di rekeningku. Ngapain aku meminjam uang padanya."
"Aku mau Bapak jujur. Dia bilang Bapak meminjam uang pada Papahnya. Lalu, Bapak tidak ada kabar. Mbak Adel juga bilang, Bapak meminjam uang itu untuk membantu operasi adik dari teman Pak Dido, apa yang dimaksud itu aku?"
"Kau ini bicara apa, sih? Aku tidak mungkin semiskin itu, Wulan. Meskipun aku hanya asistennya Pak Rio, uangku tidak kalah banyak darinya," kata Dido dengan percaya diri.
'Aku benci sekali kalau bicara masalah banyaknya uang. Ah memang Kak Dido dan Mas Rio tidak ada bedanya' batin Wulan.
Indra langsung membalik badan dan melihat kearah pria berkumis tipis itu.
"Memang sebulan kau di gajih berapa? Berapa lama kau kerja dengannya? Kok gayamu sombong begitu?" tanya Indra dengan tatapan nyalang.
"Kenapa memangnya? Kau iri padaku? Gajihku dan gajihmu, pasti lebih banyak a--"
Bug~
"Aaww!" pekik Dido. Ia terkena tonjokan dari Indra secara mendadak pada pipi kirinya. Lantas pria plontos itu mencengkeram lehernya, membuat Dido dan Wulan tersentak kaget dengan kedua mata yang membulat sempurna.
^^^Kata: 1056^^^
__ADS_1